Batas Senja Menuju Pagi (Rain)

Batas Senja Menuju Pagi (Rain)
keberanian


__ADS_3

Merry merasa khawatir, "Lebih baik kita pergi dari sini." Merry berbalik dan melangkah keluar dari toko itu.


Aku tidak merespon, "Tidak Mer. Kalau aku keluar, aku akan terlihat lemah di mata Mitha." Ucapku melihat Mitha dan Leandricho sedang memilah-milah pakaian dan tidak melihat akan kehadiranku di tempat itu.


Seketika Merry menghentikan langkahnya dan melihat raut wajahku yang penuh rasa marah. "Sebenarnya aku tidak ingin membuat keributan tapi kalau itu maumu aku akan merobek mulut wanita itu." Merry yang mulai marah.


Aku menggelengkan kepala, "Kamu tidak perlu melakukan apapun biarkan aku yang bertindak dan kamu cukup berdiri dibelakangku." Berjalan mendekati mereka dan berpura-pura kalau tidak mengetahui bahwa mereka di sana.


Toko baju itu terlihat besar dan banyak sekali gaun-gaun yang berada di gantungan, mereka tertata rapi membuat beberapa gantungan berbaris. Aku memegang sebuah gaun berwarna putih yang mengembang dan terdapat tali di pinggang gaun tersebut.


Saat aku menyentuh gaun itu, "Eh... Maaf." Aku yang terkejut ketika seseorang juga memegang gaun tersebut dan aku melirik kearahnya.


"Mitha!" Aku berteriak.


Saat aku melirik kebelakang wanita itu, "Leandricho?" Lanjut ku berpura-pura terkejut saat melihat mereka bersama.


Mitha pun terkejut, "Gea! Kamu kenapa di sini?" Mitha khawatir karena aku memergoki dia bersama Leandricho.


Leandricho pun juga sama terkejutnya dengan Mitha, "kenapa kamu di sini? Kamu ngikutin aku?" Leandricho mulai panik.


Aku mau masang muka sinis, "Aku sedang di toko baju, seharusnya kamu tahu tujuanku kalau datang ke toko baju. Dan untuk pertanyaan mu Leandricho, sama sekali aku tidak berniat mengikutimu. Bodo amat dengan apa yang kamu lakukan!" Ucapku dengan nada tegas.


"Oh... Jadi kamu belanja di toko ini juga?" Mitha yang sok polos.


Terlihat Merry mulai tak sabar, "Cukup! Berani juga ya kamu wanita rubah." Merry melangkah ke depan namun aku memegangi tangannya agar dia segera berhenti dan meredamkan amarah nya.


Saat Merry menghentikan langkahnya, "Sudahlah Merry, tidak apa-apa." Aku menenangkan.


Leandricho mulai terpancing amarahnya, "Hei Merry! Apa maksudmu? Apa maksudmu Dengan mengatakan kalau Mitha wanita rubah?" Leandricho dengan raut wajah yang marah.


Sebelum Merry menjawab, "Merry tidak bersalah. Yang dia katakan adalah fakta! Sahabat macam apa yang tega menjadi simpanan calon suami sahabatnya? Apa dia masih bisa disebut wanita baik baik?" Aku menyindir.


Mitha memasang ekspresi polos, "Sudahlah Leandricho. Mungkin memang benar aku yang salah." Mithamerundukkan kepala.


Leandricho menatap Mitha lalu melirikku, "Bukan! Bukan kamu yang salah. Bukannya dia orang yang meninggalkan ku saat aku kecelakaan dua tahun yang lalu. Dia menghilang selama satu bulan dan selama itu pun dia tidak menemuiku." Teriak Leandricho marah.


Keadaan mulai tak terkendalikan, pengunjung toko yang lain mulai melihat kearah kami yang berdebat.


Lagi-lagi aku menatap mereka dengan merendahkan, "Apa kalian tidak lelah menceritakan kejadian dua tahun itu terus menerus. Aku saja yang mendengarnya sudah lelah. Kamu meyakini itu sebagai fakta tapi kamu tidak pernah sedikitpun mendengarkan penjelasan ku." Menahan sesak.

__ADS_1


Setelah kecelakaan itu terjadi Mitha selalu mengatakan pada diriku kalau dia lah yang mendonorkan darah untuk Leandricho, dan meyakinkan kepada Leandricho kalau aku meninggalkan dia disaat dia kecelakaan.


Mitha mulai bereaksi "Gea!" Teriaknya secara spontan.


Aku melangkah mendekati Mitha yang tadinya saya berpikir untuk mengancam namun, "Rambutmu tercium seperti aroma rambutku. Apakah ini sebuah kebetulan atau seseorang memang sedang berusaha menjadi diriku." Saat aku mencium aroma rambutnya yang sama persis dengan diriku. Aku mundur selangkah dan melirik Mitha dengan tatapan yang merendahkan.


"Athagea! Cukup! " Leandricho berteriak.


Aku hanya berdiam diri tak merespon.


"Emmm, Gea? Apakah kamu ingin mengambil gaun ini?" Merry melirikku sembari memegang gaun tadi.


Aku melirik gaun yang dimaksud Merry, "Tidak perlu, sepertinya walaupun aku ingin mengambilnya pasti akan ada orang yang mencoba merebutnya." Aku berbalik dan melangkah menjauh dari Mitha.


"Ayo Merry. Kita pergi tidak enak rasanya di sini. Lagipula banyak pengunjung yang melihat rasanya tidak nyaman." Mengajak Merry pergi dari toko baju.


Merry menggangguk, "Ayo Gea!" Merry mengikutiku.


Setelah menjauh dari tokoh itu, "Wahh...Wah...Wah... Aku tidak menyangka kalau kamu akan berani ini." Merry yang takjub dengan sikapku saat di toko tadi.


Aku menarik napas panjang, "Huh...Rasanya aku mau mati karena menahan sesak di dalam sana." Menepuk punggung Merry.


"Kamu terlihat keren sekali hari ini, aku bangga padamu. Mulai hari ini dan selanjutnya kamu harus bersikap sedemikian rupa di depan mereka." Merry mengacungkan kedua jempolnya.


Tiba-tiba Merry melepaskan pelukanku, "Hei.. Hei.. Mengapa terasa menjadi melodrama begini. Jangan peluk-peluk aku, aku malu dilihat banyak pengunjung mall." Merry mendorongku.


Walaupun di mulut Merry berkata seperti itu namun di dalam hati ia sangat mendukung dan begitu perhatian padaku aku menikmati setiap hari yang ku lakukan bersama dengan Merry.


"Ayo kita pulang saja." Ajakku pada Merry.


"Tapi kamu belum membeli apapun?" Aku teringat kalau aku belum membeli satu barang pun.


Aku menggelengkan kepala, "Tidak masalah lagi pula itu bukanlah hal yang penting." Jawabku santai.


Aku dan Merry meninggalkan mall itu dan bergegas kembali ke mansion utama.


Dalam perjalanan dari terlihat sangat menyesal, "Maafkan aku Gea. Kalau bukan karena aku, mungkin kamu tidak akan bertemu dengan mereka." Merry dengan wajah yang cemberut dan terlihat sedih.


Aku tersenyum melihat sikap Merry yang tidak berubah, "Sudahlah Mer, aku juga sudah tidak mempermasalahkannya." Menenangkan.

__ADS_1


Tiba-tiba aku teringat akan sesuatu "Tunggu!" Aku berteriak.


Merry yang sedang fokus menyetir mobil tiba-tiba terkejut, "Ehhh.... Ada apa Gea? Apa ada sesuatu yang salah?" Merry bingung.


"Kamu fokus menyetir mobil saja nanti sesampainya di mansion utama aku akan menjelaskannya kepadamu." Menenangkan kekhawatiran Merry.


Merry mengangguk, "Baiklah." Merry kembali fokus mengendarai mobil. Perjalanan pulang kerumah menghabiskan waktu 25 menit untuk sampai ke mansion utama.


"Apakah itu hal yang sangat penting Gea? Sampai kamu serius ini. " Merry menyusulku dari belakang saat aku memasuki mansion. Merry terlihat cemas dan kebingungan.


"Nanti kita bicarakan di kamarku, aku akan memastikan Ayah sudah pulang atau belum." Berjalan dengan tergesa-gesa dan Merry mengimbangi langkahku dari belakang.


Langkahku terhenti sejenak dan berbalik memandang Merry, "Sekarang kamu pergi dulu ke kamarku aku akan ke ruang kerja Ayah terlebih dahulu." Lanjut ku berjalan menuju ruang kerja Ayah dan langkah kaki yang cepat. Sedangkan Merry segera menuju ke kamarku.


"Klotak... Klotak.. Klotak.." Suara sepatuku yang terdengar nyaring.


"Ceklek..." Aku membuka pintu ruang kerja Ayah tanpa mengetuk.


Saat itu aku melihat Ayah sedang duduk di kursi sofa dekat meja kerja Ayah, "Ayah sudah pulang?" Ucapan mendekati Ayah.


Aku tertegun, "Oh... Ada tamu ya Ayah." Lanjutku saat aku melihat ada seseorang yang duduk di kursi sofa dengan posisi membelakangi pintu dari arah aku masuk tadi.


"Gea? Kamu sudah pulang dari jalan-jalan?" Ucap Ayah melirikku dengan senyuman lebar.


"Sudah Ayah, Merry masih menunggu di kamar sekarang aku permisi dulu." Jawab ku mencoba untuk pergi dari situasi ini.


Seseorang berdiri, "Lama tidak bertemu Gea?" Yang tidak lain adalah Joshua Ayah dari Leandricho.


Aku menundukkan kepala tanda memberi salam, "Oh... Ternyata Tuan Joshua. Apa kabar Tuan?" Jawabku dengan nada sopan.


Tuan Joshua tersenyum lebar, "Wah... Wah... Ternyata Gea gadis yang sangat sopan sekali ya? Sudahlah tidak perlu sungkan, kita kan akan menjadi sebuah keluarga jadi Gea bisa panggil aku dengan sebutan Papa." Dia tersenyum. Aku tak mengerti arti sebuah senyuman itu dan yang kutahu pasti Ayah tidak menyukai akan hal ini.


Dengan rasa enggan, "Baik Papa." Dengan nada berat dan rasa canggung.


Ayah memotong pembicaraan kami seolah tidak senang dengan itu, "Kamu bisa kembali dan temani Merry, masih ada yang perlu saya bicarakan dengan Tuan Joshua." Ayah menyuruhku pergi karena Ayah tahu kalau aku tidak nyaman dengan keadaan ini.


"Baik Ayah.".


"Gea permisi dulu ya Ayah dan Papa." Lanjutku keluar dari ruang kerja Ayah. Sesuai yang kulihat mereka pasti sedang membahas sesuatu yang penting. Karena saat aku baru masuk suasananya begitu mencekam.

__ADS_1


Aku mulai berpikir keras, "Apa ini ada hubungannya dengan pernikahanku?" Gumamku dalam hati.


Aku berjalan menuju ke kamar, dengan berpikir keras aku mencoba menerka tentang apa yang Ayah dan Tuan Joshua bicarakan. Tuan Joshua terkenal licik dan kejam namun dari dulu keluarga kami dekat bukan karena hubungan tuan sesuai dengan Ayah melainkan Charles. Charles adalah kakak kandung dari Tuan Joshua, saat ini sedang sakit parah dan dirawat di luar negeri. Karena kondisi Charles yang kian memburuk. Perusahaan dan posisi kepala rumah tangga keluarga Monarustichell untuk sementara diserahkan kepada Tuan Joshua. Sejak saat itu Tuan Joshua memberikan pesan dari Charles untuk Ayah tentang pernikahan antara aku dan Leandricho menurut cerita dari Ayah. Namun aku tidak bisa menolaknya dikarenakan hubungan baik antara Charles dan Ayah sejak dulu. Sekarang perjanjian pernikahan itu membuat Tuan Joshua menjadi keras kepala dan sombong.


__ADS_2