Batas Senja Menuju Pagi (Rain)

Batas Senja Menuju Pagi (Rain)
sahabatku Merry


__ADS_3

"Aku minta maaf kalau aku menyakiti perasaanmu, tapi masalah ini bukan hal sepele yang bisa kamu abaikan." Merry mencoba untuk menjelaskan tentang kejadian dua tahun lalu dan membuatku berfikir kalau aku harus punya pegangan kuat untuk itu.


Aku menghela napas panjang, " Aku tahu itu, tapi untuk saat ini aku tidak bisa gegabah." Wajahku murung dan memikirkan kejadian dua tahun yang lalu.


Leandricho mengalami kecelakaan saat perjalanan bisnis dari kota Irola menuju ke kota Mahotherm, saat itu dia terluka parah dan dibawa ke rumah sakit. Dia begitu kehilangan banyak darah pada saat itu Mitha mendonorkan darahnya untuk Leandricho. Sejak saat itu mereka sangat dekat sekali. Rasanya sesak sekali saat aku mengingat mengingat akan hal itu. Mengingat tentang perlakuan buruk Leandricho padaku dan juga perlakuan yang berbeda pada Mitha.


"Sudahlah jangan bahas ini lagi. Aku ingin mengajakmu untuk jalan-jalan dan belanja apa kamu mau?" Aku mencoba mengalihkan pembicaraan. Aku harap Merry bisa mengetahui perasaanku saat ini.


Terlihat Merry tersenyum, "Benarkah? Ayo kita belanja sekarang." Merry menepukkan tangannya dan terlihat wajahnya yang berubah drastis. Merry paling suka kalau diajak untuk berbelanja karena dari awal dia ingin bebas bebas menentukan pilihan hidupnya dan dia ingin menjadi seorang designer dan ingin mempunyai butik sendiri.


"Kamu tunggu di sini dulu aku akan ke kamar untuk mengambil tas dan kunci mobil." Aku bangkit dari tempat dudukku dan melangkah perlahan menuju ke kamar.


Merry segera bangkit, "Pakai mobilku saja."


Langkahku terhenti dan berbalik badan, "Oke baiklah kalau begitu, aku ambil tas dulu."


"Tunggu, apa kamu sudah izin dengan Ayahmu?" Tanya Merry padaku.


Tanpa berbalik badan, "Tenang saja Ayah sedang keluar Kota untuk berbisnis lagipula tidak masalah jika aku keluar sebentar." Ujarku tertawa kecil.


Merry memegangi kepalanya, "Oh tidak... Inikah kehidupan keluarga kelas atas? Aku sulit memahaminya!" Teriak Merry yang melihat aku pergi menuju ke kamar.


Tidak lama kemudian aku turun dan memanggil Bi Anne, "Bi... Bi... Bi Anne?" Teriakku memanggil Bi Anne.


Dengan langkah yang tergesa-gesa, "Ya Nona." Jawabnya mendekatiku.


"Bi aku akan keluar bersama dengan Merry. Kalau Ayah pulang sampaikan kepadanya kalau aku sedang keluar." Jelasku.


Bi Anne mengangguk tanda paham,"Baik Nona akan saya sampaikan kepada Tuan." Ucapnya.


"Ya sudah kalau begitu ayo kita berangkat sekarang." Merry meraih tanganku dan menarik keluar mansion.


Di perjalanan kami banyak berbincang-bincang. Keluarga Merry adalah seorang dokter, hanya Merry saja yang ingin bebas dan tak mau untuk menjadi dokter. Walaupun pada akhirnya dia menjadi seorang dokter juga. Bukan atas kemauannya melainkan karena dia tidak mau dijodohkan dan orang tuanya berjanji akan memberi kebebasan atas hak dan masa depan Merry kepada Merry sendiri kalau dia mampu lulus S1 kedokteran dalam waktu kurang dari empat tahun.


Merry menatapku, "Gea, aku masih penasaran." Ucap Merry dengan wajah bingung.

__ADS_1


Spontan aku memandangi Merry, "Penasaran tentang apa?" Ucapku melirik Merry yang sedang menyetir mobil.


"Ah... Tidak jadi." Ucap Merry yang kembali fokus menyetir mobil.


Aku penasaran, "Katakan saja toh aku bukan orang yang akan menyembunyikan sesuatu darimu." Ucapku menjelaskan Merry dengan serius.


Merry melirikku, "Hei... Lagi-lagi tatapan seperti ini. Sudah berapa kali kamu menatapku seperti ini? Kenapa kamu serius menanggapi nya?" Ucap Merry tertawa terbahak-bahak.


Dengan rasa kesal "Kau yang membuat keadaan menjadi terlihat serius tahu!" Ucapku cemberut.


Merry belum berhenti tertawa,"Sudahlah sudah, lagipula ini bukan masalah yang penting." Ucap Merry tanpa menoleh ke arahku.


"Aku tiba-tiba teringat dengan Mitha." Ucap Merry.


Aku terkejut saat mendengar apa yang Merry katakan walaupun begitu aku berusaha tetap bersikap tenang. "Maksudnya?" Jawabku seolah tak mengerti alur pembicaraannya.


Merry terdiam sebentar, "Dulu saat kita di Sekolah Menengah Pertama, kemanapun kita pergi kita kan selalu bersama. Dan kamu ingat Leandricho adalah bintang utama di sekolah bukan seseorang yang jenius tapi seseorang yang tampan. Leandricho selalu memberi kita bertiga susu rasa strawberry dan membuat semua cewek patah hati. Kamu ada cewek yang paling jenius dan menonjol diantara kita bertiga. Sampai Sekolah Menengah Atas pun kita masih sekolah di tempat yang sama sampai saat hari dimana berita tentang hubungan kamu dengan Leandricho tersebar ke seluruh sekolah bawa kalian sudah terikat perjodohan dan dimasa depan pastinya akan menikah. Saat itu aku tidak sadar kalau Mitha diam-diam menyukai Leandricho,setelah itu pun sikapnya seolah lain. "Ucap Meri mengingatkan secara rinci masa lalu antara kami, Mitha dan Leandricho.


Saat bercerita tentang masa lalu masa saat Sekolah Menengah Pertama itulah yang paling bahagia kan karena tidak ada rasa beban tidak iri dan semuanya menghargai satu sama lain. Namun ketika aku sudah duduk di bangku Sekolah Menengah Atas semua permasalahan mulai muncul.


Aku tak menjawab sepatah katapun yang hanya diam tanpa ekspresi dengan tatapan yang kosong.


"Aku juga tidak tahu kalau hubungan persahabatan akan hancur karena seorang laki-laki. Kamu tahu sendiri kan kalau perjanjian yang sudah dibuat ataupun di sepakati oleh dua keluarga apapun yang terjadi tidak bisa dibatalkan dan itu akan menjadi aib dan dianggap tabu bagi keluarga kalangan atas." Jelasku.


Merry mengangguk "Iya aku juga tahu, jadi itu sebabnya kamu membiarkan Mitha membencimu dan lebih memilih diam." Timpal Merry.


"Diam lebih baik." Jawabku singkat.


"Ah... Akhirnya sampai juga." Lanjutku mengalihkan topik pembicaraan.


Merry melirikku "Haha.. Kamu paling pintar kalau mengalihkan pembicaraan, ya sudah ayo kita belanja sepuasnya." Ucap Merry semangat. Merry segera memarkirkan mobil dengan lincah. Di antara aku dan Merry, Merry adalah seorang yang handal dalam mengendarai mobil.


"Jika kita jalan-jalan lagi di lain waktu aku ingin kamu yang mengendarai mobil, aku mau tahu kemampuanmu. " Merry mulai meledekku dalam hal mengendarai mobil.


Aku tersenyum lebar, "Hahaha... Aku pasrah dalam hal ini." Jawab ku menyerah sebelum berperang.

__ADS_1


Di dalam sebuah mall Merry mulai bertingkah, membeli baju ini dan itu serta semua sepatu yang menurutnya bagus Merry akan langsung membelinya.


Aku menggelengkan kepalaku yang terkuat melihat tingkah Merry, "Kamu baru sekali." Ucapku hampir tak percaya saat Merry seperti seekor kera yang bergelantungan dari satu tokoh ke toko lain.


Aku menghentikan langkahku "Kenapa aku merasa seperti seorang pengasuh." Lanjutku berpikir dalam-dalam.


"Aku akan menjadi dokter yang paling cantik dan paling fashionable di rumah sakit cahaya permata." Ucapnya mulai tak karuan.


Secepat kilat aku menatap Merry dan berteriak, "Rumah sakit Cahaya Permata? kamu akan kerja di sana?" Aku terkejut. Aku tidak tahu entah berapa kali Merry membuatku terkejut.


"Mulai minggu depan aku akan bekerja di sana." Jawab Merry melihat sepatu sepatu branded. Pandangan dia masih tertuju dengan sepatu heels berwarna hitam.


Saat tangan Merry hendak meraih sepatu hitam itu aku segera menghentikannya, "Sudah cukup, sudah berapa banyak sepatu yang kamu beli?" Aku mulai lelah melihat Merry yang tidak berhenti fokus pada sepatu-sepatu itu. Tangan Merry kutarik keluar dari toko itu.


"Oke baiklah aku tidak akan membeli sepatu lagi." Ucap Merry yang mulai memahami ku.


Merry melihatku dari atas sampai bawah karena aku tidak membeli satu barang pun, "Apa kamu tidak mau beli satu barang pun?" Ucapnya.


"Aku sudah puas dengan melihatmu berbelanja seperti ini." Ucapku tanpa melihat Merry.


"Aduh... jahatnya kamu mengajukan aku! Baiklah aku minta maaf dan sekarang kita akan mencari baju untuk kamu setelah itu kita pulang." Merry mendorongku dan berjalan menuju sebuah toko.


Terlihat wajah Merry yang begitu ceria, "Nah... kita masuk ke toko ini saja." Ucap Merry.


"Terserah kamu saja." Jawabku acuh.


"Aih... Kamu ini masih saja marah sama aku kan sudah minta maaf." Ucap Merry menunjukkan ekspresi kasihan dan memohon kepadaku seperti anak kecil yang memohon untuk diberi permen.


Melihat Merry bersikap seperti itu membuatku luluh,"Baiklah aku maafkan aku mah ayo masuk saja." Ucapku berjalan memasuki toko mendahului Merry.


"Kenapa tidak begitu dari ta......" Merry menabrakku dari belakang.


"Duh Gea, kamu ini kenapa tiba-tiba berhenti ada apa?" Celoteh Merry.


"Hey! Gea? Lihat ap..." Ucap Merry yang seketika berhenti saat dia melihat apa yang aku lihat.

__ADS_1


"Leandricho?" Ucap Merry terkejut.


"Iya. Dia bersama dengan Mitha." Ucap ku mencoba untuk tetap tenang. Walaupun hatiku terasa sesak sekali aku mencoba menahan nya saat di depan Merry. Tanpa Merry ketahui saat itu, hatiku mulai hancur kembali untuk yang kesekian kalinya seolah luka yang telah ku balut dengan rapi kini terbuka kembali.


__ADS_2