Batas Senja Menuju Pagi (Rain)

Batas Senja Menuju Pagi (Rain)
salam perpisahan


__ADS_3

"Derrrrttt.. Derrrrttt." Suara ponselku berbunyi. Aku bergegas mengambil ponselku dan melihatnya. "Leandricho?" Aku terkejut saat melihat nama yang tertera di layar ponsel.


"Halo" Ucapku mengangkat telepon itu.


"Kamu di mana sekarang? Apa maksudmu pergi dari mansion? Aku sudah mengikuti perkataanmu tapi kenapa kamu malah menghilang seperti ini. Aku muak denganmu Gea?" Maki Leandricho padaku.


"Cukup. Kamu tidak perlu lagi berpura-pura di hadapanku. Aku benar-benar muak." Teriak Leandricho dari seberang telpon.


"Aku ke Villa Ibu hanya untuk menemui Ibu dan meminta restu dari Ibu. Jadi apa yang kamu maksud?" Tanyaku penasaran.


"Kamu bilang restu? Restu macam apa atas pernikahan yang seperti ini. Aku sudah mengikuti apa yang kamu minta Dan aku harap kamu tidak mengacaukannya. Jangan berulah lagi!" Leandricho memperingatiku.


Rasanya dadaku sesak mendengar Leandricho memakiku. Dia benar-benar membenciku. Tapi aku tidak bisa membenci dia atas apa yang dia katakan padaku.


"Baiklah besok aku akan pulang." Aku menurut.


"Baguslah kalau begitu, dan satu hal. Setelah kita menikah aku tidak ingin tinggal di Mansion keluargamu. Aku ingin kita tinggal di rumah sendiri." Pinta Leandricho.


"Kenapa? Mansion itu adalah rumahku? Dan aku kepala keluarga di sana. Aku tidak bisa pergi jauh-jauh dari situ." Aku tak bisa menerima apa yang Leandricho minta.


"Aku tidak peduli. Yang aku mau hanya rumah yang terpisah dari keluargamu." Tegas Leandricho padaku lalu mematikan telponnya.


Bagaimana ini, bagaimana aku mengatakannya kepada Ayah. Alasan apa yang akan aku berikan kepada Ayah. Aku tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya kepadanya.


"Ah sudahlah aku pikirkan nanti saja.".


Malam ini aku merenung di balik jendela, "Besok aku akan pulang. Terasa berat meninggalkan tempat ini. Di sini aku merasa bahagia. Bersama dengan Noan kesedihanku hilang." Gumamku.


Aku tak tahu harus bagaimana mengatakan salam perpisahan kepada Noan. Akankah Noan bersedih dengan kekuranganku ataukah dia akan bersikap biasa saja. Malam ini terasa amat panjang. Pikiranku melayang mengingat kenangan di tempat ini.


"Bi Helen. Bibi?" Panggilku pada pipi sembari menuruni anak tangga.


"Iya Nona." Jawab Bi Helen mendekatiku.


"Bi tolong bereskan koperku. Aku akan pulang pagi ini." Ucapku pada Bibi dengan santai.

__ADS_1


"Secepat ini Nona? Bukankah ini baru beberapa hari Nona kemari. Kenapa cepat sekali ingin pulang?" Ujar Bibi yang merasa sedih karna kepulanganku.


Aku tersenyum mendekati Bibi dan menggenggam tangannya. "Aku sebenarnya juga masih ingin disini lebih lama. Tetapi aku tidak bisa. Karena tiga hari lagi aku akan menikah." Jelasku pada pipi dengan nada yang lembut.


"Astaga Bibi lupa kalau Nona akan menikah. maafkan Bibi Nona." Ucapnya menepuk dahi.


"Tidak apa-apa Bi. Tolong segera dibereskan koperku. Aku akan pergi keluar sebentar." Ucapku pada bibi.


"Pasti menemui Noan!" Bibi menebak.


"Benar Bi. Tidak nyaman rasanya jika kau tidak berpamitan. Kalau begitu aku pergi dulu Bi." Teriakku sembari berlari keluar Villa.


Dengan harap-harap cemas aku melangkah menuju ke rumah Noan. Pintu rumah Noan tertutup. Dan terlihat begitu sepi. Aku hanya berdiri mematung memikirkan bagaimana aku akan berpamitan dengannya. Dia adalah temanku satu-satunya di Desa ini. Dan dia juga begitu baik padaku.


Tiba-tiba pintu terbuka, "Astaga!" Teriak Noan yang terkejut saat melihatku tepat didepan pintu. Dia memegangi dadanya.


"Gea? Kenapa kamu disini?" Lanjut Noan yang masih terkejut.


"Itu.. Emm. Itu.." Aku gugup tak mampu berkata-kata.


"Sebenarnya aku akan ke Villa untuk menemuimu. Aku sudah memperpanjang cutiku untuk menemanimu jalan-jalan." Dia tersenyum puas dengan penuh keceriaan.


"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Ucapku membalikan badan.


"Bisakah kita duduk di sini?" Tanyaku menunjuk sebuah kursi di depan rumah Noan.


Noan tidak menjawab. Dia terlihat kebingungan. Aku duduk di kursi itu dan diikuti oleh Noan.


"Kenapa ekspresi wajahmu berubah?" Tanyaku penasaran dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah menjadi diam.


"Tidak apa-apa. Sebenarnya apa yang mau kamu katakan padaku?" Tanya Noan memandangku.


"Aku ke sini ingin pamit....." Aku mencoba menjelaskannya kepada Noan.


Noan memotong pembicaraanku, "Pamit?" Noan terkejut.

__ADS_1


Aku tidak tahu Noan akan terkejut seperti itu, "Iya aku akan pulang ke Kota Mahotherm. Karena aku juga sudah lama di sini." Jelasku memandang lurus kedepan.


Noan masih memandangku, lalu apakah kita masih bisa bertemu di Kota Mahotherm?" tanya Noan berharap.


"Aku pikir bisa." Jawabku.


Noan tersenyum, "Baguslah kalau begitu. Setelah cutiku habis aku akan segera menemuimu." Penuh dengan harapan dan keyakinan.


"Gea? Ada yang ingin kubicarakan juga kepadamu." Noan memasang ekspresi wajah yang begitu serius.


Aku melirik Noan," Katakan saja. Kenapa sampai melihatku seperti itu." Aku langsung memalingkan wajahku.


"Aku menyukaimu Gea." Ucapnya dengan tegas.


Seketika aku langsung menatap Noan tanpa memberikan jawaban.


"Memang benar aku orang miskin. Tapi aku benar-benar menyukaimu Gea. Aku akan bekerja keras untuk membuatmu bahagia." Noan berusaha menjelaskan dan meyakinkan ku.


Dia terlihat mengatakan itu dengan mengumpulkan seluruh keberanian yang dia miliki. Aku menundukkan kepala. Melihat ke arah kakiku. Dan menarik napas dalam-dalam.


"Aku berterimakasih. Karena kamu telah menyukaimu. Tapi maaf. Aku tidak bisa." Jawabku menolah Noan.


"Kenapa Gea? Kenapa kamu tidak bisa? Apakah sudah ada seseorang yang kamu cintai?" Dia terlihat kecewa yang begitu penasaran atas alasan dari jawabanku.


"Benar. Aku mencintai seseorang dan alasan aku kembali ke Kota Mahotherm adalah untuk dia. Karena tiga hari lagi aku akan menikah." Jelasku dengan berat hati pada Noan aku tahu saat mengatakan itu hatinya pasti akan terluka. Aku tahu dia akan marah dan kecewa kepada aku. Tapi apa boleh buat. Dia harus tahu pernyataan ini. Walaupun itu terasa menyakitkan untuknya.


Noan menundukkan kepalanya. Raut wajahnya yang sedih. Dan aku yakin dia pasti sangat kecewa. "Kenapa? Kenapa kamu tidak memberitahuku dari awal kalau kamu akan menikah? Dengan kamu mengatakannya sejak awal aku tidak pernah menaruh hatiku padamu." Suaranya gemetar penuh dengan kekecewaan.


Air mataku mengalir begitu saja. Perasaan ini sangat familiar bagiku. Kekecewaan yang Noan rasakan seperti apa yang kurasakan pada Leandricho.


"Maafkan aku Noan." Aku menangis karena menyesal menyia-nyiakan perasaan yang begitu tulus.


Noan tertegun mendengar suaraku yang serak karna menangis. Dia menatapku lalu menyeka air mataku. "Kenapa kamu menangis. Kamu tidak perlu menangis seperti itu?" Ucapnya dengan begitu lembut.


Dia juga merasakan kesedihan, "Aku minta maaf." Ucapku berulang kali. Mengatakan maaf dan hanya maaf.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Aku mengerti. Kamu tidak perlu bersedih. Aku turut senang atas pernikahanmu. Tetapi jika aku tahu kalau suamimu menyakitimu. Aku akan menghajarnya dan merebutmu dari dia." Noan menenangkanku.


Dia berusaha menahan kesedihannya. Aku pulang dari rumah Noan membawa kecewaan yang Noan rasakan. Pagi itu juga aku bergegas menuju ke Kota Mahotherm.


__ADS_2