Batas Senja Menuju Pagi (Rain)

Batas Senja Menuju Pagi (Rain)
Pertengkaran Kecil


__ADS_3

Setelah pernikahan Leandricho sama sekali tidak merespon apapun dengan baik. Berhari-hari aku menjalani hidup seperti orang asing dengannya. Dia sering lembur dan jarang pulang ke rumah. Aku selalu menyiapkan makanan kesukaannya, menunggu dia pulang untuk menyambutnya. Namun itu semua hanyalah hal yang sia-sia, bahkan terbilang dia tidak pernah makan bersamaku. Sesekali dia pulang hanya untuk mengganti pakaiannya lalu kembali lagi ke perusahaan. Hal yang paling membuatku bingung adalah saat dia bertemu dengan Ayah, Papa dan Mama sikapnya berubah. Seolah hubungan kita baik-baik saja.


"Leandricho? Jam berapa kamu akan pulang? Aku akan menyiapkan makan malam kesukaan kamu." Ucapku.


"Maaf Gea. Aku tidak bisa pulang karna sedang lembur. Di perusahaan masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan malam ini." Jawab Leandricho dari seberang telepon.


Aku menggigit bibirku yang kering dan air mata yang tak terkendali mulai mengalir ke pipi. Panggilan telepon dimatikan oleh Leandricho. Aku memulihkan rasa frustasi ku, mengambil napas dalam-dalam.


Seharusnya saat aku menikah dulu aku tak perlu berharap banyak dari Leandricho adalah keputusan yang terbaik. Aku terlalu naif untuk berpikir bahwa dia lambat laun akan berubah dan bisa mencintaiku.


Aku sudah melakukan tugasku menjadi sosok istri yang baik bagi dia, tetapi dalam hati dan pikiran Leandricho tidak ada aku sedikitpun.


Sejak aku masih sekolah dan sejak perjodohan itu, sudah Sembilan tahun lamanya. Aku sudah puas bahkan jika Leandricho tidak mencintaiku. Udara yang dingin membuatku gemetar, kegiatanku setiap harinya masih sama menonton TV sendiri, tidur sendiri dan makan pun sendiri. Rumah adalah hadiah dari Ayah untuk pernikahan kami. Namun setelah pernikahan sebagian besar waktu kujalani sendirian. Walaupun ada sedikit perasaan takut akan kehilangan Leandricho. Dengan Leandricho saat ini, sangat memungkinkan jika dia bisa saja berpaling pada Mitha.


Perasaan galau pun sampai terbawa ke tempat tidur. Kemudian aku terbangun, rumah masih sepi dan tidak merasakan kehadiran Leandricho.


"Sudah sangat larut. Kenapa aku bisa terbangun. Aku hanya ingin tertidur malam ini di ketika aku terbangun nanti itu sudah pagi. Aku terlalu merasa kesepian untuk bangun tengah malam." Gumamku.


Pagi ini aku menyiapkan sarapan kesukaan Leandricho yaitu nasi goreng dengan telur mata sapi yang digoreng setengah matang. Pagi-pagi sekali aku menyiapkan ini supaya saat Leandricho tiba di rumah aku sudah menyiapkan semuanya dengan sempurna.


Tok... Tok... Tok..


Terdengar suara pintu diketuk.


"Ah. Itu pasti Leandricho." Gumamku dengan kegembiraan.


Aku membuka pintu itu dengan penuh rasa semangat.


"Kamu sudah pulang?" Tanyaku dengan senyum lebar.


Namun tidak ada respon sedikitpun dari Leandricho.


"Biarkan aku yang membawa tas nya." Aku mengambil tas yang dia pegang.


Leandricho berjalan memasuki rumah, ekspresi yang masih sama seperti dulu. Dingin!


"Aku sudah menyiapkan sarapan kesukaanmu. Lebih baik kamu cuci muka dan cuci tanganmu lalu sarapan terlebih dahulu." Pintaku.

__ADS_1


Leandricho berjalan menuju ke kamar mandi tanpa sepatah kata pun.


"Kemari duduklah di sini lalu segera sarapan." Ujarku dengan menarik kursi untuk nya duduk.


Aku mengambilkan nasi di piring nya dan memberikannya telur mata sapi yang digoreng setengah matang.


Dia mulai memakainya, Walaupun dia tidak merespon apapun yang aku katakan aku sudah senang kalau dia mau makan bersama ku.


"Semalam kamu mengatakan kalau kamu kerja lembur tapi kenapa saat kamu masuk rumah aku mencium aroma parfum perempuan dari pakaianmu?" Tanyaku penasaran dan memecah kesunyian di antara Aku dan dia.


Leandricho tiba-tiba terlihat kehilangan minat makan dan menyeka bibirnya dengan serbet kertas.


"Saat itu aku menikahimu karena semuanya adalah keinginan keluarga. Dan ini hanyalah pernikahan diatas kertas, walaupun sebenarnya aku tidak pernah berpikir untuk berada di sisimu. Jadi jangan ikut campur pada setia apa yang aku lakukan dan cukup melakukan tugasmu selayaknya sebagai istriku. Jangan biarkan aku semakin membencimu dan muak terhadapmu." Jawabnya pengen ekspresi wajah yang marah penuh kebencian.


Dia berjalan meninggalkan meja makan.


Aku hanya menundukkan kepala. Hatiku terasa sangat sakit seperti ditusuk-tusuk. Aku pun tahu dengan jelas bahwa Leandricho tidak mencintaiku dari awal, dia hanya berpura-pura kalau dia mencintaiku didepan semua orang.


"Apa kamu masih memikirkan Mitha?"


"Apa mau kamu Athagea?"


"Kita sekarang sudah menikah, tapi kamu bersikap seolah tidak menganggapku ada. Aku tahu dan paham sekali pernikahan ini hanyalah kemauan dari dua keluarga. Tapi bisakah kamu bersikap baik padaku sedikit saja. Setidaknya anggap aku ada dan anggap aku istrimu."


"Sudah cukup belum?" Mata Leandricho penuh dengan kebencian dan kemarahan.


"Athagea dari awal kamu memang tidak menyadarinya atau hanya berpura-pura? Kamu seharusnya tahu aku tidak suka ini dan sedikit pun aku tidak akan pernah menganggap kamu ada!"


"Itu sangat menyebalkan!" Lanjutnya meninggalkanku.


Hatiku benar-benar sakit, hidupku seolah hancur.


Dari lemari diambil selimut dan bantal, Leandricho bersiap untuk tidur di kamar tidur tamu. Aku hanya bisa diam dengan rasa kekhawatiran. Menggenggam kedua tanganku dengan erat dengan pandangan tertuju pada Leandricho.


Setelah lembur, biasanya pagi pulang untuk istirahat sebentar dan berangkat lagi ke perusahaan.


Kepalaku tiba-tiba terasa pusing dan berat, terasa mengalir hangat dari hidupku.

__ADS_1


"Darah?"


"Ah. Lagi-lagi aku harus seperti ini." Gumamku dengan rasa kesal dan menuju kamar mandi untuk segera membersihkan darah yang mengalir dari rongga hidung.


Dretttttt... Drettttt.....


Suara ponselku berdering.


"Siapa ini pagi-pagi sekali sudah menelponku?" Ucapku mengambil ponsel dari saku celana.


"Iya Mama ada apa?" Ucapku setelah mengangkat telepon yang ternyata itu dari Mama.


"Maaf Athagea. Mama mengganggumu pagi-pagi sekali. Mama dan Papa akan berangkat ke luar negeri pagi ini. Dari tadi Mama Leandricho tapi tidak ada jawaban dari dia." Ucap Mama menjelaskan.


"Oh. Leandricho sedang istirahat Ma. Dia baru pulang dari perusahaan karena tadi malam dia harus lembur." Jawabku mencari alasan.


"Pantas saja dia susah sekali untuk ditelepon. Nanti berita dia kalau Mama dan Papa akan keluar negeri untuk sementara waktu." Pinta Mama.


"Baik Ma nanti akan aku sampaikan." Jawabku paham.


"Baiklah kalau begitu kami akan sesuatu untuk berangkat." Ucap Mama mematikan telepon.


"Huh.."


Aku menghela napas panjang.


"Mama dan Papa pergi keluar negeri apakah untuk menemui Charles?" Gumamku penasaran.


Langkah kakiku tergerak menuju ke ruang tamu, melihat Leandricho yang mulai tertidur. "Leandricho? Apakah kamu sudah tidur? Richo?" Tanyaku berulangkali namun tak ada jawaban.


Posisi yang anteng. Wajahnya yang terlihat tampan dengan rambut yang acak-acakan tetapi masih terlihat tampan. aku mendekatinya yang sedang tidur. Jongkok di samping tempat tidurnya dan membelai rambutnya. Wajahnya yang terlihat makin jelas dari dekat membuatku terpana dan terpesona.


"Apa yang kamu lakukan?" teriak Leandricho segera menghindar dari dekat ku.


"Maaf. Aku. Aku tidak sengaja. Aku hanya, hanya mau menyampaikan kalau ibu sedang pergi keluar negeri. Tadi Mama menelpon dan kamu..." Aku terbata-bata karna gugup saat tertangkap oleh pandangan Leandricho.


"Sudah cukup. aku tidak mau dengar alasan apapun darimu. Lebih baik kamu pergi dari sini. Aku akan istirahat dan tidak mau diganggu. Keluar!" Leandricho memotong pembicaraanku.

__ADS_1


__ADS_2