
Ayah tertegun dengan apa yang aku katakan barusan, "Maksud kamu apa Gea?" Ayah kebingungan.
"Seperti kata Ayah, bahwa aku akan menjaga nama baik keluarga dan tidak akan mengecewakan Ayah. Aku minta penyerahan ahli waris itu cepat dilakukan." Aku meninggalkan ruangan Ayah.
Penyerahan ahli waris dilakukan saat pewaris berusia 25 tahun, tapi saat ini usiaku masih 22 tahun. Untuk alasan tertentu aku masih bisa membuat ini dipercepat.
"Terima kasih Tuan Horward kamu membantuku kali ini." Aku masuk ke kamar dan duduk di kursi sofa.
Berpikir secara kritis hal apa yang akan aku lanjutkan sekarang, untuk masalah percepatan penyerahan ahli waris itu sangat mudah karena dari awal Ayah sakit jantung dan menahan nya karena saat itu aku masih kuliah tapi sekarang itu tidak dapat terelakan lagi. Tinggal mencari cara untuk menjalankan bahan yang sudah tersedia.
"Dretttttt. Dretttttt." Suara ponsel ku bergetar. Aku mengambil ponsel yang sedari tadi sore di atas meja.
"Merry?" Saat melihat nama yang tertera di layar ponselku.
Pesan itu kubuka dan berisi, "Gea? bagaimana tentang Tuan Joshua? Dari tadi aku terpikir akan hal ini. Aku yakin Ayahmu sudah mengatakannya padamu tentang pertemuan mereka tadi." Ucapnya dalam pesan itu.
Au tak membalasnya dan langsung menelpon Merry, "Tut.... Tut.... Tut ..." Suara telepon.
"Halo." Ucap Merry dari seberang telpon.
"Halo Merry? Tentang Tuan Joshua...." Aku terhenti dan menarik napas panjang.
"Kenapa Gea?" Merry penasaran.
Aku mulai menjelaskan, "Seperti dugaan, dia ingin Mitha dan Leandricho menikah, dan yang paling penting ini adalah inti dari permasalahannya adalah Mitha ingin agar dia yang menjadi istri pertama dari Leandricho dan aku sebagai istri keduanya." Jelasku.
Merry tersentak kaget, "Itu namanya merendahkan keluarga Albregatte. Lalu keputusan apa yang diambil Ayahmu? Apa Ayah kamu menyetujuinya?" Tanya Merry semakin penasaran.
"Ayahku menolaknya tetapi saat itu Tuan Joshua mengatas namakannya dengan Charles. Saat itu juga Ayah tidak bisa menjawabnya." Jawabku.
"Kamu kan tahu kalau Ayahku tidak akan pernah melawan apapun yang Charles katakan. Bukan karena takut atau bagaimana tetapi Charles adalah teman Ayah, dari dulu mereka berteman baik dan menurut Ayah apapun yang Charles katakan Ayah akan mengikutinya begitu juga apapun yang Ayah katakan Charles juga akan mengikutinya." Lanjutku.
"Terus bagaimana menyelesaikannya. Semua keputusan pasti akan banyak risikonya." Jawab Merry menganalisis.
"Kamu benar Merry, tapi aku masih punya sebuah rencana untuk masalah ini." Ucapku yakin.
__ADS_1
"Cara? Cara apa?" Merry makin penasaran.
"Aku akan melakukan penyerahan ahli waris secepatnya." Jawabku tegas.
"Ahli waris? Apa kamu gila atau lupa diri! Ahli waris akan diserahkan ke kamu kalau kamu sudah berusia 25 tahun." Teriak Merry padaku.
Aku segera menjauhkan ponselku dari telingaku karena teriakan Merry sangat nyaring sekali. Aku tahu kalau saat ini Merry bingung. "Ayah sudah lama sakit jantung, Ayah menahanya dan menyembunyikannya karena saat itu aku masih kuliah. Tapi sekarang situasinya berbeda." Jelasku.
"Oke aku mengerti sekarang. Jadi kamu akan menggunakan kekuasaan kamu untuk menekan Mitha?" Merry menebak.
"Tepat sekali." Jawabku membenarkan.
Merry, mampu memahami ini karena ini kondisi ku namun saat itu terjadi padanya ia tidak memahaminya karena dia sudah terbutakan oleh cintanya kepada Auron.
"Untuk penyerahannya akan membutuhkan waktu sekitar seminggu. Ayah akan mengurus itu bersama dengan pengacaranya. Jadi masih punya waktu seminggu untuk membuat rencana yang hebat." Lanjutku.
"Dasar licik. Hahaha..... Kalau ada sesuatu yang bisa kubantu katakan saja. Aku pasti akan membantumu." Merry.
"Kamu pasti akan sangat berguna sekali." Ucapku licik.
"Kalau itu urusan gampang bisa di tunda menjadi lusa." Jawabku.
"Oh.... Rencana apa yang akan kamu mainkan?" Tanya Merry.
"Aku masih memikirkannya." Jawabku.
"Aku yakin apapun rencana mau pasti itu adalah rencana yang sangat hebat." Puji Merry.
"Tunggu sebentar, bagaimana dengan Leandricho?" Tanya Merry yang teringat akan Leandricho.
"Kalau kamu bersikap semena-mena dan mempermalukan keluarga Monarustichell pasti dia akan sangat membencimu." Merry.
Aku hanya terdiam dan tidak menjawab sepatah kata pun, jika mengingat tentang Leandricho hatiku rasanya sakit sekali. Dadaku terasa sesak seakan ingin berhenti bernapas.
"Gea? Kamu tidak apa-apa kan?" Merry khawatir.
__ADS_1
"Eh..... Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Kamu tahu kan sudah dua tahun lamanya aku merasakan kebencian dari orang yang kucintai. Menahan sesak hanya untuk mencintai seseorang, berpura-pura buta saat aku melihat Leandricho bersama dengan Mitha. Aku hanya menenangkan diriku sendiri saat ini tapi rasanya begitu sulit untukku. Cintaku saat ini dibalas dengan kebencian oleh Leandricho." Ucap ku tak mampu menahan sesak dalam dada dan tanpa kurasa air mataku pun mengalir begitu saja.
"Gea aku percaya, kamu bisa melewati ini semua. Aku yakin itu! Kamu harus sabar, lambat laun Leandricho pasti sadar akan cintamu yang sebenarnya." Merry mencoba menenangkanku.
Pikiranku mulai tak karuan, kembali teringat akan momen-momen bersama Leandricho, "Dulu dia selalu baik kepadaku dan begitu perhatian, banyak sekali momen-momen indah yang kita lakukan. Tapi kenapa setelah dia kecelakaan dia menjadi seperti ini. Memang benar saat itu aku menghilang karena aku punya alasan. Kenapa? Sedikitpun dia tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan. Saat itu, jika sekali. Sekali saja dia tidak egois. Tidak!! Bahkan jika sekali saja dia mau mendengarkan ku mungkin masalahnya tidak akan sampai seperti ini. Dia hanya percaya dengan apa yang Mitha katakan." Menangis tersedu-sedu.
"Kamu tahu Merry, hatiku begitu hancur. Tapi kenapa aku masih mencintai dia dan bodohnya masih mengharapkan dia. Bahkan sedikit pun aku tidak pernah membenci dia atas kelakuan dia kepadaku." Aku yang sudah tak kuasa menahan tangis.
Malam itu,aku mengeluarkan segala isi hatiku dan beban hidupku kepada Merry, hanya Merry sahabatku satu-satunya yang begitu peduli dan pengertian kepadaku. Mungkin karena beban yang telah aku pendam sekian lama ku keluarkan dimalam itu membuatku terasa tenang. Dan bisa tidur dengan nyaman.
"Permisi Nona Athagea, Tuan menyuruh Nona untuk turun dan menemui Tuan." Bi Anne.
"Iya, sebentar lagi aku akan turun." Jawabku.
"Ada apa Ayah." Tanyaku yang melihat Ayah sedang duduk di sofa ruang utama.
Ayah memandangku, "Duduklah Gea.".
Aku langsung duduk dan menantikan apa yang akan Ayah katakan.
"Ayah akan mulai mengurus penyerahan ahli warismu dengan pengacara. Mungkin kamu sudah tahu kalau proses ini butuh waktu sekitar satu minggu. Penyerahan ahli waris yang belum memenuhi kriteria akan menjadi sorotan publik, Ayah memberitahumu akan hal ini karena ingin supaya kamu mempersiapkan diri dengan matang matang. Walaupun kamu akan menjadi kepala keluarga ini nantinya Ayah akan terus membimbingmu. Tapi perihal opini publik, kamu harus mempersiapkan diri entah nantinya kamu akan dipuji oleh keluarga lain atau mendapat hinaan. Kamu harus bisa mengatasinya sendiri. Terutama kamu harus menunjukkan bakat kamu kalau posisi itu benar-benar cocok untuk kamu." Jelas Ayah memperingatkan.
"Terima kasih Ayah, aku tahu kekhawatiran Ayah padaku. Tapi aku yakin akan diriku sendiri kalau aku bisa melakukannya dengan baik." Jelasku yakin dan menenangkan Ayah.
"Ayah yakin kalau kamu tidak akan mengecewakan Ayah."
"Ayah akan ke perusahaan dulu, kamu bisa sarapan sendiri. Bi Anne sudah menyiapkannya." Lanjut Ayah berdiri dan segera meninggalkan mansion. Aku hanya mengangguk.
Badanku terlihat rileks, sarapan dengan santai. Namun otakku sedang berpikir kritis. Di usia yang 3 tahun lebih muda untuk kriteria ahli waris dan akan memegang kendali penting keluarga Albregatte serta menjalankan perusahaan pasti akan ada banyak orang yang akan memandang rendah kemampuanku. Aku harus berusaha meyakinkan kolega Ayah dan beberapa keluarga yang berperan dalam bisnis keluarga Albregatte. Apalagi permasalahan dengan keluarga Monarustichell harus berhasil dengan baik baik saja, bukan karena Tuan Joshua melainkan karena hubungan antara Ayah dan Charles. Begitu juga aku harus meyakinkan Leandricho.
"Ah... Terlalu rumit. Menjalankan kepercayaan itu sangat rumit. Terkadang seseorang membutuhkan waktu bertahun-tahun hanya untuk sebuah kepercayaan. Tapi hanya cukup satu detik untuk menghancurkan kepercayaan itu sendiri. Apa aku bisa? Apa aku mampu?" Gumamku dalam hati.
Kepalaku terasa sangat pusing sekali. "Bi Anne. Bi.." Teriakku memanggil Bi Anne.
"Iya Nona Athagea." Jawab Bi Anne mendekatiku.
__ADS_1
"Bereskan meja makannya, aku sudah selesai sarapan. Sekarang aku akan beristirahat di kamar jadi jangan ganggu aku selama aku istirahat. Kepalaku terasa pusing sekali." Lanjutku pada Bi Anne.