
Kepalaku terasa sangat pusing sekali. Aku mencoba membuka mataku, terlihat samar.
"Uhhh.. Dimana aku?" Aku penasaran sembari menyebarkan pandangan.
"Gea? Kamu sudah sadar?" seseorang bicara kepadaku. Suaranya terdengar samar.
"Tuan Hildert?" Tanyaku saat melihat Beliau.
Setelah aku mulai tersadar. Aku berada di ruang tamu dan duduk di kursi sofa.
"Minum ini dulu, kamu tadi pingsan." Tuan Hildert memberikan segelas air putih.
Aku menerima gelas itu lalu meminumnya seteguk demi seteguk. "Terimakasih Tuan Hildert." Meletakkan gelas di atas meja.
Aku kembali tersadar tentang apa yang Tuan Hildert katakan tadi. Itu membuatku benar-benar terpukul. Kematian Ibu yang sangat sadis. Apa maksud dan tujuan orang itu.
"Noan dimana Tuan Hildert?" Tanyaku saat tidak melihat Noan.
"Dia sedang mengurung diri dikamar." Jawabnya menundukkan kepala merasa sedih. Matanya yang penuh dengan kepedihan.
"Dia pasti sangat terpukul." Aku memahami perasaan Noan. Sama seperti diriku.
"Tuan Hildert. Maaf sebelumnya. Apakah pembunuh itu adalah kekasih Ibu saya dulu? Dan apakan Tuan Hildert mengetahuinya." Rasa penasaranku membuncah dan melontarkan pertanyaan. Sama seperti Noan, aku juga ingin menemukan pembunuhnya.
Aku kini yakin apa yang diceritakan Tuan Hildert adalah benar adanya. Karena bukti terkuat ada pada dirinya. Sedangkan Ayah tidak bisa memberikanku kepastian tentang kematian Ibu.
"Maaf Gea. Aku juga tidak tahu tentang siapa pembunuhnya. Kekasih Ibumu atau bukan aku juga tidak tahu. Tapi jika kamu mau mencari pelakunya. Kamu harus bisa menemukan kekasihnya itu. Menurut istriku kalau dia itu pengusaha di kota Mahotherm. Hanya sebatas itu yang aku tahu." Tuan Hildert menjelaskan padaku. memberi sebuah petunjuk walaupun terdengar absurd, semoga saja bisa membantu.
"Terimakasih Tuan Hildert. Maaf jika saya merusak makan malamnya." Aku menyesal karna makan malamya jadi kacau.
"Tidak masalah Gea." Tuan Hildert begitu ramah.
"Saya permisi pulang dulu Tuan Hildert. Sampaikan salam saya kepada Noan." Aku bangkit dari dudukku dan segera meninggalkan rumah Noan.
"Iya Gea. Sama-sama. Lain kali silahkan main kesini lagi." berjalan menghantarkanku ke luar rumah.
Aku berjalan meninggalkan rumah Noan, dengan badan yang sempoyongan menelusuri gelapnya malam. Aku tak perduli apa yang ku lalui saat dijalan yang pasti saat itu pikiranku benar-benar kacau.
__ADS_1
"Apakah semua ini nyata?" Tanyaku pada kesunyian malam.
Aku seperti orang bodoh malam itu. Bodohnya untuk dibohongi Ayah. Kenapa Ayah melakukan itu padaku. Tahukah Ayah aku begitu mempercayaimu dan kini kamu malah berbohong untuk hal penting seperti ini. Dapatkan aku mempercayaimu tentang semuanya Ayah?
Aku sampai didepan pintu Villa. Mataku masih memerah dan bengkak. Aku menggedor pintu dengan sangat kuat. Seolah melampiaskan emosiku. "Tok.. Tok.. Tok.."
"Sebentar. Saya bukakan pintunya dulu." Terdengar suara Bi Helen dari dalam.
Setelah membuka pintu dan melihat keadaanku kacau. Bi Helen terkejut. Mulutnya terbuka lebar. Dan tangan kanan berusaha menutupinya. "Nona Athagea ada apa ini? Nona kenapa?" Ucapnya panik.
"Tidak apa-apa Bi. Bibi tidak perlu khawatir. Jangan katakan ini pada Ayah. Aku akan ke kamar untuk istirahat." Ucapku tanpa memandang Bibi sekalipun. Aku hanya menundukkan kepalaku dan meneteskan air mata.
"Tapi Nona.." Bibi berusaha menyangkal dan mencoba untuk memapahku.
Aku membalikan badanku dan melirik tajam Bibi seperti harimau yang ingin menerkam mangsanya. "Tidak ada tapi Bi." Teriakku pada Bi Helen.
Aku tak perduli tentang apapun saat itu. Karena aku marah. Aku kecewa. Kenapa? Kenapa semuanya harus seperti ini. Kenapa harus terjadi padaku?
Sangat muak. Aku muak sekali. Aku ingin pergi. Pergi yang jauh. Agar aku tidak mengingat ini semua. Tapi semakin aku ingin memberontak hatiku semakin terasa sakit.
Aku menghempaskan tubuhku di atas tempat tidur. Menangis tersedu-sedu seperti belum puas menangis tadi di rumah Noan. Tangisanku tak ada henti-hentinya malah semakin menjadi-jadi.
Aku memukul dadaku yang terasa sangat sakit. "Aku ingin bertanya dengan Ayah. Tapi dengan kondisi Ayah saat ini aku takut membuat kesehatannya semakin memburuk. Tapi aku juga tidak tau harus mencari kemana pembunuh itu." Teriakku tak karuan didalam kamar.
"Kenapa Ayah berbohong? Kenapa Ayah?"
"Aku muak Ayah jika harus seperti ini. Muak dengan tuntutan Ayah. Muak dengan Leandricho dan muak dengan kebohongan Ayah."
"Apakah Ayah sedang mengutukku. Apakah Ayah pikir aku tidak akan merasa sakit kalau aku mengetahuinya di masa mendatang?" Aku memaki tiada henti. Mencoba mengeluarkan beban dalam hatiku.
Namun sebanyak apapun aku memaki itu tidak bisa melegakan hatiku. Malah itu membuatku semakin merasa sakit dan sesak.
"Aku harus mencari bukti yang ada di Villa ini. di kamar Ibu. Ya. Pasti ada di sana." Aku buru-buru berlari menuju ke kamar Ibu. Dengan tertatih-tatih. Aku tidak perduli jika harus terjatuh.
"Aku hanya ingin tau apa yang terjadi sebenarnya. Apa yang Ayah sembunyikan. Dan seberapa banyak yang masih Ayah sembunyikan dariku." Teriakku berlari menuju kamar Ibu.
Aku membuka pintu kamar dengan paksa. Dengan tergesa-gesa membuka lemari pakaian. Mengacak-acak nya dan kembali mencari di rak buku milik Ibu. Memeriksa satu persatu.
__ADS_1
"Pasti ada. Aku yakin pasti ada bukti. Tidak mungkin jika tidak ada." Ucapku sembari mencari bukti.
"Apapun itu aku harus mencarinya." Aku tak bisa mengendalikan diri.
Hingga akhirnya aku terjatuh dilantai dengan keadaan kamar yang berantakan. Tangisanku pecah. Badanku sangat lemas sekali.
"Aku bodoh. Aku seperti orang bodoh." Makiku pada diriku sendiri.
"Ibu? Bagaimana kamu disana Ibu? Apakah jiwa Ibu tenang disana?" Tanyaku pada angin malam.
Ini yang Noan rasakan selama ini. Begitu sakit dan tersiksa. "Aku berjanji padamu Ibu. Aku akan menemukan pembunuhnya Ibu. Akan aku balas kan dendam Ibu." Ucapku penuh keyakinan dengan tangan mengepal dengan erat.
"Kenapa tak ada bukti satupun disini? Kenapa?" Teriakku dengan sangat keras.
Suara langkah terburu-buru menuju ke arahku, "Nona! Ada apa ini? Nona kenapa?" Bibi terkejut saat melihat kondisi kamar yang berantakan dan diriku yang kacau seperti orang gila kehilangan kendali.
Bibi memelukku dengan erat, "Nona ada apa? Beritahu Bibi Nona?" Bibi mencoba untuk meminta penjelasan atas apa yang terjadi padaku.
Saat itu Bibi sangat khawatir, "Bibi bisakah Bibi ceritakan kematian Ibu.?" Tanyaku memandang Bibi dengan wajah memelas.
"Ibu Nona meninggal karna sakit." Jawab Bibi.
"Bibi bohong! Ibuku meninggal bukan karena sakit. Tapi karena dibunuh." Teriakku.
Mendengar ucapanku Bibi terlihat ketakutan, dan syok. Dia tidak menyangka kalau aku akan mengetahuinya. Diapun sedih. Mungkin karena teringat akan masa lalunya.
"Katakan Bibi. Aku ingin Bibi jujur padaku." Ucapku memohon pada Bibi dan memeluknya. Menangis dengan keras.
"Baiklah Nona. Nyonya Liliana memang meninggal karna dibunuh." Bibi mulai menangis terharu.
"Siapa pembunuhnya Bibi?" Tanyaku penasaran. Itu adalah hal yang ingin kutanyakan dan ingin ku ketahui. Sebenarnya siapa pembunuhnya itu.
"Bibi tidak tahu Nona. Bibi benar-benar tidak tahu." Jawabnya.
"Bibi bohong. Bibi membohogiku." Teriakku memberontak.
Aku mulai mengendalikan diriku. Aku bangkit dan berdiri tegak. "Jangan katakan hal ini pada Ayah." Ucapku dingin pada Bi Helen dan meninggalkannya menuju ke kamarku lalu mengunci pintunya.
__ADS_1
"Ibu. Aku sakit Ibu. Hatiku benar-benar sakit Bu. Aku tidak punya sandaran lagi Ibu." Aku merintih penuh sesak.