
Sinar matahari sudah mulai di ketinggian. Akhirnya tiba juga hari pernikahanku. Pernikahan yang diadakan di mansion Albregatte. Beberapa tamu undangan yang sudah mulai berdatangan. Keluarga Monarustichell pun sudah tiba bersama dengan pengantin pria. Leandricho terlihat sangat menawan memakai setelan jas. Badannya yang tinggi, putih dengan tatanan rambut yang begitu rapi. Membuat aku terpesona saat melihatnya. Dia melangkah tanpa keraguan. Selangkah demi selangkah berjalan di altar menuju ke pendeta.
"Apa kamu sudah siap Gea?" Tanya Ayah padaku.
"Aku sudah siap Ayah." Jawabku dengan yakin.
"Ayah tau, kalau kamu pasti sangat gugup sekali. Sama seperti yang saya rasakan saat ini. Ayah baru sadar putri yang sudah besar dan tumbuh menjadi gadis yang ceria dan cantik sama seperti Ibumu. Senang rasanya masih bisa menyaksikan kamu menikah. Ayah selalu berharap kamu selalu bahagia." Ayah memelukku dan membelai rambutku.
"Ayah memang paling mengerti dengan ku. Aku memang merasa gugup tapi di sisi lain aku juga senang Ayah. Karena hari-hari yang aku nantikan akhirnya tiba juga. Dan kurasa Ibu juga pasti turut senang dengan pernikahan ini. Ayah jangan lagi bilang seperti itu, Ayah pasti akan menyaksikan pernikahanku dan juga masih bisa menyaksikan aku memiliki anak nantinya." Jelasku pada Ayah.
"Ya sudah ayo Ayah tuntun ke altar." Aku merangkul lengan Ayah. Dengan perlahan berjalan menuju ke altar.
Leandricho memandang ke arahku, seolah dia sedang menantiku. Ayah menuntunku menuju ke pendeta selangkah demi selangkah aku berjalan mendekati Leandricho. Dengan ekspresi dinginnya yang membuat dia terlihat sangat tampan. Semakin aku mendekat semakin aku terpesona. Saat aku sampai di depannya, Leandricho mengulurkan tangannya dan akupun meraihnya. Kamipun berdiri sejajar satu sama lain.
Pendeta mulai acaranya, mengucapkan sumpah dan janji mempelai pengantin pria dan wanita. Acaranya berjalan dengan lancar. dan diakhiri dengan lempar bunga. Saat aku dan Leandricho melempar bunga, dari belakang Merry menangkap bunga itu. Dan suara penuh keceriaan dan kegembiraan membuat suasana semakin ramai oleh tawa para tamu yang melihat tingkah Merry. Aku tak menyangka kini aku dan Leandricho telah menjadi sepasang suami istri.
Pesta pernikahan itu berlangsung hanya sampai sore hari. Dan saat malam hari keluarga Monarustichell dan Albregatte berkumpul untuk makan malam bersama.
"Ayo kita makan malam dulu. Semuanya telah disajikan di meja makan." Ayah mengajak keluarga Monarustichell untuk segera ke meja makan.
"Baiklah tuan Nicholas. Dengan senang hati." Jawab Tuan Joshua bangkit dari tempat duduknya.
Kami menikmati makan malam itu diiringi dengan canda tawa dari beberapa orang di sana. Leandricho masih memasang ekspresi dinginnya menyantap makanan yang ada di depannya.
"Kamu mau nambah lagi?" Tanyaku pada Leandricho.
Sedikitpun Leandricho tidak memandangku, "Tidak usah. Aku sudah kenyang." Jawabnya dengan nada yang dingin.
"Oh iya. Ayah punya hadiah untuk pernikahan kalian. Ini kunci rumah yang ada di daerah Elhas. Kalian bisa tinggal di sana." Ayah mengambil kunci dari saku celananya.
__ADS_1
"Wah.... Ayah baik sekali. Terimakasih Ayah." Ucapku senang.
Seolah aku tidak tahu akan kejutan dari Ayah padahal ini sudah terencana dari awal sebelum pernikahan.
"Terimakasih Tuan Nicholas." Leandricho tersenyum tipis.
Ayah tertegun," Kenapa masih memanggilku dengan sebutan Tuan? Kalian sudah menikah sekarang dan sudah selayaknya kamu memanggilku dengan sebutan Ayah." Ayah menjelaskan.
"Baik Ayah." Leandricho meyakinkan ayah.
"Untuk malam ini kalian bisa tidur di sini. Besok pagi baru pindah ke rumah itu." Ayah memberi saran.
"Baik Ayah." ucapku dan Leandricho bersamaan.
"Kenapa harus tinggal di rumah lain? Kenapa tidak di mansion Albregatte saja." Ujar Tuan Joshua.
"Benar sekali. Kalau kalian tinggal di rumah Elhas. Maka itu akan jadi beban untuk Athagea. Karena dia kepala keluarga Albregatte. Bagaimana dengan pekerjaannya?" Saut Nyonya Lenka Ibu dari Leandricho.
"Ohj.. Jadi begitu." Jawab Tuan Joshua paham.
"Kalian akan bulan madu di mana?" Tanya Mama Lenka penasaran.
"Eh... Mama ini bisa aja. Kita kan baru menikah, jadi masalah bulan madu belum kita pikirkan." Jawabku yang terkejut dengan pertanyaan Mama.
Leandricho mulai angkat bicara, "Kemungkinan kita tidak akan melakukan bulan madu. Karena setelah pernikahan ini Athagea akan sibuk mengurus perusahaan Ayah dan juga sibuk mengurus urusan kepala keluarga Albregatte." Jelasnya kepada kami semua yang berada di meja makan.
"Sudah-sudah. Kita lanjutkan makan malamnya." Ucap Ayah yang kembali menikmati makanan yang disajikan di piringnya.
"Aku sudah menyiapkan piyama di atas tempat tidur. Kamu bisa mandi dulu lalu setelah itu tidur. Aku tahu kamu pasti lelah seharian ini. Dan lagi besok kita akan pindah ke rumah baru." Ucapku pada Leandricho saat memasuki kamar.
__ADS_1
Tanpa membalas ucapanku dia menuju ke kamar mandi. Aku berbaring di atas tempat tidur dan mendengar suara gemericik air saat Leandricho sedang mandi. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba kepalaku terasa sangat pusing, aku memegangi kepalaku. Rasanya semakin bertambah pusing.
"Huh.. Ini mungkin karena aku terlalu kelelahan." Gumamku.
Suara pintu terbuka, Leandricho keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk. Terlihat dadanya yang lebar dan otot perutnya yang terlihat cantik.
"Kamu kenapa?" Tanya Leandricho yang penasaran saat aku memegangi kepalaku yang terasa sakit dan pusing.
"Ohh... Aku tidak apa-apa. Hanya kepalaku terasa pusing. Mungkin karena aku terlalu kelelahan. Lebih baik kamu cepat memakai piyama mu. Karena kamu bisa masuk angin dengan keadaan seperti itu." Aku membalikkan badanku membelakangi Leandricho.
"Aku akan tidur terlebih dahulu." Lanjutku.
Mataku terpejam namun aku belum tertidur karena kepalaku yang semakin lama terasa semakin pusing.
Aku mendengar suara langkah kaki, "Leandricho belum tidur?" Gumamku dalam hati.
Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Leandricho saat ini. Seolah malam itu Leandricho tidak ingin memejamkan matanya. Tercium aroma rokok, saat itu aku memahami kenapa selarut itu dia belum tidur. Aku memahaminya dan tahu betul kalau dia tidak mungkin akan merokok kalau tidak memiliki banyak hal dalam pikirannya. Dan kemungkinan dia memang memiliki masalah. Tapi apa? Apakah karena ini ada hubungannya dengan Mitha?
"Lebih baik aku tidur. Karena jika di posisi seperti ini kalau aku menegur dia. dia malah akan marah kepadaku." Gumamku dalam hati dan melanjutkan tidurku.
Aku tertidur hingga jam beker ku berbunyi dan menunjukkan waktu sudah pukul 4 pagi. Aku mengusap mataku, dan mulai memandang ke arah jendela. Aku menyipitkan mata untuk melihat seseorang yang berada di sana.
"Kamu tidak tidur?" Tanyaku bangun dan mendekati Leandricho.
Namun tidak ada jawaban dari pertanyaan ku tadi, "Lebih baik kamu tidur sekarang. Nanti kalau sudah jam 7 pagi aku akan membangunkan mu." Ucapku pada Leandricho yang entah masih melamun memikirkan sesuatu.
"Ya!" Jawabnya singkat.
Leandricho berjalan menuju ke tempat tidur dan berbaring di sana. Aku memberikan selimut padanya. Sikapnya yang dingin tak membuatku berubah sedikitpun kepadanya. Disampingnya aku merebahkan diri memandang langit-langit. Lalu aku memiringkan badanku ke kanan dan memandang punggung Leandricho. Sekarang malah seperti terbalik, aku yang tidak bisa melanjutkan tidurku. Mataku tak teralihkan memandang punggung Leandricho. Tak terasa jam beker ku sudah menunjukkan pukul 6.30.
__ADS_1
Aku nak kasih bangun dari tempat tidurku dan melihat Leandricho dengan sangat nyenyak tertidur. Aku bergegas ke kamar mandi untuk cuci muka tanpa membangunkan Leandricho.