Batas Senja Menuju Pagi (Rain)

Batas Senja Menuju Pagi (Rain)
pertemuan dengan mereka


__ADS_3

Sebelumnya Merry telah menghubungi Leandricho untuk bertemu di cafe biasa. berharap dia memang benar-benar mau datang. Aku dan Merry keluar dari mobil untuk segera masuk ke dalam.


Aku menyebarkan undangan ke seluruh ruang cafe itu, "Di mana mereka?" tanyaku pada Merry.


Merry melihat ke sudut ruang cafe, "Itu dia mereka!" Merry menunjuk.


Melihat mereka duduk berdua dengan mesra hatiku rasanya sakit, bukan hanya sekedar sakit tapi juga iri. Seharusnya aku yang berada di samping Leandricho dan bermesraan dengannya.


Aku dan Merry melangkah mendekati mereka, "Athagea?" Leandricho terkejut melihat kedatanganku. Namun, Mitha bereaksi biasa saja seolah dia sudah mengetahuinya.


Sembari duduk, "Ya ini aku." Aku tersenyum masam.


Dari awal aku ke sini, aku sudah mempersiapkan diri untuk dibenci. Lagi pula mungkin ini memang jalan nya, "Dasar wanita licik! Manfaatkan Merry untuk membuat ku datang." Ucap Leandricho bangkit dari duduknya dengan raut wajah yang marah.


Mitha menarik tangan Leandricho, "Sudahlah, kita lihat apa yang akan dilakukan." Leandricho duduk kembali.


Merry memberi kode pada ku, "Benar yang Mitha katakan, lebih baik kita selesaikan ini dengan cepat. Benarkan Gea?" Seolah meminta jawaban.


Aku mengangguk, "Benar sekali." Jawabku singkat.


Pagi itu cafe terlihat sangat sepi, mungkin karena ini masih jam kerja. Hanya beberapa gelintir orang yang menikmati sarapan di cafe itu.


"Cepat katakan! Aku tidak mau lama-lama di sini." Leandricho memalingkan wajahnya.


Aku tersenyum sinis melirik Mitha, "Santai saja, bahkan aku dan Merry belum memesan apapun." ucapku tanpa tergesah gesah.


Dengan raut wajah yang kesal, "Pelayan!" Teriak Leandricho memanggil seorang pelayan.


Seorang pelayan laki-laki mendekat, "Iya Tuan. Apakah ada yang ingin dipesan lagi?" Pelayan itu dengan ramah.


Leandricho melirikku agar aku segera memesan, "Saya mau pesan satu kopi expresso dan satu kopi americano." Ucapku dengan senyum ramah.


pelayan itu mengangguk, "baik nona, akan saya siapkan. mohon ditunggu sebentar." Pelayan meninggalkan kami.


"Huh.." Leandricho melirikku dengan tatapan sinis.


Kami berempat saling diam, untuk menunggu minumannya datang. Tak lama kemudian pelayan itu datang membawa sebuah nampan yang berisi dua buah kopi.


"Silakan kopinya Nona." Meletakkan kopi diatas meja.


Setelah pelayan itu berlalu, "slSekarang sudah selesai jadi apa mau?" Leandricho tanpa memandangku.


"Ehemmm..." aku mendeham. "waktu itu Tuan Joshua datang ke mansion dan menemui ayah." ujarku dengan santai.


Leandricho melirikku, "Lalu apa hubungannya denganku?" Sentak Leandricho.


Aku membalasnya dengan senyuman, "Sabar dulu, bahkan aku belum menyelesaikan apa yang ingin aku katakan." Ucapku pada Leandricho.


"Tuan Joshua menemui Ayah adalah untuk dia!" Menunjuk Mitha.


Mitha terkejut, "Apa maksud kamu Gea?" Tanya Mitha sok polos.


"Apa kedatanganku kesini hanya untuk mendengar gurauanmu." Ujar Leandricho meledek.

__ADS_1


Merry berdiri dan memukul meja," Diam kamu! Bisakah tunggu Gea selesai bicara." Teriaknya.


Aku menarik tangan Merry agar dia duduk, karena pengunjung yang mulai berdatangan memandang kearah kami.


"akamu tenang dulu. Kenapa kamu sudah terbawa emosi?" Ucapku kepada Merry.


"Maafkan aku Gea. Sikap mereka keterlaluan." Merry melirik Mitha dan Leandricho.


"Cepat katakan." Leandricho kesal.


"Bukankah Mitha ingin menikah denganmu? Dan bukankah menjadi istri kedua itu sudah lebih dari cukup untuknya." Aku bertanya kepada Leandricho.


"Memang benar, sesuai kesepakatan antara Ayah dan Mitha kalau dia akan menjadi istri kedua. lalu masalahnya apa?" Tanya Leandricho yang merasa bahwa itu bukanlah sebuah masalah.


Merry memandangku dan mengangguk, "Di situlah masalahnya!..." Aku mencoba untuk tenang.


Leandricho memotong pembicaraan ku, "Hahaha, jadi kamu keberatan jika Mitha menikah denganku! Begitu?" Ucapnya sembari tertawa meledek.


"Shiiift...." Merry tidak dapat menahan emosi.


Tanganku menggenggam tangan Merry agar dia tetap menenangkan dirinya. "Bisakah kamu diam dan membiarkan aku menyelesaikan apa yang ingin aku katakan?" Memandang tajam Leandricho.


Mitha dan Leandricho diam tanpa merespon.


"Memang benar kesepakatannya adalah Mitha akan menjadi istri kedua mu. Aku sudah tahu itu! tellTetapi setelah Tuan Joshua pulang, Ayahku mengatakan padaku kalau tujuan Tuan Joshua adalah menjadikan Mitha sebagai istri pertamamu. Karena itu adalah permintaan dari Mitha....." Aku belum selesai menjelaskan.


Leandricho memotong ucapanku, " Bohong.....Mitha ada orang yang baik dia tidak mungkin melakukan itu. iyIya kan Mitha?" Bantah Leandricho dan bertanya pada Mitha kalau itu semua hanyalah sebuah kebohongan.


"Leandricho kamu bodoh jika mempercayai Mitha. Kamu akan menyesal kalau tahu siapa Mitha sebenarnya." Gumamku dalam hati.


Mitha terlihat sangat khawatir, "Kenapa Mitha? kenapa tidak menjawab? Bukankah Leandricho bertanya kepadamu?" Timpal ku bertanya pada Mitha.


"Diam kamu!" Teriak Leandricho sembari memandang ku.


Mitha menggenggam tangan Leandricho tips memasang ekspresi sedih, "Aku bisa menjelaskannya. Memang benar aku berkata seperti itu kepada Ayahmu. Tapi itu semua aku lakukan untuk melindungi diri ku." Ujar Mitha memelas.


"Dasar wanita rubah!" Merry menghina Mitha.


"Tenang saja aku percaya padamu. sekarang kamu bisa jelaskan semuanya." Leandricho yang luluh kepada sikap Mitha.


Dadaku semakin sesak dan terasa amat sakit, ingin rasanya menangis saat ini. Tetapi ini semua demi keluarga, dan aku tidak boleh egois.


"Kamu sendiri tahu aku orang biasa yang hanya mencintaimu. Jika aku menjadi istri kedua maka aku pasti akan diremehkan dianggap rendah. Aku berpikir dengan posisi istri pertama maka aku bisa melindungi diri ku." Mitha meyakinkan Leandricho.


"abaiklah tidak bersalah, aku mengerti apa yang kamu maksud." Ujar Leandricho mengelus rambut Mitha.


Kemesraan mereka membuatku semakin muak, "Mungkin karena dia bukan berasal dari kelas atas makanya dia tidak tahu aturan yang ada. Bukankah begitu Leandricho?" Tanyaku pada Leandricho.


"Kamu bisa memaafkan Mitha kan Gea?" Leandricho lemah. Ini pertama kalinya sejak dua tahun terakhir dia berbicara lembut kepadaku.


"Apa segitu cintanya kamu kepada dia sampai memohon padaku seperti ini?" Tanyaku kepada Leandricho tanpa menjawab pertanyaan dari dia sepenuhnya.


"Apa yang kamu lakukan? Tak seharusnya kamu seperti ini." Mitha heran pada perubahan sikap Leandricho.

__ADS_1


"Dasar wanita bodoh, kalau bukan karena kebodohan kamu Leandricho tidak akan seperti itu. Peraturan kalangan atas adalah, menjadikan ahli waris keluarga sebagai istri kedua adalah penghinaan untuk keluarga sang ahli waris itu. Dan bayaran untuk penghinaan itu tidaklah mudah." Jelas Merry.


"Tuan Joshua pasti mengetahui itu. aku rasa dia tidak punya pilihan lain selain Mengatakannya kepada Ayahku. Pasti ada yang menekan Tuan Joshua pada saat itu. Sebenarnya jika masalah ini ingin selesai dengan cepat hanya ada satu cara, ya itu membunuhmu." Jelasku menuju dan memandang Mitha dengan tajam.


Mitha terlihat down, " Tutup mulutmu Gea!" Teriak Leandricho.


"Kamu tidak perlu memohon padaku." Ujarku sembari mengeluarkan undangan pesta dan menyodorkannya.


Leandricho terkejut, "Dengan ini Mitha tidak perlu takut atas hukuman dari penghinaannya terhadap keluarga Albregatte. Kalau dia masih punya harga diri seharusnya dia sadar." Akumelirik Mitha dengan sinis.


"Bukankah ini terlalu cepat tiga tahun?" Tanya Leandricho.


"Memang benar tapi Ayah sedang sakit jantung jadi itu semua dipercepat." Jelasko tanpa basa-basi.


"Apa itu?" Tanya Mitha penasaran.


"Itu adalah undangan pesta atas penyerahan ahli waris dan sekarang dia adalah kepala keluarga Albregatte yang baru." Jawab Leandricho frustasi.


"Lantas kenapa? Kita akan tetap menikah bukan?" Tanya Mitha pada Leandricho.


"Benar-benar tidak tahu diri!" Sindir Merry.


"Kamu akan tetap menikah?" Mitha meminta jawaban.


Leandricho tahu keadaannya saat ini, "Dia tidak bisa menikah denganmu!" Aku tersenyum puas.


"Apa maksudmu? Itu bohong! Leandricho cepat katakan kalau itu semua bohong." Lagi-lagi Mitha meminta penjelasan.


"Biar aku saja yang menjelaskan, karena sekarang aku adalah kepala keluarga Albregatte, bagi kalangan kelas atas setelah menikah istri akan mengikuti marga suami" Jelasku.


"Apa masalahnya?" Mitha penasaran dan masih kebingungan.


"Karna Leandricho bukan pewaris keluarga Monarustichell, dan kepala keluarga Monarustichell adalah Charles kakak dari Tuan Joshua. Saat ini beliau sedang sakit maka Tuan Joshua adalah kepala keluarga sementara. Sedangkan posisi Leandricho?" Terlrsenyum memandang kepolosannya Mitha.


"Lebih tepatnya, saat kami menikah maka Leandricho akan mengikuti marga keluargaku. Menjadi Leandricho Gate Albregatte. Dan jika kamu masih bersikeras untuk menikah dengannya kamu akan menjadi Adelia Mitha Albregatte. Jika kamu tidak tahu diri maka nikah saja dengannya. apa kamu paham sekarang?" Timpal ku dengan rasa puas karena sudah menembak tepat pada sasarannya.


Mitha terkejut dan menutup mulutnya, "Cukup Gea!" Teriak Leandricho.


"Apa ini rencanamu?" Lanjutnya.


"Ini bukan sebuah rencana, melainkan keadaan yang harus aku dan Merry perjelas." Tersenyum sembari menikmati kopi.


Dengan sikap Mitha ya pasti akan mundur, namun aku harus tetap berhati-hati.


Mitha bangkit dan berlari meninggalkan kami, "Mitha, tunggu!" Leandricho menghentikan Mitha. namun Mitha tidak memperdulikan panggilan dari Leandricho.


"Puas kamu sekarang! aku benar-benar membencimu." Leandricho mengejar Mitha.


"Obat apa yang kamu berikan pada Leandricho sampai dia seperti ini." Gumamku dalam hati.


Merry terlihat khawatir, "Gea? Apa kamu baik-baik saja?" Ucapnya memandangku dengan serius.


"Ya." Jawabku singkat.

__ADS_1


Menahan sesak yang ada di dada terasa sakit atas apa yang kulihat, jujur aku menyesal melakukan ini semua karena aku tidak ingin menyakiti perasaan Leandricho. Namun apa boleh buat aku terpaksa melakukannya.


__ADS_2