
Siang itu aku duduk termenung disebuah kursi didalam kamar. Memandang keluar jendela dengan tatapan kebingungan. Athagea Liona Albregatte adalah nama yang diberikan oleh Ayahku. Memikirkan kisah cintaku yang seperti pecahan puzzle. Bukan hanya itu saja, namun ada juga tuntutan dari Ayah untuk menjadikanku penerus kekuarga. Semua masalah itu membebani pikiranku. Kisah yang rumit, membayangkannya saja kepalaku terasa ingin pecah. Tiba-tiba ponselku berbunyi tanda pesan masuk. Tanganku gemetar. Kakiku terasa lemas. Aku tidak tahu apa yang ku saksikan ini nyata atau bukan. Aku tutup mulutku yang terbuka karena tak percaya dengan apa yang ku lihat. Sebuah pesan dari nomor yang tidak aku kenal.
Pesan itu berisi, "Jangan sekalipun membuat ikatan dengan Leandricho, atau kau akan menyesal seumur hidupmu. Camkan kata-kataku atau nyawa menjadi taruhannya. Aku tak akan segan-segan untuk membunuh."
Pandanganku tak teralihkan sedikitpun dari pesan itu.Aku baca pesan itu berulangkali. Mataku mulai berkaca-kaca perasaan takut, cemas dan khawatir bercampur menjadi satu. Tubuh gemetar dan kaki yang begitu lemas. Aku tersimpuh di lantai, ada kehangatan yang mengalir membasahi pipi.
Dengan wajah yang sedih dan penuh rasa khawatir, "Begitu banyak hal yang harus kulalui dengan Leandricho. Kenapa saat aku mau menikah dengannya datang lagi satu masalah yang baru dan membuatku begitu muak." Suaraku bergetar karna rasa takut akan kehilangan Leandricho. Ku pandangi lagi. Lagi. Dan lagi ponselku.
"Keluarga Albregatte dan Monarustichell sedari dulu berhubungan dengan baik. Aku tak bisa membiarkan hal ini menjadi penghancur untuk kedua keluarga." Menggenggam erat ponselku, aku menyakinkan diriku. Berusaha untuk tetap kuat.
"Aku harus mencari tahu siapa yang berani melakukan ini. Dari semua orang yang yang dekat dengan keluargaku dan juga Monarustichell aku merasa ini ada hubungannya dengan Mitha. Walaupun ini hanya sekedar tebakan tapi aku harus berhati-hati." Ucapku bangkit dengan tubuh yang sempoyongan.
Seseorang datang dari balik pintu, perempuan berbadan tinggi dan kulit putih yang mulai berkeriput. Dia melangkah mendekatiku "Nona?" Ucapnya terkejut saat melihatku menangis.
"Apakah nona baik-baik saja?." Lanjutnya mendekatiku, bersujud dan memegang lenganku. Menuntunku untuk duduk di sebuah kursi yang berada di kamarku. Kursi itu berjarak satu meter dengan tempat saat aku bersimpuh tadi.
Melihat wajah Bi Anne yang khawatir, "Tenanglah Bi Anne, aku baik-baik saja. Tolong jangan ceritakan ini kepada Ayah." Aku mencoba menenangkan Bi Anne yang terlihat khawatir padaku.
Bi Anne adalah pelayanku, pelayan yang khusus untuk melayani ku. Ayah dulu memberitahuku kalau Bi Anne adalah orang yang merawat kusedari aku bayi. Mungkin karena itu juga, aku sangat percaya pada Bi Anne dan dia sudah seperti ibuku sendiri.
Bi Anne menghela napas panjang, "Baiklah Nona, kalau memang tidak ada apa-apa tapi saya harap ketika Nona ada masalah Nona bisa menceritakannya kepada saya. Jangan dipendam sendiri ya Nona." Bi Anne memelukku tanpa aba-aba. Perasaan yang begitu hangat dan rasa tulus sekali. Saat berada di perlukan Bi Anne aku merasa sangat nyaman. Usia Bi Anne sudah tua sekitar 55 tahun, dengan wajah yang penuh keriput itu dia merawatku.
Aku tersenyum "Iya Bi. Aku pasti akan menceritakannya kepada Bibi. kenapa Bibi kemari?" Aku bertanya karna penasaran sembari melepaskan pelukan Bi Anne.
Seketika Bi Anne teringat, "Oh... Iya saya lupa." Bi Anne menepuk dahinya. "Nona Merry ada di bawah menunggu Nona." Lanjutnya.
Saat itu aku terkejut ketika Bi Anne mengatakan bahwa Merry sedang berkunjung, "Merry?" Bangkit dari dudukku. Setelah sekian lama tidak bertemu dengannya dan kini tiba-tiba dia berkunjung kemari.
Dengan tergesa-gesa, "Aku akan segera turun. Terima kasih Bibi." Menuju ke ruang utama untuk menemui Merry.
__ADS_1
Kamarku berada di lantai kedua dan ruang utama berada di lantai pertama. Di lantai pertama terdapat beberapa ruangan seperti ruang kerja ayah, tiga ruangan untuk kamar tamu, kamar utama atau bisa disebut kamar ayah, ruang perpustakaan, ruang utama yaitu aula di mansion utama ini dan ruang makan. Sedangkan lantai kedua juga terdapat beberapa ruang yang terpisah seperti ruang kamar ku sendiri, ruang musik, ruang seni dan juga gudang. Selain itu terdapat dua ruangan kosong yang akan di isi apa oleh ayah nantinya.
Di mansion utama tidak ada dapur rumah karena dapur berada di paviliun belakang. Paviliun belakang adalah tempat dimana para pelayan beraktivitas seperti halnya dapur, ruangan penyimpanan bahan makanan, tempat pelayanan mencuci, memasak dan sebagainya. Di samping kiri paviliun ada bangunan khusus untuk para pelayan. Terdapat dua bangunan yang pertama untuk pelayan perempuan dan satunya lagi untuk pelayan laki-laki. Kalau dibilang apakah kediaman Albregatte luas? Ya cukup luas.
Rumah dengan arsitektur klasik, perkebunan yang luas kolam renang, kolam ikan,taman nasional utama, paviliun belakang, bangunan pelayan dan beberapa bangunan untuk hewan ternak. Semua itu dikelilingi tembok yang menjulang tinggi.
Seorang perempuan duduk disebuah kursi sofa dengan tenang. rambutnya yang kecoklatan dan kulit yang putih mulus. Mata sipit ciri khas keluarga Edelgard. Pakaian yang terlihat sangat fashionable.
"Merry." Berjalan menuruni anak tangga satu persatu.
Merry berdiri dan memelukku, "Athagea." Terdengar dari suaranya dia merasa senang.
Aku membalas pelukannya, "Kenapa kamu tidak memberiku kabar dulu kalau kamu sudah pulang ke kota Mahotherm?" Dengan wajah cemberut aku mengatakannya pada Merry.
Merry memberikan ekspresi senyum puas,"Hei... Hei...Sudahlah, tidak perlu dipikirkan. Aku hanya ingin memberimu kejutan. "Merry mencubit pipiku.
Kupersilahkan Merry untuk duduk, "Ayo duduk dulu." Lanjutku. "Bagaimana dengan kuliahmu?" Aku memandang Merry.
Merry merasa risih dengan caraku memandang dia, "Kenapa kamu memandangku seperti itu bocah manja." Merry meledekku. "Kau sudah seperti hakim yang akan menyidangkan saja." Merry menahan tawa.
"Bukan itu maksudku, hanya saja..." Belum selesai aku mengatakan apa yang ingin kukatakan, Merry segera memotong pembicaraan ku.
Terlihat dari menghela napas panjang, "Aku sudah menyelesaikannya dan sekarang aku bebas." Ucapnya dengan rasa puas, namun ekspresi yang dia perlihatkan membuat hatiku terasa aneh. Seperti ada sesuatu dibalik itu semua.
Aku terkesiap dengan apa yang dia ucapkan, "Sudah selesai? Tunggu. Tunggu sebentar, ini baru tiga tahun!"
Merry tersenyum saat aku mengatakan hal itu, "Ya... aku memang bukan jenius seperti kamu yang bisa melakukannya dengan sempurna dan kali ini aku benar-benar serius untuk kuliah." Jelas Merry padaku.
Sebenarnya Merry adalah orang yang cerdas tapi itu sesuai dengan tindak ataupun kemauan dia sendiri jika dia merasa harus melakukannya dengan serius maka dia akan benar-benar serius begitu juga dengan sebaliknya.
__ADS_1
Aku membalasnya dengan senyuman, "Kau bilang aku jenius? Itu bukanlah jenius hanya menjalankan tuntutan dari Ayah dan tuntutan sebagai pewaris keluarga Albregatte. "Jelasku pada Merry.
Merry diam sesaat, "Walaupun hanya hal seperti itu, itu juga bisa dikatakan dengan jenius dengan segala tuntutan yang Ayahmu berikan kepadamu dan kamu bisa melakukan semuanya dengan baik bukankah itu juga bisa disebut dengan jenius seseorang yang berprestasi dan tidak pernah gagal sama sekali. " Merry memandangku disertai senyum tipis diwajahnya.
"Dan kamu tahu sendiri aku melakukan ini hanya semata-mata untuk kesepakatan yang aku dan keluargaku buat kalau dalam waktu kurang dari empat tahun aku bisa lulus kuliah maka perjodohan itu dibatalkan." Ekspresi Merry langsung berubah.
Ekspresi yang dia berikan membuat keadaan menjadi canggung.
"Jadi karena itu kamu bersemangat untuk kuliah padahal dulu waktu Sekolah Menengah Pertama kamu orang yang paling malas belajar." Ledeku pada Merry untuk mencairkan suasana.
Bi Anne tiba-tiba datang mendekat dan membawa sebuah nampan, "Permisi Nona Gea dan Nona Merry, ini saya siapkan kopi dan camilan untuk Nona." Menyuguhkan kopi dan meletakkannya di atas meja. Asapnya yang terlihat mengepul dan tercium aroma yang harum.
"Terima kasih Bi Anne." Ucapku dan Merry bersamaan. Setelah meletakkan kopi dan camilan di atas meja Bi Anne pamit undur diri untuk kembali ke belakang.
Merry diam dan melirikku dengan tatapan yang aneh. Aku meliriknya, "Kenapa kamu melihatku seperti itu?" Melihat ekspresi yang ditunjukan Merry.
"Aku heran, kenapa kamu bisa suka kopi sepahit ini." Merry penasaran.
Aku hanya tersenyum, "Aku juga tidak tahu yang pasti ini sangat enak." Ucapku dengan santai sambil meminum kopi itu.
"Hahaha... Sudahlah. Oh.. Iya bagaimana dengan pernikahan kamu dan Leandricho?" Merry membahas topik sensitif.
Aku tersenyum masam, "Pernikahannya masih bulan depan dan seharusnya tidak ada masalah." Jelasku.
"Baguslah kalau begitu. Lalu bagaimana dengan persiapannya?" Tanya Merry padaku. Sembari meminum kopi yang ada di depannya dan menyeruput dengan bibir tipisnya.
"Semuanya sudah siap tinggal minggu depan aku akan mencoba gaun pernikahannya." Jelasku singkat.
Merry mengangguk paham, "Untuk masalah dua tahun yang lalu apa benar tidak ada masalah." Merry penasaran bagaimana perasaanku jika mengenang dua tahun yang lalu. Ya dua tahun yang membuatku kehilangan semangat dan membuatku begitu terpuruk.
__ADS_1