
Rencana hari ini adalah pergi ke butik untuk mencoba gaun pengantin.
"Halo Merry." Aku menelpon Merry.
"Iya kenapa?" Jawabnya dengan santai.
"Hari ini temani aku ke butik karena aku akan mencoba gaun pengantin." Jelasku pada Merry.
"Jam berapa?" Tanya Merry.
"Sekarang. Ini aku dalam perjalanan ke rumahmu." Ucapku pada Merry.
"Dasar kamu ya Gea, mau sampai kapan kamu akan terus memberitahuku secara mendadak seperti ini." Merry berteriak.
"Maafkan aku Merry." Aku meminta maaf.
"Okelah. Qku akan siap-siap dulu." Merry mematikan telpon. Aku menuju rumah Merry untuk menjemputnya.
"Kenapa tidak bersama dengan Leandricho saja?" Tanya Merry yang melihat ku seorang diri menjemputnya.
"Tidak, diaa sudah ke butik terlebih dahulu." Jawabku santai sambil mengendarai mobil. Dengan santai memutar setir mobil.
"Tumben sekali dia mau, biasanya kalau sudah berhubungan denganmu tidak akan mau." Ujar Merry penasaran.
"Benar juga. Dari gelagat Leandricho dia pasti tidak akan mau tahu kalau itu membahas tentang diriku. Ada apa ini?" Gumamku dalam hati.
Tanpa menjawab ucapan dari Merry, aku bergegas mengendarai mobil dengan kecepatan sedang menuju ke butik.
Sesampainya di butik aku melihat mobil Leandricho yang terparkir di depan butik itu. Aku dan Merry segera masuk ke dalam butik mencari Leandricho.
Aku melihat Leandricho tersenyum dengan puas. "Dengan siapa dia tersenyum?" Aku bertanya dengan Merry.
Sebelum Merry menjawab, aku sudah mendapat jawaban nya sendiri. "Mitha." ucapku dalam hati.
Mitha terlihat mengenakan gaun pengantin dan sangat cantik sekali. Tapi kenapa dia ada di sini dan memakai gaun pengantin.
Berpura-pura santai, "Leandricho? Kamu sudah tiba?" TAnyaku berbasa-basi kepada Leandricho.
"Ya." Jawabnya singkat.
__ADS_1
Aku dan Merry saling memandang melihat sikap Leandricho yang begitu dingin.
"Maaf Nyonya, kami ingin mencoba gaun pengantin yang sudah keluarga Albregatte pesan." Aku meminta pada pemilik butik untuk mengeluarkan gaunnya.
Pemilik butik itu segera menyuruh para pelayannya untuk mengambil gaun pengantin itu,tidak lama kemudian para pelayan datang dan membawa gaun itu.
Melihat gaun pengantin itu Mitha terpesona dan terlihat begitu ini.
"Ini adalah gaun yang kalian pesan,sangat sulit untuk membuat gaun ini karena kita harus teliti dengan detail-detail dari setiap bagian gaun ini." Ucap Nyonya pemilik gaun.
"Terimakasih Nyonya anda sudah bekerja keras." Aku memuji.
"Aku akan mencobanya terlebih dahulu." Aku tersenyum ringan, segera berganti ke belakang tirai.
Di dalam butik itu terdapat sebuah tempat yang terdapat kursi panjang. Di hadapan kursi tersebut terdapat sebuah panggung kecil dan terdapat tirai yang menutupinya.
"Cepatlah, aku tidak sabar menantikan memakai gaun pengantin ini." Merry terlihat senang sembari melirik Mitha yang hanya terdiam diri. Leandricho bergegas ke ruang ganti.
Gaun pengantin yang memperlihatkan bagian pundak, dan bagian dada yang penuh dengan renda. Terdapat tali di bagian belakang dari punggung menuju ke pinggang bagian belakang. Dan terdapat bentuk pita di bagian belakang pinggang.gaun itu mengembang lebar dengan renda diari ujung bawah sampai ke tengah hingga membentuk sebuah kerucut. Sangat mewah di begitu elegan. Tatanan rambut yang digelung dan diberi renda melingkar di bagian pernah rambut yang digelung, lalu diberi beberapa bunga kecil di bagian belakang rambut dengan poni poni samping menambah kesan elegan pada gaun tersebut.
Saat aku keluar semua mata tertuju padaku, begitu cantik dan anggun. "Wah..... Benarkan apa yang kukatakan kamu terlihat sangat cantik sekali. Seperti putri raja." Merry memuji. Matanya terlihat berbinar melihat gaun yang kukenakan.
Aku pun tersenyum puas, Leandricho pun ikut terpesona melihat ku. Dia yang memakai setelan jas hitam dengan bunga di saku sebelah kiri.
"Ayo kita pulang." Mitha melirik Leandricho.
"Maksud kamu apa mengajak Leandricho untuk pulang? Bukannya kamu tahu kalau hari ini mereka harus menentukan gaun untuk pernikahan mereka. Seharusnya kamu sadar diri." Sindir Merry pada Mitha.
"Cukup Merry, aku menghormatimu sebelumnya karena kita berteman. Tapi aku tidak tahan lagi kalau kamu terus-terusan menghina Mitha." Teriak Leandricho membela Mitha.
Aku hanya terdiam membisu di sebuah panggung itu dengan gaun yang lebar, "Apa yang kamu katakan? Teman? Sejak kamu memutuskan untuk bersama dengan Mitha. Kita bukanlah teman lagi Leandricho!." Tegas Merry pada Leandricho.
"Merry apa yang kamu katakan?" Aku terkejut melihat Merry seperti itu.
"Cukup Gea. Aku sudah muak dengan semua. Kenapa kamu masih diam saja Leandricho? Kenapa tidak menjawab? Aku tahu di hatimu masih ada Gea. Tetapi karena Mitha membantumu dalam kecelakaan dua tahun yang lalu kamu memilih dia atas dasar hutang budi. Keputusan macam apa itu?" Merry bicara tanpa melihat situasi.
Mitha terkejut dengan yang Merry ucapkan, terlihat ekspresi marah di raut wajahnya. "Merry cukup Merry!" Teriakku menyuruh Merry diam.
"Aku sama sekali tidak mencintai Gea! Menikah adalah pelaksanaan dari keluarga." Jawab Leandricho.
__ADS_1
"Kalau dibilang paksaan, akulah yang lebih terpaksa karena perjanjian itu keluar dari mulut keluargamu. tidak akan merasa bersalah terhadap ku.?" Aku bertanya kepadanya dengan penuh rasa sesak.
"hHentikan Gea! Kamu membuat Leandricho bingung!" Mitha sembari menenangkan Leandricho.
"Bingung? Bingung itu dibuat oleh dia sendiri. Sejak awal dia bisa menolaknya, kenapa dia harus menerimanya? Lagipula itu pilihan keluarganya. Kenapa dia melampiaskannya pada Gea?" Jelas Merry marah.
"Sejak dua tahun lalu, jika sekali saja kamu mau mendengarkan penjelasanku tentang kecelakaan itu mungkin ini tak akan terjadi." Timpal ku pada penjelasan Merry.
Leandricho hanya terdiam menunduk seperti orang yang kebingungan dan merasa frustasi, "Kalian berdua hentikan! Ayo Leandricho kita pulang." Mitha langsung berganti pakaian dan mengajak Leandricho untuk pulang.
Ada yang aneh dengan Leandricho, Dia begitu tertekan dengan ucapan Merry, dia tidak mampu menjawab sepatah kata pun. Apa benar di hatinya masih ada aku?
"Akhirnya lega juga setelah memaki mereka." Ujar Merry merasa puas dan menghela napas disertai menepuk dadanya.
"Sudah puas kamu?" Tatapku dengan tajam.
"Hehehehe... Maaf Gea, aku benar-benar sudah tidak bisa menahan emosiku. Jadi aku lupakan saja, tetapi ada untungnya kan? Aku tahu kalau sebenarnya Leandricho masih mencintai kamu." Jawab Merry puas dengan apa yang telah dilakukan.
"Itu hanyalah dugaanmu." Jawabku.
"Itu bukan hanya sekedar dugaan Gea." Teriak Merry meyakinkan.
"Cukup! Aku akan berganti pakaian dulu. Setelah itu kita pun saja, kamu benar-benar menghancurkan mood-ku hari ini." Aku acuh..
"Gea maafkan aku. Maafkan aku." Merry memohon. aterlihat dia begitu sedih dan menyesal.
Melihat ekspresinya yang seperti itu malah membuatku menjadi ingin menggodanya, "Tidak akan aku maafkan." Jawabku.
"Huhuhu......Gea kenapa kamu kejam sekali." Ucapnya resah.
Aku tersenyum kecil,"Hahaha. Baiklah aku hanya bercanda." ujarku pada Merry.
"Uhhhh.... Gea! Kamu ini yaa. Aku akan mencubitmu." Merry segera mendekatiku.
"Ehhh.. Stop. Apa kamu ingin merusak gaun pengantin. Sudahlah! Aku mau ganti dulu."
Merry pun berhenti, kamu ini Gea besar kepala sekali." Teriak Merry kesal.
Saat dalam perjalanan, "Hahaha.... Apa kamu masih marah denganku?" Tanyaku pada Merry.
__ADS_1
Merry tidak merespon dan hanya memanyunkan bibirnya. "Kalau kamu marah aku tidak jadi menunjukkan sebuah butik padamu nanti." Ucapku membujuk Merry.
"Oke. Ayo berangkat." Sikap dari langsung berubah ketika mendengar kata butik.