Berjuang Dalam Diam

Berjuang Dalam Diam
Eps 8


__ADS_3

Aldi tetap mematung sembari tersenyum ke arah Asha. Asha yang semakin geram akhirnya memutuskan untuk masuk ke kelas. Ia sudah tak tahan dengan kelakuan Aldi. Sedangkan Moza yang membututi Asha menatap iba ke arah Aldi. Ia tahu rasanya menjadi Aldi, karena kini ia sedang mengalaminya.


Moza pun ikut masuk ke kelas setelah tersenyum kepada Aldi. Dan diakhir pertemuannya Moza berkata, "bersabarlah dan jangan berpikir bahwa aku tak merasakan apa yang kau rasakan. Karena kini aku sedang merasakannya. Kau tau rasa apa? Rasa sakit". Moza pun tersenyum dan berlalu pergi.


Di kelas, baru saja duduk di kursinya, Asha sudah mendengar gunjingan-gunjingan yang di tujukan padanya.


{Si Asha itu so' jual mahal}


{Iya. So' cantik lagi}


{Ett! Tapi buat fisik, emang lo kalah jauh tau!}


{Brisik lu! Nanti dia denger, ngapung lagi}


Asha menanggapinya dengan acuh tak acuh. Berbeda dengan Asha yang santai, Moza yang baru saja masuk dan mendengarnya kini tengah menggenggam erat tangannya. Perih sekali ketika mendengar sahabat yang sudah dianggap saudara sedang menjadi pusat gosip. Apalagi langsung di depan dirinya sendiri. Tak ada rasa kasihani kah mereka? Hingga sanggup membicarakan kejelekan seseorang didepan orang itu sendiri?. Pikir Moza.


Makin kesini, bukannya diam, teman-temannya malah semakin ramai membicarakan tentang Asha. Apalagi kian membahas Asha adalah pelacur dan ***** karena wajah cantiknya.


{Denger denger, katanya si Asha pusat perhatian om-om ya?!}


{Iya. Dia tuh dah kayak ****** tau}


{Baru juga SMP dah kek gitu. Apalagi kalo udah SMA dan ke jenjang selanjutnya?}


{Cantik sih. Tapi *****!}


BRAKKK!!!


Semua mata sontak mengarah ke Moza yang menggebrak meja. Asha sampai melotot melihat tingkah sahabatnya itu.


Kemudian Moza menatap manik Asha dan menggenggam tangannya seraya berkata dengan suara yang tinggi, "Nabi Shollallohu alaihi wasallam pernah bersabda, 'Jika Allah mencintai seorang hamba maka dia akan mencobanya dengan cobaan yang tidak ada obatnya. Jika dia sabar maka Allah memilihnya dan jika dia ridha maka Allah menjadikannya pilihan'. Kau sabar dan ridha kan Asha?".


Asha mengerti tujuan Moza bicara seperti itu. Akhirnya ia pun menjawab.


"Tenang Moza. Aku sabar dan ikhlas kok. Orang yang sedang mereka jelekkan itu sesungguhnya sedang mereka angkat dosa-dosanya".


Semua orang yang ada di sana di buat bungkam oleh percakapan sepasang sahabat itu.

__ADS_1


Tak lama kemudian, datang seorang wanita dengan gelar S.pd, masuk ke kelas. Mulai menerangkan pelajaran hingga bisa sedikit mendinginkan kembali suasana yang sempat memanas.


Sedangkan diposisi Roy...


"Aduh! Mana mau buang air kecil lagi. Ya Allah...".


Kini bocah laki-laki itu tengah menghempit tangannya di sela-sela kaki. Joget tak karuan.


Ia dilema antara memilih ke kamar mandi melegakan kandungan kemihnya atau tetap berjaga di sini.


Setelah berfikir panjang, ia memutuskan untuk pergi saja ke kamar mandi. Tapi ia akan mengunci kamar Hiana agar merasa lebih lega. Setelah mengunci kamar Hiana, dia pun bergegas pergi ke kamar mandi dengan tergesa-gesa.


Ia melepaskan semua kegundahan kandung kemihnya itu di closet.


"Alhamdulillah". Gumamnya.


Baru selesai membuang air kecil, teriakan keras mempercepat aksinya yang sedang merapikan celana.


"ROY!!!".


"IYA BUU... SEBENTAR, ROY DI KAMAR MANDI". Teriak Roy yang tak kalah keras.


Astagfirullah. Lirih Roy dalam hati.


"A,,ada a,,apa bu?". Tanya Roy terbata-bata.


"Ini loh. Kok kamar kak Hia kok gak bisa di buka?". Tanya Diah.


"Emm.. dikunci kali bu". Jawab Roy.


"Tumben dikunci. Ya udah, ambil kunci cadangannya di tekas, lalu masukin baju kak Hia ke lemari". Titah Diah sembari menaruh tumpulan baju itu di meja. Kemudian pergi meninggalkan Roy yang masih diam berdiri dengan jantung yang masih berdetak kencang.


Setelah Diah pergi, Roy pun mengambil kunci yang ada di kantongnya. Kemudian membuka pintu kamar Hiana.


"Huufftt... Untung saja". Lega Roy yang diawali dengan helaan napas sembari mengambil pakaian Hiana yang tafi Fiah taruh di atas meja. Ia masuk ke kamar Hiana dengan membawa pakaian itu dan mulai menyusunnya di lemari.


...♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡...

__ADS_1


Pukul 16.30!


Di sekolah Asha, para murid telah dipulangkan setelah melakukan rapat persiapan UN. Mereka memulai meeting sekitar setengah jam yang lalu. Setelah kelas bubar. Tepatnya pukul 16.00.


Bubarnya kelas Asha memang pukul 16.00. Tapi ibu, bapak dan saudara saudarinya tahu ia pulang pukul setengah enam.


Jangan berfikir bahwa Asha adalah gadis nakal yang liar. Dia pulang pukul lima karena sering bekerja paruh waktu di salah satu cafe dekat sekolahnya, tanpa pengetahuan siapapun. Termasuk Moza.


"Asha. Kita pulang bareng, kan?". Tanya Moza.


"Hehe... Maaf". Seperti biasa, Asha pasti akan menolaknya.


"Oke".


Hanya satu kata yang Moza ucapkan. Asha tahu, Moza pasti sedih dengan jawabannya. Tapi mau bagaimana lagi, ia membutuhkan uang.


Maaf Moza ku tercinta. Sesal Asha dalam hati.


Asha pergi ke restoran tempatnya bekerja. Nama restoran itu adalah Uzi krong cafe. Unik bukan?. Dan itu salah satu ketertarikan Asha untuk bekerja disana. Bukan hanya itu, dekorasi yang unik menambah peminat untuk dijadikan tempat nongkrong. Hingga kadang satu kursi pun tak tersisa.


Datang di Uzi krong cafe, Asha menaruh tasnya di loker pegawai. Ia pun memulai pekerjaannya.


Asha sengaja meminta bekerja sore dan hanya berdurasi satu setengah jam, karena jadwalnya untuk belajarpun padat. Maka dari itu, Asha tak pernah menuntut gaji banya, ia hanya minta sepertiga gaji dari karyawan yang lain.


Dilihatnya tumpukan gelas kotor di tempat cucian, Asha segera mengambil alih. Ia memalai celemek terlebih dahulu, agar seragamnya tak kotor. Baru saja ia ingin memegang salah satu gelas untuk di cuci, tapi suara seseorang membuatnya terhenti.


"Heh Asha! Ambil gelas di gudang sono". Titah Felis. Salah satu karyawan disana. Ia dikenal dengan sifatnya yang ambisius untuk mendapatkan hati pemilik kafe Uzi. Entahlah, orang orang disana banyak yang berfikir bahwa Felis sudah gila akibat berharap mendapatkan hati sang pemilik kafe.


Tidak hanya itu, saking tidak sukanya dengan kehadiran Asha, ia kerap kali menyuruh nyuruh Asha dengan hal yang seharusnya tidak ia kerjakan. Pekerjaan Asha itu hanya mengantarkan pesanan dan mencuci perabotan yang kotor. Disana juga telah dibuat jadwal pekerjaan masing masing staf. Tapi Felis selalu menumpukkan pekerjaannya pada Asha. Karena umur Felis jauh tiga tahun dari Asha, akhirnya Asha pun sering mengiyakan.


"Iya Kak". Jawab Asha.


Asha pergi kegudang mengambilkan selusin gelas di dalam kotak. Kemudian memberikannya kepada Felis. Setelah itu Asha kembali pada pekerjaannya.


Baru setengah pekerjaan, Felis kembali memerintah Asha.


"Asha! Sampah udah penuh noh. Buang sana".

__ADS_1


Asha sudah lelah dengan perlakuan Felis. Entah apa yang membuat Felis sering memerintahnya.


"Maaf kak. Tuhan menciptakanmu dengan sempurna, untuk memenuhi aktifitasmu. Selagi kau masih bisa mengerjakannya sendiri, mengapa harus meminta bantuan orang lain?!". Ujar Asha.


__ADS_2