
Mentari pagi mulai naik perlahan untuk menampakan sinarnya, menandakan jika aktifitas manusia akan di mulai segera.
Clara, gadis cantik bertubuh mungil itu sedang mempersiapkan diri untuk pergi bekerja, hari ini Clara mendapat sip pagi karena kuliahnya di mulai sore nanti.
"Ok, siap." ucap Clara penuh semangat, wajahnya yang ceria selalu ia perlihatkan walau saat dirinya susah sekalipun.
Clara mengambil tas selempang nya, dia keluar dari kamar lalu turun ke bawah. Seperti biasa, Clara hanya melewati meja makan tanpa berniat mengikuti sarapan pagi.
"Clara." suara pria yang hampir beberapa tahun ini tidak pernah ia dengar, dan kini suara itu terdengar dan memanggil nama Clara.
Clara menoleh, satu alisnya terangkat saat semua mata tertuju padanya.
" Papa manggil Clara?" tanya Clara
"Kamu itu budek ya, udah denger Papa manggil kamu ehhh malah nanya lagi." cetua Anes dengan tatapan tak sukanya.
"Iya Clara, papa panggil kamu."
Ragu, itulah yang terlihat dalam langkah Clara, tetapi dia masih berjalan mendekat.
"Duduk." ucap Burhan yang hanya di balas anggukan boleh Clara.
Beberapa menit setelah Clara duduk Burhan masih belum bicara, dia hanya menatap putrinya yang tertunduk di depannya dengan raut wajah sedih. Betapa dia sangat menyesal karena menelantarkan putrinya selama ini, membiarkan putri kandungnya sendiri tersiksa, padahal dia memiliki kekayaan yang mungkin tidak akan habis. Tapi karena semua perbuatannya sendiri membuat harta yang tidak mungkin habis kini akan habis dalam hitungan detik, jika putrinya tidak mau membantunya.
"Clara, ayo makan nak." ucap Burhan lembut, memuat semua pasang mata mendelik ke arahnya.
__ADS_1
"Papa, apaan sih, ngapain Papa nyuruh dia sarapan bareng kita." ucap Anes tak suka.
"Anes diam kamu, biarkan Papa kamu memanjakan putrinya yang akan segera pergi dari rumah ini." ucap Bila dengan nada sinis. Sementara Clara yang bingung mengangkat kepalanya karena ucapan Bila.
"Maksud Mama apa, apa kalian akan mengusir Clara? tapi apa salah Clara Ma?" tanya Clara cepat.
"Kamu mau tau alasannya-
"Ma hentikan." potong Burhan, pria paruh baya itu tidak ingin putrinya tau dari Bila.
""Ma tolong, biarkan Papa sendiri yang menyampaikan ini." imbuh Mario.
"Jangan ikut campur kamu Mario, ini urusan orang tua." bentak Bila.
"Ma, Papa mohon, biar Papa yang menyampaikan ini." Mohon Burhan, dia tidak ingin istrinya mematahkan hati Clara, walaupun Burhan yakin jika dia pun akan membuat putrinya terluka. Tapi setidaknya Burhan menyampaikan ini dengan cara lebih baik.
"Maafkan Papa, Clara. Papa melakukan kesalahan besar." Clara merasa bingung melihat Papanya yang tertunduk, bahkan Clara melihat Burhan menangis, setelah sekian lama.
"Clara, perusahaan Papa mengalami kerugian besar nak, Papa akan segera bangkrut."
Deg...!
Jantung Clara berdetak kencang mendengar ucapan Papa nya, dia terkejut, benar-benar terkejut.Clara tidak menyangka jika perusahaan Papanya bisa mengalami kebangkrutan, karena yang Clara tau, perusahaan Papanya tidak mungkin bisa jatuh jika mengingat Papa nya mendapat peringkat orang terkaya ke 4.
"Pa, Papa harus sabar, semua ini cobaan dari Tuhan, Clara yakin semua akan baik- saja." Mendengar ucapan Clara membuat Burhan semakin merasa bersalah. Dia Benar-benar tidak tega mengatakan apa yang sudah ia perbuat demi mempertahankan harta dan perusahaannya.
__ADS_1
Sementara itu Bila yang sudah mulai tidak suka melihat pemandangan di depannya ingin segera menyelesaikan Drama antara ayah dan anak itu.
"Kau tidak usah mengkhawatirkan semua itu Clara, karena Papamu sudah mendapat suntikan dana dari pengusaha terkaya di negri ini. Tetapi kau harus mengkhawatirkan dirimu sendiri setelah ini, karena Papamu sudah menjualmu pada orang itu agar dia mau membantu perusahaan Papamu ini." ucap Bila dengan angkuh.
"Mama." teriak Burhan dan Mario bersamaan. Sementara Clara yang terkejut mendengar ucapan Bila mencoba untuk tidak mempercayainya.
"Tidak Ma, Papa tidak mungkin melakukan itu." ucap Clara dengan nada tenang, dia tidak ingin terpancing dengan ucapan Mama tirinya itu.
"Haha haha, jangan seyakin itu Clara, karena Papamu tidak sebaik itu."
Deg..!
Jantung Clara berdetak lebih cepat dari sebelumnya, tatapan matanya beralih pada Burhan, sorot mata polos Clara membuat Burhan gemetar. Air Mata Burhan yang semakin deras menjawab semua pertanyaan yang bahkan belum Clara tanyakan.
Perlahan Clara mundur, dia menggeleng tidak percaya.
"Maafkan Papa Clara, maafkan Papa." ucap Burhan mencoba mendekati Clara, tapi putrinya itu semakin menjauh, tatapan matanya menyiratkan kekecewaan yang teramat dalam.
Clara berlari keluar dari rumah mewah itu dengan perasaan sakit, teriakan Burhan yang memanggilnya untuk kembali tidak Clara indahkan, Clara terus berlari menjauh dari rumah yang sudah seperti neraka bagi Clara. Clara benar-benar tidak menyangka jika Papa yang selalu ia hormati walau selalu berlaku tidak adil kepadanya tega menjualnya hanya demi harta. Tidak cukupkah perlakuannya selama ini? tidak sadarkan dia jika Clara adalah putri kandungnya.
Langit yang tadinya terlihat cerah mendadak mendung, rintik hujan mulai turun membasahi tubuh lemah Clara. beberapa kali Clara memukul dadanya, berharap rasa sesak akan menghilang jika Clara memukul dadanya, tapi tidak, rasa sesak itu semakin besar. Clara sudah tidak tahan lagi, pertahanan nya mulai runtuh, Clara menangis seiring air hujan yang mulai turun dengan deras.
"Hiksss. kenapa Pah, kenapa Papa begitu tega pada Clara, kenapa Papa lupa jika Clara adalah putri kandung papa. KENAPA." teriak Clara.
"Apa Clara bukan putri kandung Papa, Hikssss."
__ADS_1
.
.