Berjuang Dalam Diam

Berjuang Dalam Diam
Eps 17


__ADS_3

[masih flashback]


Seketika bulir bening keluar dari mata Moza. Asha benar, Moza telah bodoh akibat rasa cintanya yang masih belum diketahui oleh pria idamannya.


Sejuk air menyapu pundak Asha. Asha tau, Moza kini sedang menangis. Ia tahu bahwa perkataannya amat menusuk hati Moza.


Dua menit kemudian, Moza menceraikan pelukannya. Ia mengusap sisa-sisa air mata di pipinya.


"Ya udah. Pulang gih." Ujar Asha sembari menunjuk arah rumah Moza yang tak jauh dari sana dengan lirikan matanya.


Dengan senang hati moza mengangguki. Ia pun mulai berjalan gontai meninggalkan Asha yang masih menatap punggungnya.


Cinta monyet yang menyakitkan ya Za?. Ucap Asha dalam Hati. Ia pun berlalu pergi ketika tak melihat punggung Moza lagi.


Sedangkan Aldi? Ia benar-benar terpaku mendengarnya. Aldi pikir, Moza juga sama dengan Asha yang belum ingin memberikan cintanya sampai saat ini. Karakter Asha dan Moza hampir mirip. Mereka sering memilih cuek terhadap pria manapun. Tapi kali ini ia tau, bahwa dibalik sikap cuek mereka, mereka pun masih memiliki rasa cinta. Terlebih lagi itu Moza.


Flashback off.


Siapa sebenarnya pria itu. Pikiran Aldi terus menerus melontarkan pertanyaan. Sembari berjalan perlahan, ia mencerna perkataan Asha pada Moza untuk tidak terlalu mengharapkan pria itu.


Mengapa bisa ada pria yang tak suka kepada Moza? Itu hal mustahil bagi benak Aldi. Semua pria amat sangat mengagumi kedua sosok itu.


Karena lamunannya, Aldi melupakan pemberhentian pos angkot yang akan ia taiki. Untung saja angkot itu belum berangkat. Aldi sekuat tenaga berlari agar tak ketinggalan untuk naik angkot.

__ADS_1


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Pukul empat sore.


Asha izin kepada kedua orang tuanya untuk pergi. Dan seperti biasa, mereka akan membiarkan Asha pergi tanpa bertanya sepatah katapun. Seperti 'mau kemana? Dengan siapa? Pulang jam berapa?' dan sebagainya.


Tapi tenang, Asha selalu menguatkan hatinya dengan kata-katanya sendiri. Ia tetap berpikir positif tentang orang tuanya. Asha selalu berpikir jika kedua orang tuanya tak ingin dirinya merasa terkekang karena pertanyaan seperti itu. Ya... Walaupun tetap ada sedikit rasa sedih di hatinya.


Kalian pasti tau kan, Asha akan pergi kemana pada pukul empat sore? Yap. Benar. Ia akan pergi ke kafe tempatnya bekerja.


Asha memakai baju hitam yang dilengkapi dalaman berwarna cream. Di pundaknya terdapat tas berwarna coklat. Rambutnya ia kepang satu dengan kondisi kurang rapi dan menambah pesona tersendiri bagi Asha. Masker di wajahnya tak menghilangkan hawa cantiknya. Karena matanya sudah cantik untuk dipandang.



Baru beberapa langkah keluar dari rumah, Asha menyadari bahwa ada sesuatu yang tertinggal di rumah. Dan akhirnya memutuskan untuk masuk kembali ke rumah.


Asha membuka pintu kamarnya dan mulai terlihatlah buku tebal di atas mejanya.


"Itu dia." Gumam Asha.


Asha mengambilnya, kemudian keluar dan melanjutkan perjalanannya.


Ribuan meter terlewati dengan begitu saja oleh Asha. Bagai hembusan angin yang menyibak rambut panjangnya. Singkat.

__ADS_1


Asha menatap plank yang bertuliskan 'Uzi krong.caffe' sembari mendengus kesal.


"Ih. Baru juga Asha baca, dah nyampe lagi aja. Coba aja kalo Asha jadi Ultraman, dah Asha pindahin ni kafe!."


Akhirnya Asha tetap masuk juga, tapi dengan kaki yang sedikit ia hentakkan.


Mengapa Asha begitu kesal? Tentu saja karena ia merasa bahwa kafe ini terlalu dekat dengan rumahnya, sehingga ia tak bisa membaca buku lebih lama lagi. Padahal sepanjang perjalanan, sudah berpuluh halaman ia sibak. Tapi tetap saja, singkat amat dimatanya.


Kembali ke Asha.


Asha menyimpan tas, buku, serta masker yang ia kenakan di loker pegawai. Kemudian menggantinya dengan celemek khas kafe di sana.


"Siap!" Ucap Asha ketika ia telah selesai memakai celemeknya dan siap untuk bekerja.


Baru saja ia ingin mengambil alih cucian piring, tapi suara Felis membuat Asha mengerucutkan bibirnya dengan kesal.


"Asha! Ni anterin! Udah gitu buang sampah, cuci piring dan juga ngelap meja." Titah Felis.


Asha membalikkan badannya dan menghampiri Felis.


"Enak banget tu mulut ya. Gak seharusnya kamu nyuruh aku ngelakuin hal yang bukan tanggungjawab serta tugasku. Itu adalah tugasmu Felis! Gak pantes kau bebani orang dengan pekerjaanmu. Yang mana orang itu saja belum menyelesaikan pekerjaannya sendiri. Dan jika semua tugasmu aku kerjakan, lantas apa yang kau lakukan? Bukankah di sini telah di beri sift masing-masing? Itu adalah peraturan kafe. Jangan kau bantah, jika masih ingin bekerja di sini. Kau mengerti, Fe-lis!?" Tegas Asha yang diakhiri dengan penekanan.


"Heh Asha! Gue lebih tua dari lo. Gak seharusnya lo sebut nama gue tanpa di dampingi oleh sebutan 'kak'." Felis mulai berkilah.

__ADS_1


"Hormatilah jika ingin di hormati. Karena apa yang orang lain lakukan adalah cerminan dari cara dirimu memperlakukan orang lain."


__ADS_2