BATAS RASA

BATAS RASA
Pengertian


__ADS_3

Max baru saja datang ke kediaman Edwards sekitar pukul 8 pagi. Max ingin memastikan jika Clara baik-baik saja.


Pagi ini Max menggunakan kemeja Biru dongker Favorit nya lengkap dengan setelan jas yang membuat pria itu terlihat sangat tampan. Langkah kaki panjangnya mulai memasuki kediaman Edwards, tidak ada rasa curiga di pikiran Max.


Sayang, baru saja Max masuk ke dalam kamar Nona mudanya itu ternyata Clara sudah tidak ada. Max menanyakan ke seluruh penghuni rumah dan ternyata Clara tidak ada sejak pagi tadi. Beberapa pelayan juga sudah mencari di seluruh rumah pun tidak di temukan.


Setelah sekian jam Pak Sen dan Max pun memeriksa beberapa Cctv yang ada di rumah itu, betapa terkejutnya mereka saat tau jika Clara pergi dengan membawa koper di tangannya.


Max yang panik segera menghubungi orang-orang nya untuk mencari keberadaan Clara. Dan tidak lupa Max juga menghubungi Zhak.


Hanya saja pria itu seperti tidak perduli, sangat terlihat jelas saat Max mengirim pesan yang hanya di lihat dan panggilan yang tak kunjung di terima


"Saya yakin anda akan menyesal tuan, jika tidak sekarang, mungkin suatu saat nanti. Dan saat itu tiba mungkin anda sudah terlambat." gumam Max.


****


Sementara itu Clara baru saja selesai membersihkan tubuhnya saat Kakek Wijaya memanggilnya turun untuk sarapan.


"Pagi kek." Clara menyapa dengan senyum tanpa beban.


"Pagi sayang, ayo nak kita sarapan dulu. Maaf jika kakek tidak tau makanan kesukaanmu, tetapi kakek menyuruh Koki untuk memasak makanan kesukaan Ibumu."


Clara menarik kursi tidak jauh dari sang kakek, ia melihat beberapa menu yang memang kesukaan sang Ibu. Senyum Clara semakin merekah, dia yakin jika kakek Wijaya memang tidak berbohong.

__ADS_1


Clara menyantap sarapannya dengan hati tenang, ia sudah melupakan apapun yang sudah terjadi. Mungkin ini untuk sementara, Clara tidak tau bagaimana kedepannya nanti.


"Kek, ini kamar siapa?" tanya Clara saat ia berdiri di depan sebuah kamar yang berada di lantai tiga.


Kakek Wijaya tersenyum ke arah sang cucu, perlahan pria tua itu membuka kamar yang sudah cukup lama tidak ia datangi.


Ya sejak kepergian Laras, kakek Wijaya sudah tidak pernah masuk ke kamar sang putri. Tetapi kakek Wijaya selalu rutin menyuruh beberapa pelayan untuk membersihkan kamar itu.


Tak....


Pintu terbuka, hal pertama yang Clara lihat adalah foto Laras. Langkah kaki Clara perlahan masuk, matanya tertuju pada foto-foto yang terpajang di dinding kamar itu.


"Ibumu dulu adalah anak yang baik, penyayang dan juga patuh. Kakek sangat menyayanginya begitupun dengan ibumu, dia sangat menyayangi Kakek."


"Kek." Panggil Clara


"Kenapa Mama tidak mengakui kakek? kenapa dia menutupi semua dari Clara?"


"Nak, Kakek akan menceritakan semuanya, tapi tidak sekarang. Masalah mu lebih besar dari hal itu sayang, jadi mari kita selesaikan satu per satu." ucap Kakek Wijaya


"Masalah !, masalah apa yang aku punya kek?" Clara merasa bingung, ia merasa dirinya tidak memiliki masalah apapun.


"Jika kau tidak memiliki masalah, lalu kenapa kau bisa pergi dari rumah suamimu?"

__ADS_1


Clara terdiam, bagaimana Kakek bisa tau tentang hal itu?


"Kek, itu-


"Kakek tau semuanya nak, dan kakek tidak akan mengampuni suamimu itu, yang sudah menelantarkanmu dan membuatmu seperti sekarang ini." Dalam ucapan Kakek Wijaya menyiratka kemarahan yang dalam.


Kakek Wijaya awalnya memang sangat percaya dengan Zhak. Karena yang ia tau pria itu cukup bertanggungjawab, hanya saja entah apa yang terjadi, pria itu sudah mengecewakannya kali ini.


"Hahhh." Clara menghela nafas pelan, ia lalu menggenggam tangan sang kakek dengan senyum tanpa paksaan.


"Kakek. Clara tidak tau kakek tau masalah Clara dari mana, tetapi Clara yakin jika semua itu tidak lah sulit untuk kakek lakukan." Clara menjeda ucapannya.


"Tetapi kek,Maaf jika ucapan Clara kali ini akan menyinggung perasaan Kakek, tetapi masalah Clara dan mas Ervan itu masalah pribadi kami. Kami tidak ingin ada orang lain yang ikut campur dalam urusan kami. Clara tau jika kakek khawatir dengan Clara karena Kakek sangat menyayangi Clara, tetapi jika dalam satu hubungan suami istri ada orang ketiga, entah itu dari mana sumbernya, maka hal itu tidak akan baik kek."


"Kakek tau, hubungan Clara dan mas Ervan bahkan belum seberapa, banyak pasangan suami istri di luaran sana yang mungkin sudah bersama cukup lama dan mereka masih tetap memiliki masalah dalam rumah tangga mereka." Clara mencoba menjelaskan, meski sebenarnya itu tidak pantas.Karena Kakek Wijaya memiliki pengalaman yang mungkin jauh dari Clara


" Kek, tidak ada zona aman dalam sebuah pernikahan,justru akan banyak cobaan yang datang menghampiri setelah pernikahan.Karena itulah Clara dan Mas Ervan masih harus banyak belajar, dan jika dalam rumah tangga Clara banyak masalah, itu hal yang wajar kan kek. Karena Clara yakin jika kakek lebih tau dari Clara. Jadi Clara hanya ingin kakek mengerti Clara, jika suatu saat nanti hubungan kami sudah sangat memburuk, maka Clara tidak akan melarang Kakek untuk membantu Clara."


Kakek Wijaya menatap Cucunya dengan perasaan haru. Ternyata Laras melahirkan putri yang tidak hanya cantik tetapi dia juga sangat bijak. Kakek Wijaya mengangguk, dia berjanji tidak akan lagi ikut campur dengan urusan rumah tangga cucunya itu, tetapi jika sampai Zhak kelewat batas maka Wijaya tidak akan ragu untuk menghancurkan Zhak sampai ke akar.


.


.

__ADS_1


__ADS_2