
Sesuai perjanjian keduanya, malam ini Clara sudah berangkat sekitar pukul setengah delapan malam. Clara juga di temani oleh dua bodyguard yang di tugaskan oleh kakek wijaya untuknya.
Di dalam perjalanan Clara merasa sangat cemas, entah kenapa hatinya merasa sangat resah. Clara takut jika terjadi sesuatu yang tidak-tidak. Tetapi Clara harus menenangkan hatinya sendiri, dia sangat yakin jika tidak akan terjadi sesuatu, karena mereka juga bertemu di tempat terbuka.
Clara mengangkat kepalanya, menatap papan besar yang tertulis di atasnya. Ya, Clara sudah tiba di Cafe tempat mereka berjanji. Clara menarik nafas lalu membuangnya pelan.
"Kalian tunggu disini saja, aku tidak akan lama." ujar Clara.
"Tapi Nona."
"Jangan membantah, didalam itu ramai, tidak mungkin terjadi sesuatu padaku." ujar Clara dengan nada kesal.
Entah kenapa belakangan ini emosi Clara sering tidak teratur. Ia sangat cepat kesal dengan mod yang berubah-ubah.
Dua suruhan kakeknya mengangguk patuh, Clara pun segera masuk ke dalam. Di dalam Clara melihat ke seluruh sudut ruangan, tetapi tidak terlihat sedikitpun batang hidung suaminya. Clara mendesah kesal, ia langsung mencari tempat duduk di dekat jendela.
Sambil menunggu Clara memesan Jus Durian untuk dirinya. Anehnya Clara itu tidak suka Durian.
"Ini nona." ujar pelayan yang membawa pesanan Clara
Clara mengangguk lalu berterimakasih dengan senyum sumringah, tidak seperti biasanya jika melihat apapun yang berbau durian Clara akan langsung mual. Tapi ini, dia malah langsung meneguk jus itu tanpa ampun. Seolah itu adalah jus kesukaannya.
Cukup lama Clara menunggu orang yang membuat janji, dan akhirnya Clara melihat Zhak berjalan ke arahnya.
Clara diam membisu, matanya masih setia pada sosok yang kini duduk di hadapannya
"Maaf, saya terlambat." ujar Zhak
"Ya. tidak apa-apa." balas Clara.
"Kau sudah memesan makanan?"
__ADS_1
Clara menggeleng, ia menunduk sambil mengaduk-aduk jusnya. Kegiatan yang ia lakukan itu idak luput dari pandangan Zhak.
Zhak tau mungkin Clara masih trauma dengan apa yang sudah terjadi, bahkan bahasa tubuhnya sudah membuat Zhak tau jika Clara tidak nyaman berada di dekatnya.
"Kau ingin pulang?"
Pertanyaan Zhak membuat Clara mengangkat kepalanya. Entah kenapa mendengar pertanyaan Zhak, membuat kepalanya kembali berat, Clara merasa kepalanya berdenyut lagi.
"Jangan salah paham, saya bertanya apa kau ingin pulang ke rumah kakekmu. Karena aku merasa kau tidak nyaman bertemu denganku."
Clara menghela nafas pelan. Ia sudah memikirkan yang tidak-tidak saja.
"Tidak. Tetapi lebih baik anda mengatakan apa yang ingin anda sampaikan sekarang."
Zhak menarik nafasnya lalu membuangnya pelan. Entah kenapa Zhak tidak suka dengan ucapan Clara.
" Kau terlihat lebih berisi." ujar Zhak meneliti
Clara bahkan menjauhkan jusnya karena sudah tidak berselera lagi. Sementara Zhak yang melihat tingkah Clara menjadi sedikit aneh. Karena tidak bisanya Clara marah seperti itu padanya. Atau mungkin karena Clara tinggal di rumah kakek Wijaya dan tau bahwa ia cucunya, makanya sekarang gadis itu lebih berani
"Baiklah. Sebenarnya aku ingin bertemu karena ingin minta maaf atas apa yang sudah terjadi. Aku juga tidak meninggalkan negara ini seperti yang mungkin kau dengar selama ini. Aku hanya menenangkan Diri dengan atas apa yang sudah terjadi." ujar Zhak
"Lalu"
Zhak menatap Clara yang seperti sudah tidak punya rada takut lagi terhadapnya.
" Aku tidak ingin menjadi seorang pria yang lebih bejat. Setelah melakukan hal seperti itu lalu aku pergi begitu saja, kau tau. Aku tidak seburuk itu."
"Hahhh." Clara menghela nafas berat. Meski hati dan fisik nya sakit tapi Clara tidak bisa begini terus, Clara tidak ingin terlalu larut dalam duka hatinya.
"Lalu apa mau anda?"
__ADS_1
"Saya sudah melupakan semua yang terjadi dan saya alami di rumah itu. Saya hanya ingin hidup bagai mananya manusia layak."
"Maaf, jangan berfikir jika karena saya sedang bersama Kakek Wijaya, saya jadi berani seperti ini. Saya hanya ingin lebih memakai logika saja untuk menjalani hidup ini. Seperti orang lain pada umumnya, bukan larut dalam dunia khayalan."
Clara melihat raut wajah Zhak yang terlihat begitu tenang dan tanpa ekspresi .Tapi Clara tidak perduli, entah kenapa Clara begitu berani sekarang.
"Duka yang anda berikan memang akan selalu membekas, tetapi apa gunanya saya terlalu larut dalam semua itu. Membuang waktu dan tenaga saja. Memandang anda disini menyadarkan saya, jika tugas seorang istri adalah melayani suami. Meski itu karena kemarahan anda yang tidak beralasan."
Ucapan terakhir Clara seperti menohok hatinya. Karena memang benar dirinya saat itu marah tidak beralasan. Dan Zhak melakukan hal yang memalukan kepada istrinya sendiri.
Zhak menghirup oksigen sedalam mungkin dan membuangnya pelan. Sebelum membalas ucapan Clara, Zhak terlebih dulu memesan minuman, pria itu merasa tenggorokannya sangat kering.
"Apa sudah selesai, jika sudah saya harus pulang." Clara ingin beranjak, tetapi Zhak mengentikan istrinya itu.
"Tunggu, aku ingin menyampaikan sesuatu."
Clara menghela nafas, ia sudah tau apa yang ada di benak suaminya itu.
"Masalah perceraian kita kan !, aku siap menandatangani nya jika semua berkas nya sudah siap." ujar Clara dengan nada rendah.
Jujur dari hati yang terdalam Clara tidak ingin berpisah, ia sangat ingin menikah sekali seumur hidup. Mungkin pendidikan dan juga hidupnya tidak bisa ia sempurnakan. Tetapi pernikahannya? Clara sangat tidak ingin semua itu berakhir.
Saat ini perasaannya benar- benar hancur, dengan tanpa menatap Zhak, Clara melenggang pergi. Sementara Zhak menatap punggung istrinya yang terlihat menjauh.
Entah kenapa hatinya merasa gundah, Zhak tidak tau harus berbuat apa. Sementara logikanya menginginkan dirinya untuk berpisah, tetapi hatinya?
Zhak benar-benar merasa tidak baik-baik saja.
.
.
__ADS_1