
Seminggu telah berlalu, ini adalah saat penentuan penyerahan ahli waris. Semalam Ayah mengatakan bahwa bagi ini pengacara Ayah yang bernama Tuan Robert akan ke mansion membawa beberapa berkas yang harus aku dan Ayah tandatangani. Aku rasa ini adalah awal dari pertempuranku sebagai kepala keluarga Albregatte yang baru.
"Ceklek." Suara pintu terbuka dan aku langsung melihat asal dari suara tersebut.
"Bi Anne ada apa?" Aku melihat Bi Anne melangkah mendekatiku.
"Maaf Nona Athagea, Tuan ingin agar Nona segera turun karena Tuan Robert sudah kemari." Ucap Bi Anne.
Aku tersentak, "Pengacara Robert? Kenapa pagi-pagi sekali sudah datang?" Ucapku penasaran.
"Saya juga tidak tahu tetapi itu hanya meminta saya untuk memanggil Nona." Jelas Bi Anne.
Bahkan ini masih jam 7 pagi, aku saja belum sarapan kenapa dia langsung ke mari.
"Ayo Bi. Kita turun." Aku melangkah meninggalkan kamar.
"Selamat pagi Tuan Robert." Ucapku menyapa Tuan Robert yang sedang duduk di sofa ruang utama.
Saat Tuan Robert melihatku yang langsung berdiri, "Selamat pagi juga Nona Athagea Liona Albregatte." Ucap Tuan Robert sembari menundukkan kepalanya tanda menyapa.
Aku mengedarkan pandanganku, "Di mana Ayah?" Ucapku ketika tidak melihat Ayah.
"Tuan Nicholas sedang ke ruang kerja sebentar." Jelasas Tuan Robert.
Aku mempersilahkannya duduk, "Silakan duduk kembali Tuan Robert, anda tidak perlu sungkan." Ucapku sembari duduk.
Terdengar langkah kaki seseorang mendekat, "Gea? Kamu sudah turun?" Ucap Ayah mendekat dan langsung duduk.
Aku mengangguk, "Iya Ayah." Ucapku.
" Robert, sekarang kamu bisa mengatakannya." Ucap Ayah menyuruh Tuan Robert menjelaskan.
"Ehemmm." Tuan Robert mendeham tanda mengawali pembicaraan.
"Semua berkas penyerahan sudah saya bawa dan Nona Athagea Liona Albregatte sebagai pewaris harus menandatangani berkas ini dan juga Tuan Nicholas Hill Albregatte. Setelah menandatanganinya akan diberi cap keluarga Albregatte untuk menunjukkan keaslian berkas penyerahan ini. Di sini juga tertera keterangan bahwa Tuan Nicholas Hill Albregatte menderita penyakit jantung dan tidak bisa melanjutkan tugas dan tanggung jawabnya untuk menjadi kepala keluarga serta tidak bisa melanjutkan kepemimpinannya di perusahaan Albregatte group." Jelas Tuan Robert secara rinci.
"Sebelum Nona Athagea menandatangani surat penyerahan ini ada beberapa hal yang akan saya sampaikan, terkait surat penyerahan ahli waris yang belum memenuhi kriteria usia 25 tahun. Ini akan menjadi beban personal untuk Nona Athagea, termasuk publik akan menilai sikap, perilaku dan juga kemampuan Nona. Apakah Nona sudah mempertimbangkannya?" Tanya Tuan Robert padaku.
Aku menelan ludahku, "Aku sudah mempersiapkan diri sejak awal." Ucapku dengan sangat yakin. Aku terlahir sebagai pewaris keluarga ini dan dididik untuk menjadi pewaris yang berkemampuan, jadi ini bukan masalah buatku.
Tuan Robert menyodorkan pena dan berkas tersebut, "Tolong Tuan Nicholas dan Nona Athagea menandatangani berkas ini." Ucapnya.
Aku dan Ayah bergegas menandatanganinya, "Karena kamu sudah menandatangani surat ini, ruangan kerja yang akan menjadi ruangan kerja kamu. Ayah tidak akan lepas tangan, untuk perusahaan Ayah masih akan membimbingmu." Jelas Ayah.
"Baik Ayah." Ucapku mengerti.
"Kalau begitu saya permisi dulu." Ucap Tuan Robert undur diri.
"Terimakasih Tuan Robert." Pintaku tersenyum lebar.
Setelah Tuan Robert meninggalkan mansion, "Nanti malam Ayah akan mengadakan pesta perayaan atas penyerahan ahli waris kepadamu." Ayah menjelaskan dengan ekspresi yang serius.
Aku terkejut, "Pesta Ayah? Apakah tidak terlalu cepat? Bagaimana cara mengundang tamunya." Tanyaku bertubi-tubi.
__ADS_1
Ayah mengambil napas," Tenang saja para pelayan sudah mulai menyiapkan hidangan untuk nanti malam, dan pelayan laki-laki nanti sekitar jam 9 akan memulai mendekor ruang tamu. Undangan pun sudah dibuat tinggal disebar." Jelas Ayah.
Aku tersenyum lebar, "Wahh.. Ternyata Ayah sudah memikirkan sampai sejauh ini." Ucapku bangga.
"Kalau begitu untuk undangan Paman Horward dan keluarga Monarustichell biarkan aku saja yang memberikannya. Karena aku akan keluar bersama dengan Merry." Ucapku bangkit dari duduk.
"Baiklah tapi segera pulang." Ayah memperingatkan.
Aku mulai melangkah menuju kamar untuk mengambil tas dan bergegas menuju ke rumah Merry.
"Untuk permasalahan dengan keluarga Monarustichell bagaimana?" Ucap Ayah penasaran.
Aku menghentikan langkahku, "Tenang saja Ayah pagi ini aku akan menyelesaikannya." Jawabku meyakinkan Ayah.
Ayah tersenyum," Bagus! Pulanglah tepat waktu." Ayah memperingatkanku lagi agar tidak lupa.
Aku pun segera mengambil tas di kamar dan bergegas menuju ke rumah Merry.
"Halo Merry." Ucapku menelepon Merry.
"Halo Gea. Ada apa? Kenapa pagi-pagi sudah menelepon?" Ucap Merry dari seberang telepon.
"Aku dalam perjalanan ke rumahmu." Ucapku dengan menyetir mobil.
"sekarang?" Teriak Merry.
Aku segera menjauhkan ponselku dari telinga, "Duh.... Kenapa kamu teriak-teriak." Ucapku kesal.
"Iya maaf, kenapa pagi-pagi sekali?" Tanya Merry penasaran.
"Ya sudah aku tunggu di rumah." Jawab Merry.
Aku menutup teleponnya dan dengan kecepatan penuh aku menuju ke rumah Merry.
Di depan rumah Merry ada di penjaga, "Permisi Pak saya ingin bertemu dengan Merry." Ucapku pada penjaga itu.
"ohhh.. nona Athagea? sebentar saya bukakan gerbangnya dulu." ucapnya yang sudah paham dengan diriku.
aku segera masuk dan memarkirkan mobilku, "tuan? ada tamu. nona Gea ingin bertemu." ucap pak penjaga itu.
"nona Athagea dari keluarga Albregatte?" seru seseorang yang ternyata ibu Merry.
"tante." ucapku ketika melihat nyonya Samona menghampiriku.
dengan rasa senang,"apa kabar Gea? sudah lama kita tidak bertemu." ucap nyonya Samona memelukku.
aku membalas pelukannya, " baik tante, bagaimana kabar tante dan juga Paman sekeluarga?" jawabku dan kembali bertanya.
nyonya Samona melepaskan pelukannya,"seperti yang kamu lihat, tante baik-baik saja begitu juga dengan paman dan sekeluarga." jawab nyonya Samona sangat senang.
"wah... ternyata tamunya Gea? bagaimana kabar Ayah kamu?" tanya Paman sembari mendekatiku.
"kondisi Ayah mulai memburuk, karena ayah mempunyai penyakit jantung." jelasku dengan ekspresi sedih.
__ADS_1
"aduh tante sampai lupa tidak mempersilahkan Gea untuk duduk."
"ayo duduk dulu Gea." ucap nyonya Samona menarik ku untuk duduk di kursi sofa.
karena sedari kecil hubunganku dam Merry sangat dekat makanya aku memanggil orang tuanya dengan sebutan paman dan tante.
melanjutkan pembicaraan yang sempat tertunda, "sejak kapan ayah mau punya penyakit jantung?" tanya Paman Horward yang terkejut.
aku mau menghembuskan napas, "sebenarnya sudah lama sejak aku kuliah dan baru bisa memberitahu sekarang." jelasku.
taman menyadarkan pokoknya di kursi sofa, "dalam waktu dekat aku akan ke mansion menemui ayahmu untuk memeriksanya." ucap paman khawatir.
"terima kasih paman, dan ada titipan dari ayah." ucapku sembari merogoh tas mencari undangan.
menyodorkan undangan," ini undangan untuk Paman sekeluarga, harap nanti malam datang." ucapku.
taman mengambil undangan tersebut dan membaca covernya, "undangan pesta? penyerahan ahli waris?" taman terkejut dan menatapku. begitu juga dengan tante yang juga menatapku tanda bingung.
"bener paman, tante. itu adalah undangan pesta perayaan untukku. karena kondisi Ayah sekarang membuat proses penyerahan ahli waris dipercepat. karena Ayah sudah tidak bisa menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga Albregatte dan juga selaku pimpinan perusahaan andor grup." ucapku menjelaskan.
mereka berdua saling bertatap dan mengangguk tanda paham apa yang aku bicarakan. "baiklah Paman, tante dan sekeluarga akan datang nanti malam." ucapan tersenyum.
"tante sempat tidak percaya, Gea bisa menjadi kepala keluarga saat usianya belum memenuhi kriteria. tapi Tante yakin kamu berkemampuan dan bisa diandalkan." timpal tante padaku.
" Gea? kamu sudah datang?" teriak Merry berjalan mendekati kami.
"iya aku sudah datang dari tadi." ucapku meledek.
"kenapa ayah dan ibu tidak beritahu aku." ucap Merry kesal.
"ibu tidak tahu. ibu pikir dia hanya datang menemui ibu dan ayah, soalnya dia memberikan undangan pesta untuk nanti malam." jawab Tante pada Merry.
Merry terkejut, "pesta? pesta apa?" tanya Merry penasaran.
"kamu bisa tanyakan kepada Gea. ibu dan ayah kan belakang karena tidak nyambung obrolan anak muda." ucap tante yang segera undur diri dan juga diikuti oleh paman.
Merry langsung duduk dan minta penjelasan, "pesta apa?" Teriak dia penasaran.
"bisakah kita bicarakan di kamarmu?" ucapku mengkode Merry.
Merry bergegas berdiri,"ayo kita ke kamarku." Merry langsung menarik tanganku dan segera menuju ke kamarnya.
"nah sekarang kamu bisa jelaskan semuanya."ucap Merry tergesa-gesa.
aku tersenyum melihat kelakuannya yang mulai panik, "tenang saja ini bukan masalah, pesta itu adalah pesta perayaan untuk orang telah menjadi kepala keluarga yang baru." jelasku.
"WHAT'S?" ucapnya terkejut.
"jadi kamu berhasil menjadi kepala keluarga Albregatte.?" Merry meyakinkan kembali.
"iya, aku berhasil. sekarang giliran kamu bantu aku." ucap ku menatap tajam Merry.
Merry bingung, "apa yang harus aku lakukan.?" ucapnya.
__ADS_1
"kamu hanya perlu kirim pesan kepada Leandricho, karena ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan dan harus bertemu dengannya dan juga Mitha. bisa kan kamu melakukannya?" tanya aku serius pada Merry.
"oke untuk ini aku bisa bantu. serahkan saja kepada ku." jawab Merry sangat yakin kalau dia bisa membuatku menemui mereka.