BATAS RASA

BATAS RASA
Berbohong


__ADS_3

Awal kehidupan baru di mulai, Clara tidak mengetahui apa tujuan pernikahannya saat ini. Yang jelas semasih tidak ada perjanjian yang berarti Clara akan tetap menjalani kehidupan nya seperti semula.


Pagi ini Clara turun ke bawah untuk menemani suaminya sarapan untuk yang pertama kalinya, sekaligus Clara akan meminta izin tetap bekerja dan melanjutkan kuliahnya. Berharap Zhak akan mengizinkan dan tidak memberi larangan untuk hal itu.


Clara duduk tepat di sebelah kanan Zhak. Zhak yang sudah terlebih dulu berada di sana menatap penampilan istrinya dari atas hingga bawah.


"Mau kemana kamu?" tanya Zhak.


"Saya akan pergi bekerja tuan." jawab Clara.


Zhak mengernyitkan dahi." Kenapa, apa kekayaanku kurang untuk kau nikmati!" ucap Zhak .


Zhak mengingat tentang informasi yang Max berikan malam tadi kepadanya. Bagaimana kehidupan Clara sebagai anak kandung Burhan di rumah mewah itu. Semua informasi tentang Clara ia dapat dengan sangat mudah, membuat dirinya urung melakukan rencananya yang sudah ia susun rapi.


"Bukan begitu tuan-


"Berhenti memanggilku tuan. Aku ini suamimu." potong Zhak tegas.


Clara menunduk takut, dia bingung harus memanggil Zhak apa? apakah Mas, akang, kanda atau Om. Oh tidak, pasti panggilan terakhirnya akan membuatnya langsung di kunyah hingga ke tulang.


"Kenapa diam?" Clara terkejut, dia belum tau harus memanggil Zhak apa.


"Lalu saya harus memanggil apa?" tanya Clara


"Beri panggilan yang pantas untuk ku."


"Baiklah, aku panggil Mas Ervan saja." Zhak mengangkat satu alisnya.


"Kenapa nama depanku yang kau pilih? Semua orang disini memanggilku Zhak." protes Zhak.


"Aku lebih suka memanggil nama depan Mas Ervan." jawab Clara.


"Hah, baiklah, terserah kau saja." Zhak mengalah, dia tidak ingin berdebat.

__ADS_1


"Jadi boleh?" Clara memastikan


"Iya boleh."


"Ok, jadi saya juga boleh bekerja?" tanya Clara lagi.


"Tidak." jawab Zhak singkat.


Mata Clara mendelik, Clara pikir Zhak akan mengizinkannya."Kenapa tidak?"


"Aku sudah bilang kan, kau itu istri seorang tuan muda Zhak. Apa kau pikir aku akan membiarkan istriku bekerja keras hanya untuk membayar uang kuliah yang tidak seberapa itu. Aku bahkan bisa membeli kampus itu untukmu." ucap Zhak sombong.


"Baiklah, tapi aku bisa tetap kuliah?"


Zhak mendengus kesal mendengar pertanyaan Clara, gadis di depannya benar-benar polos.


"Kau boleh tetap kuliah. Aku tidak ingin mempunyai istri yang bodoh dan tidak berpendidikan. Aku sudah menyiapkan mobil dan supir pribadi untukmu."


Wajah Clara berbinar, tenyata suaminya sangat baik, bahkan rumor yang membuat Clara takut kini lenyap seketika. Pria di hadapannya itu benar-benar baik, tidak seperti yang di gosipkan.


Hari ini Zhak kembali ke perusahaan setelah beberapa hari istirahat. Zhak melakukan pengecekan pada beberapa proyek yang dirinya tangani, tidak lupa Zhak juga memberi perintah pada Max untuk mengawasi Clara.


Sementara itu Clara sedang mengikuti mata pelajaran yang paling dia sukai. Selama ini Clara selalu menutup diri dari kampus itu, Clara tidak terlalu dekat dengan siswa siswi di kampus itu, karena Papa dan mamanya melarang Clara untuk mengatakan identitas dirinya. Entah kenapa, tapi Clara tidak pernah bertanya lebih jauh, Clara hanya mematuhi semua tanpa ingin protes. Tetapi di balik semua itu, Clara mendapat ketenangan karena tidak banyak yang perduli dengannya, dia tidak menjadi sorotan karena tidak ada yang tau jika dirinya adalah anak pemilik perusahaan besar di kota itu.


"Clara tunggu." panggil seorang pria dari belakang Clara, pria itu adalah Sahabat Clara, Dika candra dwijaya. Anak dari dokter terkenal di kota itu. Dika memiliki paras tampan, baik hati dan satu-satunya orang yang mau menerima kekurangan Clara.


"Kau sudah selesai dengan kelas mu?" tanya Dika sambil mengatur nafasnya karena baru saja berlari mengejar Clara.


"Iya. Aku kira kau tidak ke kampus." ucap Clara sambil terus berjalan.


"Tidak mungkin aku tidak ke kampus, sebentar lagi kita akan menghadapi skripsi terakhir. Aku tidak ingin menjadi anak kampus lagi, aku ingin segera menjadi seorang dokter."


"Baiklah pak dokter, semoga sukses." ucap Clara seraya meledek Dika.

__ADS_1


"Dan kau, bagaimana denganmu?" tanya Dika.


"Aku. Aku akan terap kuliah, kau tau kan aku baru bisa membayar lunas uang kuliahku, jadi aku baru bisa melakukan skripsi akhir tahun ini." jelas Clara.


"Kau hari ini tidak bekerja?" pertanyaan yang sontak membuat Clara berhenti berjalan. Clara belum mengatakan jika dirinya sudah menikah, karena Clara tidak ingin ada yang tau tentang pernikahannya.


"Em, aku mendapat sip malam." bohong Clara.


"Tumben sekali, biasanya kamu lebih suka sip pagi kan. Apa ada masalah Cla?" Clara menggeleng. Karena memang benar tidak ada masalah, tapi masalah terbesarnya adalah bagaimana dirinya harus menjelaskan kepada Dika.


"Baiklah, kalau begitu kita ke kantin." Dika menarik tangan Clara, tapi Clara menahannya. Hari sudah mulai siang, Clara harus pulang karena pesan dari Zhak, jika dia sudah selesai harus segera pulang, karena ada acara makan malam bersama keluarga besar Zhak.


"Maaf Dik, aku harus segera pulang, ada urusan keluarga." Clara berbohong lagi. tapi tidak sepenuhnya, karena memang benar dia ada urusan keluarga.


"Benarkah, sejak kapan keluargamu mulai dekat denganmu Cla?" selidik Dika, karena yang Dika tau jika Clara sudah di terlantarkan oleh keluarganya.


"Dika, tidak selamanya keluargaku akan bersikap jahat terhadapku." kilah Clara.


"Ok, ok. Kalau begitu aku antar."


"Tidak."


"Kenapa?"


"Em, itu, hari ini papa menjemput ku." Clara kembali berbohong, entah kenapa Dika hari ini bersikap aneh.


Dika memperhatikan gelagat Clara yang terlihat aneh, tapi Dika tidak memperdulikannya, Mungkin Sahabatnya itu sedang ada masalah.


"Baiklah, kalau begitu aku duluan. Kau hati-hati di jalan ya Cla." Dika meninggalkan Clara sendiri. sementara Clara bisa bernafas lega karena Dika tidak bertanya lebih lanjut.


Clara mengambil ponselnya, dia menghubungi supir yang mengantarnya tadi, tapi sayang nya tidak ada jawaban. Clara pun memutuskan untuk berjalan ke depan kampus, dia akan menunggu sampai supirnya datang. Clara sampai di depan kampus, dia melihat sebuah mobil mewah terparkir di sebrang jalan, tapi Clara tidak mengenali siapa pemilik mobil itu. Clara yang tidak perduli memutar tubuhnya dan ingin pergi, tapi tanpa Clara sadari ada seorang yang menarik tangannya.


"Mau kemana kamu?"

__ADS_1


.


.


__ADS_2