
Aku tak menyadari sudah sampai di depan pintu kamar, mungkin karena aku terus menerus memikirkan Tuan Joshua.
"Ceklek." Aku menenangkan diriku dan perlahan membuka pintu.
"Gea? Kenapa kamu lama sekali?" Merry membalikkan badan dan melihat ke arah pintu.
Dengan muka murung, "Maafkan aku, kamu pasti lelah menunggu ku?" Melihat raut muka Merry yang cemberut membuatku merasa bersalah.
Terlihat Merry penasaran, "Kenapa kamu bisa sampai lama sekali?" Merry mulai menggerutu.
Aku berjalan ke arah sofa yang berada di samping tempat tidur, tempat di mana Merry duduk. Menghempaskan bokong ku dan mengambil bantal untuk alas tanganku. "Ada Tuan Joshua." Aku mencoba untuk tenang.
Merry beranjak dari kursi itu "Apa?" Teriak Merry tanpa sadar sampai berdiri.
Melihat Merry yang terkejut, "Kenapa kamu begitu terkejut?" Ucapku yang merasa lucu dengan reaksi Merry dan menahan tawa.
Merry merasa aneh, "Hei Gea! Kamu tahu Tuan Joshua kemari dan kamu masih sempat tertawa? Apa kamu gila! " Merry tak habis pikir dengan sikapku dan kembali duduk dengan mata yang menatapku dengan tajam.
Aku menatap Merry, " Lalu aku harus bagaimana? Takut? Marah? Atau bahkan sedih? Aku rasa itu semua tidak akan merubah apapun yang akan terjadi di masa depan." Jelasku pada Merry.
Dari dalam kamar terlihat di balik jendela sangat cerah sekali, "Ya, bener juga. Tapi bukan ini tindakan yang harus kamu lakukan." Lagi-lagi Merry menatapku dengan tajam.
Selama sekian detik mata kami saling bertatapan, "Maksud kamu?? Aku yang tak mengerti arti dari ucapan Merry.
"Oke sekarang aku akan bicara dengan serius. Sekarang mari kita telaah, Tuan Joshua tahu kalau Mitha yang menyelamatkan Leandricho dengan begitu keluarga Monarustichell mempunyai hutang budi pada Mitha. Sejak awal Mitha memang menyukai Leandricho dan kamu pun tahu akan hal ini. Setelah itu kamu memutuskan untuk menikah dengan Leandricho." Merry mencoba menjelaskan kemungkinan dari hal yang terjadi.
Aku terdiam mendengarkan ucapan Merry, "Karena Leandricho sudah terikat perjanjian dengan keluarga Albregatte maka ini akan menjadi masalah untuk keluarga Monarustichell. Bagi keluarga kelas atas mempunyai hutang budi dan tidak bisa atau tidak mampu membalasnya bisa dibilang adalah hal yang tabu atau aib untuk keluarga. Namun membatalkan perjanjian juga aib untuk keluarga, di sini bisa dibilang Tuan Joshua berada di pilihan yang sulit." Aku melanjutkan perkataan Merry.
"Tepat sekali." Jawab Merry menjentikkan jarinya.
"Dan kemungkinan yang terjadi kalau saat ini Tuan Joshua berada di kediaman Albregatte adalah..." Merry memberi jeda pada ucapannya.
"Meminta untuk menjadikan Mitha sebagai istri kedua Leandricho!" Ucapku dan Merry secara bersamaan. Mata kami saling bertatapan dengan penuh keyakinan kalau kedatangan Tuan Joshua tidak lain dan tidak mungkin adalah untuk meminta Ayah agar menerima atau mengizinkan kalau Mitha menjadi istri kedua Leandricho.
Posisi antara keluarga Albregatte dan Monarustichell kalau dilihat dari segi kekuasaannya, Albregatte masih jauh berada di atas Monarustichell. Maka dari itu Tuan Joshua meminta pertimbangan Ayah.
"Ya, ini masuk akal." Ujarku dalam hati.
Aku berusaha menjelaskan kepada Merry, "Saat aku masuk ke ruangan Ayah tadi, suasana di sana terlihat tegang dan wajah Ayah terlihat serius......" Menganalisis.
"Kemungkinan Tuan Nicholas tidak setuju dengan itu." Merry memotong pembicaraanku.
"Benar sekali kalau Ayah tidak akan setuju dengan itu karena mempertimbangkan perasaanku." Jawabku bangga karena punya Ayah yang begitu baik.
__ADS_1
"Hal terbaik, ketika seorang Ayah dapat mengerti putrinya seperti Tuan Nicholas." Ucap Merry dengan raut muka sedih.
Aku mendekati Merry, "Sudahlah, aku yakin kalau orang tuamu juga memperhatikanmu." Memeluk Merry.
Merry membalas pelukanku, "Terima kasih, Gea." Merry dengan nada lembut.
Aku tersenyum lebar, "Sama-sama." Jawab ku.
Merry melepaskan pelukanku, "Eh. Aku melupakan sesuatu, kamu ingin mengatakan ada hal penting yang harus disampaikan. Apa itu? " Menatapku dengan serius.
"Huh.." Aku hanya menghela napas.
"Loh. Kenapa? " Merry penasaran karena aku hanya menarik napas panjang.
Aku menundukkan kepalaku, "Ini tidak jauh berbeda dari pembahasan tadi." Aku mencoba menjelaskan.
"Tuan Joshua?" Merry mencoba menebak.
Aku menggelengkan kepalaku, "Bukan di Tuan Joshua nya tapi di Mitha nya." Jawabku tegas.
"Mitha? Kenapa Mitha? Apa dia mengganggumu?" Merry mengajukan banyak pertanyaan.
Aku paham dengan sikapnya, "Biarkan aku menjelaskan dulu.".
"Baiklah." Jawab Merry paham.
Aku menyodorkan ponselku kepada Merry, "Ini kamu bisa menbacanya sendiri." Aku memperlihatkan ponsel yang berisi pesan ancaman itu.
Setelah Merry membacanya, "Ini pesan mengancam kamu supaya kamu memutuskan hubungan dengan Leandricho." Merry kembali membaca ulang pesan itu dan mengamatinya.
"Kalau dilihat dari posisi pengirim pesan ini memang benar jika Mitha." Merry menerka.
Aku menganggukan kepala, "Yah kamu benar sekali. Mitha mencoba memberi ancaman agar aku meninggalkan Leandricho. Karena dia juga yang meminta pada Tuan Joshua agar Mitha dinikahkan dengan Leandricho." lanjutku.
Merry mulai geram, "Wanita itu benar-benar licik." Merry mengeratkan giginya.
"Ini bukan masalah buatku. Aku sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi hal ini." Optimis.
"Bagus Gea, kamu harus semangat. Aku juga akan selalu membantumu.".
"Sejak tahu kamu dan Leandricho akan menikah saat SMA dulu dia mulai menjauhimu dan memusuhimu, bahkan dia mulai bersaing dengan mu dalam hal pelajaran dan perhatian teman-teman, guru dan juga termasuk Leandricho. Walaupun pada akhirnya dia tidak bisa menang sekali pun, dari situlah dia dijuluki anak buangan dan tidak punya teman karena hal itu." Jelas Merry mengulang masa lalu saat SMA.
"Dan dia makin membenciku." Jawabku tepat.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka kalau Mitha akan seperti ini sampai menggunakan hutang budi pada keluarga Monarustichell. Aku salut pada Mitha." Ucap Merry memuji kelicikan Mitha.
"Tidak ada komentar apapun dariku karena dari awal aku sudah tahu kalau dia akan melakukannya sampai sejauh ini." Aku tersenyum sinis dan menatap keluar jendela.
Merry bengong, "maksudmu kamu sudah tahu?" Merry kebingungan.
"Kamu tidak perlu tahu akan hal ini, yang pasti cepat atau lambat akan terjadi." Penuh dengan kemarahan.
Merry menatapku dan memperhatikan, "Kamu kenapa memandangku seperti itu." Aku berbalik melihat Merry.
"Aku mau tanya apa kamu menyukai Leandricho?" Tanya Merry serius.
Aku menelan ludahku, "Aku?" Aku menunjuk diriku sendiri.
Merry mengangguk, "Iya kamu." Jawab Merry tegas.
"Apa kamu masih ragu padaku Merry? Aku dan Leandricho seumuran. Aku disekolahkan di tempat yang sama dengan dia, bukan hanya di sekolah aku bertemu dengan dia tetapi di rumah juga. Dari dulu dia selalu ada buat aku dan saat itu masih anak baru di SMP. Perkara cinta? Aku sudah jatuh cinta padanya sejak dulu. Dengan perhatian Leandricho membuatku luluh." Menjelaskan isi hatiku.
Merry masih penasaran, "Tapi kenapa sewaktu SMA kamu pernah ingin merelakan Leandricho untuk Mitha?" Tanya Merry.
"Karna saat itu aku berpikir kalau persahabatan lebih dari segalanya. Tetapi aku salah akan hal itu, dan Mitha tidak bisa dianggap sebagai sahabat. Terlebih lagi perjanjian itu tidak akan bisa dibatalkan karna akan membuat aib bagi kedua keluarga. Maka dari itu aku memilih untuk diam." Jelasku.
"Kenapa dia tidak bisa dianggap sebagai sahabat.?" Merry dipenuhi rasa penasaran.
"Karna dia tidak seperti kamu." Jawabku melirik Merry.
Merry memegang kepalanya, "Ahhh... Entah lah aku masih tidak mengerti." Ucapnya yang semakin kebingungan.
"Sudah. Sudah jangan dibahas lagi. Lebih baik aku panggil Bi Anne saja. Kamu mau minum apa?" Aku mengalihkan pembicaraan.
Merry melihat jam tangannya, "Tidak usah Gea. Ini sudah sore. Lebih baik aku pulang dulu." Jawab Merry.
"Kok pulang? Kamu makan malam disini dulu baru pulang." Jelasku.
Merry terlihat khawatir, "Ayah pasti mencari ku. Aku tak ingin dimarahi lagi." Keluh Merry.
"Ya sudah kalau begitu hati-hati di jalan."
"Iya. Kamu juga baik-baik dirumah." Jawab Merry.
"Sini aku bantu bawa, sekalian aku hantar ke luar." Aku membawa barang ke luar.
"Tidak perlu Gea, lagi pula ini tidak banyak." ucapnya saat aku menghantar Merry untuk pulang.
__ADS_1