
Asha adalah seorang gadis cantik dengan kriteria tegas, pendiam, dan tertutup. Kini gadis itu sedang duduk di bangku sekolah menengah pertama kelas tiga.
Cantik bukanlah hal yang harus dibanggakan dari dirinya. Tapi rasa semangat dalam jiwa dan raganya lah yang mesti kita banggakan.
Asha pernah mengalami epilepsi di umurnya yang ke delapan tahun, atau lebih tepatnya kelas 3 SD. Dokter belum mengetahui penyebab terjadinya epilepsi pada Asha. Ia sempat dirawat di Rumah Sakit dengan jangka delapan hari. Nasib memang nasib, bukannya mendapat perhatian lebih, ia malah menjadi korban bullying di sekolahnya. Dihina, dikucilkan, dan sebagainya. Tapi jangan berfikir bahwa Asha akan putus asa. Tak ada kata putus asa dan lemah dalam kamusnya. Ia sudah menyematkan kalimat 'Hinaan adalah sebuah tantangan menuju jalan kesuksesan' dalam hati, pikiran, jiwa dan raganya.
Jangan telat makan, jangan telat minum, jangan terlalu lelah, jangan stres dan jangan terlalu banyak pikiran, adalah kalimat kalimat yang selalu diucapkan oleh dokter ketika Asha melakukan rawat jalan.
Lelah? Pasti. Fisik dan batinnya amat lelah. Dihina bukanlah kata asing bagi seorang Asha. Karena semangat yang tinggi, ia dapat membungkam mulut salah satu orang yang selalu menghinanya, dengan prestasi yang ia gapai.
Hal yang sama juga terjadi padanya saat masuk SMP. Bedanya, kali ini ia dibully karena kecantikan yang ia miliki. Karena banyak tidak ada yang tau masa lalu kelam yang Asha alami.
Wajah cantik dan multi talenta. Apa lagi yang kurang?. Asha belajar mandiri sejak kelas 6 SD. Detik detik dimana kehidupannya berubah.
Ayahnya mengalami sakit jantung, dan kondisi Asha sendiri kian melemah. Obat salah satu jalan untuk tetap menguatkan fisiknya. Ingat! Fisiknya. Bukan batinnya.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Nampak seorang gadis berbaju putih biru tengah terduduk di dalam sebuah ruangan yang dipenuhi oleh buku buku. Buku yang selalu menemani hari harinya dan dukanya.
"Moza, buku panduan eksperimen terhadap magnet sudah kamu baca, kan?". Tanya Asha.
"Udah Sha! Pulang sekolah kita siapin semua alat dan bahannya." Sahut Moza, sahabat Asha.
"Ini work in pairs kan?!" Asha kembali bertanya dan dibalas anggukkan kepala oleh Moza.
"Eh iya Sha, kamu mau lanjut SMA kemana?" Tanya Moza sembari merapikan buku buku yang berserakan di atas meja.
"Entahlah,, kau tahukan, bagaimana kondisi perekonomian keluargaku?" Lirih Asha. Asha menundukkan kepalanya. Jujur, tangisnya ingin sekali pecah.
"Loh! Ko Asha putus asa kaya gitu sih? Mana Asha yang selalu berani? Semangat? Dan tidak kenal lelah?" Moza menyemangati.
__ADS_1
"Aku manusia biasa Oza! Aku juga pasti akan merasakan lelah, dan itu sedang aku alami sekarang! Hidupku seperti ditangan para dokter yang selalu memberiku obat obatan! Ayahku sakit, bahkan semenjak ia mengalami Serangan jantung, emosinya sulit dikontrol. Perekonomian kita juga sedang surut!" Asha mencurahkan isi hatinya.
Moza mengetahui semua peristiwa peristiwa yang dulu di alami Asha. Moza selalu membuat nyaman untuk diajak curhat oleh Asha. Maka dari itu, separuh perjalanan Asha ada di buku memori Moza.
Tangis Asha sudah tak terbendung. Buliran buliran air keluar dari pelupuk mata sang gadis cantik. Moza segera mendekapkan Asha dalam pelukannya, seraya berkata, "Kau selalu berkata padaku untuk jangan merasakan rasa lelah itu. Lelah itu ketika memang kita tidak dapat menemukan jalan keluar. Alias buntu. Itukan yang selalu kau katakan padaku?! Hem?!" Moza melepaskan pelukannya, kemudian menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi chubby Asha sembari berkata, "Ayolah Asha... Jangan menangis. kalo kau menangis, aku bagaimana?" Moza mulai menitikkan air mata.
Asha mengusap air mata di pipinya.
"Oh iya! Aku lupa, ternyata aku punya sahabat cengeng. Lihat, aku yang kelelahan, dia yang menangis." Hibur Asha ketika melihat air mata Moza mengalir.
"Ih Asha... Orang lagi sedih juga! Dah lah, ayo kita pergi. Bentar lagi masuk."
"Kebalik kali!" Gumam Asha.
Asha kembali masuk ke dalam kelasnya. Pelajaran kembali dimulai.
_____
"Asha! Cepat ganti bajunya. Nanti ke apotik beli obat. Katanya obat kamu habis. Uangnya di atas meja makan sana!" Teriak Diah, ibu Asha.
"Huufftt... Iya bu." Jawab Asha diawali dengan helaan napas.
Umurnya memang baru menginjak 15 tahun. Tapi makanannya adalah perjalanan 15,5 KM menuju apotik, untuk membeli obat. Bukan hanya obat yang Asha konsumsi, tapi milik ayahnya juga.
Asha mengganti pakaiannya dengan pakaian santai. Lalu bergegas pergi ke apotek. Harga ojek lebih mahal dari pada angkutan umum, jadi Asha lebih memilih untuk menggunakan angkot.
Tahu kan resiko naik angkot? Ya, benar. Kecopetan. Asha pernah merasakannya. Ia kelabakan mencari uang ganti untuk membeli obat. Apalagi obat itu bukan obatnya, tapi milik ayahnya. Untung saja Asha memiliki uang tabungan di bank. Umurnya memang 15 tahun, tapi jangan tanyakan bagaimana bisa ia memiliki ATM.
Asha seorang penulis novel di aplikasi online. Dan penghasilannya lumayan. Dan akhirnya ia buat tabungan. Entah caranya bagaimana sampai ia diizinkan. Karena itu rahasia Asha.
Kembali ke Asha...
__ADS_1
Sudah setengah perjalanan ia lalui, tiba tiba angkotnya mogok.
Brush... Brushh...
"Ada apa dengan angkotnya pak?". Tanya Asha.
"Mogok dek!". Jawab sang sopir.
"Yah... Lama gak bang?". Tanya seorang ibu yang duduk di samping Asha.
"Gak tau nih bu. Saya cek dulu deh!". Sang sopir keluar dari mobil, kemudian membuka bagasi depan mobil. Ketika dibuka, muncul asap hitam dari sana.
"Aduuh... Maaf nih ibu-ibu, bapak-bapak, adek adek, mbak-mbak, mas-mas, kayaknya lama deh. Mesinnya kebakar!". Teriak sopir dari luar, dan membuat semua penumpang mendengus kesal. Tak terkecuali Asha.
"Kira kira lama gak pak?". Tanya Asha.
"Lumayan dek". Jawab sopir.
"Oh ya udah, saya nunggu aja di sini". Ucap Asha yang diangguki oleh sopir.
Semua penumpang beranjak pergi, kecuali Asha.
10 menit kemudian....
Sudah sepuluh menit Asha duduk dalam angkot yang tak kunjung sembuh dari sakitnya.
"Pak! Katanya gak begitu lama?!". Komplain Asha.
"Hehe... Maaf dek. Dikit lagi deh kayaknya".
"Hadeuuhh...." Keluh Asha.
__ADS_1