
"Apa kali ini aku benar-benar menggunakan otakku. Menerima undangan makan malam dari Noan? Astaga! Apakah ini akan membuat dia salah paham. Ah, sudahlah yang penting datang dulu saja." Aku yang mulai gelisah.
Hal yang paling aku takutkan adalah saat Noan salah paham tentangku kepadanya.
Malam ini aku mengenakan setelan jeans dan juga kemeja. Karena aku tidak tahu hal ini akan terjadi, dan akupun dari mansion hanya membawa pakaian seperti ini.
"Bi... Bi Helen?" Teriakku mencari Bi Helen.
"Iya Nona ada apa?" Bibi segera terburu-buru menemuiku.
Aku menuruni sebuah anak tangga, "Bi malam ini aku akan makan malam di rumah Noan. Karena aku mendapatkan undangan makan malam darinya. Tidak enak rasanya jika aku harus menolak." Jelasku kepada Bibi Helen.
"Baik Nona, apa perlu saya antar?" Bibi menawarkan diri untuk mengantarkanku ke rumah Noan.
Setelah turun aku memegang pundak kanan Bibi, "Tidak perlu Bi. Aku akan ke sana sendiri. Aku hanya berharap Bibi tidak mengatakannya kepada Ayah. Sekarang aku takut Ayah akan khawatir dan mempengaruhi kondisi kesehatannya." Aku memperingatkan Bibi.
"Baik Nona." Bibi paham.
"Aku akan berangkat sekarang."Berjalan menuju pintu untuk keluar dari Villa.
Seketika aku terhenti, "Ehh,, Bi apakah ada buah?" Tanya kepada Bibi.
"Buah? Untuk apa Nona?" Bibi penasaran.
"Tidak enak rasanya jika aku tidak membawa apa-apa. Kalau ada buah tolong buatkan parcel." Perintahku pada Bibi.
"Buah ada banyak Nona. Kalau begitu tunggu sebentar akan saya buatkan." Bibi berjalan menuju ke dapur untuk segera membuat apa yang aku ingin.
Aku menunggu di ruang tamu, sembari melihat jam. m
Masih pukul 6.30, masih banyak waktu.
Setelah lama menunggu akhirnya Bibi keluar membawa sebuah parcel, "Ini Nona parcel yang Nona inginkan." Bibi memberikan parcel itu padaku.
Aku segera mengambilnya, "Terimakasih Bibi. Kalau begitu aku berangkat dulu." Aku benar-benar meninggalkan Villa.
Aku segera menuju ke rumah Noan dengan berjalan kaki. Walaupun saat itu malam hari, namun jalan terlihat sangat terang. Karena terdapat banyak sekali lampu-lampu jalan. Membuatku merasa tidak takut jika harus berjalan sendirian.
Aku berdiri di depan sebuah rumah, dengan keraguan untuk mengetuk pintu. Aku tidak yakin sebab ini pertama kalinya aku benar-benar menggunakan otakku untuk menerima undangan makan malam dari Noan. Aku menarik napas panjang panjang sambil mengumpulkan seluruh keberanian yang aku miliki. Aku mengetuk pintu, tak lama kemudian pintu langsung terbuka. Noan muncul dari balik pintu dengan senyum ceria.
__ADS_1
"Akhirnya kamu datang juga kan. Silakan masuk." Noan merasa senang dengan kehadiranku.
"Ini buah untukmu." Aku menyodorkan buah yang aku bawa.
Noan terkejut, "Apa yang kamu lakukan kenapa membawa buah segala?" Sepertinya dia marah padaku.
"Tidak enak rasanya jika aku kemari tidak membawa apa-apa." Jawabku dengan santai. Aku segera masuk ke rumah Noan, meskipun aku ragu aku pun akhirnya menurut.
Aku tercengang dengan apa yang kulihat, sebuah meja makan yang tertata dengan rapi. Di atasnya tersedia berbagai macam makanan. Noan menarik sebuah kursi dan mempersilahkan untuk duduk.
Aku menyebarkan pandangan, "Di mana Ayahmu?" Aku penasaran karena sedari masuk tadi tidak melihat Ayahnya.
"Ah... Ayah sedang di kamar. Sebentar lagi pasti akan keluar." Noan dengan santai sembari duduk disampingku.
Terdengar suara langkah kaki yang berat mendekat ke arahku.
"Ayah." Noan saat melihat Ayahnya.
Ayahnya berbadan besar dan sama tingginya dengan Noan, wajahnya yang mulai berkeriput dan rambut yang mulai memutih seperti Ayah.
Aku segera berdiri dan menyapa Ayah Noan. "Selamat malam Tuan."
Badannya yang besar terlihat menakutkan, "Hahahaah.. Kamu tidak perlu bersikap seperti itu Gea.?" Noan menertawaiku. Aku hanya terdiam dan merasa malu.
"Noan. Jangan seperti itu terhadapnya." Ucap Ayahnya dengan santai. Wajahnya yang tenang namun terlihat tegas.
"Nama saya Hildert, panggil saja Tuan Hildert." Ayah Noan memperkenalkan dirinya padaku.
"Baik Tuan Hildert." Jawabku paham.
"Tidak perlu canggung anggap saja rumah sendiri, ayo silakan dimakan." Tuan Hildert dengan ramah.
Tidak seperti kelihatannya yang berbadan besar dan menakutkan, ternyata itu adalah orang yang baik dan ramah. Kami pun mulai menyantap makan malamnya.
"Siapa namamu nak?" Tanya Ayah Noan kepadaku.
"Nama saya Athagea Liona Albregatte." Jawabku dengan tegas.
Tuan Hildert menghentikan makannya, "Albregatte? Kamu anaknya Liliana?" Pertanyaan Ayah Noan membuatku terkejut.
__ADS_1
"Benar Tuan ada apa?" Aku yang terkejut dengan sikap Ayah Noan.
"Ternyata takdir tidak bisa dihindari." Tuan Hildert memegang dahinya.
"Apa maksud Ayah?" Noan penasaran.
"Bukankah Ibumu sudah meninggal." Tuan Hildert membuat Gea penasaran.
"Benar Tuan. Ibu saya meninggal setelah seminggu saya lahir. Beliau sakit parah dan meninggal." Jelasku pada Tuan Hildert.
"Meninggal karena sakit parah? Apakah itu yang diceritakan Ayahmu?" Tanya Tuan Hildert padaku. Seolah Beliau tahu segalanya tentang kematian Ibu.
Noan mulai memperhatikan aku dan Tuan Hildert.
"Kamu harus bertanya sejujurnya kepada Ayah mu, tentang Ibumu." Tegas Tuan Hildert.
"Benar sekali, dari dulu aku memang merasa ada yang Ayah sembunyikan dariku. Tapi aku tidak tahu apa itu. Dan kenapa alasan Ayah menyembunyikannya pun aku tidak tahu. Tetapi dengan kondisi Ayah saat ini. Sulit bagiku untuk menanyakannya, kecuali jika Tuan Hildert memberitahukannya kepadaku." Gumamku dalam hati.
"Sangat disayangkan, aku tidak bisa bertanya hal ini kepada Ayah. Karena saat ini Ayah sedang sakit jantung, sedikit tekanan untuknya maka nyawa taruhannya. Aku tidak ingin membuat kesehatannya memburuk. Atau mungkin Tuan Hildert bersedia memberi tahu aku yang sebenarnya." Jelasku kepadanya sembari menatapnya dengan tajam.
"Sebenarnya aku tidak ingin mengungkit ini semua, tetapi aku juga tidak bisa menyembunyikan kebenaran darimu Gea. Dulunya Ibumu adalah teman baik Ibu Noan." Jelas Tuan Hildert.
"Maksud Ayah? Jadi rumor tentang Ibu memiliki sahabat baik wanita itu benar adanya. Sahabat baiknya itu adalah Ibunya Gea. Yang sekarang juga telah meninggal." Noan mencoba meminta penjelasan yang lebih.
"Iya benar. Dan kematian itu, pembunuhan itu saling berkaitan." Tuan Hildert penuh kesedihan mengenang masalalu.
Saat itu suasana seakan berubah, bukan tentang sebuah makan malam. Tetapi perbincangan masa lalu yang rumit.
"Apakah semua itu karna keluarga ku?" Tanyaku penasaran. Apakah pembunuhan itu ada sangkut-pautnya dengan keluargaku.
Noan terlihat geram dan hanya menunduk dengan mata berkaca-kaca.
"Bukan keluargamu, pembunuhnya adalah orang lain. Dan keluarga kita hanya korban." Jelas Tuan Hildert menjawab pertanyaanku.
"Keluarga kita? Kita untuk Tuan Hildert dan Noan? Apakah kita untuk denganku juga? Apa maksud dari semua teka-teki ini. Ini membuatku semakin bingung." Gumamku dalam hati.
"Kamu mungkin bertanya-tanya, aku merasakan yang sudah dewasa. Dan sebaiknya kalian mengetahuinya. Maaf untukmu Noan, Ayah menyembunyikan ini semua karena tidak ingin membuatmu sedih. Dulu Ayah berharap kamu dapat mengubur masalalu ini. Tapi sekarang Ayah akan menceritakan semuanya." Jelasnya penuh keyakinan dam kesedihan.
"Kalian berdua ikutlah aku, akan kutunjukkan sesuatu." Tuan Hildert berdiri dan berjalan menuju ke suatu tempat di dalam rumah.
__ADS_1
Aku penasaran apa yang akan Tuan Hildert tunjukkan kepada aku dan Noan. Namun sedari tadi Noan hanya terdiam membisu. Aku paham, betapa menyakitkannya ini untuk dia. Tapi ini juga menyangkut keluargaku. Ada apa ini sebenarnya?