
Aku melihat Leandricho masih tertidur dengan pulas. Ekspresi yang diperlihatkan terlihat indah ketika dia sedang tertidur membuatku semakin menyukainya.
"Richo? Leandricho bangun!" Aku menepuk lengan Leandricho.
"Ini sudah siang. Ayo segera bangun. Ayah menunggumu untuk sarapan." Lanjutku yang tetap membangunkan Leandricho.
"Ahhh.. Hoamm... Ada apa berisik sekali. Kenapa kamu membangunkan aku." Jawab Leandricho yang mulai bangun dari tidurnya.
"Bangun! Ayah sudah menunggumu di meja makan. Cepat bangun." Aku masih tetap berusaha membangunkannya.
"Ahhh. Berisik sekali kamu ini! Aku mau mandi, minggir kamu." Leandricho menepis tanganku Dian bangun dari tempat tidur.
"Ya sudah kalau begitu. Kemeja kerja ada di lemari. Semuanya sudah aku cocokin dengan dasi juga. Tinggal kamu pakai saja. Aku akan menunggumu di bawah." Ucapku pada Leandricho.
"Iya nanti akan aku ambil sendiri." Jawabnya dengan nada kesal.
Aku segera turun ke bawah untuk menemui Ayah di meja makan.
"Gea? Dimana Leandricho?" Tanya Ayah yang melihatku menuju kearah meja makan.
Aku segera duduk sebelum menjawab pertanyaan dari Ayah, "Dia masih mandi Ayah lebih baik ayah sarapan terlebih dahulu supaya tidak terlambat ke perusahaan." Ucapku agar Ayah mendahului sarapan. Tidak enak rasanya jika membuat Ayah menunggu terlalu lama. Apa lagi Leandricho masih mandi.
"Baiklah saya akan sarapan terlebih dahulu." Ayah mengambil makanan dan meletakkannya ke dalam piring.
"Kamu bisa pindahan hari ini. Tapi menunggu sampai Pak Ken selesai membereskan rumah yang ada di Elhas. Baru setelah itu kamu bisa ke sana." Ayah mengunyah makanannya.
Seketika aku tertegun dengan apa yang Ayah ucapkan lalu memandang Ayah, "Maksud Ayah? Sekarang Pak Ken sedang di rumah yang berada di Elhas dan membersihkannya? Kenapa Ayah sampai seperti ini bukankah aku sendiri bisa melakukannya." Aku bertanya kepada Ayah untuk memperjelas.
"Iya. Jadi nanti kamu bisa ke sana langsung membawa pakaianmu tidak perlu sampai membersihkan rumah itu." Ayah dengan santai memandangku sembari tersenyum.
Aku segera bangun dari tempat dudukku dan mendekati Ayah, "Terimakasih Ayah. Ayah memang yang terbaik." Ucapku sembari memeluk Ayah.
"Apakah kamu nanti akan berangkat ke perusahaan?" Tanya Ayah sambil memegang tanganku.
Aku melepaskan pelukan Ayah lalu kembali duduk di kursi, "Aku pikir kalau hari ini aku akan istirahat di rumah dulu. Biar besok aku akan berangkat ke perusahaan." jawabku sembari berpikir.
__ADS_1
Ayah melirikku dan menatapku dengan tajam, "Kamu pasti lelah sekali bukan karena hal kemarin? Kalau begitu baiklah Ayah saja yang berangkat ke perusahaan dan kamu akan istirahat selama sehari." Jawab Ayah memberi kemudahan padaku.
Aku bangkit dari kursinya, "Ayah akan berangkat dulu. Salam untuk Leandricho." Ayah berjalan meninggalkan meja makan.
"Hati-hati di jalan Ayah." Jawabku melambaikan tangan sembari melihat punggung Ayah.
Di ruang makan itu terasa sangat sepi. Karena hanya ada aku sendirian, Leandricho belum turun sedari tadi. Namun aku tetap menunggu dan duduk santai di meja makan.
Terdengar suara langkah kaki mendekati ku, "Leandricho?" Ucapku saat melihatnya.
"Di mana Ayah?" Tanya Leandricho menyebarkan pandangannya.
"Ayah sudah berangkat terlebih dahulu. Karena lama menunggumu. Lebih baik kamu sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat kerja." Aku berharap agar Leandricho mendengarkan perkataanku.
"Tidak perlu aku bisa sarapan di perusahaan. Kalau begitu aku berangkat dulu." Jawab Leandricho dengan nada dingin lalu membalikkan badannya dan melangkah meninggalkan meja makan.
"Tunggu." Ucapku yang bangkit dari tempat duduk.
Leandricho menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya. "Ada apa?" Tanya Leandricho tanpa menatapku sedikitpun.
"Ya." Jawabnya singkat lalu meninggalkan ku sendirian di meja makan.
Aku kembali duduk di atas kursi. Tanganku meraih sebuah roti tawar lalu mengoleskan selai di atasnya.
"Huh, lebih baik aku segera sarapan dan bergegas menuju ke rumah." Gumamku sembari mengunyah roti tawar itu.
Setelah selesai sarapan aku membereskan pakaian yang akan dibawa menuju ke rumah. Baik itu dari pakaianku maupun pakaian Leandricho yang dia bawa ke mansion saat hari pesta pernikahan. Semua pakaian ku masukkan ke dalam sebuah koper.
Dengan cepat aku masuk ke dalam mobil. Dengan lincah tanganku memutar setir mobil itu dan menginjak gas. Untuk menuju ke rumah. Aku sudah lama tidak mengunjungi rumah yang berada di Elhas. Dulunya rumah itu hanya aku kunjungi saat liburan sekolah. Tanpa terasa itu sekarang sudah menjadi rumahku. Rumah untukku dan Leandricho.
Keadaan jalanan saat itu sedang tidak ramai. Jadi kemungkinan aku akan lebih cepat sampai di rumah.
"Nyonya?" Pak Ken terkejut melihatku keluar dari mobil di depan rumah.
"Apakah sudah selesai membersihkan rumah ini Pak?" Tanyaku sembari mendekati Pak Ken.
__ADS_1
"Sudah Nyonya. Padahal saya baru saja ingin menelpon Nyonya. Tapi ternyata Nyonya malah sudah tiba di sini." Ucapnya menjelaskan.
Aku tersenyum, "Pak di bagasi mobil ada koper tolong diambil dan letakkan di dalam rumah." Aku memerintah Pak Ken.
Dengan gesit Pak Ken segera menuju ke mobil untuk mengambil koper dan membawanya masuk ke rumah.
Aku melangkahkan kakiku di depan pintu. Perlahan memasuki rumah itu. Rumah yang tidak beda jauh dengan mansion. Gaya dan arsitekturnya sama persis, hal yang membedakan rumah ini dan mansion adalah ukuran besar kecilnya bangunan tersebut. Dan untuk hal itu tidak ada yang bisa menandingi besarnya bangunan mansion keluarga Albregatte.
Walaupun rumah itu terkesan mewah namun hanya memiliki satu lantai. Dan satu bangunan. Tidak seperti mansion yang memiliki beberapa bangunan. Sepertinya pak Ken benar-benar berusaha untuk membersihkan rumah ini. Terlihat semuanya tanpa bersih dan kinclong tanpa ada debu yang menempel sedikit pun.
"Terimakasih Pak telah membantuku untuk membersihkan rumah ini." Aku tersenyum pada Pak Ken yang berdiri dibelakangku.
Pak Ken menundukkan kepalanya, "Nyonya tidak perlu berterimakasih. Ini adalah tugas dan tanggung jawab saya." Jawabnya sembari tersenyum.
Pak Ken melihatku, "Apakah Nyonya akan membawa beberapa pelayan dari mansion?" Tanya Pak Ken penasaran.
"Tidak Pak. Saya rasa saya akan mengurus rumah ini sendiri. Untuk menjadi istri yang baik bagi Leandricho." Jawabku atas pertanyaan Pak Ken.
"Tapi... Bukankah ini akan memberatkan Nyonya. Nyonya akan banyak sekali mengerjakan tugas sebagai kepala keluarga dan lagi sebagai pimpinan perusahaan. Apakah ini tidak terlalu melelahkan bagi Nyonya." Pak Ken menghawatirkanku.
Aku menghela napas. Dan tersenyum sembari melirik Pak Ken, "Pak Ken tidak perlu khawatir. Aku pasti akan melakukannya dengan baik tanpa kesalahan sedikit pun. Lagipula aku juga tidak ingin mengecewakan Ayah." Ucapku dengan nada lembut.
"Baik Nyonya. Saya akan undur diri dulu. Karena tugas saya telah selesai." Pak Ken berpamitan.
"Silahkan Pak." Ucapku sembari melihat pak Ken berlalu.
Aku berjalan menuju kursi sofa dan duduk di atasnya. "Huh.... Aku harus segera membereskan pakaianku dan juga Leandricho. Supaya saat dia pulang nanti semuanya sudah beres tanpa ada masalah sedikit pun." Gumamku.
Aku segera menuju ke kamar sembari membawa koper. Aku membereskan satu demi satu pakaian dan memasukkannya ke dalam lemari. Tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikannya. Sampai pada saat aku bosan karena tidak ada kegiatan lain. Semuanya sudah bersih, baju juga sudah tertata dengan rapi.
"Tunggu. Aku belum mengecek dapur." Teriakku sembari berlari menuju ke dapur.
Saat aku berada di dapur semuanya terlihat rapi dan aku membuka kulkas. Lalu melihat seisi kulkas tidak ada apapun. Hanya ada beberapa botol air mineral.
"Duh. Tidak ada sayuran. Bagaimana jika nanti Leandricho pulang untuk makan malam." Gumamku sembari menutup kulkas.
__ADS_1
"Lebih baik aku segera ke supermarket untuk membeli bahan makanan." Aku bergegas menuju ke kamar untuk mengambil tas dan kunci mobil.