Batas Senja Menuju Pagi (Rain)

Batas Senja Menuju Pagi (Rain)
Ayah


__ADS_3

Dua bulan berlalu, namun hubunganku dan Leandricho jauh dari apa yang aku harapkan. Bahkan semakin lama aku dan dia hanya sebatas orang asing yang tinggal dalam satu rumah.


"Apa hari ini kamu akan lembur lagi?" Ucapku pada Leandricho yang berjalan menuju ke ruang tamu untuk segera berangkat bekerja.


"Ya! Hari ini aku akan lembur." Jawab Leandricho acuh.


"Kamu pikir aku anak kecil yang bisa kamu bodohi setiap hari dengan kata lembur!" Jawabku yang mulai muak dengan keadaan.


"Apa maksudmu Gea?" Tanya Leandricho bingung.


"Aku tahu kalau kamu tidak lembur dan aku juga tahu semua waktumu untuk dia kan!" Ucapku tegas dengan emosi yang bercampur tidak karuan.


"Dia siapa? Kamu ini aneh!" Ujarnya dengan membalikkan badan dan membuka pintu untuk berangkat kerja.


"Mitha!" Jawabku sembari menahan rasa sakit dan sesak ketika aku menyebut nama yang akrab ditelingaku bahkan di hidupku.


"Apa maksudmu?"


"Kamu tidak perlu berpura-pura lagi. Bukankah di sini kamu yang lebih tahu daripada siapapun." Jelasku.


Leandricho menghela napas pajang.


"Ya benar aku dan Mitha masih berhubungan dan memang benar jika aku sering bertemu dengan dia dan menghabiskan waktuku bersama dia." Jelas Leandricho dengan santai tanpa tahu saat itu perasaan ku benar-benar hancur.


Saat 1 minggu lagu setelah pernikahan aku mulai curiga dengan dia yang sering kerja lembur dan terkadang pulang larut malam, itu membuatku berinisiatif untuk mengikutinya.


"Benar aku tidak salah lagi! Bukankah kamu yang bilang akan meninggalkan dia saat setelah menikah denganku." Hatiku terasa sangat sakit.


"Aku tidak mau habiskan sisa hidupku hanya untuk dirimu hanya untuk yang egois dan keserakahan mu!" Jawab Leandricho meninggikan nada bicaranya.


"Aku seperti ini karena aku benar-benar mencintaimu." Ucapku meraih tangan Leandricho.


Dengan Leandricho mengibaskan tangannya. "Kamu mengatakan cinta? Persetan Dengan cinta! Kamu hanya terobsesi pada ku, sudahlah sekarang kamu sudah tahu jika aku masih berhubungan dengan Mitha. Jadi Aku harap kamu bisa diam dan cukup menjadi istri yang baik dirumah dan jangan ikut campur urusan ku dengan dia!" Tegas Leandricho memperingatkanku.


"Tapi kenapa harus Mitha?" Ucapku tanpa sadar air mata sudah membasahi pipiku.


"Karena dia adalah wanita baik-baik dan dia tidak seperti kamu yang egois dan munafik." Leandricho selangkah meninggalkanku.


"Baik? Kamu mengatakan dia baik? Sahabat mana yang tega bermain belakang dengan suami sahabatnya sendiri. Dan kamu bilang itu baik?" Tanyaku pada Leandricho.


Leandricho menghentikan langkahnya lalu berbalik.


"Aku tidak peduli akan hal itu. Bagaimanapun juga cuma Mitha yang mengertikanku dan dia sudah menolongku disaat Aku membutuhkan seseorang. Dan sekarang aku mencintainya." Ujar Leandricho benar-benar pergi meninggalkan ku.


Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Air mataku tak berhenti yang menetes. Perasaan seperti tercabik-cabik, sakit dan penuh emosi. Tubuhku lemas dan tak mampu untuk berdiri. Semua perasaan bercampur menjadi satu seolah seperti bom waktu yang akan meledak kapanpun.


Aku belum pulih dengan rasa sesak yang ada.

__ADS_1


Dretttttt... Dretttttt.....


Suara ponselku berdering, aku mengambil ponsel dari saku celanaku. Mengusap air mata dan melihat nama yang tertera di layar ponsel.


"Pak Ken?" Ucapku.


"Ada apa Pak? Kenapa tiba-tiba nelpon ku?" lanjutku.


"Nyonya! Nyonya Gea? Maaf. Maaf saya mengganggu. Ada hal penting yang harus saya sampaikan!" Ucapnya dengan nada yang terburu-buru.


"Hal penting apa Pak? Tidak perlu terburu-buru seperti ini. Bicaralah secara pelan-pelan saja Pak." Ujarku menenangkan Pak Ken.


"Tuan! Nyonya! Tuan masuk rumah sakit." Jelas Pak Ken dengan napas yang tersengal-sengal.


"Apa! Ayah? Ayah masuk rumah sakit?" Tanyaku yang tak percaya.


"Benar Nyonya. Tuan sakit jantungnya kambuh dan sekarang sedang dirawat di rumah sakit." Jelas Pak Ken.


"Baik Pak saya akan segera ke rumah sakit sekarang. Kirim alamat Rumah sakitnya sekarang." Jawabku mematikan ponsel dan langsung lari ke kamar mengambil tas dan kunci mobil.


Tanpa memberitahu Leandricho aku masang bergegas menuju ke rumah sakit.


"Ayah! Kenapa bisa sampai seperti ini. Dan Kenapa harus di saat ini." Pikiranku mulai tidak karuan.


Entah apa yang ada di pikiranku saat ini, sampai aku tak menyadari kalau mobil yang kukendarai semakin lama semakin cepat. Aku berlari mencari kamar Ayah.


"Sus pasien atas nama Nicholas Hill Albregatte di ruang mana?" Tanyaku pada seorang suster di meja resepsionis.


"Beliau berada di ruangan melati nomor dua." Lanjut suster itu.


"Terimakasih sus." Aku berlari dengan tergesa-gesa berharap tak terjadi apa-apa dengan Ayah.


Dari lorong aku melihat Pak Ken sedang duduk termenung ditemani dengan beberapa pelayan lainnya.


"Pak. Bagaimana kondisi Ayah?" Ucapku dengan nada yang tersengal-sengal karena habis berlari.


"Tenang dulu Nyonya, Tuan sedang diperiksa oleh dokter di dalam. Dan kita harus menunggu." Jawab Pak Ken menjelaskan.


Aku terdiam membisu, pandanganku tidak teralihkan dari pintu ruangan itu. Seseorang dengan mengenakan jas putih membuka pintu, aku segera berdiri dan mendekati dokter.


"Bagaimana keadaan Ayah saya paman? Apakah dia baik-baik saja?" Tanyaku dengan rasa cemas dan khawatir.


"Penyakit Ayahmu kambuh lagi, dan ini akan berakibat fatal jika tidak segera dibawa ke rumah sakit. Dan mungkin karena banyak tekanan pada dirinya sehingga menyebabkan kondisi fisiknya melemah." Jelas Tuan Hildert padaku.


Ternyata dokter yang menangani Ayah ada lah Tuan Hildert.


Air mataku makin deras mengalir, badanku terjatuh dilantai.

__ADS_1


"Kenapa semuanya jadi seperti ini. Aku cuma punya ayah sekarang." Ucapku enak mampu menahan tangis dada sesak yang ada di hati.


"Hu...Hu....Hu..." Tangisanku kian menjadi-jadi.


"Tenang Nyonya. Anda harus tenang." Ucap Pak Ken menenangkanku.


"Kalau begitu saya permisi dulu ya. Karena masih banyak pasien yang harus saya tangani. Dan kalau ada apa-apa bisa segera memanggil saya." Ucap Tuan Hildert.


"Kamu harus sabar Athagea."


"Terimakasih paman." Jawabku.


Paman Hildert berjalan meninggalkanku, saat itu isak tangis tak mampu terbendung lagi seolah itu memuncak tanpa dapat dikendalikan. Aku mencoba untuk berdiri dan berjalan terhuyung-huyung menuju ke ruangan Ayah. Melihat Ayah membuatku makin merasa sedih.


"Yah? Ayah? Kenapa ini semua bisa terjadi pada Ayah?" Tanyaku pada Ayah.


Walau aku tahu Ayah pasti tidak merespon ku karena Ayah belum sadarkan diri, tapi aku masih tetap melontarkan berbagai macam pertanyaan yang tersimpan di. Aku menggenggam tangan Ayah yang mulai keriput karena dari hari ke hari semakin menua.


"Aku tahu Ayah pasti kuat menjalani ini semua." ucapku menghapus air mata ku.


"Aku berharap Ayah cepat sadarkan diri dan cepat pulih agar aku bisa bersama denga Ayah lagi." Gumamku pada Ayah.


"Aku hanya punya Ayah! Tolong Ayah segera sembuh." Lanjutku.


Berkali-kali aku menghapus air mataku namun tetap terjatuh dan aku tidak bisa menghentikannya.


"Nyonya? Tuan Leandricho tidak datang kemari?" Tanya Pak Ken yang sedari tadi penasaran karena tidak melihat kehadiran Leandricho.


Pikiranku langsung teringat akan sikap Leandricho, semua perasaan sakit itu menyeruak seolah seperti duri dalam hati.


"Tidak! Dia sedang sibuk karena ada rapat di perusahaan. Nanti aku akan menelepon." Jawabku menghela nafas dalam-dalam.


"Pak kamu bisa pulang untuk menjaga rumah. nanti kita bisa bergantian kalau misalnya saya ingin pulang. Saya akan segera menelepon Pak Ken." Ucapku.


"Baik Nyonya. Tapi Tuan Joshua keluarganya apakah belum mengetahuinya?" Tanya Pak Ken.


"Mereka sedang keluar negeri kemungkinan mereka sedang menemui Tuan Charles." Jawabku.


"Kalau begitu saya pamit pulang terlebih dahulu." Ucapnya.


"Ya!" Jawabku singkat tanpa melihat si pembicara karena pandangan mataku hanya fokus pada Ayah.


Aku mengambil kursi dan duduk di samping Ayah, menggenggam tangannya dan sesekali membelai rambutnya.


Tanpa tersadar Aku sudah di rumah sakit sampai selarut ini dan tidak ada kabar sedikitpun dari Leandricho.


"Ahh... Leandricho mungkin dia sedang bersama dengan Mitha. Hahahahahaha. Bodohnya Aku masih memikirkan mereka di saat Ayahku adalah prioritasku." Gumamku.

__ADS_1


"Lebih baik aku fokus dengan Ayah saja. Persetan dengan Leandricho." Lanjutku.


Saat itu pikiran ku tak karuan mengingat Leandricho yang seperti itu dan sekarang Ayah masuk ke rumah. Aku tidak tahu akan ada musibah apa lagi yang akan menimpa diriku. Akan ada cobaan seperti apa lagi yang akan hadir. Jujur aku merasa takut akan hari esok dan seterusnya. Tapi Aku berfikir kalau selama ini aku merasa takut maka aku tidak akan bisa bangkit kemudian hari. Mungkin ini hanya sekedar permulaan dan peringatan dari Tuhan.


__ADS_2