Batas Senja Menuju Pagi (Rain)

Batas Senja Menuju Pagi (Rain)
malam pesta


__ADS_3

Setelah pertemuan pagi tadi yang membuatku semakin kacau, aku hanya ingin dekat dengan Leandricho. Tetapi kenapa pada faktanya aku menjadi lebih jauh darinya, hal yang paling bodoh adalah aku masih tetap berharap padanya. ilInilah tuntutan ku sebagai kepala keluarga yang mengesampingkan perasaan pribadi demi keluarga. setelah dari cafe, aku izin kepada Merry untuk segera pulang.


Sesampainya di rumah, "Nona sudah pulang?" Sorang lelaki yang menyambutku.


"Pak Ken? Kapan Pak Ken kembali?" Aku melihat kehadirannya.


Pak Ken adalah pengurus rumah yang sejak seminggu yang lalu izin untuk menemui istrinya yang sedang sakit.


"Belum lama ini Nona." Jawab Pak Ken.


Aku duduk di kursi ruang utama. "Bagaimana keadaan istri bapak?" Tanyaku keadaan istrinya.


"Istri saya sekarang sudah baik-baik saja. Maka dari itu saya bisa bekerja lagi, namun setelah sampai di sini saya terkejut karena akan diadakan pesta untuk Nona." Jawabnya mengikutiku dari belakang.


"Syukurlah kalau istri bapak baik-baik saja. Maaf harus merepotkan mu. Jika kamu kelelahan kamu bisa istirahat terlebih dahulu." Pintaku.


"Tidak perlu Nona. Saya tidak kelelahan sangat sekali. Kalau begitu saya permisi dulu Nona, saya akan membantu yang lain." Pak Ken undur diri.


"Baiklah silahkan." Jawabku dengan santai.


Ruangan utama sedang dalam proses dekorasi, semua pelayan terlihat sangat sibuk sekali. Aku pergi menuju ke kamar, meletakkan tasku di sofa lalu berbaring di tempat tidur.


"Ahh.... Hari yang melelahkan." Aku melihat langit-langit kamar.


Ada sedikit rasa gugup jika memikirkan apa yang harus aku katakan nanti malam. Sudah dapat diperkirakan kalau nanti malam pasti akan ada banyak tamu yang datang dari kalangan kelas atas. Dann yang pasti akan ada banyak orang yang memandang dan berbincang kepadaku. Bagaimana kalau aku salah bicara? Banyak sekali pertanyaan di dalam pikiranku.


Bi Anne mengetuk pintu yang tidak tertutup, "Tok.. Tok...Tok..." Suara ketukan pintu itu terdengar nyaring.


"Bi Anne? Ada apa?" Tanyaku pada Bi Anne.


Dia berjalan mendekatiku sambil membawa sebuah nampan, "Karena dibawa sangat sibuk dan berisik, saya membawakan makan siang Nona kemari." Menaruh makan siang di atas meja.

__ADS_1


"Terimakasih Bibi, saya akan memakainya nanti." Jawabku sembari bangun dari tempat tidur.


Bibi mendekatiku dan duduk di sampingku, "Apa Nona gugup?" Tanya Bibi padaku.


"Iya Bi, aku takut jika aku melakukan kesalahan." Jawabku khawatir.


Bi Anne memelukku dan mengelus rambutku, "Ini bukan Nona Athagea yang saya kenal. Setahu saya Nona yang saya kenal itu tidak akan pesimis. Dia akan selalu semangat apapun itu masalah yang akan dihadapi. Dia selalu tersenyum untuk menjalaninya." Ujar Bi Anne.


"Huh... Aku terlalu banyak berpikir, terimakasih Bibi." Melepaskan pelukan Bibi.


"Sama-sama Nona. nlNona harus tetap semangat karena saya tahu kalau Nona pasti bisa." Bibi berusaha menyemangatiku.


"Iya Bi." Aku tersenyum memandang Bibi.


"Sekarang Nona makan dulu ya." Menyuruhku untuk segera makan.


"Iya Bi aku akan makan." Jawab ku berjalan dan duduk di sofa untuk menikmati makan siang telah Bibi siapkan.


Di kamar aku gugup sendiri, "Huh... kenapa aku menjadi gugup seperti ini. Ini semua diluar kendaliku." Gumamku pada diriku sendiri.


"Tok... Tok... Tok..." Suara seseorang.


"Masuk." Tanpa melihat asal dari suara itu.


"Gea? Apakah kamu sudah siap? Para tamu sudah pada berdatangan." Tanya Ayah padaku.


"Ah... Sudah Ayah." Aku berdiri dan mendekati Ayah.


"Bagaimana penampilanku Ayah?" Tanyaku sembari memutarkan badan dan memperlihatkan gaun yang kukenakan.


"Kamu terlihat sangat cantik sekali." Ayah memujiku.

__ADS_1


Aku mengenakan gaun berwarna biru muda yang terlihat anggun dan menawan. Dengan beberapa hiasan mutiara pada bagian dada.


"Ayo Ayah kita turun." Ajak ku pada Ayah.


Aku merangkul dengan Ayah, dengan perlahan aku menuruni anak tangga. Semua mata menyorot padaku. Ada keluarga Monarustichell, keluarga Edelgard dan keluarga yang lainnya.


Setelah selesai menuruni anak tangga kami berhenti, "Selamat datang kepada semua tamu yang hadir, terima kasih telah menyempatkan waktu untuk datang ke pesta yang diadakan oleh keluarga Albregatte. Mungkin di sini kalian semua penasaran, tetapi ada alasan kenapa aku menyerahkan ahli waris keluarga Albregatte secepat ini. Itu semua karena aku mengalami penyakit jantung. Dan tidak bisa mengemban tugas dan tanggung jawab lagi sebagai kepala keluarga sekaligus pimpinan perusahaan." Ayah menjelaskan kepada para tamu yang hadir.


Para tamu saling berbisik satu sama lain, mungkin mereka masih mempertanyakan keberadaan ku menguntungkan atau merugikan mereka.


"Aku tahu kalian masih bingung dengan hal ini maka dari itu aku mempersilahkan kepada kepala keluarga yang baru untuk memberikan sambutan." Ayah memandangku dan menganggukkan kepala.


Aku paham dengan apa yang Ayah maksud," Sebelumnya aku meminta maaf kepada semua keluarga. Karena ini begitu mendadak, tetapi bukan berarti aku tidak punya persiapan. Bagi kalian yang berinvestasi di perusahaan Ayah dan menjadi kolega Ayah tidak perlu khawatir karena aku akan menjalankan tugas dengan baik. Memang sulit bagi kalian untuk percaya kepadaku. Maka dari itu aku tidak akan mengatakan panjang lebar dan berbasa-basi lagi, karena dengan pembuktian ku lah kalian akan menerima aku." Jelasku pada para tamu.


Ayah terlihat tersenyum lebar dan para tamu undangan bertepuk tangan. Pada akhirnya mereka semua menikmati hidangan yang disajikan.


"Wah... Wah kau tanpa keren sekali." Puji Merry padaku.


"Selamat Nona Gea." Beberapa keluarga memberiku selamat.


"Terimakasih kepada kalian semua." Aku menganggukkan kepala tanda memberi sapaan.


Terlihat Leandricho di kerumunan diam tanpa sepatah katapun membuat hatiku kacau. "Apakah dia marah?" Tanyaku dalam hati.


Raut mukanya yang terlihat dingin membuat siapa saja yang mendekatinya saya akan membeku. Aku mencoba mendekatinya, walaupun penuh keraguan aku masih tetap berharap dia mau berbincang dengan ku. Saat ini kami saling berhadapan, "Selamat!" Leandricho tanpa memandang ku.


"Terimakasih aku pikir......." Belum sempat menyelesaikan apa yang ingin aku katakan, Leandricho langsung bergegas meninggalkan aku.


"Leandricho?" Aku mencoba mengejar Leandricho. Namun tidak bisa karna banyak kerumunan di sana.


Rasanya hatiku ingin meledak, kini aku merasakan jarak antara kami benar-benar semakin menjauh. Bahkan hanya untuk sekedar salam sapa saja sangat sulit untukku. Ini adalah resiko dari tindakanku sebelumnya aku sudah mempersiapkan diri namun aku tidak mengerti kenapa resikonya bisa sampai seperti ini.

__ADS_1


Malam itu semuanya terlihat bahagia, akupun memasang wajah yang begitu ceria. Berbincang dengan beberapa keluarga dan menikmati minuman dan makanan yang disajikan. Namun tak dapat dipungkiri saat itu hati ku benar-benar hancur perasaan yang tidak karuan pun bercampur menjadi satu.


__ADS_2