
"Kau." mata Clara membola besar, rasa terkejutnya membuat dia melihat sekeliling."Tidak ada orang." batin Clara.
"Siapa yang kau cari? dan apa yang kau lakukan disini." Dika menatap tajam wanita di depan nya. Untung saja Dika tidak mengurungkan niatnya datang ke resto ini.
"Clara jawab aku ! apa yang kau lakukan disini? dengan peralatan ini di tanganmu."
"Dika, kenapa kau bisa disini? apa yang kau lakukan?" Clara tidak menjawab pertanyaan Dika, wanita itu malah balik bertanya.
"Jangan mengalihkan ucapan ku dengan pertanyaan Cla, jawab saja pertanyaan ku."
"Mmmm, i-tu, a-ku-
"Aku apa Clara, apa yang ingin kau katakan?"Dika yang mulai tidak sabar langsung meneriaki pelayan yang bertugas hari ini, Dika mengumpulkan seluruh stap restoran itu.
"Dika, jangan berlebihan, aku hanya melakukan tanggung jawabku karena tidak bisa membayar semua makanan yang aku pesan." ucap Clara saat semua orang sudah berkumpul di depannya.
"Diam lah Cla." ucap Dika dengan tatapan tajam.
Clara yang melihat wajah serius Dika hanya bisa menghela napas dan mulai menunduk. Sementara Dika mulai dengan unek-unek nya.
"Apa kalian tau siapa wanita yang sudah kalian suruh untuk membersihkan meja itu?" tanya Dika dingin.
"Maaf tuan Dika, kami tidak tau." jawan kepala pelayan.
"Apa tadi kau tidak melihat dia datang dengan siapa?" bentak Dika.
Clara memegang tangan Dika dan menggeleng ke arahnya saat suara pria itu mulai meninggi. Sementara seluruh stap Restoran hanya bisa menunduk karena takut pada orang di depannya.
"Baiklah, kali ini aku akan memaafkan kalian, tapi kalian lihat baik-baik dia, dan ingat wajahnya. Jika lain kali kalian memperlakukan dia dengan tidak baik, maka aku akan menutup Restoran ini tanpa perduli apapun."
"Baik Tuan, maafkan kami. Maafkan kami Nona, kami tidak selalu mengingat wajah anda dan tidak akan lagi mengulang kesalahan kami."
"Tidak masalah pak, saya mengerti, dan maafkan saya juga karena sudah membuat kalian semua terkena masalah." balas Clara.
Clara beranjak dari tempat duduknya lalu mengajak Dika keluar dari Restoran. Dika yang kesal karena keluguan dan kebaikan Clara hanya diam dan tidak ingin bicara.
"Di-
"Diam lah, aku sedang kesal padamu." potong Dika tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.
Saat ini keduanya sedang berada di dalam mobil, Dika akan mengantar Clara pulang ke kediaman Zhak.
"Aku tahu kau sedang kesal. Tapi dengar dulu penjelasan ku."
"kau tidak usah menjelaskan apapun, aku tau apa yang terjadi tadi semua karena kakak ku. Dan kau tidak usah membelanya Clara,-
"Dika Aku mo-
"Tidak usah memohon untuknya. Kai sahabatku Cla, tidak ada yang boleh menghinamu bahkan jika itu kakak ku sendiri."
__ADS_1
Clara menghela nafasnya, dia tau jika tidak mudah untuk membujuk Dika. Pria itu selalu seperti itu jika sudah menyangkut dirinya. Clara berhenti mendebat Dika, dia melihat ke luar jendela, memilih untuk menikmati jalan malam yang indah dan di penuhi orang yang sedang melakukan aktifitas mereka.
Beberapa menit kemudian, mobil yang di kendarai Dika berhenti, itu tandanya mereka sudah sampai di rumah. Dika yang masih kesal langsung masuk ke dalam tanpa menunggu Clara yang berlari di belakangnya.
"Kakak." panggil Dika dengan berteriak.
"Keluar kau kak." teriak Dika lagi.
"Dika, sudahlah-
"Diam lah Cla, masuk ke kamarmu." ucap Dika dengan tegas, dia seperti sedang memarahi putrinya sendiri.
"Maaf tuan muda Dika, ada apa anda mencari tuan muda Zhak?" tanya Max. Pria itu belum pergi ke Korea karena ada hal yang harus dia selesaikan sebelum dia pergi.
"Dimana kak Zhak, aku-
"Aku disini." potong Zhak, pria itu sedang berdiri di belakang Clara dan Dika.
Seketika itu Dika dan Clara berbalik. Sementara wajah Clara terlihat kecewa, Dika malah sebaliknya, rahangnya mengeras melihat tampang Zhak yang seperti tidak membuat kesalahan.
Perlahan Zhak melangkah maju, langkahnya begitu santai dengan wajah tegas seperti biasa. Sampai di depan sang adik Zhak langsung menari Clara ke belakang tubuhnya.
"Aku sudah bilang, jauhi istriku." ucap Zhak tegas.
Dika melangkah maju, dia sama sekali tidak takut dengan ucapan kakaknya. Rasa hormat yang dulu ia miliki entah menguap kemana, Dika tidak terima jika Zhak memperlakukan Clara seenaknya.
"Jika kau memperlakukannya dengan baik, aku tidak akan mendekatinya." Dika menarik lengan Clara, membawanya ke belakang tubunya.
"Kau menyuruhku untuk menjaga sikap, setelah apa yang kau lakukan kepada Clara. Kau meninggalkannya di Restoran sendirian, apa kau tau apa yang pelayan kita lakukan kepadanya di sana hahhh."
Zhak menatap Clara yang menunduk, dia benar-benar tidak sengaja meninggalkan Clara di sana.
"Jangan berlebihan, aku meninggalkannya di restoran, bukan di hutan." ucap Zhak santai, dia memasukan tangannya di kantong dan berjalan tanpa beban.
"Cihh, kau bahkan tidak perduli pada istrimu saat pelayan di Restoran mu sendiri menjadikan istrimu sebagai pelayan di sana." ucapan Dika membuat Zhak menghentikan langkahnya, Zhak menatap Dika dan Clara sekilas. Seperti tidak perduli dengan ucapan Dika, Zhak berlalu begitu saja tanpa berkomentar apapun.
Sebelum masuk ke dalam ruang kerjanya, pria itu sempat memanggil Max untuk mengikutinya.
Clara menatap punggung suaminya dengan perasaan kecewa, sungguh akhirnya Clara harus kecewa dan mengerti jika satu perjodohan tidak akan pernah berakhir dengan cinta.
"Dika, lebih baik kau pulang." ucap Clara setelah Zhak menghilang dari pandangan mereka.
"Tapi Cla-
"Dika, aku tau kau sangat perduli padaku, tapi cukup Dika. Ini rumah tangga ku, biar aku yang menyelesaikannya." putus Clara.
Dika menghela nafasnya, dia benar-benar kesal, tapi tidak banyak yang bisa ia lakukan. Dika mengangguk, pria itu pergi dengan amarah yang masih menyala di dadanya.
***
__ADS_1
pukul 11 malam
Clara masih belum mengantuk, dia termenung sendiri di dalam kamarnya. Clara masih memikirkan kejadian siang tadi. Bukan Clara tidak peka terhadap apa yang terjadi, Clara tau siapa dan apa yang membuat Zhak suaminya pergi meninggalkannya. Clara juga pernah mendengar tentang pernikahan Zhak yang pernah gagal, sampai akhirnya dirinya di jodoh kan.
"Kau masih belum tidur?" pertanyaan itu membuat Clara terkejut. dia tidak mendengar pintu kamar itu terbuka, mungkin karena dia terlalu fokus pada pikirannya sendiri.
"Belum Mas, belum ngantuk." jawab Clara menggeser tubuhnya ke belakang.
"Tidurlah, ini sudah malam. Aku akan mandi terlebih dulu." ucap Zhak dan ingin berbalik. Tapi Clara menghentikan langkah suaminya.
"Mas tunggu." ucap Clara ragu.
Zhak berbalik."Kenapa? ada yang ingin kamu katakan?"
"Emm, tidak mas, tidak jadi." Clara mengalihkan pandangannya, dia merasa gugup dan takut.
"Tidurlah, jangan berfikir macam-macam." Clara mengangguk, ia merebahkan tubuhnya lalu menarik selimut, meski matanya tidak mau terpejam tapi Clara mencoba untuk segera terlelap.
Sementara Zhak masih berada di dalam kamar mandi, dia masih merendam tubuhnya yang lelah. Hari ini banyak kejadian yang membuat kepalanya terasa pusing.
"Hahhh." Zhak menghela nafasnya. sesekali ia memijat kepalanya sendiri."Apa yang aku lakukan ini tepat, apa yang di katakan Max itu benar." gumam Zhak saat mengingat ucapan Max tadi.
...Flashback on...
"Lanjutkan ucapan mu tentang Burhan sore tadi." ucap Zhak saat Max sudah berada di hadapannya.
"Tuan Burhan pernah ingin menjual Nona Clara pada perusahaan LA, dengan alasan yang sama. Berpura- pura terserang penyakit jantung, hanya saja kakek dari nona Clara tidak membiarkan hal itu terjadi, beliau menyewa orang untuk membongkar kejahatan perusahaan LA dan memasukan pemilik perusahaan itu ke dalam penjara." jelas Max.
"Lalu, apa Kakek Clara tau jika cucunya menikah denganku karena Burhan bangkrut?" tanya Zhak penasaran.
"Tentu tuan, beliau mengetahui segalanya." jawab Max yakin.
Zhak mengerutkan dahinya, terlihat beberapa kerutan yang menandakan kebingungan pada dirinya." Beliau tau, tapi kenapa dia tidak menghentikannya saat itu." gumam Zhak yang masih di dengar boleh Max.
"Itu karena tuan Wijaya tau jika putrinya bersahabat dengan Mama tuan muda. Dan beliau yakin jika Nona Clara sudah jatuh di tangan yang tepat."
Deg...!
Jantung Zhak berdetak keras, dia tidak yakin dengan dirinya, karena Zhak masih memikirkan seseorang yang masih tersimpan di hatinya selama ini.
"Baiklah Max, kau boleh pulang." ucap Zhak cepat.
"Baik tuan."
Flashback off
Tanpa terasa air yang tadinya hangat kini sudah menjadi dingin. Zhak beranjak dari tempatnya, sebelum keluar dia membilas bersih tubuhnya.
Zhak keluar dan melihat Clara sudah terlelap, terlintas di pikirannya tentang ucapan Max tadi. Zhak menghela nafasnya lalu segera mengenakan pakaian tidurnya. Setelah selesai Zhak merebahkan tubuhnya di sebelah Clara. Zhak melihat wajah polos Clara saat dia terlelap, rasa bersalah kembali terlintas di dalam pikiran Zhak.
__ADS_1
"Mungkin kata maaf tidak akan cukup untuk apa yang akan aku lakukan kepadamu Cla, tetapi itulah yang terbaik. Saya hanya tidak ingin menyakiti kamu terlalu dalam."