
"Ibu aku datang menemuimu, maafkan aku karena baru hari ini bisa kemari. Apakah Ibu kecewa kepada aku?" Tanyaku pada Ibu sembari duduk di samping batu nisan Ibu.
"Ibu tahu? Ayah menyembunyikan kematian Ibu dariku. Jika aku tahu lebih awal mungkin aku pasti sudah menemuimu sejak dulu." Mataku mulai berkaca-kaca.
"Aku sekarang baik-baik saja Ibu. Aku sudah tumbuh menjadi gadis yang dewasa. Dan sudah lulus S1 manajemen bisnis. Tapi sekarang Ayah mengalami sakit jantung Ibu." Air mataku mulai membasahi pipiku, suara yang semakin berat.
"Aku rindu Ibu. Sangat merindukanmu Ibu." Seolah tak bisa menahan sesak yang ada di dada aku pun menangis tersedu-sedu.
Aku mengusap batu nisan Ibu, "Ibu tahu berat bagiku untuk menjalani hidup tanpa Ibu. Sangat berat Ibu, bahkan Ayah membohongiku selama ini." Aku tidak ingin menangis. Bercerita apa yang kurasakan.
"Ini menyakitkan untuk Ibu. Namum sekarang aku tidak bisa menuntut penjelasan Ayah. Aku takut kondisi Ayah memburuk." Jelasku pada Ibu.
"Apa artinya aku Ibu. Aku hanya sebuah boneka untuk keluarga Albregatte. Aku dituntut untuk selalu sempurna tetapi satu orang pun tidak ada yang bisa mengerti kan ku Ibu." Aku tak kuasa menahan tangis aku berteriak mengungkapkan apa yang menjadi beban hatiku.
"Bawalah aku bersamamu Ibu. Aku sudah muak seperti ini Ibu." Teriakku dengan tangisan.
"Ibu huhuhu..."
Noan mendekatiku dan memegang pundakku, "Sudahlah Gea. Jangan bersedih. Aku tahu ini berarti untukmu, aku pun juga merasakannya. Tapi kamu harus ingat seperti apa yang kamu katakan kepadaku. Kamu harus bangkit dan fokus untuk menemukan pembunuhnya. Bangunlah kita pulang sekarang." Noan menarik lenganku.
"Aku tidak ingin pulang aku ingin tetap menemani Ibu di sini. Ibu kesepian. Biarkan aku disini Noan." Teriakku memberontak.
"Kamu tidak bisa terus seperti ini Gea!" Noan mulai menaikkan nada bicaranya.
"Bukankah kamu tadi yang menasehatiku dan menghiburku di rumah tadi. Di mana Gea yang kulihat tadi? Kenapa kamu seperti ini?" Tanya Noan yang tidak habis pikir dengan sikap saat ini.
Aku hanya diam dan menangis. Tangisanku pecah saat itu. Noan memaksa kembali menarik lenganku agar aku segera berdiri.
"Lpaskan Noan. Lepaskan!" Teriakku.
Noan tetap memaksaku dan menggenggam tanganku, "Apa yang kamu lakukan?" Teriakku sembari berdiri karena Noan memaksaku.
"Diamlah dan ikuti saja aku. Aku akan membawamu ke suatu tempat." Noan menarik tanganku untuk berlari. Aku tidak tahu kemana Noan akan membawaku.
__ADS_1
Aku menghentikan langkahku. Napasku mulai terengah-engah. "Berhenti! aku sudah lelah berlari." Ucapku sembari mencoba mengatur napas.
Aku dan Noan sudah berlari lama meninggalkan makam dan sudah jauh dari Desa, "Sebenarnya kamu akan membawaku ke mana?" Lanjutku bertanya pada Noan.
Noan yang ikut menghentikan langkahnya kini membalikkan badan dan saat itu kami berhadapan saat dekat sekali. Dia mengelap keringat di wajahku. Aku tertegun dan mundur selangkah.
"Aku bisa sendiri." Ucapku mengelap keringat di wajahku.
"Kita akan ke suatu tempat untuk menghibur kesedihanmu." Aku tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya lalu dia kembali melangkah melanjutkan perjalanannya.
Aku menarik napas dalam-dalam, "Huh.. baiklah. Apakah masih jauh?" Tanyaku pada Noan.
Noan membalikan wajahnya dan menatapku, "Tidak sebentar lagi kita akan sampai." Jawabnya tersenyum.
Akhirnya aku dan Noan berjalan menuju ke tempat yang Noan maksud. Karena aku sudah tidak kuat lagi untuk berlari. Setelah lama berjalan terdengar suara gemericik air. Dan semakin lama aku berjalan semakin terdengar jelas suara gemericik air itu.
"Air terjun?" Ucap ku terpesona saat melihat air terjun itu sangat indah.
Airnya yang masih jernih jatuh dari ketinggian dan mengalir ke bawah. Sangat indah, pesona air membawakan sejuk menusuk ke tulang. Walau berada jauh dari pemukiman namun sangat bersih. Aku mendekati air terjun itu dan tertawa puas melihat air terjun yang indah.
Aku membalikkan badanku dan menatap Noan, "Aku benar-benar menyukainya." Aku mencipratkan air kepada Noan. Noan pun terkejut dan terdiam sesaat, lalu dia membalas untuk mencipratkan air kepadaku. Aku bersenang-senang di sana seolah kesedihanku ikut hanyut terbawa oleh aliran air.
"Rasakan ini!" Noan menciptakan air kepadaku berulang-ulang.
"Sudah cukup. Bajuku basah." Aku mendekati Noan. "Bagaimana kalau kita mengambil foto bersama?" Aku mengeluarkan ponsel dari saku celana.
"Baiklah." Jawabnya setuju.
Aku mengambil foto selfie bersama dengan background air terjun. Kami melakukan banyak gaya. Setelah puas berfoto-foto aku duduk di sebuah batu besar.
"Ahh.. Lelahnya." Gumamku lirih.
Noan ikut duduk disampingku, "Maaf ya aku sudah membawa mau ke tempat yang jauh." Noan menyesal.
__ADS_1
"Walaupun melelahkan tetapi ini semua sebanding dengan hasilnya. Aku benar-benar menikmati" menepuk pundak Noan.
Badanku mulai terasa menggigil, karena bajuku yang basah terkena cipratan air tadi. Aku mengusap-usap kedua lenganku.
Noan berdiri, "Ayo kita pulang. Kamu sudah mandi kecil kedinginan. Aku takut kalau kamu sakit." Ucapnya mengulurkan tangan di depanku.
Aku meraih tangan Noan lalu berdiri dan mengangguk.
"Aku akan mengantarmu pulang." Noan berjalan di depanku dengan menggenggam tanganku.
Di perjalanan pulang kami berbincang dengan seru. Tanpa terasa kami sudah sampai di depan Villa.
"Huh.. Tidak terasa secepat ini kita sudah sampai di Villa." Noan menghentikan langkahnya.
"Masuklah kalau begitu dan lekas ganti pakaianmu. Kalau tidak kamu akan sakit." Noan memperhatikanku.
"Iya. Terimakasih Noan." Jawabku kepadanya. Mataku mengkode Noan ke arah tangannya.
"Kenapa?" Tanya Noah yang tidak tahu maksud dari ku.
"Mau sampai kapan kamu akan terus menggenggam tanganku. Bagaimana aku akan masuk kalau seperti ini." Aku mengangkat tangan yang digenggam oleh Noan.
"Ah.. Maaf aku lupa." Jawabnya dengan cepat melepaskan tanganku.
Aku tersenyum kecil melihat tingkahnya, "Kalau begitu aku masuk dulu." berbalik dan berjalan menuju ke pintu Villa.
Tiba-tiba aku menghentikan langkahku lalu membalikkan badan dan berlari memeluk Noan. Saat itu Noan terlihat terkejut sekali. Namun dia membalas pelukanku.
"Terimakasih untuk hari ini Noan. Aku benar-benar menikmatinya." Bisikku pada Noan.
"Sama-sama. Juga senang jika melihat kamu merasa senang." Jawabnya dengan penuh kelembutan.
Aku melepaskan pelukanku dan berbalik menuju ke pintu Villa dengan melambaikan tangan lalu segera masuk. Terlihat Noan tersenyum dengan bahagia. Sepertinya dia telah melupakan kesedihannya tentang Ibunya.
__ADS_1
Aku benar-benar menikmati kebersamaanku dengannya. Aku berandai-andai jika, jika dan jika Leandricho seperti Noan maka aku akan sangat merasa bahagia. Tapi itu hanyalah sebuah mimpi. Walaupun kemungkinannya kecil aku tetap berharap walaupun itu hanya secuil kepingan puzzle. Aku berharap suatu saat dia akan sadar bahwa cintaku kepadanya benar-benar tulus untuknya. Leandricho.