
Pagi menjelang, Clara mencoba memejamkan matanya, sesaat tadi dia sempat pergi ke kamar mandi. Tapi entah kenapa mata Clara tidak bisa terpejam lagi. Clara bangkit dari tempat tidur, dia memutuskan untuk mencuci wajahnya lalu turun ke bawah.
Sambil melangkah ke bawah Clara terus saja menguap, dia masih mengantuk tetapi entah kenapa matanya tidak mau ber kompromi dengannya.
"Belum ada orang ya." ucap Clara sambil melihat ke arah dinding yang bertengger sebuah jam dinding besar. Disana jam menunjukan pukul 4 pagi.
Clara berjalan melewati ruang tamu menuju dapur, disana Clara mengambil segelas minuman. Setelah selesai ia kembali ke ruang tamu dan duduk disana.
"Nona, apa yang anda lakukan sepagi ini?"
Sebuah pertanyaan mengejutkan Clara, suara itu begitu membuatnya terkejut hingga menjatuhkan gelas di tangannya.
Prang....
"Nona.., anda tidak apa-apa?" tanya Max dengan sigap mendekati Clara. Max, tidak menyangka jika Clara akan merespon pertanyaannya dengan menjatuhkan gelas di tangannya
"Astaga Kak Max, kau mengagetkan aku." sungut Clara sambil mengelus dadanya. Beruntung pecahan gelas itu tidak mengenai kakinya." Tidak kak, aku tidak apa-apa." imbuh Clara
"Astaga, maafkan saya. Nona tidak apa-apa kan?" tanya Max sambil memeriksa kaki Clara.
" Kak jangan menyentuh kaki ku, aku tidak apa-apa, sungguh." ucap Clara
"Syukurlah. Sekali lagi saya minta maaf nona." sesal Max
__ADS_1
"Sudah lah kak, tidak apa-apa. Kakak ini seperti aku terkena tembakan saja." Clara tersenyum mengejek. Hal itu membuat Max ikut tersenyum.
"Baiklah. Kenapa Nona berada disini sepagi ini? apa Nona tidak bisa tidur?"
"Hmm."Clara menunduk untuk memungut pecahan gelas." Tadi aku sempat terbangun, dan gak bisa tidur lagi." jawab Clara.
"Non, biarin aja, biar di bersihin pekerja kita." Max menghentikan tangan Clara. Max tidak ingin tangan istri tuannya terluka.
"Kak, kalau pecahannya di biarin, nanti ngenain kaki orang lain." ucap Clara sambil terus memungut pecahan gelas.
Setelah selesai memungut pecahan gelas itu, Clara kembali ke ruang tamu, disana Max sedang sibuk dengan laptop nya. Entah apa yang Max kerjakan tapi Clara tidak ingin menganggu nya, Clara pun hanya duduk sambil memakan camilan yang sempat ua ambil dari lemari di dapur.
"Nona." panggil Max saat melihat Clara hanya duduk dengan cuek di depannya.
"Hmm, kakak sudah selesai?"
Clara terdiam, sambil meletakan bungkus cemilan di atas meja, Clara menurunkan kedua kakinya yang tadinya bersila, ia sedikit menghela nafasnya yang terdengar berat.
"Aku tidak tau kak, tapi satu tahun yang lalu ada orang yang mengatakan jika aku masih mempunyai keluarga, tapi aku tidak pernah ingin tau atau ingin mencari tau." jawab Clara.
"Kenapa?" tanya Max penasaran.
"Karena aku tidak ingin menyusahkan mereka." Clara tersenyum, tapi senyum itu seprti tidak tulus, seperti ada beban yang tidak bisa ia ungkapkan.
__ADS_1
" Baiklah, saya tidak akan bertenya lagi." putus Max
"Ohhh ya Kak, hari ini Kakak sibuk?"
"Kenapa, Nona perlu sesuatu?"
Clara menggeleng, dia tidak mau menyusahkan Max." Tidak, aku hanya bertanya iseng saja."jawab Clara dengan senyum di wajahnya
" Saya pagi ini ada penerbangan ke korea nona, melanjutkan pekerjaan Tuan muda yang tertunda kemarin." jelas Max
"Oh. Maaf ya kak, itu gara-gara aku ya." ucap Clara dengan wajah sedih.
"Nona tidak perlu merasa bersalah, semua juga sudah terjadi." ucap Max cepat.
Tanpa terasa mereka mengobrol sampai semua pekerja memulai aktifitasnya. Clara yang mungkin lelah dan mengantuk sampai tertidur di sofa.
"Max, apa kau melihat Clara, dia tidak ada di kamar sejak saya bangun tadi." ucap Zhak sambil melangkah ke arah Max.
"Tuan, Nona terbangun sekitar pukul 4 pagi tadi, dan kami mengobrol sampai Nona tertidur di sofa." ucap Max sambil mengarahkan pandangannya ke arah Clara yang tertidur begitu pulas.
Zhak mengikuti arah pandang Max, ia pun mendapati istrinya itu sedang tertidur pulas.
"Anak ini." ucap Zhak sambil mendekat ke arah sofa. Zhak mengangkat tubuh Clara lalu membawanya masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Sejenak Zhak memandang wajah lugu istrinya saat tanpa sengaja wajah mereka begitu dekat. Zhak benar-benar tidak tau harus berbuat apa, keputusan yang harus ia ambil benar-benar berat.
"Maafkan saya Clara, maafkan saya."