Batas Senja Menuju Pagi (Rain)

Batas Senja Menuju Pagi (Rain)
Mengikuti Leandricho


__ADS_3

Aku semakin curiga dengan sikap Leandricho yang semakin dingin dan sering tak pulang rumah. Pada pagi hari saat dia pulang ke rumah untuk mengganti pakaiannya, aku memutuskan untuk mengikutinya saat akan keluar rumah untuk menuju ke perusahaan.


Aku terus mengikutinya, "Loh kemana dia akan pergi? Ini bukan jalan menuju perusahaannya dia?" Gumamku penasaran karena jalan yang di ambil Leandricho bukan ke arah perusahaan.


"Mau kemana dia?" Tanyaku tanpa jawaban.


"Sepertinya jalan ini sedikit akrab denganku." Lanjutku yang memperhatikan jalan dan sekelilingnya.


Saat itu Leandricho berhenti di depan sebuah apartemen. Dari apartemen itu keluarlah seorang perempuan cantik. Dengan semangat dia menyambut Leandricho, gerakan tubuhnya yang manja, dan langsung memeluk Leandricho. Aku tak menyangka respon baik dari Leandricho, dengan jelas terlihat bahwa Leandricho mencium kening perempuan itu.


Dadaku terasa sesak, aku tak mampu untuk berkata-kata lagi. Aku cuma bisa menangis menyaksikan perbuatannya. Kakiku gemetar. Aku tidak bisa menerima kenyataan. Mereka masuk kesebuah apartemen, dan bodohnya aku masih tetap di tempat untuk menunggu Leandricho. Dengan mengabaikan perasaan yang seperti disayat-sayat saat itu. Aku mencoba untuk menguatkan diriku dan menerima setiap detik yang ku lihat walau hatiku ini hancur berkeping-keping.


Aku menunggu satu jam, dua jam dan bahkan sampai siang bolong. Saat itu aku melihat mereka keluar dari apartemen, dan wanita itu mengikutinya. Mereka masuk ke mobil dan menjalankan mobilnya, aku harus terus mengikutinya.


Setelah lama mengikuti ternyata dia menuju ke kantor, sesampainya di kantor.


"Aku tidak menyangka bedebah itu membawa si ****** ke perusahaan Monarustichell." Makiku saat melihat mereka.


"Brengsek, berani-beraninya mereka." Lanjutku.


perasaan sedih bercampur dengan emosi yang aku alami saat ini. Aku kehilangan jejak saat mereka memasuki perusahaan.


"Apa mungkin mereka menuju ke ruangannya Leandricho ya?" Tanyaku pada diri sendiri.


"Coba aku lihat dulu diruangannya Leandricho." Lanjutku.


"Bu Athagea? Ada yang bisa saya bantu Bu?" Tanya seorang karyawan Yang melihatku masuk ke perusahaan Monarustichell.


Aku menggelengkan kepala, "Tidak perlu, aku hanya mencari Leandricho. Kamu tidak perlu memberitahu Leandricho kalau aku datang ke perusahaannya. Cukup aku yang ke ruangannya saja." jelasku pada seorang karyawan yang tadi menyapaku.

__ADS_1


"Baik Bu." Dia mematuhi perintahku.


Aku berjalan menuju ke ruangan Leandricho, "Loh kok pintunya tidak di tertutup rapat. Apa dia tidak ada di ruangan ini?" Gumamku di depan pintu.


Saat aku ingin masuk dan memegangi daun pintu tiba-tiba langkahku terhenti. Dari sela pintu aku melihat Leandricho dan si ******. Mataku terbelalak, spontan aku menutup mulutku. Aku tak pernah membayangkan kalau Leandricho akan seberani ini di belakangku.


"Sayang aku mau lagi." Ucap Leandricho sembari mencumbu si ******.


"Bukannya tadi dirumah sudah ya? Apa masih kurang?" Jawab perempuan itu dengan nada manja.


"Kamu itu begitu menggairahkan, bahkan aku tidak bisa menahannya saat bersamamu." Leandricho meraba tubuh perempuan itu.


"Oke baiklah kita lanjutkan saja." perempuan itu setuju dengan kemauan Leandricho.


Ada yang mengalir hangat di pipiku. Air mataku tak mampu ku bendung. Aku tidak tahu apa yang harus ku katakan saat melihat apa yang mereka lakukan.


"Arghh, sayang pelan-pelan sedikit." perempuan itu mulai bergairah.


Aku marah, aku benci. Aku ingin mendatangi mereka dan memukuli perempuan ****** itu. Tapi aku takut Leandricho akan marah padaku dan semakin menjauhiku.


Kakiku gemetar, Aku ingin lari dari situasi ini. Tapi aku tidak bisa. Seolah tubuhku mati rasa. Aku meyakinkan diriku dan hatiku untuk segera meninggalkan tempat itu. Ku usap air mataku yang mengalir membasahi pipi.


Aku menuju ke parkiran meninggalkan tempat menjijikan itu dan masuk ke dalam mobil. memutarkan setir dan menginjak gas. Aku mengendarai mobil dengan kecepatan penuh.


"Kenapa Leandricho tega seperti ini, bahkan aku yang istrinya sedikitpun dia tidak mau menyentuhku." Makiku di dalam mobil.


Tangisanku pecah diiringi dengan emosi yang membuncah. perasaan sesak didalam hati, "Kenapa harus dia? Dia adalah sahabatku. Mitha!"


"Aku pikir dia sudah meninggalkan Mitha sesuai dengan yang dia katakan waktu itu. aku pikir aku sudah menyingkirkan pengganggu itu dari sisi Leandricho. Tapi kenapa? Kenapa perempuan ****** itu masih saja di samping Leandricho?" Aku berteriak seperti orang gila didalam mobil.

__ADS_1


"Aku terlalu bodoh dengan tipu muslihat mereka. Aku sudah di bodohi." Aku memaki. Mengeluarkan semua yang ingin ku katakan.


"Ternyata tidak segampang itu untuk membuat Mitha menjauh dari Leandricho. Bagaimana caranya supaya dia bisa menjauh dari suamiku?" Aku terus berfikir.


Mobil yang ku kendarai entah menuju ke mana. Yang pasti saat itu aku benar-benar ingin pergi sejauh mungkin. Menenangkan diriku dan perasaanku yang telah hancur. Cinta sepihak ini membuat hidupku hancur.


Mobilku terhenti disebuah jalan dekat taman. Aku keluar dari mobil itu dan berjalan menyusuri taman. Pikiranku yang tidak karuan dan perasaanku yang seperti terkoyak. Terasa sakit.


Aku duduk disebuah kursi yang berada di taman itu. tempat yang sepi dan terhindar dari orang lalu lalang.


Ku rogoh tasku dan menggambil ponsel. "Noan? Di mana kamu? Aku teringat kamu saat ini. Dulu saat aku sedih seperti ini kamu selalu menghapus air mataku." aku melihat fotoku bersama dengan Noan saat bermain di air terjun.


"Aku egois bukan? memikirkanmu saat aku di kondisi terburuk?" Sindirku pada diri sendiri.


"Maafkan aku Noan karena telah menyakitimu waktu itu? Apa benar kita akan bertemu?" Rasa penyesalan yang ada di hati.


Aku menyesal karena telah menyakiti orang sebaik dia. Bukan menyesal karna telah menolah dia, karena cintaku hanya untuk Leandricho.


Aku termenung lama di taman dan tanpa terasa hari mulai sore. "Aku tak ingin pulang! Aku tak ingin bertemu dengan Leandricho. Karena itu hanya akan mengorek luka ku ini." Gumamku.


Aku tidak memperdulikan berapa lama aku di taman itu. Lagi pula aku tidak punya tujuan yang pasti kemana kaki ku akan melangkah dan bibirku untuk mengadu.


Aku ingin bercerita tentang yang ku alami tapi kepada siapa? Siapa?


"Ya aku tahu. Apa aku ke rumah sakit saja untuk menemui Merry. Tapi dia sibuk tidak ya?" Tanyaku pada diri sendiri.


Aku ingin kesana tapi takut kalau aku mengganggu aktifitasnya. Merry sekarang bukanlah orang yang mudah ditemui. Karena pekerjaannya sekarang membuatnya semakin sibuk.


"Bagaimana ini?" aku dilema untuk beberapa saat.

__ADS_1


"Sudahlah yang terpenting aku menemuinya dulu." aku bangkit dari kursi dan melangkah menuju ke mobil. Mengendarai mobil menuju ke rumah sakit.


__ADS_2