Batas Senja Menuju Pagi (Rain)

Batas Senja Menuju Pagi (Rain)
Menemui merry


__ADS_3

Di saat seperti ini, datang tanpa memberi kabar terlebih dahulu akan menjadi beban untuk Merry.


"Bagaimana jika aku menelponnya terlebih dahulu." Gumamku mencari ponsel di tas yang kuletakkan di jok samping.


"Tut... Tut... Tut..." Suara ponsel.


"Halo." Ucap Merry dari seberang telepon.


"Halo Merry. Apa kamu di rumah sakit?" Tanyaku untuk memastikan di mana Merry sekarang.


"Aku ada di rumah sakit. Ada apa Gea?" Tanya Merry kembali.


"Apa masih ada jadwal operasi? Apakah kamu sedang sibuk?" Aku melontarkan berbagai macam pertanyaan.


"Kamu merindukanku ya? Sudah satu minggu sejak pertemuan kita di pernikahanmu. Kemarilah. Ini masih jam istirahat kok karena saat ini tidak ada jadwal apa pun." Celotehnya.


Sudah seminggu aku tidak mendengar suaranya. "Ya aku memang merindukanmu. Baiklah aku akan kesana kalau kamu memaksa." Aku menyangkal pernyataan Merry.


"Hei Nyonya Athagea! Siapa yang memaksa? Aku dengan senang hati meluangkan waktuku untuk fans berat ku ini." Merry membanggakan dirinya.


Mendengar ucapannya yang ceria membuatku sedikit terhibur. Beruntungnya dia. "Apa kamu bilang? Fans? Bukannya kamu yang dari dulu suka mengikuti ku seperti fans?" Aku membalikkan keadaan.


"Dasar kamu ini ya!" Terdengar Merry kesal.


"Aarghhh..." Teriakku.


"Gea? Kamu kenapa? Gea! Ada apa?" Suara dari telepon terdengar ketakutan.


Aku menginjak rem dengan mendadak membuat kepalaku terbentur ke setir, perlahan aku mencoba untuk memandang lurus kedepan.


"Ah. Astaga!" Mataku terbelalak dengan rasa khawatir, aku mengambil ponselku yang terjatuh.


Suara Merry masih terdengar dengan kepanikan. "Gea? Ada apa?" Merry khawatir.


"A, ada. Ada kecelakaan tepat didepan mataku. Mobilnya hancur." Ucapku menjelaskan apa yang kulihat tepat di depanku secara nyata.


Badanku terasa lemas menyaksikannya. Banyak mobil berhenti dan orang-orang yang berkerumun memberikan bantuan.


"Huh." Suara Merry terdengar menghela napas.


"Aku pikir kamu kenapa-kenapa! Kamu harus berhati-hati." Merry mengingatkanku.


"Baiklah Merry, aku akan menemuimu. Ku matikan dulu teleponnya, kecelakaan ini membuatku khawatir." Aku merasa khawatir setelah melihat dengan jelas di depan mataku. Aku mematikan telepon itu tanpa menunggu jawaban dari Merry.


Aku segera mengendarai mobil menuju ke rumah sakit dengan kecepatan sedang. Dengan santai dan rileks aku mengendarai mobil hingga sampai ke parkiran rumah sakit.

__ADS_1


"Aku sudah sampai di parkiran, bisakah kamu keluar untuk menemuiku. Aku tidak tahu ruangan kamu berada di mana." Ku kirim pesan kepada Merry. Karena ini pertama kalinya aku mengunjungi Merry ke rumah sakit.


Di dalam mobil aku menunggu balasan pesan dari Merry.


"Oke tunggu sebentar." balasan pesan dari Merry.


Aku keluar dari mobil menuju ke depan rumah sakit menunggu Merry. Setelah menunggu beberapa saat, "Hei Gea?" Teriak seseorang dari dalam rumah sakit dan melambaikan tangan.


Aku membalikan badanku melihat ke asal suara, "Merry?" Ucapku mendekati Merry.


Merry memelukku dengan erat, "Hei Merry. Cepat lepaskan pelukanmu. Aku malu dilihat banyak orang." Aku pemberontak melepaskan pelukannya.


"Oke, Ayo ke ruanganku." Merry dengan cepat melepaskan pelukanku dan mengajak jalan menuju ke sebuah lorong.


"Iya." Jawabku patuh.


Aku dan Merry berhenti di depan sebuah pintu, dengan perlahan Merry membukanya. Terlihat ruangan yang tertata rapi bercatkan putih dan terasa nyaman.


"Duduklah. Mau aku pesankan kopi?" Merry menawarkan.


Aku duduk di sebuah sofa tempat Merry bekerja, "Tidak perlu." Jawabku menolak.


"Tumben sekali kamu berinisiatif menemuiku. Ada apa?" Merry penasaran karena memang baru pertama ini aku berinisiatif untuk menemuinya.


"Aku bertanya bukannya dijawab malah kamu balik bertanya! Bagaimana pernikahanmu?"


"Hahahaha, Aku sengaja melakukannya. Pernikahanku? Baik-baik saja." Aku memberikan alasan agar Merry tidak curiga. Aku takut dia akan bersikap seenaknya jika mengetahui kenyataan yang terjadi.


"Syukurlah, akhirnya Leandricho benar-benar berubah juga." Merry menghela napas lega.


"Bagaimana hubunganmu dengan Auron?" Mengalihkan pembicaraan.


"Aku dan dia juga baik-baik saja. Rencananya aku akan menikah dengan dia. Tapi.. Entahlah." Wajahnya terlihat murung.


"Menikah?" Tanyaku cara untuk memperjelas apa yang Merry katakan.


"Apa orang tuamu setuju?" Lanjutku Merry menjawab pertanyaanku yang pertama.


Tatapan Merry mulai tajam dengan ekspresi wajah yang serius. "Orang tuaku sebenarnya masih belum rela. Ya kamu paham lah kalau dia bukan orang kaya. Walaupun begitu aku benar-benar mencintai dia." Merry kedudukan kepalanya dan dia terlihat sangat sedih.


"Lakukan apapun yang kamu mau dan turuti kata hati mu. Jangan memaksakan apapun ia masih menyimpan keraguan, hidupmu ada di tanganmu. Kamu yang menentukan bukan mereka. Jalani apapun selama kamu merasa bahagia." Aku mencoba berikan saran supaya Merry tidak seperti yang sudah terjerat.


Aku ingin Merry bahagia. Walaupun aku bersama Leandricho tapi pada saat itu terbesit keraguan di dalam diriku.


"Kamu harus bahagia Merry." Tanganku mengelus pipi Merry yang halus dan lembut lalu menyeka air matanya.

__ADS_1


"Terimakasih Gea. Kamu adalah sahabat terbaikku." Merry memelukku sembari mengeluarkan air mata.


"Dretttttt.. Dretttttt.."


Merry melepaskan pelukannya dan segera mengambil pulsa dari jasnya.


"Halo? Ada apa pak?" Tanya Merry setelah mengangkat telepon.


"Sekarang? Baik pak! Saya akan segera bersiap." Merry terlihat panik.


"Ada apa Merry?" Tanyaku setelah Merry menutup teleponnya.


"Ada pasien darurat dan aku harus mengoperasinya. Pasien kecelakaan lalu lintas. Maafkan aku Gea." Merry menyesal harus meninggalkan ku.


"Tidak apa-apa Merry lagi pula aku juga akan pulang ke rumah." Jawabku menenangkan Merry.


"Kalau begitu aku akan pulang dulu." Ucapku berpamitan.


"Maaf Gea. aku harus segera menuju ke ruang operasi." Merry sedih.


"Sudahlah kan masih ada lain hari. Kamu juga bisa berkunjung ke rumahku kalau kamu libur."


"Baiklah. Aku pergi dulu." Lanjutku.


"Iya Gea."


Aku keluar dari ruangan Merry, melangkah menuju kesebuah lorong di rumah sakit untuk keluar. Terdengar suara dokter dan suster yang sedang panik karena kedatangan pasien kecelakaan lalu lintas. Aku mencoba untuk tidak memperdulikannya.


Langkahku terhenti akan suatu hal. "Eh tunggu, sepertinya lelaki yang bersama pasien itu tidak asing. Seperti pernah bertemu." Aku membalikkan badan dan mengingat-ingat saat melihat punggung itu berlalu. "Ah sudahlah mungkin salah orang." Aku menepuk kepalaku dan kembali kerumah.


"Sudah hampir petang seharusnya Leandricho sudah pulang tapi kenapa ini belum ada di rumah?" Tanyaku sembari berdiri di depan pintu rumah menantikan Leandricho pulang dari kerja.


Aku melihat jam tanganku, "jam 17:35. Apa dia bersama dengan Mitha. Oh Tuhan betapa bodohnya diriku ini." ku tepuk jidatku.


"Setelah apa yang ku lihat tadi aku masih menantikan dia disini seperti orang bodoh!" Makiku pada diri sendiri. Aku tidak tahu kenapa aku begitu bodoh karena cinta.


"Tapi aku benar-benar menghawatirkannya." Dilema pada diri sendiri.


"Lebih baik aku masuk rumah dulu." Aku melangkah masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.


Langkah kakiku menuju ke meja makan. Semuanya sudah ku persiapkan. Makanan kesukaan Leandricho sudah tersaji dengan rapi.


"Apakah malam ini aku bisa menikmati makan malam bersama Leandricho ataukah malam ini akan seperti malam-malam yang sebelumnya?" Aku dilema akan keadaan.


Aku menunggu Leandricho hingga tertidur di meja makan.

__ADS_1


__ADS_2