
Deg!
Asha terkesima dengan jawaban dari Moza. Moza benar, bukan dunia yang meninggalkan, tapi dengan dia menyerah itu tandanya ia telah memilih meninggalkan dunia. Pikir Asha.
Asha tertunduk merenung.
"Apa aku sebegitu menyerahkan dunianya? Hingga aku menganggap dunia tak mendukung aku?" Dengan ragu Asha bertanya.
Moza memeluk asha semakin erat.
"Dengar Asha. Terwujud atau tidak terwujud, itu tergantung niat dari sesuatu apa yang sedang kita lakukan. Jika kamu menganggap dunia ini tak mendukung, bagaimana kamu bisa terus berkembang? Saat kamu merasa tidak ada penghalang atas mimpimu, aku percaya, kamu pasti bisa mewujudkan mimpimu."
Terenyuh. Itulah yang sedang Asha rasakan ketika Moza menjawab pertanyaannya. Bahkan pernyataan.
"Terus Asha harus gimana Oza???"
"Jangan tanya sama aku. Ini hidupmu, bukan hidupku. Tanya pada hatimu, karna aku yakin bahwa hatimu akan menunjukkan jalan yang kau inginkan."
~Allahu akbar, Allahu akbar.
~Allahu akbar, Allahu Akbar.
__ADS_1
Adzan Maghrib berkumandang. Moza menuntun Asha untuk pulang ke rumahnya. Dengan gontai Asha berjalan dengan wajah sembab.
"Oza... Kamu nginep aja ya..." Pinta Asha.
Sebenarnya Moza akan pulang, karena ia belum meminta izin dari orang tuanya. Tambah lagi esok ia masih ujian, sedangkan dirinya tak membawa buku.
"Tenang,, nanti aku yang minta izin ke tante Kinanti. Dan soal ujian besok, aku kan temanmu. Sekelas bahkan. Kita bisa baca buku bareng. Dan kalo ada soal yang gak kamu ngeerti, bisa kamu tanya ke aku." Ucap Asha seolah-olah tau isi pikiran Moza.
Akhirnya Moza pun menyetujuinya.
Di sepanjang jalan, Asha menghubungi Kinanti untuk meminta izin agar Moza bisa menginap di rumahnya. Dan hanya dengan sedikit rayuan dari lisan Asha, dengan senang hati Kinanti menyetujuinya.
Tiba depan rumah, Asha langsung di sambut dengan pelukan hangat dari Murfazan. Asha yang mendapatkannya dengan tiba-tiba pun terkejut. Tapi ia membalas pelukan Murfazan.
Sedikit isak tangis terdengar oleh Asha. Moza yang melihat kejadian Murfazan menitikkan air mata ikut terenyuh. Ia tau jika Murfazan tau menau tentang ini.
"K, kakak,, kakak menangis?" Tanya Asha dengan gugup.
"Tidak." Jawab Murfazan dengan suara berat.
"Kakak... Tidak baik kalo boong. Apalagi ama adek sendiri."
__ADS_1
Seketika tangis Murfazan pecah. Air matanya serasa keluar begitu saja.
Dengan panik Asha bertanya. "Ada apa kakak? Apa yang terjadi?"
"Maafkan aku adik. Kakakmu ini gak bisa bikin kamu bahagia. Separuh hidupmu harus tertunda karena kakak. Semua ini karena kakak. Kalo aja kakak dapet pekerjaan yang lebih tinggi dan mendapatkan uang yang besar, mungkin kejadian hari ini gak akan terjadi." Dengan bergetar Murfazan bicara.
"Kalo aja kakak punya gaji yang lebih besar, kakak bisa berobatin kamu sampe sembuh. Kakak minta maaf, semua ini salah kakak." Lanjut Murfazan tanpa menghentikan isak tangisnya.
Asha mencengkeram erat tubuh kekar kakaknya. Bulir air mata mengalir begitu saja. Asha memejamkan matanya. Berusaha tenang untuk sementara.
"Kakak... Ini bukan salah siapa siapa. Takdir Asha emang begini. Jangan nyalahin diri kakak sendiri..." Asha melirih sembari menitikkan air mata. Sungguh, air matanya tak bisa surut walau hatinya ingin menghilangkan kesedihan ini.
Moza yang berperan sebagai penonton ikut menangis melihat keduanya. Kedua saudara yang biasanya saling menguatkan, kali ini saling bersedih.
"Aku yakin kok. Aku juga bisa jadi diri aku sendiri dengan karya aku kelak." Ucap Asha.
Ucapan Asha sedikit menusuk hati Murfazan. Murfazan masih ada, tapi kenapa ia mengatakan 'sendiri'? Pikir Murfazan.
Singkat cerita. Asha dan Moza kini telah memasuki kamar Asha. Dengan wajah sembab ia mulai melaksanakan sholat yang sempat tertunda. Ia pun keluar dan berjalan menuju kamar mandi. Tapi tiba-tiba ia menghentikan langkahnya. Ia membalikkan kepalanya dan menatap Moza yang tengah duduk di atas kasur.
"Oza shalat gak?" Tanya Asha dengan suara yang masih terdengar serak.
__ADS_1
Moza menggelengkan kepalanya perlahan. Asha pun melanjutkan jalannya menuju kamar mandi.