
Hari berganti hari
Sudah hampir satu minggu Clara berada di kediaman Wijaya. Sementara Max masih berusaha mencari keberadaan Clara yang masih belum di temukan.
"Max, bagaimana? apa Clara sudah di temukan?"
Pertanyaan itu datang dari Mawar, Ibu dari Zhak dan yang jelas dia adalah mertua Clara.
Mawar datang ke rumah putranya setelah mendengar apa yang terjadi pada rumah tangga putra satu-satunya itu. Mawar tidak menyangka jika putranya bisa melakukan hal di luar dugaannya.
"Hahhh." helaan nafas itu terdengar dari mulut Max.
Max baru mendapat kabar jika Clara kini berada di kediaman Wijaya. Dan bisa di pastikan jika akan sangat sulit menemui Nona mudanya itu.
"Max bagaimana?" tanya Mawar lagi. Ia sudah mulai tidak sabar sejak tadi.
"Nona muda kini berada di kediaman Wijaya Tante, Dan saya yakin akan sangat sulit menemui Nona." jawab Max.
"Kediaman Wijaya !. Maksud kamu Tuan Kusuma Wijaya, kakek Clara?" Max mengangguk.
Wajah Mawar berbinar, ia cukup lega jika menantunya itu ternyata berada di tangan yang tepat.
"Jadi beliau sudah tau jika Clara adalah cucunya?" Max mengangguk lagi.
Mawar mengedik kan bahunya, ia terlihat begitu tenang sekarang.
"Ok, bagi saya itu tidaklah sulit. Tetapi kali ini kamu harus melaksanakan tugas yang lebih penting dari itu Max." Mawar menatap Max dengan senyum penuh arti. Hal itu membuat Max sedikit merinding, ia yakin ini tidak baik untuknya.
"Tugas penting?"
"Hmm. Tugas kamu kali ini membawa Zhak pulang. bagaimana pun caranya saya tidak perduli, bawa Zhak pulang dalam waktu satu bulan ini."
Duar...
Benar kan ! ini bahkan lebih sulit dari menaklukan anjing liar. Dahi Max semakin berkerut, kini Max benar-benar bingung harus bagaimana.
"Tidak bisakah Tante membantu saya." mohon Max.
Dia tau jika ada bantuan dari Mama Zhak, pria itu akan sedikit melunak.
"No,no,Max. Kali ini kamu harus berusaha sendiri." Mawar tersenyum penuh arti, dia hanya ingin mengulur waktu sedikit.
Karena kali ini Mawar ingin putranya lebih mengerti arti sebuah Hubungan.
"Hahhhh."Max menghela nafas berat, kali ini Max harus memutar otaknya untuk membujuk dan membawa Zhak pulang.
__ADS_1
Sementara itu Pagi ini Clara sedang berada di taman kediaman Wijaya. Aktifitas Clara yang baru setelah beberapa hari ini ia bosan jika hanya berdiam diri di kamar nya saja.
"Sayang, apa kamu tidak lelah nak. Setiap hari mengurus kebun ini, kan kakek punya pekerja untuk ini tidak harus kamu yang mengurus."
Clara tersenyum mendengar ucapan sang kakek, sejak Clara memutuskan mengurus kebun bunga itu Kakek Wijaya selalu mencoba membujuk Clara agar berhenti dari kegiatannya.
"Kek, Clara cuma bosan saja. Dulu waktu Clara di rumah Mas Ervan juga di larang mengerjakan semua pekerjaan, bahkan kuliah pun Clara tidak di bolehkan. Jadi kali ini Clara boleh ya mengurus kebun kakek ini, lagi pula Clara senang kek jika ada kegiatan." ucap Clara.
Kakek Wijaya mengerutkan dahinya, ia batu ingat jika cucunya itu masih Kuliah. Bahkan yang Kakek wijaya tau jika Clara mengambil jurusan kedokteran.
"Clara, apa kamu tidak ingin melanjutkan kuliahmu nak?"
Pertanyaan Kakek Wijaya membuat Clara menghentikan aktifitas nya. Clara meletakan gunting di tangannya lalu menatap Kakeknya dengan penuh antusias.
"Be-narkah Clara boleh kuliah lagi kek?" Clara memastikan.
"Tentu sayang, Kakek tidak akan melarang atau memaksa kamu untuk melanjutkan bisnis Kakek, karena kakek ingin kamu melakukan pekerjaan sesuai kemampuan mu."
Wajah Clara saat ini secerah mentari pagi setelah hujan, ia benar-benar merindukan kampus dan juga teman-teman nya.
"Jadi kapan Clara bisa pergi kuliah lagi kek?'" tanya Clara penuh antusias.
"Kakek akan mengurus segalanya, bukankah sudah cukup lama kamu tidak ke kampus karena ulah suamimu. Jadi Kakek harus mengurus beberapa hal agar kamu bisa pergi ke kampus lagi."
Clara menghambur ke dalam pelukan sang kakek. Ia senang, bahkan sangat senang.
***
Waktu berlalu sangat cepat, tidak terasa sore hari pun tiba. Clara turun dari kamarnya setelah membersihkan tubuhnya yang bau akibat seharian beraktivitas.
"Nona, ada yang ingin bertemu dengan Nona." ucap salah satu pelayan saat Clara tiba di bawah.
"Bertemu? Siapa?" Clara nampak bingung, pasalnya tidak ada yang tau jika dirinya berada di rumah ini.
"Beliau sedang bersama tuan besar di halaman rumah, Nona."
Dahi Clara semakin berkerut, ia semakin penasaran. Ia berjalan ke depan untuk bertemu orang yang ingin menemuinya.
Baru saja Clara sampai di teras rumah, ia melihat sosok yang baru-baru ini mengisi harinya. Wajah Clara terlihat senang, senyum di wajahnya mengembang melihat sosok yang begitu menyayanginya.
Clara medekati sosok tersebut, dari sisi lain orang itu pun merasa sangat senang melihat Clara berjalan ke arahnya.
Mereka berdua saling berpelukan, meluapkan rasa rindu karena sudah cukup lama tidak bertemu.
"Are you ok sayang?" tanya Mawar.
__ADS_1
Ya sosok yang sangat menyayangi Clara ialah Mawar. Mawar membelai lembut surai sang menantu yang ia sudah anggap seperti putrinya itu.
"Baik Mah, Mama apa kabar?"
"Mama juga baik."
"Kalian berbincang lah, Kakek akan masuk untuk beristirahat." ucap Kakek Wijaya yang langsung di balas anggukan oleh keduanya.
Setelah kakek Wijaya pergi
"Cla, Mama ingin minta maaf atas perbuatan Ervan kepada kamu. Mama tidak menyangka jika ia bisa berbuat hal seperti itu terhadap kamu nak."
Clara menatap mata ibu mertunya itu, ia tau jika semua ini salah. Tetapi Clara sudah mulai melupakan dan juga memaafkan perbuatan suaminya.
"Mah, Clara sudah melupakan dan juga memaafkan mas Ervan atas apa yang sudah terjadi. Karena mengingat semua dan menyimpan dendam hanya akan membuat Clara semakin tertekan."
"Clara tau jika tidak semua orang beruntung bisa menjalani sebuah pernikahan dengan sempurna. Clara hanya seorang manusia biasa Ma, Clara ingin belajar menjadi manusia yang tidak hanya bisa menuntut, tetapi juga bisa menerima sesuatu dengan iklas, meski itu menyakiti Clara."
"Mama tau, jika Tuhan menghadirkan seseorang yang menghadirkan luka dan airmata untuk kita, maka itu berarti Tuhan mendidik kita untuk Sabar. Jika kita tidak mengusik kehidupan seseorang tapi dia melukai kita, itu berarti Tuhan mendidik kita untuk kuat. Jadi Clara yakin apapun yang Tuhan berikan kali ini untuk Clara, itu adalah cara terindah tuhan mendidik Clara untuk menjadi Dewasa."
Kata-kata Clara membuat air mata Mawar mengalir begitu saja, perasaan hangat kini menyelimuti Hati Mawar. Ia benar-benar beruntung mendapat menantu yang tidak hanya Cantik tetapi juga baik dan penuh pengertian.
"Kamu memang benar anak Laras, dan Mama sangat beruntung mendapatkan kamu menjadi menantu mama nak."
Mawar memeluk Clara dengan erat, ia berjanji dalam hatinha jika ia akan memberi pelajaran pada putranya yang tidak tau diri itu. Beraninya fia menyakiti menantu kesayangannya itu.
"Mah, boleh Clara meminta satu hal dari Mama?" tanya Clara sesaat setelah pelukan mereka terlepas.
"Tentu nak, apapun itu."
Clara menarik nafasnya lalu membuangnya perlahan.
"Tolong berjanjilah ma, jangan memaksa Mas Ervan untuk kembali dan mencintai Clara jika bukan karena kemauannya."
"Tapi Cla-
"Mah." Clara memotong ucapan Mawar dan menggenggam erat tangan mertuanya itu." Jika Mas Ervan memang jodoh Clara, maka tidak akan ada yang bisa memisahkan kami. Dan sebaliknya juga, jika Mas Ervan bukan jodoh Clara, bagaimana pun Clara dan mama mempertahankan nya kami tetap akan berpisah. Jadi tolong Ma, biarkan semua ingin mengalir begitu saja. Clara yakin dengan takdir tuhan."
Mawar menangis di pelukan Clara, begitupun dengan Clara. Dalam setiap kata yang ia ucapkan memang ada keiklasan di dalamnya, tetapi Clara tidak memungkiri jika hatinya juga sakit. Dan hanya Clara yang tau jika dirinya sudah mulai mencintai suaminya itu.
.
.
...**Maaf untuk para pembaca, Author kali ini akan berusaha untuk tetap Up setiap harinya. Tetapi untuk waktunya Author tidak bisa berjanji. Dan untuk Novel ini sendiri Author buat Slow Update. ...
__ADS_1
😊Terimakasi🙏**