
Ponselku berdering dengan rasa enggan aku mengambil dari tasku.
"Siapa yang menelpon ku larut larut seperti ini." Gumamku menyipitkan mata melihat nama yang tertulis di layar ponsel.
"Leandricho?" Ucapku tertegun.
"Heh.. Untuk apa dia meneleponku!" Lanjutku.
"Halo?" ucapku.
"Kamu dimana?" Tanya Leandricho. Suaranya terdengar seperti dia sedang marah.
"Apa perduli kamu?" Ucapku acuh dengan pertanyaan Leandricho.
"Kamu tidak usah aneh-aneh! Dimana kamu sekarang? Cepat pulang!" Teriak Leandricho.
"Pulang? Aneh-aneh? Kamu bikin aku orang bodoh! Kamu bisa seenaknya pulang larut malam, keluar masuk rumah. Dan pergi dengan wanita busuk itu. Sekarang aku seperti ini kamu menyuruhku untuk pulang, kamu terlalu bernafsu untuk menyuruh pulang." teriakku pada Leandricho. Aku sudah lelah dengan semua ini.
"Malam ini aku tidak akan pulang. Aku masih ingin bersenang-senang malam ini! Hahahahahahahaha....." Ucapku menahan rasa sesak yang ada.
"Kamu mengungkit hal itu lagi? Oke! Sekarang kita urus diri masing-masing dan tidak perlu ikut campur dalam hal apapun. Paham!" Ucap Leandricho yang semakin acuh dengan keadaan yang kubuat.
Aku tersentak seolah tak ingin percaya ketika aku mulai memahami bahwa sedikitpun tidak ada perasaan padaku walaupun hanya sekedar rasa kasihan pun tidak ada.
"Oke baiklah. Aku tidak akan peduli lagi!" Ucapku langsung mematikan telpon. Air mataku mengalir hangat di pipi.
"Perasaan yang sangat akrab dengan diriku. Merasa dibuang, merasa tidak ada yang perduli. Tapi walaupun begitu tekad ku tetap sama. Fokus pada kesehatan Ayah.
Aku tidak bisa memejamkan mataku hingga pagi menjelang, "Ah.. Heh..Gea?" Suara kelemahan Ayah memanggilku.
"Ayah! Ayah sudah bangun. Sebentar Ayah. Aku akan memanggil dokter terlebih dahulu." Aku bergegas keluar ruangan untuk memanggil seorang dokter.
Tidak lama kemudian aku berjalan masuk ke ruangan ayah bersama dengan dokter tersebut. Bukan Paman Horward, melainkan dokter yang lain dikarenakan Paman sedang melakukan operasi darurat.
"Ayah sudah siuman. Coba dokter periksa Ayah terlebih dahulu." Ucapku pada dokter.
"Baik saya akan memeriksanya." Jawabnya dengan gesit memeriksa Ayah.
dokter paruh baya dengan aroma obat yang kuat berdiri di sampingku dan fokus memeriksa Ayah.
"Bagaimana keadaan Ayah saat ini dokter." Aku penasaran.
Dokter itu menundukkan kepala dan menghela napas, " Maaf sepertinya kondisi Beliau semakin memburuk dan kita juga tidak tahu Apakah Beliau bisa membaik atau tidak." Kata-kata yang keluar dari mulut dokter secara perlahan-lahan.
"Maksud dokter?" Teriakku yang tidak memahami apa yang di maksud dari perkataan dokter itu.
"Kita hanya bisa menunggu. Karena memang penyakit beliau sudah parah. Maaf Nona saya permisi dulu." Dokter meninggalkan ruangan Ayah.
Saat itu seolah dunia ku terhenti, Aku suka dengan pernyataan dokter bahwa ayah tidak bisa disembuhkan dan kondisinya makin memburuk. Itu berarti aku hanya bisa menunggu keajaiban. Air mataku tak tertahankan lagi menetes membasahi pipi. Ayah yang terbaring lemah hanya bisa menyaksikan kepedihanku seolah dia tahu kalau itu akan terjadi.
"Terimakasih dokter."
Aku mendekati Ayah, "Aku yakin Ayah pasti akan sembuh. Percayalah." Aku berusaha meyakinkan Ayah untuk membuatnya lebih semangat.
__ADS_1
Ayah hanya menganggukan kepala secara pelan-pelan.
Tidak lama setelah itu seorang suster masuk mengantarkan makanan dan obat untuk pasien.
"Maaf Bu. Saatnya untuk pasien sarapan dan meminum obatnya." Ujar suster memberikan semangkuk bubur kepadaku untuk menyuapi Ayah.
"Baik sus, terimakasih." Jawabku paham.
"Ini obat yang harus pasien minum." Lanjut suster memberikan sebuah wadah kecil berbentuk tabung yang didalamnya ada beberapa jenis obat.
"Baik sus."
Suster tersebut keluar ruangan.
"Saatnya Ayah sarapan lalu meminum obatnya. Gea suap Iya Ayah." Aku bersemangat untuk menyuapi Ayah.
Ayah tidak menjawab, seperti dia pasrah.
Aku menyuapi Ayah satu demi satu suap.
"Gea? Kenapa dari tadi ayah tidak melihat Leandricho?" Tanya Ayah penasaran.
"Oh. Leandricho sedang sibuk mengurus perusahaan. Nanti kalau sudah selesai pasti dia akan ke sini untuk menemui Ayah." Aku mencoba mencari alasan untuk menyembunyikan keadaan.
"Jadi begitu." Ayah percaya dengan yang kukatakan.
"Sudah Ayah tidak perlu memikirkan hal lain. Sekarang Ayah harus fokus dengan kesembuhan Ayah setelah itu kita bisa pulang." Aku mengalihkan pembicaraan.
"Ini Ayah satu suap lagi setelah itu Ayah meminum obatnya."
"Hahahaha, Ayah ini bisa saja. Masih sakit juga sempat nya menggodaku." Ucapku tertawa terbahak-bahak.
Senang rasanya jika melihat ayah bisa tertawa seperti ini walaupun masih dalam keadaan dirawat saya tidak pernah mengeluh.
"Obatnya diminum dulu ayah." Aku mengeluarkan obat dari wadah tabung berukuran kecil itu lalu mengambil air minum yang diletakkan di meja samping ranjang pasien Ayah. Ayah meminum obat itu sekali teguk.
"Ceklek." Terdengar suara pintu terbuka.
Aku langsung melihat asal suara tersebut, "Pak Ken? Ada apa?" Tanyaku saat melihat Pak Ken masuk.
" Ini saya membawa sarapan untuk Nona. Karena saya pikir Nona Gea pasti belum sarapan." Ucap Pak Ken dengan rasa perhatian.
"Wah Pak Ken tahu saja kalau saya belum sarapan. Baiklah letakkan saja di meja dekat sofa sana." Ucapku menunjuk sebuah meja dengan kursi sofa yang lebar.
Kamar pasien milik Ayah termasuk kamar VIP, jadi ruangannya besar dan terdapat satu set kursi sofa yang nyaman di sana.
"Ayah sudah makan dan minum obat sekarang lebih baik kamu sarapan terlebih dulu Gea." Ayah menyuruhku untuk sarapan.
"Baik Ayah." Jawabku berjalan ke kamar mandi untuk cuci tangan dan setelah itu makan.
"Bagaimana keadaan Tuan?" Tanya Pak Ken pada Ayah.
"Yah seperti yang kamu lihat kondisi ku semakin lama semakin memburuk." Jawab Ayah.
__ADS_1
Aku hanya memperhatikan mereka berdua berbincang sembari menikmati sarapan yang dibawa oleh Pak Ken.
Pak saya minta tolong agar Bapak bisa menjaga Ayah sebentar. Karena setelah makan aku akan pulang sebentar untuk mengambil pakaian." Ucapku menimbun percakapan Ayah dan Pak Ken.
"Baik Nyonya."
Setelah menyelesaikan sarapan aku berpamitan dengan ayah dan Pak Ken. " Ayah, Gea pulang dulu ya. Pak titip Ayah." Aku berpamitan.
Setelah keluar dari rumah sakit aku segera mengendarai mobil menuju ke rumah. Dengan cepat mobilku melesat. Sesampainya di rumah aku segera membuka pintu dan ternyata pintunya tidak dikunci sama sekali.
"Eh! Tidak dikunci? Apa Leandricho sedang berada di rumah? Mustahil! Pasti dia sedang bersama dengan simpanannya." Gumamku sembari berjalan masuk kedalam rumah.
"Prok..Prok.Prok." Suara tepuk tangan.
"Bagus jam segini baru pulang!" Ucap Leandricho yang sedang duduk di kursi ruang tamu.
"Huh.. Kamu dirumah? Pantas pintu tidak dikunci. Apa dia dari sini? Aku harus segera mencuci sprei kamarku karena aku tidak mau memakai barang bekas pelakor." Ucapku acuh dengan perkataan Leandricho sebelumnya.
"Apa maksudmu? Mitha tidak kemari. Dan Aku ingin bertanya Kamu dari mana? Kenapa baru pulang sekarang!" Tanya Leandricho dengan emosi. Terlihat kemarahan dari sorot matanya.
"Apa perdulimu? Kemanapun aku pergi semalam itu bukan urusanmu!" Ucapku acuh dan meninggalkan Leandricho menuju ke kamar.
Leandricho mengikuti ku berjalan ke kamar, "Aku bertanya baik-baik." Dia masih ingin mendengar penjelasan yang sebenarnya dariku.
"Aku juga menjawabnya dengan baik-baik." Aku menyepelekan dan tanpa memandang Leandricho.
Aku membuka lemariku dan menata beberapa pakaian tanpa memperdulikan Leandricho yang masih berdiri di dekat pintu kamar.
Mata Leandricho terbelalak, "Kamu mau kemana lagi? Sampai menata baju. Kamu mau pergi lagi? Sejak kapan kamu berubah menjadi berandalan seperti ini." Leandricho menghinaku.
Aku terhenti, "Aku? Berandalan? Kamu tidak punya otakkah? Kamu seharusnya berpikir terlebih dahulu sebelum menuduh ku seperti ini. Aku atau kamu yang berandalan?" Aku melangkah mendekati Leandricho yang menunjuk dadanya membuatnya mundur selangkah demi selangkah.
"Sudah lah aku tidak peduli, Aku tanya sekarang kamu mau ke mana!" Teriak Leandricho.
"Bukan urusanmu!" Jawabku kembali menata pakaian dan meninggalkan Leandricho.
Aku mengambil kunci mobil di dalam saku celana, mengendarai mobil dan segera menuju ke rumah sakit. Ku lihat dari spion mobil Leandricho sedang mengikutiku. Aku tidak peduli akan hal itu yang terpenting aku bisa sampai ke rumah sakit dan menemui Ayah.
Sesampainya di rumah sakit Aku bergegas masuk dan segera menuju ke ruangan Ayah yang dirawat.
"Ayah aku datang." Ucapku bersemangat sembari membuka pintu.
Terlihat Ayah sedang asyik berbincang dengan Pak Ken.
"Eh Gea? Cepat sekali kamu datang?" Ayah terkejut.
"Iya Ayah aku merasa khawatir dengan Ayah jadi aku buru-buru untuk segera ke sini." Jelasku berdiri di samping Ayah.
Tiba-tiba pintu terbuka, "Eh Leandricho?" Ucap Ayah melihat seseorang yang dikenalinya masuk.
"Ayah?" Ucap Leandricho seperti orang yang kebingungan.
"Ayah. Maaf Leandricho baru bisa datang sekarang di karena kan kemarin kemarin memang aku sedang sibuk mengurus perusahaan dan banyak sekali jadwal rapat." Aku memberikan alasan supaya keadaan tidak semakin rumit.
__ADS_1
Leandricho menatapku dengan tatapan kebingungan ada apa sebenarnya? Dan kenapa bisa seperti ini? Mungkin itulah yang ada di pikiran Leandricho sekarang ini.