
"Merry orang yang baik. Tapi sayang.." Saat melihat mobil Merry berlalu.
Merry anak kedua dari dua bersaudara, seluruh anggota keluarga Merry adalah dokter termasuk Merry sendiri. Dia sama sepertiku yang dapat tuntutan keluarga untuk membanggakan nama keluarga. Dari awal Merry ingin bebas dan membangun usaha butik bersama dengan suaminya dan menjalani hidup yang sederhana. Namun di sisi lain orang tua Merry tidak menyetujuinya. Horward, Ayah Merry ingin kalau nantinya Merry bisa menjadi seorang dokter seperti dirinya dan anggota keluarga yang lain termasuk Abigail kakak Merry. Saat itu dia memberontak dan pernah pergi dari rumah, menurut yang Merry katakan saat dia pergi dari rumah dia bertemu dengan seorang lelaki yang begitu tampan, badannya yang begitu tinggi dan putih seperti pangeran dalam dunia mimpi. Lelaki itu berpenampilan biasa namun cukup untuk membuat Merry terpesona akan kehadirannya.
Setelah mengenal mereka pun saling tertarik satu sama lain. Namun permasalahan terbesar adalah, Merry dijodohkan oleh Ayahnya dengan seorang pengusaha. Tentu saja Merry menolak karena dia sudah punya kekasih hati. Saat Horward mengetahui tentang hubungan Merry dan laki-laki itu dia marah, laki-laki itu bernama Auron pemuda biasa dari kalangan menengah ke bawah. Namun Merry tetap bersyukur dengan apa yang dia inginkan, dari sikap Merry, Horward memberikan isyarat kalau dia mau menjadi dokter dan lulus S1 sebelum empat tahun maka ayahnya akan membebaskan Merry untuk bersama dengan Auron. Walaupun itu berat untuk Merry, tetapi dia tetap melakukannya karena bagi dia kekasih nya adalah yang terpenting. Itu bukanlah hal yang mudah yang bisa kita lihat rumah karena tujuan utama dari Horward adalah membuat lelaki itu mundur dengan sendirinya. Kenapa begitu? Saat Merry sudah lulus S1 dia akan ditempatkan di rumah sakit Cahaya Permata yang merupakan rumah sakit ternama. Secara tidak langsung Horward berusaha menekan Auron dengan status sosial dan kekuasaan yang dimiliki oleh keluarga Edelgard. Auron adalah anak yatim piatu, bagi Horward tidak ada untungnya untuk keluarga jika Merry menikah dengannya.
"Ah... Gadis yang malang, nasib kita sama Merry.". Aku menghela napas panjang dan berbalik menuju ke kamar, "Kita hanyalah boneka yang digunakan Ayah untuk mengatasnamakan itu semua demi keluarga." Gumamku.
Aku merebahkan tubuhku di tempat tidur dan menatap langit-langit kamar. "Apa yang akan terjadi jika kemudian hari?" Tanyaku pada diriku sendiri. Tanpa terasa aku tertidur, mungkin karna kelelahan berbelanja dengan Merry atau kelelahan karena menjalani hidup seperti ini. Saat ini cuma aku juga sudah lulus S1 Manajement Bisnis. Sulit mengatakan kalau inilah pertempuran ku yang akan menjadi ahli waris keluarga Albregatte dan sekaligus kepala keluarga baru di sini.
"Nona... Nona.... Nona Athagea bangun." Terdengar suara seseorang yang memanggilku. Namun badanku tidak mau merespon.
"Nona Gea? Bangun, sudah waktunya makan malam." Ucap seseorang itu yang tiada henti.
"Ah .. Hoamm....." Aku perlahan membuka mata dan menguap, melihat Bi Anne di depanku.
" Bi Anne?" Ucapku padanya.
"Nona Gea, bangun sudah waktunya makan malam." Ucap Bi Anne menarik tanganku.
"Uh....Iya Bi. Aku akan mandi dulu." Dengan rasa malas dan kepala masih terasa pusing. Karena aku tak tahu kalau akan tertidur sampai waktu makan malam. Aku menuju ke kamar mandi dan bergegas membersihkan diri.
"Ayah." Melangkah menuju meja makan dan duduk di sana.
Ayah memandangku, "Kenapa kamu terlambat sekali." Ayah penasaran.
Aku menggaruk rambutku yang tidak gatal, "Maaf Ayah aku tadi tertidur." Jelasku pada Ayah dan menundukkan kepala.
Ayah kembali fokus dengan makanannya, "Cepat makan! Setelah makan malam kamu temui Ayah diruang kerja.".
__ADS_1
Aku tak bisa mengartikan ekspresi Ayah, "Baik Ayah." Mengambil makanan.
Aku tidak tahu apa yang akan Ayah katakan, apa karena Tuan Joshua datang kemari? Aku tidak tahu apapun. Tapi kemungkinan besar mungkin memang karena Tuan Joshua kemari.
Saat aku masuk ke ruang Ayah, terlihat Ayah sedang duduk di kursi tempat Ayah kerja dengan tangan memegangi kepala dan tatapan yang seperti seorang yang banyak beban.
"Ayah." Saat berdiri di depan pintu setelah membuka pintu itu.
Ayah melihat ke arah asal suara, "Gea! Kemarilah." Ayah.
Aku melangkah mendekati Ayah dengan begitu jarak antara aku dan Ayah semakin dekat hanya saja terdapat meja kerja Ayah yang terdapat banyak sekali tumpukan dokumen di atasnya.
"Kamu pasti bertanya-tanya kenapa Ayah memanggilmu ke sini." Ayah menatapku.
Merasa benar apa yang ditanyakan Ayah, "Iya Ayah, apakah ada masalah?" Jawabku.
"Maksud Ayah?" Tanyaku penasaran.
Ayah memasang ekspresi serius, "Kamu tahu kedatangan Tuan Joshua kemari bukan?" Ayah bertanya kepadaku.
Aku mengangguk, "Aku tahu. Kalau menurutku kedatangan Tuan Joshua adalah untuk meminta pertimbangan Ayah agar membiarkan Mitha menikah dengan Leandricho!" Aku menjelaskan dugaan sementara yang tadi sore aku diskusikan dengan Merry.
Ayah tersenyum, "Jawaban yang tepat, kamu sangat pintar. Tapi bukan hanya itu saja masalahnya." Ayah menatapku tajam.
Aku tidak menjawab dan menunggu Ayah menjelaskan lagi. "Tuan Joshua ingin menjadikan Mitha sebagai istri pertama Leandricho dan kamu sebagai istri keduanya!" Jelas Ayah terlihat marah.
Aku tersentak, "Itu penghinaan Ayah. Aku tidak terima!" Mulai terbawa emosi.
Dari awal itu memang sebuah perjanjian pernikahan yang dilontarkan oleh keluarga Monarustichell. Namun kedekatanku dan perhatian oleh Leandricho membuatku semakin lama semakin luluh dan membuka hati untuk Leandricho. Bukan kesalahanku kalau aku mencintainya tetapi kenapa mereka yang memulainya, tapi mereka yang harus menyakiti ku. Rasa dari aku mulai sesak, aku berharap saat itu aku berada di tempat yang sepi tiada orang satupun dan menangis dengan keras berhenti seolah meluapkan apa yang aku rasakan. Begitu sakit, begitu perih! Tapi kenapa hanya aku sendiri yang merasakan. Kenapa harus aku?
__ADS_1
"Ayah tahu itu,maka dari itu Ayah menolak permintaannya." Jawab Ayah menghela napas.
"Lalu respon Tuan Joshua setelah Ayah menolak permintaannya?" Aku bertanya.
"Dia mengatakan kalau aku tidak mempertimbangkan itu maka keluarga Monarustichell termasuk Charles akan menanggung aib. Jikalau keluarga kita mau membantu mereka maka itu juga akan membuat semuanya berjalan dengan lancar." Jelas Ayah.
Aku tersenyum sinis, "Untuk menghilangkan aib dari keluarga dia membuat keluarga kita seperti ini. Sama saja dengan membuat keluarga kita merendah di depan keluarga Monarustichell. Dan Ayah pun tahu keluarga kita akan menerima penghinaan kalau aku menjadi istri kedua Leandricho. Dan lagi awal masalah ini dari mereka kenapa kita yang harus bertanggung jawab. Tuan Joshua selalu mengatasnamakan Charles di depan Ayah karena itu adalah kelemahan Ayah sendiri di mata dia." Celotehku tanpa henti.
"Ayah juga berpikir seperti itu karena Ayah juga tidak mau dipermalukan. Tapi di saat dia mengungkit tentang Charles Ayah luluh." Jelas Ayah kebingungan.
Aku sangat paham kalau Ayah tidak bisa menentang apapun yang Charles katakan, dan ini akan menjadi dilema untuk keluarga Albregatte.
"Ini terlalu rumit Ayah." Ucapku kebingungan.
"Untuk hal ini kamu yang akan memutuskan, karena cepat atau lambat kamu akan menjadi kepala keluarga Albregatte, ini bisa jadi awal pembelajaran untuk kamu citra dan nama keluarga ini baik atau buruknya akan berada di tangan kamu tetapi Ayah harap kamu tidak mengecewakan Ayah." Jelas Ayah menatapku. Sangat sulit, Ayah memberikan tanggung jawab untukku menyelesaikan masalah ini. Namun ia juga menekankan supaya aku tidak membuat keputusan yang merugikan.
"Aku akan berusaha memecahkan masalah ini Ayah. Peercayalah padaku." Meyakinkan Ayah.
"Sebelum itu aku akan menemui Mitha dan Leandricho. Karena ini adalah masalah percintaan kami dan aku harus menyelesaikannya sebelum membawa nama keluarga besar." Ucapku sembari berfikir.
"Apapun itu lakukan saja asalkan masalah ini bisa terselesaikan." Ayah.
"Baik Ayah." Jawabku.
"Kembalilah ke kamarmu, Ayah sudah mengatakan apa yang ingin Ayah katakan. Dan kamu harus mempersiapkan diri untuk menjadi ahli waris keluarga Albregatte." Ayah kepadaku.
Aku mengangguk, "Baik." Jawabku paham.
Aku berjalan berbalik meninggalkan Ayah, "Ayah? Aku ingin penyerahan ahli waris itu dipercepat, karena aku sudah menemukan cara untuk menyelesaikan permasalahan ini." Aku tersenyum.
__ADS_1