BATAS RASA

BATAS RASA
Bertemu Dia


__ADS_3

Pagi ini Diana tidak pergi ke kampus, Ayahnya mengatakan jika pria yang akan di jodohkan dengannya akan datang hari ini.


Meski Ayahnya sangat lemah dan tidak bisa apapun, ada Bibi Diana yaitu Sinta, adik satu-satunya Mario. Dialah yang mengurus segalanya.


"Di, kau baik-baik saja?" tanya Sinta.


Sejak pagi Diana tidak mengatakan apapun, Diana yang biasanya selalu ceria kini menjadi gadis yang pendiam.


"Hmm, aku baik Bik." jawab Diana


Sinta mengelus surai keponakannya itu, ada rasa kasihan pada keponakan satu-satunya itu. Tetapi kali ini Sinta mendukung keputusan Kakaknya karena Sinta sudah melihat dan sedikit mengenal pria yang akan di jodohkan dengan Diana. Dan menurut Sinta pria itu sangat pantas pada Diana.


"Nak, Bibi mengerti jika kau memiliki cita-cita yang tinggi. Tetapi dengan menikah bukan berarti akan menghalangi perjalanan cita-cita mu itu. Bibi yakin pilihan Ayah mu adalah yang terbaik." ujar Sinta


Diana menatap wajah Bibinya, ia mencoba memaksakan senyumnya agar Sinta tidak terlalu khawatir. Dan semoga apapun yang di katakan Bibi nya adalah benar.


"Bi, jam berapa pria itu datang?" tanya Diana.


Diana sebenarnya sangat malas bahkan hanya untuk beranjak dari kamar dan pergi ke kamar mandi.


"Kalau tidak salah sekitar jam 10." jawab Sinta.


"Ohhh, masih lama ya Bi." ujar Diana


Sinta melihat jam yang melingkar di tangannya."Ini sudah jam 9 sayang, satu jam lagi dia datang. Sekarang lebih baik kamu mandi gih, Bibi akan menyiapkan beberapa bahan makanan untuk kita makan siang ." ujar Sinta.


Diana sangat malas, jika bukan demi ayahnya Diana mungkin sudah kabur sejak semalam. Tetapi tidak, Diana hanya bisa berpasrah meski sebenarnya dia tidak ingin menikah.


Diana memiliki rasa trauma tentang pernikahan, bagaimana tidak, jika setiap hari ia melihat pertengkaran orang tuanya.


30 menit berlalu, Diana sudah siap sejak tadi. Ia tidak banyak merias dirinya, itu juga karena Diana lebih menyukai dirinya yang natural. Dan semoga saja pria itu nantinya tidak akan banyak menuntut dirinya.


Tok


Tok


Suara pintu di ketuk membuat Diana sedikit terkejut. Sebelum membuka pintu Diana mencoba menetralkan degup jantungnya, Diana menarik nafas dalam lalu membuangnya secara kasar.


"Ya Tuhan, semoga pria itu tidak menyukai aku." batin Diana.


Clakk


Diana membuka pintu kamarnya, terlihat Sinta sedang berdiri di depan pintu dengan senyum mengembang.

__ADS_1


"Apa dia sudah datang Bi?" tanya Diana sedikit berbisik.


"Hmm, dia ada di depan. Kau bisa menemui dia sendiri kan." goda Sinta


"Bibi, mana mungkin aku akan menemui dia sendiri." ujar Diana dengan wajah kesal.


"Baiklah, ayo Bibi antar."


Diana mengikuti langkah Sinta keluar rumah, sampai di depan pintu Diana melihat mobil hitam terlihat begitu mewah terparkir tepat di depan pagar rumahnya.


Diana tidak melihat wajah pria itu, itu karena pria itu memebelakangi keduanya.


"Nak."panggil Santi." Kenalkan Ini Diana." ujar Santi.


Pria yang ada di depan Santi membalik tubuhnya, seketika itu pandangan keduanya bertemu.


"KAU." ucap keduanya kompak.


Sinta yang melihat itu merasa heran.


"Kalian sudah saling mengenal?" tanya Sinta


"TIDAK." jawab keduanya lagi secara bersama.


"Baiklah, Bibi tidak mau mengganggu kalian. Bibi masuk dulu untuk melihat Ayah Diana. Jadi selamat berbincang." ujar Sinta lalu masuk ke dalam rumah.


Selepas Sinta masuk ke dalam Diana duduk di kursi yang ada di teras tanpa mempersilakan pria itu duduk.


"Jadi kau yang di jodohkan denganku?" tanya Diana memulai percakapan.


"Hmmm, aku tidak menyangka jika kau wanita yang menjadi pilihan Alm Papa ku. Jika aku tau mungkin aku akan menolak." ujar Elios.


Ya, pria yang di jodohkan dengan Diana adalah Elios, dokter muda, Tampan dan juga Dokter pribadi keluarga Edwards.


"Memang kau pikir aku mau di jodohkan denganmu." ujar Diana sewot.


"Lalu kenapa kau mau menemui ku jika kau tidak mau." balas Elios


"Bukannya kau seorang dokter?"


"Ya, lalu?"


"Bagaiaman mungkin seorang dokter tidak tau kondisi orang tua yang memintamu untuk menikah denganku." ujar Diana.

__ADS_1


"Hahhh." Elios menghela nafas berat." Ya, aku tau. Tetapi itu bukan alasan yang bisa aku terima." Elios berbalik badan lalu ikut duduk di sebelah Diana. Meski tuan rumah itu tidak mempersilakan nya.


"Lalu kau fikir aku punya alasan lain,begitu !"


"Hmm, mungkin."


Diana memutar bola matanya malas. Pria di sebelahnya ini benar-benar membuat dirinya kesal.


"Aku tidak ada alasan lain untuk menolak." Diana menatap langit yang terlihat begitu cerah." Mana mungkinkin ada anak yang tidak memikirkan kondisi orang tuanya, apa lagi kondisi Ayah semakin hari semakin memburuk. Aku takut-"


Diana menghentikan kata-kata nya. Elios menatap wajah Diana yang terlihat murung, begitu berbeda dari sebelumnya.


"Aku mengerti, kalau begitu mari wujutkan keinginan Ayahmu." ujar Elios.


Diana menatap wajah Elios sebentar, lalu kembali menunduk."Jangan terlalu mudah setuju hanya karena kau kasihan kepadaku." ujar Diana


Elios tersenyum simpul." Aku tidak kasihan padamu, aku hanya ingin di usia Ayah mu yang semakin tua, dia tidak merasakan kecewa. Aku kehilangan Papaku saat umurku menginjak 21 Tahun, dan saat itu aku pernah mengecewakan beliau. Jadi hanya itu alasannya. Dan aku juga menikahimu bukan tanpa syarat."


Diana kembali memandang Elios dengan dahi berkerut.


"Ada perjanjian yang harus kau tanda tangani." ujar Elios


"Maksudmu. perjanjian praNikah?"


"Hmmm, tapi tenang aja. Ini tidak akan merugikan kamu, hanya perjanjian biasa." ujar Elios


Diana menghela nafas berat, ia tidak memiliki pilihan lain. Bagi Diana sebuah perjanjian tidaklah penting, karena ia pun tidak menginginkan pernikahan ini.


"Baiklah, aku setuju."


"Deal." Elios mengulurkan tangannya


Dan dengan perasaan mantap Diana menyambut tuluran tangan Elios.


"Deal." ujar Diana.


Mereka berbincang hingga pukul 12 siang. Setelah makan siang Elios menjenguk Ayah Diana lalu berpamitan karena dia akan bertugas di rumah sakit saat sore hari.


Hari ini Diana sangat lega, dan besok Diana akan membicarakan ini pada Clara. Dan semoga saja keputusannya ini tidak menimbulkan masalah suatu saat nanti..


.


.

__ADS_1


__ADS_2