Batas Senja Menuju Pagi (Rain)

Batas Senja Menuju Pagi (Rain)
sehari sebelum pernikahan


__ADS_3

Hari ini semua pelayan sibuk mempersiapkan dekorasi untuk pernikahanku besok. Gaun pengantin sudah diantar ke mansion. Ayah sibuk mengurus perusahaan supaya besok acara pernikahan bisa berjalan dengan lancar. Semua orang tampak senang. Tetapi kenapa sebagai tokoh utamanya aku malah tidak bisa merasa senang. Aku mencintai Leandricho dan besok hari pernikahan kita. Seharusnya aku senang.


Aku duduk di sebuah kursi sofa di dalam kamar, memandang keluar dari balik jendela.


Pikiran ku teringat akan Noan, "Ya benar. Ini perasaanku. Dan ini juga pilihanku. Aku akan memperjuangkan cintaku apapun itu alasannya." Gumamku lirih dan meyakinkan hatiku yang mulai bimbang.


Aku bangkit dari dudukku dan berjalan mondar-mandir sambil berpikir, "Rasanya membosankan di kamar seperti ini. Merry sibuk bekerja karena hari ini dia ada operasi darurat. Apa yang harus aku lakukan untuk mengusir rasa bosan dan kejenuhan ini." Gumamku pada diriku sendiri.


Aku berjalan keluar kamar, menuju ke bawah dan masuk ke ruangan kerja lalu duduk di sebuah kursi yang di depannya terdapat banyak tumpukan dokumen di atas meja. Kurebahkan punggungku di kursi itu.


"Foto Ibu!" Ucapku saat melihat foto Ibu di sudut atas meja.


Kuraih foto itu dan memandanginya, "Ibu. Besok aku akan menikah. Apakah Ibu senang melihatku menikah dengan orang yang sangat aku cintai?" Tanyaku pada Ibu.


Aku elus foto itu dengan begitu lembut, "Aku minta maaf Ibu. Aku belum bisa menemukan pembunuh itu. Aku tidak bisa menanyakan ini pada Ayah karena setelah aku pulang dari Villa, kesehatan Ayah memburuk. Aku takut Ibu. Takut jika Ayah meninggal kan aku seperti Ibu. Apakah Ibu bisa bersabar sedikit saja?" Tanyaku lagi pada Ibu. Mataku mulai berkaca-kaca mengingat penjelasan dari Tuan Hildert.


"Kenapa pembuluh yang begitu sadis sampai merobek perut Ibu dan mengoyak ususmu." Aku meneteskan air mata penuh kesedihan. Tak tahan rasanya ketika mendengar semua itu terjadi pada Ibu. Sungguh sadis dan mengerikan.


"Ceklek." Suara pintu tiba-tiba terbuka.


Aku ingin cepat menghapus air mataku, "Gea? Kenapa kamu di sini?" Tanya Ayah berjalan mendekatiku.


"Kenapa kamu menangis?" Timpal Ayah bertanya padaku lagi.

__ADS_1


"Aku merasa bosan di kamar Ayah. Jadi aku ke sini untuk melihat-lihat. Saat foto Ibu aku kembali teringat akan Ibu." Tak tahan dengan sesak yang kurasakan.


Ayah memelukku, "Anak kesayangan Ayah yang baik. Percayalah Ibu baik-baik saja di sana dan lagi dia pasti senang kalau tahu kamu akan menikah." Ayah berusaha menenangkanku.


Aku mulai menenangkan diri, menghapus air mata dan melepaskan pelukan Ayah. "Baik Ayah. Aku tidak akan bersedih lagi. Terimakasih." Aku tersenyum melihat Ayah.


"Ini baru Gea anak Ayah." Ayah puas.


"Oh iya Ayah. Apakah aku boleh meminta sesuatu dari Ayah?" Tanyaku yang teringat akan permintaan Leandricho.


"Qpa itu?" Tanya Ayah penasaran.


"Bisakah Ayah memberikan aku rumah sebagai hadiah pernikahan?" Dengan mata berbinar aku berharap pada Ayah.


"Aku tahu Ayah akan memberikan banyak sekali pertanyaan. Sebagai kepala keluarga Albregatte ini adalah rumahku. Tetapi aku juga tidak boleh egois Ayah. Aku juga harus memikirkan perasaan Leandricho. Ya pasti Leandricho akan tertekan jika tinggal di sini. Ayah pasti mengerti hal itu bukan." Jelasku kepada Ayah.


"Ayah tahu mungkin ini akan menjadi beban buat dia, tapi saya nggak mau harus mengerti dia dia juga harus mengerti kan kamu. Kalau kamu adalah kepala keluarga disini. Lalu bagaimana dengan tugas dan tanggung jawabmu jika kamu memiliki rumah lain?" Ayah kembali bertanya supaya terdapat kepastian bentuk percakapan antara aku dan Ayah.


"Mungkin ini akan sulit untukku. Kalau aku punya rumah lagi mungkin aku akan bolak-balik dari rumahku ke mansion. Dan lagi harus ke perusahaan." Jawabku. Ini memang terasa berat namun apa boleh buat. Semuanya untuk Leandricho.


"Itu kamu sudah tahu. Tapi kenapa masih mengusulkan minta rumah. Apa salahnya jika dia tinggal di sini." Tegas Ayah seolah tidak ingin mengabulkan permintaanku.


Aku tahu ini juga bukan hanya beban untukku. Tapi juga untuk ayah, karena aku tidak pernah berpisah dengan Ayah. Jadi aku mengerti jika aku diberikan rumah dan tinggal di sana maka ia akan sendirian di sini.

__ADS_1


"Ayah tahu. Aku bukan orang yang tidak tahu diri Ayah. Leandricho telah melepaskan Mitha untukku. Disini aku juga harus merelakan satu hal untuknya. Aku harap ia juga mengerti kan posisiku" Aku memberi alasan agar Ayah mau menyetujuinya.


Ayah mulai berpikir tentang yang baru saja aku katakan, "Baik. Ayah akan memberikan rumah pada kalian. Rumah yang ada di daerah Elhas akan jadi rumah kalian. Tetapi Ayah harap kamu tidak lupa akan tugas dan tanggung jawabmu sebagai kepala keluarga dan juga pimpinan perusahaan setelah menikah nanti." Jelas Ayah mengingatkanku.


Aku mengangguk tanda paham, "Iya Ayah aku akan mengingatnya. Percayalah padaku Ayah. Aku tidak akan pernah mengecewakanmu." Jawabku meyakinkan Ayah.


Ayah hanya membalas dengan senyuman. akun merasa hal yang aneh, karena hari ini Ayah pulang lebih cepat dari biasanya. "Kenapa Ayah pulang cepat sekali?" Hanya aku yang penasaran. Biasanya Ayah akan pulang sore kalau tidak malam hari.


Ayah melangkah dan duduk di kursi sofa dan aku mengikuti Ayah untuk duduk di sampingnya, "Di perusahaan sudah tidak ada pekerjaan. Hal-hal yang mudah Ayah serahkan kepada sekretaris. Jadi Ayah bisa pulang lebih cepat." Jelas Ayah kepadaku.


"Ayah juga ingin menemani putri Ayah." Ayah mencubit pipiku dan tersenyum begitu puas.


"Ah... Ayah! Sakit! Kenapa Ayah selalu mencubit pipiku." Ucapku memegang pipinya yang memerah.


Ayah memalingkan wajah dan terlihat sedih, "Karena setelah kamu menikah. Ayah tidak bisa lagi mencubit pipimu." Jawabnya menundukan kepala.


"Ayah tidak perlu sedih. Setelah menikah nanti aku pasti akan selalu menemui Ayah. Dan akan tetap seperti ini. Ayah bisa selalu mencubit pipiku. Jadi Ayah tidak perlu khawatir." akun berusaha menenangkan kegundahan di hati Ayah.


Pasti rasanya sangat sedih ketika putri satu-satunya akan menikah. Setelah pernikahan tidak bisa seperti dulu lagi. Tanggung jawabku bukan hanya sebagai seorang putri. Tetapi juga harus berbagi kasih dengan seorang suami.


Rasanya aku juga tidak ikhlas. Jika harus membiarkan Ayah sendirian dalam kesepian di mansion ini. Tetapi aku juga ingin hidup seperti apa yang ku mau.


"Ayah aku menyayangimu." Gumamku dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2