
Aku dan Noan mengikuti langkah kaki Tuan Hildert meninggalkan meja makan dan pergi menuju ke sebuah ruangan.
"Ayah kenapa kita ke ruangan ini. Bukankah ruangan rahasia ini tidak boleh dibuka?" Noan terkejut saat Ayahnya membawa dia ke ruangan rahasia tersebut.
Aku semakin penasaran dengan apa yang terjadi. Tuan Hildert tidak menjawab pertanyaan dari Noan. Pintu ruangan itu berhasil dibuka, terlihat sebuah kamar yang sangat rapi sekali.
Seketika langkahku terhenti, "Tunggu! Tatanan kamar ini seperti kamar Ibu. Bukan hanya seperti. Tetapi ini sangat mirip sekali." Gumamku di dalam hati.
Tuan Hildert melihatku yang sedang berdiri mematung, "Kenapa Gea? Masuklah." Tuan Hildert menyuruhku masuk.
Noan terdiam dan menyebarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan. Di atas meja yang berada di sudut ruangan itu terdapat beberapa foto yang terpajang.
Noan mendekati meja itu lalu duduk, "Ini foto Ibu dengan siapa?" Noan bertanya sembari memegang foto itu.
Aku segera mendekati Noan dan melihat foto yang Noan pegang, "Ini Ibuku!" Teriakku sembari menarik foto itu dari tangan Noan dan duduk di sampingnya.
Noan terkejut dan memandangku dengan pandangan kebingungan dan penuh pertanyaan.
"Benar itu foto Ibu kalian. Mereka dulunya adalah sahabat." Celetuk Tuan Hildert.
Alisku saling bertautan lalu memandang Tuan Hildert dan Noan secara bergantian. Tuan Hildert berjalan menuju ke lemari pakaian dan sepertinya sedang mencari sesuatu. Aku dan Noan hanya memperhatikannya dan mengamati gerak-gerik Tuan Hildert.
"Kotak." Ujarku dalam hati. Saat melihat Tuan Hildert memegang sebuah kotak.
"Kotak apa itu Ayah?" Tanya Noan yang penasaran.
Tuan Hildert membuka kotak itu dan meletakkannya di atas meja didepan aku dan Noan.
"Buku!" Ucapku dan Noan kompak.
"Buku apa ini?" Ucapku sembari mendongakkan kepala dan bertanya.
Saat itu aku sedang duduk di sebuah kursi jadi harus mendongakkan kepala saat melihat wajah Tuan Hildert yang sedang berdiri di depanku.
__ADS_1
"Iya Ayah ini buku apa?" Timpal Noan penasaran.
"Ttu adalah buku harian Ibumu." Jawab Tuan Hildert pada Noan sembari berjalan menuju tempat tidur lalu duduk di atasnya.
"Kalian bisa membacanya." Saran Tuan Hildert padaku dan Noan.
Dengan cepat Noan membaca buku itu, "Semua tentang Ibunya Noan, lalu apa urusannya denganku." Gumamku dalam hati.
Setelah lama mendengarkan Noan membaca, mulai ada cerita tentang Ibu. Cerita saat Ibunya Noan dan Ibuku bersama melewati hari-hari dengan penuh ceria.
"Aku merasa senang memiliki sahabat seperti Liliana, sedikitpun dia tidak merendahkanku karena aku orang miskin. Hari ini kami bertemu dan berbincang bersama tidak ada rahasia sedikitpun diantara kami." Noan yang sedang membaca buku harian itu.
Aku melirik Tuan Hildert dan dia tersenyum kepadaku, "Apa ini yang dimaksud Tuan Hildert? Agar aku mengetahui tentang Ibuku lewat buku harian ini." Gumamku dalam hati.
"Hari ini Liliana bercerita kalau dia memiliki seorang kekasih, akhirnya dia akan menyusul untuk segera menikah. Melihat mukanya yang begitu senang aku pun ikut senang bersama nya." Lanjut Noan membacanya.
"Kekasih? Pasti Ayah." Aku merasa senang.
"Ada yang lain dari Liliana. Hari ini dia terlihat aneh. Aku berusaha menanamkan dia dan bertanya apa yang terjadi. Ternyata dia dijodohkan." Noan terhenti sejenak dan melihatku.
"Ayah pernah berkata kalau dia meminta Kakek untuk membuat perjanjian pernikahan. Dan seharusnya kekasih Ibu adalah Ayah tetapi ini ada dua orang pria. Lalu siapa kekasih Ibu?" Aku bertanya-tanya di dalam hati sembari menggigit ibu jariku.
"Masih mau mendengarkan lagi?" Noan ketika melihatku yang seperti kebingungan.
" Ya. Lanjutkan saja." Ucapku yakin. Karena masih ada rasa penasaran di dalam hati tentang apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu.
Noan lanjutkan membaca, "Liliana tidak bisa menolak perjodohan itu karena sebuah peraturan keluarga kelas atas. Dia dan kekasihnya bertengkar dengan hebat. Namun Liliana tidak bisa berbuat apa-apa, akhirnya dia menyetujui menikah dengan pria yang dijodohkan oleh Ayahnya. Walaupun dia tidak bahagia." Noan kembali terhenti.
"Masih ada lembar terakhir." Noan membuka lembaran buku harian itu.
"Ibu tidak bahagia? Kenapa Ayah berbohong kepadaku!" Air mataku mulai mengalir. Perasaan yang bercampur aduk. Terasa sesak dalam hati.
"Hari ini tepat seminggu setelah kelahiran Athagea. Liliana bersikeras ingin menemui kekasihnya itu. Dia berkata kepadaku kalau dia akan mencoba diam-diam keluar dari rumahnya dan menemui kekasihnya saat tengah malam nanti. Aku merasa khawatir seharian ini, dan ku putuskan malam ini aku akan mengikutinya secara diam-diam." Noan selesai membaca dan melirikku. Dia terkejut saat melihatku menangis.
__ADS_1
"Seminggu setelah aku dilahirkan adalah hari kematian Ibu." ucapku sembari menangis tersedu-sedu.
Noan melirik Ayahnya dan menaikkan kedua alisnya seolah meminta penjelasan setelah pertemuan malam itu.
Tuan Hildert menarik napas dalam-dalam, "Malam itu aku sedang tidak ada di rumah karena pergi membeli obat untuk Noan yang sedang sakit. Namun saat aku kembali aku sudah tidak melihat istriku di rumah. Aku berusaha mencarinya di sekeliling rumah dan bertanya kepada tetangga. Namun tidak ada yang tahu dimana istriku berada. Lalu aku meminta para tetangga untuk usaha mencari keseluruhan Desa." Jelas Tuan Hildert. Aku dan Noan menyimaknya dengan seksama.
"Setelah mencari begitu lama, ada seseorang yang menemukan mayat yang tergeletak di tengah perkebunan. Dan itu bukan hanya satu mayat tetapi dua mayat." Tuan Hildert memandangku dan Noan dengan serius.
Terlihat mata Tuan Hildert berkaca-kaca dan raut mukanya yang begitu sedih.
"Itu Ibu?" Tanya Noan memperjelas.
"Ya itu Ibumu dan Liliana." Tegas Tuan Hildert.
Seketika tubuhku lemas dan gemetar, aku tidak bisa menggerakkan tanganku sedikitpun. Tangisanku yang kian menjadi-jadi. Perasaan sakit dan sesak yang semakin menusuk dadaku.
"Itu.. Itu semua bohong. Itu bohong." Teriakku yang mulai tak bisa mengendalikan diri.
Aku tidak tahu harus percaya atau tidak, dadaku terasa sakit dan jantungku rasanya ingin meledak. Noan terdiam membisu. Dia hanya menundukkan kepalanya.
"Saat aku melihat kedua mayat itu. Akupun syok dan tidak menyangka jika itu akan terjadi. Mereka bukan hanya sekedar dibunuh. Tetapi pembunuh itu melakukan hal diluar dugaan. Pada mayat istriku terdapat luka di bagian leher yang sangat dalam. Dan lagi lidahnya terpotong. Dan ada tiga tusukan di bagian perut." Tuan Hildert terhenti. Karena merasa tak sanggup untuk menceritakan. Diapun sama seperti aku dan Noan merasakan kesedihan yang mendalam.
Begitu mengerikan, sangat sadis pembunuh itu. Noan semakin terpuruk dan berlari keluar dari ruangan itu. Aku tidak memperdulikannya dan hanya terpaku pada kesedihanku. Tuan Hildert pun tidak menghentikan Noan.
"Gea?" panggil Tuan Hildert padaku.
"Tidak apa-apa. Anda bisa melanjutkannya." Aku berusaha menahan sesak dan kesedihan yang ada di dalam diri.
"Baiklah kalau itu mau kamu. Di mayat Ibumu ada dua tusukan di bagian jantung. Dan dibagian perut robek dengan usus yang keluar semua." Ucapnya perlahan.
Akupun tertekan dan tidak bisa menerima hal ini. Rasanya otakku sudah tidak mampu digunakan untuk berpikir.
"Kenapa semuanya diam. Bahkan di Desa ini tidak ada yang mengikuti tentang pembunuhan itu. Itu semua karena permintaan dari Kakekmu Ayah dari Liliana. Dia ingin agar Liliana tenang disana. Dan pada akhirnya Kakekmu jatuh sakit lalu meninggal." Jelas Tuan Hildert kepadaku.
__ADS_1
Seolah napasku terhenti, sesak rasanya. Tangisanku pun tak bisa terbendung. Pandanganku kabur. Aku tidak bisa mendengarkan apapun. Dan badanku begitu lemas sekali.
"Bruukk..." Aku terjatuh pingsan.