
Pukul 04.16! Azdan berkumandang.
Asha bangun dari tidurnya. Kemudian ia bangkit dari kasur empuknya itu, lalu bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu.
Asha membasuh anggota tubuhnya dengan aturan dan tata cara berwudhu. Setelah berwudhu, Asha kembali kekamarnya dan menggelar sajadah tempatnya bersujud. Kemudian ia pakaikan mukena untuk menyelimuti tubuhnya.
"Allahu Akbar!". Asha memulai shalatnya.
Ia lantunkan bacaan bacaan shalat dengan detil dan tartil.
Selepas shalat, Asha mengisi waktunya untuk mengaji sebelum bersiap siap dan pergi ke sekolah.
Asha lantunkan ayat ayat cinta dari Allah itu. Suara merdunya,mengisi sudut-sudut ruangan di sana. Lantunannya fasih, hingga membuat burung burung berterbangan di area jendela kamar Asha.
"Shadaqallahul 'adziim". Asha mengakhiri ngajinya.
Pukul 06.28!
Asha mulai bersiap siap untuk pergi ke sekolah. Asha biasa berangkat pukul 06.54, karena sekolahnya di mulai dari pukul 07.30.
Setelah ia berseragam lengkap. Asha keluar dari kamarnya.
Ketika ia membuka pintu, ia melihat adiknya, Hiana, selalu dimanja setiap saat. Ibunya memanjakan Hiana tanpa tau batasan. Saking memanjakannya, ia bahkan kerap kali meninggalkan Roy, adik bungsunya, untuk mengantar Hiana ke sekolah, atau ketempat di mana Hiana akan pergi.
Sebenarnya Asha suka masa bodo melihat pemandangan setiap pagi ini. Tapi jujur, di relung hatinya yang amat dalam sangat sakit dan iri. Apalagi sedikit teguran sarapan untuk Asha pun, tak pernah dilontarkan ibu bapaknya.
Asha memiliki dua orang kakak laki laki. Murfazan dan Afrian Dirgana. Adik perempuannya bernama Hiana Nurba, dan adik laki-laki bungsunya bernama Roy Assad.
Aku tahu, iri itu dosa. Dan biasanya dikarenakan harta dunia. Tapi bagaimana bila iri yang dikarenakan oleh cinta orang tua, apakah salah?!. Batin Asha bertanya tanya.
"Asha berangkat!". Pamit Asha sembari mencium punggung tangan kedua orang tuanya. Ia juga mencium punggung tangan kedua kakaknya.
__ADS_1
Lalu Asha mencium pipi Roy seraya berbisik, "Kakak senang kalo kamu berulah! Xixixi".
"Tenang kak. Kamar kak Hia kali ini bakalan banjir. Sebanjir air mata kak Asha yang selalu keluar gara gara dia!". Balas Roy dengan sedikit melirik Hiana yang sedang di suapi oleh Diah.
"Memangnya aku suka menangis?!". Tanya jahil Asha.
"Kakak memang tak pernah menangis depan kita. Tapi Roy tau, hati kakak yang selalu menahan tangis itu.
"Satu hal kak! Hidup akan terasa hampa tanpa air mata. Seseorang yang sedang bahagia saja bisa meneteskan air mata. Mengapa seseorang yang hatinya terluka memaksakan hatinya agar tak menangis dan menitikkan air mata?!".
Asha terkekeh. Ia bangkit dari rukuknya, kemudian pergi meninggalkan mereka. Tapi tiba tiba tangan Asha dicekal oleh Murfazan.
"Gak sarapan?". Ujar Murfazan.
"Gak! Kakak pasti tau kan?!". Asha tertawa kecut.
Benar, Asha tak pernah sarapan. Dulu pernah kejadian. Saat Asha sarapan. Ibunya seperti tak memperdulikannya. Ibunya hanya memperhatikan anak-anaknya selain Asha, dan Hiana adalah prioritas utama. Lalu Asha berkata, "Ibu, anak ibu bukan cuma mereka. Apalagi cuma Hia".
Tiba tiba saja Hiana menggebrak meja makan.
Murfazan langsung bertindak dengan menampar pipi Hiana.
"Bukan Asha yang sakit, tapi hatimu sakit!". Ujar Murfazan.
"Sudahlah kak! Kadang menahan dan diam memang lebih baik--". Asha menjeda ucapannya.
"Heuh! Lihat tuh. Dia saja tahu bahwa diam itu lebih baik". Potong Hiana.
"Tapi diamku bukan karena aku kalah atau tak berdaya. Diamku itu untuk menutupi kebodohanmu!". Lanjut Asha. Asha segera mengambil tasnya, lalu bergegas pergi tanpa pamit.
Brugh! Asha menutup pintu dengan kencang.
__ADS_1
"Kamu harusnya bisa mengerti dan merasakan perasaan kakak kamu Hia. Kenapa kamu malah kaya gini?". Ujar Murfazan.
"Kenapa Hia harus mengerti dan merasakan perasaan kak Asha?!". Sewot Hiana.
Asha yang sudah diluar sempat mendengarnya. Ia membalikkan badan dan kembali masuk ke rumahnya. Ia membuka pintu dan berteriak.
"Kakak! Dunia kita memang sama. Tapi hati, jiwa, karakter dan prinsip semua orang berdeda. Jadi jangan anggap semua yang kita rasakan, bisa mereka rasakan". Asha tersenyum sinis. Lalu kembali pergi selepas menutup pintu.
Asha berlari, berlari sekencangnya. Asha yang biasa mampir ke rumah Moza terlebih dahulu, tapi hari itu tidak. Sakit di hatinya menahannya untuk mampir ke rumah Moza.
Di tengah jalan, tangis Asha tak terbendung. Tempat itu strategis untuk Asha melepaskan tangisnya. Karena memang jalan itu kurang bayak dilewati oleh penduduk dan pengendara.
Asha terjongkok sembari terisak.
"Sedikitpun gak ada teguran buat Hiana? Ibu... Asha juga anakmu! Bapa... Asha juga putrimu! Tapi kalian tidak menyayangi Asha seperti bukan anak dan putri kalian!". Lirih Asha.
La takhaf wala tahzan inna Allaha ma' ana. Jangan takut jangan bersedih. Sesungguhnya Allah bersama kita. Batin Asha menguatkan.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
"Nia, Nia tahu gak? Tadi mama pas pengen ke pasar ketemu seorang gadis. Dia lagi nungguin angkot yang mogok. Terus mama kasih tumpangan. Orangnya ramah banget. Rambutnya panjang. Nah, mama tanya dong, kenapa rambutnya bisa panjang?!. Terus dia jawab, 'aku suka rambut panjang tante. Ustadzah aku bilang, Rambut adalah mahkota bagi wanita. Jadi bagiku, semakin panjang rambutku, semakin cinta jodohku terhadap ku'.".
"Namanya siapa mah?.
"Asha! Oh iya, Mama juga minta sama dia buat sekolah bareng kamu".
"Maksudnya?".
"Dia seumuran sama kamu. Dan sebentar lagikan lulus, jadi mama minta dia buat SMA bareng sama kamu. Sekolah yang sekarang kakak kamu duduki".
"Mama serius? Tapi mama tahukan? Sekolah kakak itu elit?".
__ADS_1
"Iya, mama dan papa rencananya mau bayarin dia sekolah. Raut wajahnya juga keliatan seorang pekerja keras. Mama yakin dia orang yang berprestasi". Wanita itu mengingat kembali setiap inci dari wajah Asha.
"Mama yakin??". Nia memastikan. Dan mendapat anggukan dari sang ibu.