Berjuang Dalam Diam

Berjuang Dalam Diam
Eps 4


__ADS_3

"ROOOYYY!!!".


Asha yang baru saja pulang dari sekolah dikejutkan oleh suara teriakan dari dalam rumah, ketika ia ingin melangkah masuk.


Astaga... Boleh juga kali ya, kalo Hia disuruh gabung padus sama rombongan mba kunti!?. Batin Asha.


Asha masuk ke rumahnya dengan jantung berdegup kencang. Ia takut praduga negatifnya terjadi.


"Roy! Sini kamu!". Hiana kembali berteriak.


"Ada apa sih kak Hia? Rumah sekecil ini jangan diempani teriakanmu itu. Kau kira ini hutan yang memang sudah berlubang?!". Sahut Roy yang membuat Asha menahan tawanya sembari berdiri di belakang pintu.


Roy berjalan masuk ke kamar Hiana tanpa menyadari bahwa Asha ada di belakang pintu rumah. Padahal kamar Hiana dan pintu rumah berdekatan. Hanya saja sedikit terselang oleh dinding pendek.


"Kenapa?" Tanya Roy sembari berkacak pinggang.


"Kau tak melihat!". Sarkas Hiana sembari menunjuk nunjuk area kamarnya yang terendam air.


"Lihat apa?". Roy pura pura tak tahu.


"IBUUUU!!!". Kini Hia bergantian memanggil ibunya.


"Apa?".


Sama seperti Roy, Diah juga memasuki kamar Hiana tanpa menyadari keberadaan Asha yang sedari tadi berdiri di belakang pintu.


"Ada apa sih?". Tanya Diah.


"Ibu gak lihat? Lihat itu! Itu! Itu! Itu! Dan itu!". Hiana kembali menunjuk nunjuk area kamarnya yang terendam air.

__ADS_1


Asha mulai penasaran dengan apa yang terjadi. Sedari tadi Hiana hanya mengatakan 'lihat, lihat itu, dan itu', membuat Asha semakin penasaran.


Asha melangkahkan kakinya menuju kamar Hiana. Dan sesampainya di sana, Asha langsung menutup mulutnya tak percaya. Kamar Hiana kini benar benar bagai kamar beratapkan langit yang telah dilanda hujan.


"Ini kenapa?". Tanya Asha.


"Kenapa? Kau tanya kenapa? Kau tak bisa lihat? Ini pasti ulah Roy yang telah kau pengaruhi!". Bukannya menjawab dengan benar, Hiana malah menuduh Asha.


"Maksudmu apa?". Asha terpancing emosi.


"Kau kan, yang telah menyuruh Roy untuk membasahi seluruh kamarku ini? Kau iri kan, padaku? Hingga kau melakukan ini padaku?!". Hiana sedikit berteriak.


"Jangan sangkut pautkan apa yang terjadi padamu dengan diriku!". Jawab Asha dengan geram.


"Bukan aku sangkut pautkan. Tapi memang kalian ada sangkut pautnya!". Balas Hiana.


"Tunggu! Oh... Jangan jangan yang tadi pagi kau bisikkan ke Roy saat sarapan itu untuk mengerjaiku ini kan?!". Hiana kembali menuduh Asha.


"Gak Hiana. Aku gak minta Roy buat basahin kamar kamu. Kenapa kamu nuduh aku yang jelas-jelas gak ada buktinya". Bantah Asha.


"Gak ada bukti?


"Ibu, ibu lihat kan, ketika kak Asha membisikkan sesuatu kepada Roy? Mungkin saja itu titahan untuk ini semua! Itu saja udah termasuk bukti". Hiana menatap ibunya.


Srek!


Tanpa aba-aba, Diah langsung menjambak rambut Asha.


"Ibu! Apa-apaan ini?". Heran Asha sembari menahan jambakan di kepalanya.

__ADS_1


"Kamu udah berulah Asha! Dan kamu mesti dihukum!". Diah mempertegas.


"Tapi Asha gak tau apa apa ibu. Lepasin bu...". Rengek Asha.


Diah langsung menyeret Asha ke kamar mandi. Di belakangnya ada Roy yang meminta sang ibu melepaskan jenggutannya di rambut sang kakak. Sedangkan Hiana sedang senyum senyum sendiri saat ikut membuntuti di belakang juga.


"Ibu lepaskan kak Asha! Itu sakit ibu!". Pinta Roy.


Sampai di kamar mandi, Asha didudukkan di bawah shower yang menggantung di dinding. Diah menyalakan showernya. Dan berhasil membuat Asha meramput.


Tak puas, Diah mengambil selang yang terhubung dengan keran air. Lalu ia nyalakan kerannya, kemudian diarahkannya selang yang bercucur air itu ke arah Asha.


"Ibu! Hentikan! Ini bukan kesalahan kak Asha!". Roy kembali meminta.


"Ibu! Asha tak melakukan apapun". Ucap lirih Asha sembari menahan dingin di sekujur tubuhnya.


"Tak punya kesalahan? Lalu siapa yang bertanggung jawab atas kamar Hia?". Tanya Diah.


"Itu Roy yang bertanggung jawab! Maka biarkan Roy yang menggantikan posisi kak Asha!". Bukan Asha, tapi Roy yang menjawab.


Diah tak menggubris perkataan Roy.


Tanpa punya perasaan, Diah terus mengguyuri Asha dengan air. Dan berhasil membuat Asha membatin.


Ibu tega! Sebegitu berharganya kah kamar Hiana? Sehingga ibu tega menyiramiku tanpa henti dan tanpa bukti?. Batin Asha.


"Bu... Dingin!". Lirih Asha yang tak digubris sama sekali oleh Diah.


Apakah ibu tak punya belas kasihan padaku? Hingga saat aku mengatakan kedinginan pun, ia masih mengguyuri tubuhku tanpa henti?!. Lanjut Asha dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2