BATAS RASA

BATAS RASA
Janji


__ADS_3

Clara tertunduk lemah di sofa ruang tamu milik seorang temannya. Diana, teman satu kampus Clara tidak sengaja menemukan Clara sedang meringkuk di bawah pohon besar dekat tempat kerja mereka.


"Minum Cla." Diana menyodorkan teh jahe hangat yang ia buat sendiri. Sambil duduk di depan Clara, Diana memperhatikan temannya itu dengan seksama."Kayaknya lo lagi ada masalah ya? kalau lo mau, lo cerita aja sama gue." imbuhnya.


Clara menggeleng, dia tidak mungkin menceritakan masalah keluarganya pada orang lain. Clara tidak ingin nama orang tuanya tercoreng.


"Ya udah, kalau gitu gue tinggal ke dapur dulu ya, gue lagi bikin makan siang, nanti kita makan bareng. Lo istirahat aja disini, dan jangan lupa lo minum tehnya." Clara mengangguk sambil tersenyum. Diana pun meninggalkan Clara sendiri.


Sepeninggal Diana, Clara merogoh ponselnya yang ada di dalam tas, dia melihat beberapa panggilan dan pesan dari adiknya Mario. Clara menghela nafasnya berat tanpa berniat membuka pesan itu, Clara pun meletakkannya di atas meja.


*****


Rumah sakit Sakti Marga


Semua orang sedang berlari sambil mendorong brankar dengan perasaan cemas.


"Pa bangun." suara cemas Bila begitu kentara, dia benar-benar takut jika terjadi sesuatu pada suaminya.


"Maaf nyonya, anda tunggu di luar." ucap seorang suster menghentikan langkah Bila.


"Mah, kita duduk di sana saja, aku yakin papa akan baik-baik saja." ucap Mario.


"Keterlaluan. Anak itu benar-benar tidak tau diri, dia bahkan tidak memikirkan kondisi papa sama sekali." Anes mendengus kesal sambil menghempas tubuhnya di kursi tunggu.


"Kau benar kak, dia itu memang tidak perduli pada kita semua." imbuh Vanessa.

__ADS_1


"Sudah lah kak. Jangan memperkeruh suasana, ingat ini rumah sakit, bukan ruang rumpi." sela Mario.


"Gak usah ikut komentar, kamu itu masih kecil." semprot Vanessa.


"Udah-udah, kalian jangan bertengkar, papa kalian masih ada di dalam, lebih baik kalian berdoa agar kondisi papa kalian baik-baik saja jika kalian tidak ingin jatuh miskin." Sela Bila. Selain dia khawatir akan kondisi suaminya, Bila juga takut jika mereka akan jatuh miskin jika sampai terjadi sesuatu pada suaminya itu. Dan Bila belum siap untuk itu.


"Ihhhh, lagian papa tuh pakai serangan jantung segala, nyusahin tau gak." gerutu Anes. Dia sangat tidak suka dengan kondisi ini.


Beberapa saat kemudian dokter yang menangani Burhan keluar, semua mendekati dokter itu.


"Bagaimana keadaan suami saya dok?" tanya Billa cepat


"Kondisi tuan Burhan cukup lemah. Tapi Beliau sudah membaik, kami akan memindahkan beliau ke ruang perawatan."


"Apa kami bisa melihat Papa dok?" tanya Mario.


"Kalian tunggu di luar saja, biar mama yang pertama bertemu papa. Dan kamu Mario, hubungi anak si*lan itu dan suruh dia kesini secepatnya." perintah Bila.


"Tapi Ma-


"Jangan membantah Mario, Mama hanya ingin semua cepat selesai. Jika kamu tidak mau membuat Clara kesini dengan baik-baik, maka mama akan menyuruh orang untuk menyeretnya kemari." ancam Bila.


Mario menghela nafasnya sambil mengangguk, mengiyakan perintah sang mama. Mario hanya tidak ingin melihat kakaknya menderita lagi. Beberapa kali Mario menghubungi Clara, tapi kakaknya tidak mengangkat atau membaca pesannya.


Sementara di tempat lain Clara sedang menyantap makan siangnya dengan tidak berselera. Entah kenapa jantung nya terus berdetak cepat, rasa khawatir yang tidak beralasan membuatnya sangat tidak tenang.

__ADS_1


"Clara kau kenapa hmmm, kenapa kau hanya mengaduk aduk makanan mu seperti itu?" tanya Diana cepat. Diana benar-benar tidak mengerti dengan sikap temannya itu.


"Diana, entah kenapa aku merasa tidak tenang, aku merasa telah terjadi sesuatu."


"Lebih baik kau menghubungi adikmu kembali, mungkin ada hal penting yang ingin dia sampaikan."


"Kau benar Di, sepertinya aku harus menghubungi adikku." Diana mengangguk, itu akan membuat semuanya membaik.


"Cepatlah kau hubungi adikmu."


"Hmm, baiklah."


Clara mengambil ponselnya, dia terlebih dulu membuka pesan dari Mario. Tapi beberapa menit kemudian Clara menjatuhkan ponselnya karena terkejut.


"Clara, ada apa? kau baik-baik saja kan?" tanya Diana khawatir.


"Di, aku harus pergi." ucap Clara saat kesadarannya mulai kembali


"Tapi ada apa Cla?"


"Nanti aku ceritakan, aku pergi dulu." ucap Clara sambil menyambar tasnya dan berlari keluar rumah Diana.


Clara sangat tidak menyangka jika semua akan menjadi seperti ini. Di dalam perjalanan Clara tidak henti-hentinya berdoa, mendoakan Burhan agar tidak terjadi sesuatu pada papanya.


"Pah, semoga papa baik-baik saja. Clara janji pah, Clara akan memenuhi permintaan papa, yang terpenting papa bahagia." janji Clara.

__ADS_1


.


.


__ADS_2