Batas Senja Menuju Pagi (Rain)

Batas Senja Menuju Pagi (Rain)
permintaan Ayah


__ADS_3

Leandricho melihat Ayah berada di rumah sakit, "Kenapa kamu tidak memberitahuku Gea?" Tanya Leandricho kebingungan sembari menatap ku.


"Aku tidak memberitahumu karena kamu sibuk di perusahaan, katamu Kamu sedang ada rapat dengan investor asing dan aku cuma tidak mau mengganggu konsentrasimu saat bekerja." Ucapku menahan sesak.


"Maaf Ayah aku terlalu sibuk sampai tidak tahu kalau Ayah sedang dirawat di rumah sakit." Leandricho paham dengan situasi yang telah kubuat.


Aku hanya tersenyum sinis sembari menggigit bibirku. Aku sengaja tidak menceritakan apa yang terjadi antara aku dan dia kepada ayah karena tidak ingin Ayah khawatir, emosi Ayah harus stabil.


"Sekarang Bagaimana dengan kondisi Ayah?" Tanya Leandricho kepada Ayah.


"Aku baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir." Ayah menenangkan Leandricho.


"Nanti malam Aku akan tidur di sini untuk menemani Ayah Dan kamu pulang saja karena besok kamu harus ke perusahaan." Aku menyela pembicaraan Ayah dan Leandricho.


"Tidak masalah untuk urusan perusahaan aku bisa mempercayakannya kepada sekretaris dan yang terpenting sekarang adalah kesembuhan Ayah." Leandricho meyakinkan.


"Huh. Pria bermuka dua." Gumamku dalam hati.


"Terserah kamu saja." Jawabku acuh.


Suara ponsel berdering entah milik siapa. Leandricho sibuk mencari ponselnya.


"Maaf ayah ada telepon dari perusahaan, aku angkat di luar dulu ya?" ujar Leandricho menunggu jawaban dari Ayah.


"Ya sudah sana, kamu pasti sibuk sekali." Jawab Ayah. Leandricho tersenyum dan segera meninggalkan ruangan.


"Iya ayah dia sangat sibuk sekali maka dari itu aku tidak menceritakan ke dia pastinya hasil kerjaan dia akan berantakan." Jelasku kepada Ayah dengan menggenggam tangannya.


"Kamu benar sekali Gea. Ya sudah biarkan saja dia ke perusahaan kamu saja yang menunggu ayah di sini." Jawab Ayah paham.


"Baik Ayah aku akan mencoba untuk mengatakannya kepada Leandricho dulu ya."


"Pak Ken? Jaga Ayah sebentar ya." Aku menitipkan Ayah.


Aku keluar ruangan pasien dan langsung mencari Leandricho, aku menyusuri ke setiap lorong rumah sakit untuk mencari dia.


"kemana Leandricho ini? Jauh sekali hanya mengangkat telepon saja. Huh. Pasti itu dari Mitha! Jika tidak! Tidak tidak mungkin dia sampai mengangkat telepon dengan sembunyi-sembunyi seperti ini." Gumamku sembari mengedarkan pandangan mencari Leandricho.


"Nah ketemu, itu dia!" Lanjutku Leandricho.


Dia sedang berada di sebuah lorong dekat tiang dan dengan wajah serius dia mengobrol dengan orang yang berada di seberang telepon.


"Leandricho?" Aku menepuk pundaknya.

__ADS_1


Dia langsung terkejut dan berbalik badan, "Eh Gea?" Ucapnya terkejut.


"Tidak perlu kaget seperti itu. Ini aku. Dan aku juga sudah tahu siapa yang sedang kamu telepon jadi kamu tidak perlu berpura-pura lagi di depanku." Ucapku sinis dan memicingkan pandangan mataku pada Leandricho.


"Mitha sedang sakit dan aku harus ke sana." Jelas Leandricho.


"Apa? Sakit?" Ucapku sinis. Aku sempat tidak percaya hanya karena Mitha sakit saja dia sampai bersikap seperti ini.


"Pergilah, lagi pula kamu tidak perlu menunggu ayah di rumah sakit. Aku tidak mau melihat wajahmu lagi." Aku semakin acuh dan meninggalkan Leandricho di lorong.


"Tapi Bagaimana dengan Ayah?" Leandricho mempertimbangkan kondisi Ayah.


Langkahku terhenti, "Ayah tidak membutuhkanmu." Aku tidak menoleh sedikitpun lalu mempercepat langkahku.


Aku segera mencari lorong sepi untuk meluapkan semua perasaan yang semakin lama semakin berantakan. Aku ini istrinya Dan aku malah menyuruh suami ku untuk menemui kekasih gelapnya. Terbuat dari apa otakku ini sampai-sampai aku bisa seperti ini. Air mataku mulai mengalir menyaksikan kebodohanku.


"Huhuhuhu." Tangisanku memecah kesunyian di lorong itu seolah tidak ingin berhenti menangis.


"Huhuhu. Kenapa kamu jahat Leandricho? Kenapa kalau hanya untuk pernikahan atas dasar perjodohan bukan masalah untukku tapi kenapa harus Mitha?" Makiku.


Aku mulai mencoba untuk menenangkan diriku dan menghapus air mataku yang terus mengalir. Dan disaat perasaanku sudah pulih aku segera menuju ke kamar Ayah.


"Ceklek." Aku membuka pintu kamar pasien tempat ayah dirawat.


Aku berjalan mendekati ayah dan berdiri tepat di sampingnya dan di hadapan Pak Ken. "Tuan sedang tidur Nyonya." Jawab Pak Ken tenang.


"Baguslah kalau begitu." Ada rasa lega.


"Nyonya Dari mana saja? Kenapa baru muncul?" Pak Ken penasaran kenapa aku bisa sampai selama itu.


" Dan sepertinya Nyonya habis menangis." Lanjutnya.


"Oh. Aku tadi mencari Leandricho dan ternyata dia sudah berangkat ke perusahaan Setelah itu aku langsung ke toilet. Perut ku tiba-tiba terasa sakit." Ucapku memberi alasan tanpa berpikir panjang. Aku tahu kalau alasanku ini masih mengganjal di hati Pak Ken tapi semoga saja dia tidak curiga.


"Gea? Dari mana saja kamu. Kenapa lama sekali?" Ayah terbangun dari tidurnya saat mendengar perbincangan ku dengan Pak Ken.


"Maaf Ayah aku tadi mencari Leandricho. Apakah suara Gea membangunkan Ayah?" Tanyaku yang terkejut saat melihat Ayah tiba-tiba terbangun.


"Tidak-tidak, eh. Kapan Leandricho akan kemari lagi?" Tanya mencari Leandricho.


"Aku tidak tahu Ayah memangnya ada apa?" aku penasaran kenapa Ayah mencari Leandricho.


"Ada hal yang mau Ayah diskusikan dengan dia." Jawab ayah.

__ADS_1


"Nanti akan aku sampaikan padanya. Ayah Gea pergi dulu ya Ayah." Aku berpamitan.


"Iya Gea." jawab ayah tanpa komentar.


"Pak Ken? Jaga Ayah."


"Baik Nyonya." Jawabnya.


Aku segera meninggalkan Rumah sakit lalu mengendarai mobil menuju ke perusahaan Monarustichell.


"Eh apa tidak apa-apa kalau aku ke perusahaan tanpa memberitahu dia? Tapi sudahlah aku juga hanya menyampaikan pesan dari Ayah dan tidak akan mengganggu dia." Gumamku.


"Tapi tadi dia mengatakan kalau akan ke rumah Mitha. Bodohnya aku! Apa aku telpon saja? Percuma kalau aku pergi ke perusahaannya dia.Tapi ini sudah sampai di perusahaan dia. Duh sudah masuk saja dulu." Aku dilema sembari memainkan setir mobil untuk memarkirkan nya.


"Loh inikan mobilnya Leandricho. Berarti dia ada di perusahaan." Aku berjalan memasuki perusahaan bertemu dengan beberapa karyawan Leandricho disana.


"Eh Leandricho sedang rapat atau sedang berada di ruangannya?" Tanyaku pada salah seorang karyawan.


"Pak Leandricho sedang berada di ruangannya Bu." Jawab karyawan itu sopan.


"Mau saya antar Bu?" Lanjut karyawan yang berusia sekitar 25 tahunan dengan rambut diikat kucir kuda dengan poni kesamping dan memakai setelan jas wanita yang serasi dengan dirinya.


"Tidak perlu kamu lanjutkan saja pekerjaan mu, saya akan ke sana sendiri." Ucapku padanya.


"Baik Bu."


"Untunglah Dia sedang tidak sibuk jadi dia tidak akan mengomel padaku karena datang ke perusahaan tanpa memberitahu nya." Aku bergegas menuju ruangan Leandricho.


Saat sampai di depan pintu ruangannya aku terdiam sejenak mengumpulkan keberanian. Tanganku menekan daun pintu dan mendorongnya perlahan.


Dengan cepat mataku menangkap adegan yang benar-benar bisa merusak mataku.


"Kalian?" Teriakku saat melihat Leandricho dan Mitha bersama.


"Rubah tidak tahu diri! Berani-beraninya kamu....." Ucapku dengan amarah yang tak terkendali.


"Gea? Kenapa kamu disini?" Tanya Leandricho yang terkejut karena kehadiranku.


"Kamu tanya kenapa? Aku ini istrimu dan tidak boleh ta aku datang ke perusahaan suaminya sendiri? Baiklah aku akan pergi!" Aku langsung berbalik badan dan keluar dari ruangan itu sembari menutup pintu dengan keras.


Di depan pintu air mataku sudah tidak mampu dibendung lagi mengingat apa yang aku lihat tadi membuatku semakin muak dengan Leandricho. Air mataku tak mau berhenti mengalir seolah itu menyeruak hatiku seperti disayat sayat, sangat rapuh dan hancur.


"Wanita rubah sialan!" Teriakku di depan pintu dengan kondisi diri yang hancur dan air mata yang semakin deras mengalir. Aku berlari terhuyung-huyung meninggalkan perusahaan Monarustichell.

__ADS_1


__ADS_2