
Pagi ini Tia beserta Nia dan Nik akan mengunjungi Asha. Mumpung hari ini adalah hari minggu dan juga telah di berikan surat kelulusan, jadi ia akan menanyai surat kelulusan sebagai daftar masuk sekolah SMA di sana sembari bermain.
"Niaaa!! Ayok!!!" Teriak Tia dari bawah untuk memanggil Nia yang masih ada di kamarnya yang terletak di lantai dua.
Tian yang sedang menonton televisi membuka suara. "Mama pulang kapan?"
"Ga tau, nak. Nia seneng kalo main ama Asha. Lagian mama juga masih mau tanya-tanya dia tentang ukuran pakaian dan sebagainya."
Tian mengarahkan pandangannya ke arah Tia seraya berkata, "mama jadi buat sekolahin dia?"
Tia mengangguk mantap.
"Kenapa tidak? Dia pintar dan memiliki bakat yang hebat. Orang tuanya juga sahabat dekat mama papa dulu."
Tian kembali menatap layar televisi tanpa menjawab ataupun bertanya lagi.
Tak berselang lama, seseorang menepuk pundak Tian dengan kasar. Tapi sedikit desis pun tak keluar dari lisan Tian.
"Sok kebal kau." Ujar Nia.
"Kebal dong. Aku kan tiang listrik." Jawab Tian dengan nada dingin.
Nia tidak menanggapinya. Karena kalo ia melawan, lisan Tian tak akan bisa di lawan. Ia pintar dalam berbagai hal. Termasuk debat dalam bicara. Ada saja sesuatu yang membuat seseorang kalah telak oleh pengucapannya. Hampir mirip dengan Asha.
.
Mobil Nik pergi meninggalkan rumah besarnya. Melaju membelah jalanan. Di mobil, Nia di sibukkan dengan ponselnya. Ia membaca karya Asha yang amat menyentuh hatinya.
Kau wanita hebat kak Asha. Ucap Nia dalam hati.
__ADS_1
Sungguh, tulisan Asha ini dapat menyayat hatinya. Tokoh utama dalam novelnya memiliki banyak cobaan yang tuhan berikan. Tapi ia tetap sabar untuk menunggu kebahagiaan yang telah tuhan janjikan.
Sebenarnya novel Asha miris dengan kehidupan nyatanya. Ia menaruh sebagian kisah hidupnya di sana. Kenapa begitu? Tentu saja. Jika ia tak bisa mengatakannya langsung, media tulis kini menjadi pilihannya.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Asha menatap langit yang kini tengah cerah, jauh berbeda dengan hatinya. Bebannya berat ketika ia akan melangkahkan kaki di SMA. Ia takut, biaya sekolahnya melonjak naik dan membuat bapa, ibu serta kakaknya bersusah payah untuk mencari uang.
"Huufftt..." Asha menghela napasnya.
Tiba-tiba suara klakson membuyarkan lamunannya.
Tit!! Tit!!!
Asha keluar dari kamarnya dan mendapati ibu dan bapanya sedang menyambut Nik beserta keluarganya. Asha pergi ke dalam untuk mengambilkan minum, dan itu tak luput dari perhatian Tia. Tia tersenyum kecil melihatnya.
Mereka pun duduk.
"Ada apa?" Tanya Edi berterus-terang.
"Gini, Di. Si Nia anakku ini sudah di beri surat kelulusan sekolah. Dan surat kelulusan itu kan dibagiinnya serempak. Jadi aku mau minta surat itu buat daftar sekolah Asha."
Edi dan Diah mengerutkan keningnya. Mereka tak tau apa yang sebenarnya Nik katakan.
"Surat kelulusan? Milik Asha?" Tanya Diah dengan wajah heran.
"Iya. Surat kelulusan." Jawab Tia.
Diah dan Edi saling pandang. Ketika ia ingin menjawab, Asha sudah terlebih dahulu menjawabnya.
__ADS_1
"Ada ni, tan, om."
Asha menaruh nampan berisikan air di atas meja, kemudian ia berlalu pergi untuk mengambil kertas kelulusan itu.
Ada yang tidak beres. Ucap Tia dalam hati.
Tidak berselang lama, Asha keluar dengan amplop yang berlogokan sekolahnya. Ia memberikannya kepada Tia.
"Ini, tan."
Tia menerimanya dengan senyuman indah. Senyuman yang tak pernah Asha lihat dari siapapun. Senyuman yang melontarkan beribu kasih sayang.
Setelah sepenuhnya kertas itu Tia pegang, Asha ikut duduk di sofa bersama yang lainnya.
Selesai membaca surat kelulusan milik Asha, Tia menatap Diah dan Edi bergantian tanpa meletakkan kertas itu terlebih dahulu.
"Apa kalian tau kertas apa ini?" Tanya Tia.
Diah dan Edi saling pandang, kemudian menganggukkan kepalanya secara bersamaan.
"Apa isi surat ini?"
Diah dan Edi yang di tanya segera gelagapan. Pasalnya, mereka saja tidak tau kertas macam apa yang sedang Tia pegang itu. Walau begitu, mereka tetap menyembunyikan kenyataan bahwa mereka memang tidak tau.
Melihat reaksi sepasang suami istri itu, Tia dapat menyimpulkan bahwa apa yang ia pikirkan tadi memang benar. Diah tidak tau mengenai surat kelulusan itu.
Asha yang memang memiliki otak yang pintar serta cepat tangkap pun langsung mengerti apa yang sedang Tia ucapkan. Ia menunduk malu atas apa yang terjadi.
Ia juga menyadari bahwa ini adalah salahnya. Salahnya karena tidak memberitahu kedua orang tuanya tentang surat ini. Jangan tanya mengapa Asha melakukan itu. Karena jawabannya hanya satu. Ia tak ingin sakit hati lagi.
__ADS_1