Berjuang Dalam Diam

Berjuang Dalam Diam
Eps 19


__ADS_3

"Asha... Lain kali bicaranya hati-hati. Aku tau kamu itu mau ngejaga privasi kafe. Tapi gak seharusnya kamu berucap tanpa melihat siapa yang kamu ceramahi. Lihatlah dulu siapa dia, baru kau hakimi." Dengan lembut Kalila menasihati Asha.


Jujur, sebenarnya memang tidak salah dengan tindakan Asha. Hanya saja ia kurang menempatkan dengan siapa ia bicara. Pikir Kalila.


"Memangnya dia itu siapa, kak?"


"Dia itu--"


Kalila tak melanjutkan ucapannya. Lirikan tajam dari seseorang membuat mulutnya kelu untuk mengeluarkan kata. Tubuhnya mematung sesaat.


"Kakak!" Panggilan Asha membuyarkan pandangan Kalila. Kalila kembali menatap Asha.


"Kenapa?"


"Loh! Kok kakak nanya balik ama Asha? Kan tadi Asha nanya, emang itu siapa si?"


"Kakak juga kurang tau siapa dia. Yang jelas dia masuk kategori orang khusus karena kunjungannya yang melebihi pelanggan lainnya." Kalila mengatakannya dengan rasa takut. Takut karena bisa saja Asha menyalah artikan ucapannya.


"Oo... Jadi dia kaya barista di kafe ini gitu ya kak?"


Kalila bernapas lega ketika jawaban Asha tertanya jauh dari bayangan kekhawatiran dirinya.


Kalila pun menganggung sembari tersenyum kecut.


"Ya udah, lanjutin aja belajarnya. Mumpung belum ada pembeli masuk."


Asha menganggukkan kepalanya.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡

__ADS_1


"Semuanya siap Hia. Hahah..."


Sesuai dengan perjanjian, Afrian dan Hiana akan menyajikan sesuatu untuk Asha.


"Kejutan yang indah, bukan??"


Hiana menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan kakaknya itu.


"Semua akan terjadi beberapa menit lagi. Kita tinggal meyaksikan semuanya. Hahaha..." Ucap Hiana yang diakhiri dengan tawa jahatnya.


Ceklek.


Suara buka pintu terdengar oleh telinga Afrian dan juga Hiana yang berada di kamar Hiana.


"Hia, sebentar lagi. Ayo!" Afrian mengajak sang adik keluar untuk menyaksikan sesuatu yang ia katakan sebagai 'Kejutan'.


Asha terkejut mendapati kedua orang tuanya yang tengah duduk dengan wajah serius di sofa. Di atas juga tergeletak sebuah map. Pikiran Asha tiba-tiba terasa tak karuan.


Apalagi ini ya Allah,,. Batin Asha.


"Assalamualaikum." Sapa Asha sembari berjalan mendekati ibu dan bapanya untuk mencium tangan mereka.


"Duduk!" Titah Edi kepada Asha.


Dengan rasa bingung yang mendera, Asha pun akhirnya duduk.


"Asha! Bapa minta,, kamu berhenti menulis!"


Duar!!!

__ADS_1


Hati Asha serasa meledak mendengar perkataan dari ayahnya.


"Maksud bapa apa?" Asha meminta penjelasan.


"Lihatlah map itu [merujuk pada map di atas meja yang tadi Asha lihat]. Itu adalah map yang berisikan hasil psikologi dan juga EEG mu satu bulan yang lalu. Di situ menyatakan bahwa kamu belum sembuh. Dokter nyaranin agar kamu gak banyak mikir, karena itu akan memperburuk keadaanmu. Jadi bapa gak mau kamu nulis. Karena dengan kamu nulis, kamu makin bikin otak kamu bekerja. Otakmu akan semakin tertekan dan kelelahan." Jelas Edi.


"Tapi dengan Asha menulis, Asha malah merasa senang kok pak! Gak ada tuh rasa tertekan dan kelelahan yang bapa sebutkan tadi." Bantah Asha.


"Tolonglah Asha,, kita sudah lelah dengan perawatanmu yang kian menaik." Diah juga memberi penjelasan.


"Tapi Asha baik baik aja kok bu! Pak!" Asha kembali membantah.


"Pokoknya bapa dan ibu mutusin, Asha gak boleh nulis lagi. Titik!" Edi keukeuh.


"Terserah!"


Asha langsung berdiri dari duduknya dan pergi menjauh. Ia masuk ke kamarnya dan menguncinya.


"Ya Allah... Kenapa harus nulis? Kenapa Asha harus tinggalin nulis?" Asha bertanya tanya.


Ah! Moza! Aku telpon Moza aja?. Batin Asha.


"Halo?" Sapa Asha di ujung telpon.


"Moza! Aku mau kita ketemu di kebun. Boleh kan?!". Pinta Asha.


"Makasih!". Asha berterimakasih ketika Moza mengiyakan.


Asha keluar dari kamarnya sembari membawa tas kecil di kalungan lehernya serta wajah yang masih menatap kesenduan.

__ADS_1


__ADS_2