Batas Senja Menuju Pagi (Rain)

Batas Senja Menuju Pagi (Rain)
berkenalan


__ADS_3

Meski waktu telah memasuki tengah hari, akan tetapi tidak terasa panas sama sekali. Udara di pegunungan ini tetap sejuk. Suasana tenang dan damai. Kicauan burung terdengar setiap saat.


Aku duduk di beranda depan sembari menikmati secangkir kopi, "Hei kamu? Kenapa di sini?" Ucapku kaget saat melihat Noan lewat depan Villa. Padahal jarak antara jalan dan rumah itu sangat jauh.


Noan berhenti dan menoleh ke asal suara sembari menunjuk diriku.


Aku berjalan mendekatinya, "Kamu kenapa ada disini?" Aku memperjelas perkataanku sebelumnya.


"Aku menghantarkan bekal untuk Ayahku. Karena dia bekerja di perkebunan ini." Jawab Noan menuju ke kebun belakang.


Aku menganggukan kepala, "Oh... Jadi begitu. Aku pikir ada apa kamu ke Villa ini." Ujarku memandang Noan.


"Kamu akan kemana?" Aku penasaran. Akan kemana dia setelah memberikan bekal kepada Ayahnya.


Wajah yang datar, "Aku akan jalan-jalan di perkebunan sebentar apakah kamu mau ikut?" Ucapnya padaku.


Aku diam sesaat untuk berfikir, "Boleh juga. Lagi pula aku bosan sendirian." Jawabku setuju dengan yang Noan katakan.


Aku berjalan di samping Noan, sembari menyebarkan pandangan melihat perkebunan.


Noan melirikku, "Siapa namamu?" Tanya Noan.


Aku langsung memandang Noan, karna bingung dengan sikapnya yang tidak bisa ditebak. Kemarin dia bersikap dingin tapi sekarang malah berinisiatif untuk memulai perbincangan denganku.


Aku menyodorkan tanganku, "Namaku Athagea Liona Albregatte. Lalu siapa namamu?" Ucapku yang berpura-pura tidak tahu.


"Noan menjabat tanganku, "Elenox Noan Jonatheruze." Jawabnya tersenyum.


"Maafkan aku. Kemarin aku bersikap dingin kepadamu." Ucapnya sembari melepaskan tangannya.


"Tidak apa apa. Lagi pula aku tidak mempermasalahkannya." Aku membalas senyumnya.


"Apakah kamu asli orang di sini?" Aku mencoba lebih akrab dengannya.


"Iya benar. Aku asli orang sini, Ayahku bekerja di perkebunan milik Kakekmu." Menjawab pertanyaanku.

__ADS_1


Kami berjalan sambil berbincang, hingga melihat sebuah kursi di bawah pohon. Noan menunjuk ke arah kursi itu, kami pun menuju kesana dan duduk di sana untuk melanjutkan perbincangan.


"Bukankah enak tinggal di sini, bisa melihat pemandangan yang bagus dengan udara yang segar setiap hari." Aku memandang ke langit yang cerah.


"Ya kalau dibilang nyaman pasti nyaman di tempat ini. Tetapi aku juga harus bekerja di Kota Mahotherm. Jadi untuk tahun ini aku jarang pulang ke rumah. Ini saja aku hanya ambil cuti sekitar 4 hari." Jelasnya memainkan kakinya.


Aku memandang Noan, "Kamu bekerja di Kota Mahotherm? Dimananya?" Tanyaku penasaran.


"Oh ya. Aku lupa kalau kamu dari Kota Mahotherm. Aku bekerja sebagai karyawan di perusahaan Briethif group ." Jawabnya.


"Wahhh... Aku tidak menyangka kalau kamu kerja di sana. Pemilik perusahaan itu adalah teman Ayahku. Jadi aku sangat paham sekali dengan perusahaan itu." Ujarku.


"Lalu kamu sendiri?" Tanyanya sembari memandang ku.


"Kamu pasti tahu betul keluarga Albregatte, dan perusahaan milik keluarga Albregatte. Aku adalah anak satu-satunya Ayah, jadi setelah lulus S1 manajemen bisnis kini aku mengurus perusahaan dan juga urusan kepala keluarga di mansion." Jawabku menundukan kepala. Bukan mengeluh karena tanggung jawab sebagai pewaris. Tetapi ada saatnya aku juga merasa lelah.


"Itu pasti berat untuk kamu, di usia muda seperti ini dan harus menanggung beban dan juga tanggung jawab sebagai pewaris itu bukanlah perkara yang mudah." Jawabnya seperti benar-benar mengerti perasaanku.


"Aku juga lulusan S1 manajemen bisnis, tapi karena kondisi keluargaku yang tidak mampu untuk memulihkan ku makanya aku berusaha supaya mendapat beasiswa pada akhirnya aku bisa cara mendapatkan gelar." Lanjutnya menjelaskan.


"Lagipula orang seperti kamu untuk mendapatkan beasiswa?" Noan mulai meledekku.


"Bukan itu maksudku." Ucapku sambil memanyunkan bibirku.


"Hahahaha sudahlah tidak usah dibahas lagi. Berapa umurmu?" Tanya Noan.


"Umurku 22 tahun." Jawabku memandang Noan.


"Hah... 22 tahun? Kamu serius?" Tanya Noan terkejut.


"Ya aku serius lah.. Mana mungkin aku bohong." Aku meyakinkan.


"Di umur 22 tahun sudah memegang perusahaan dan menjadi kepala keluarga. bukankah seharusnya itu umur 25 tahun?" Noan bertanya lagi untuk mendapatkan penjelasan yang pasti.


"Ya itu karena ada kendala, ayo menderita sakit jantung dan tidak bisa mengemban tugas dan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga sekaligus pemimpin perusahaan. Jadi mau tidak mau aku harus menjalankan kita semua sebagai pewaris." Jelasku pada Noan.

__ADS_1


"Aku rasa kamu juga orang yang jenius. Di umur 22 tahun sudah lulus S1 manajemen bisnis. Berarti cuma butuh waktu tiga tahun untuk menyelesaikan kuliah." Noan mencoba menerka.


"Aku bukan orang yang jenius, itu hanya tuntutan dari orang tuaku. Makanya bisa atau tidak bisa dan sanggup atau tidak sanggup aku harus melakukannya." Jelasku dengan lesu.


"Dan pada akhirnya kamu mampu melakukannya? Itu juga bisa dibilang Jenius walaupun dengan keterpaksaan." Timpal Noan padaku.


"Berapa umurmu?" Tanyaku yang juga penasaran.


"Intinya aku lebih tua darimu. Jadi panggil aku Kakak Noan." Noan mengacak-acak rambutku dan menyuruhku pemanggilan ya Kakak.


"Ahh.. Tidak mau.. Berapa umur kamu?" Tanyaku untuk mendapatkan jawaban yang jelas.


"23 tahun. Jadi kamu harus panggil aku Kakak." Ucapnya kembali meledak.


"Kakak Noan." Ucapku yang masang wajah sok imut.


Noan terkejut melihat raut mukaku yang seperti itu, "Hahahahahahaha.. Lucu sekaliii.. Kau tidak cocok seperti itu." Noan menertawai ku.


Tanpa sadar aku pun mencubit lengannya, "Uhhh sakit." Noan merasa kesakitan.


"Rasakan itu. Itu adalah akibat dari ulahmu. Salah siapa meledek seperti itu." Aku memanyunkan bibir dan memalingkan wajahku.


"Maaf aku hanya bercanda." Noan terlihat menyesal.


"Jangan bercanda seperti itu lagi aku tidak menyukainya." Jawabku berbalik memandang Noan.


"Baiklah baik.. Aku berjanji tidak akan meledekku lagi." Noan meyakinkanku kalau dia tidak akan meledekku lagi.


"Oke janji." Jawabku tersenyum padanya.


Saat itu kami saling bertatapan, tanpa rasa canggung sedikitpun. Saat itu kami berbincang-bincang dengan penuh semangat. Pada akhirnya kami saling mengakrabkan diri masing-masing.


Lewat pertemuan singkat itu, kini aku mendapatkan teman baru di Desa Irola. Teman laki-laki setelah Leandricho, kami saling bertukar cerita. Kecuali tentang Leandricho. Karna aku memang benar-benar tak ingin membahas tentang dia.


Bagaimana dia sekarang di sana? Aku pun tidak tahu. Karna dia tidak pernah menghubungiku walau hanya sekedar menanyakan kabar. Mungkin disana dia sedang bersama dengan Mitha. Memikirkannya saja aku sudah naik darah. Tidak perduli seberapa kuatnya aku menahan tetap saja rasanya teramat sakit buatku. Namun Leandricho tidak pernah menganggap bahwa yang kurasakan ini benar-benar nyata. Yang dia tahu aku adalah wanita licik, egois dan jahat. Bukan wanita yang benar-benar mencintainya.

__ADS_1


__ADS_2