
Hiana segera masuk ke kamar mandi terlebih dahulu untuk mendinginkan kakinya.
Sebenarnya kakinya tidak tersiram air mendidih, hanya air hangat. Tapi entahlah, ekspresinya seperti telah direbus oleh air mendidih.
Asha tak jadi ke kamar mandi, ia kembali ke kamarnya. Dikamar, Murfazan dan Roy dibuat terkejut oleh Asha yang masih berpenampilan seperti tadi. Bajunya masih basah kuyup.
"Kenapa kembali? Bajumu belum diganti". Ujar Murfazan.
"Asha mau pake baju di dalem kamar aja kak". Jawab Asha sembari tersenyum.
Murfazan mengajak Roy untuk keluar dahulu. Sebelum benar-benar pergi, Roy mengatakan sesuatu pada Asha.
"Kak! Spesial kali ini, aku akan tidur bersamamu".
"Memang biasanya kamu tidur bersama siapa? Oh iya, kakak lupa. Roy kan biasa tidur dengan bidadari. Hahaha!". Ejek Asha yang mengundang gelak tawa dari Murfazan. Sedangkan Roy sudah mencebik kesal.
________
Pagi hari, Asha membuka matanya. Semalaman ia masih merasakan menggigil, tapi untung ada Roy yang memberikan kehangatan.
Roy memang sering tidur dengan Asha. Tapi ia tak suka dengan yang namanya pelukan, padahal Asha selalu meminta dan membujuknya untuk memeluk Asha. Dan tadi malam, Asha berhasil mendapatkan itu dari Roy. Jadi itu bisa di sebut keberuntungan bukan?!
Ketika Asha membuka matanya, pandangannya langsung tertuju pada adik kecil yang sedang memeluknya itu. Tak terasa, sudur mata Asha membasah seketika. Asha pun langsung menyekanya.
"Mana Roy yang tak suka pelukan?". Gumam Asha sembari tertawa kecil.
Roy pun membuka matanya perlahan. Tapi pandangan matanya segera tertuju pada tangannya yang sedang memeluk erat tubuh Asha. Roy pun melepaskannya sembari berkata, "kau mencari kesempatan dalam kesempitan kakak!".
Asha mengerutkan dahinya.
"Loh?! Bukannya kamu yang peluk kakak? Kenapa kakak yang jadi di salahin?". Heran Asha.
__ADS_1
"Roy gak suka pelukan, kakak!". Tegas Roy membuat Asha menahan tawanya.
"Terus yang semalem tiba-tiba peluk siapa? Tangan kak Asha kan terbungkus selimut". Jelas Asha.
"Hehe... Itu, mungkin reflek karena kak Asha dingin". Asha menaikkan sebelah alisnya.
"Maksudnya karena badan kakak dingin, jadi aku kira kakak guling. Makanya aku peluk". Kilah Roy.
"Hadeuuh... Terserah!".
"Kakak sekolah gak?". Tanya Roy.
"Sekolah. Emang kenapa?".
Bagus! Maaf kak Asha. Batin Roy.
"Ah gak apa-apa kok!". Jawab Roy
"Bapak ke kota. Katanya telinganya sakit, jadi dia berobat". Jawab Roy.
"Ngapain ke kota? Bukannya di sini juga ada dokter yang bisa meriksa?".
"Katanya udah. Tapi gak ada perubahan, jadi ke kota deh!".
"Terus kenapa sendirian? Biasanya bapa selalu ingin ditemani".
"Kan disini ada kak Hia, si obat jerih pelerai demam. Dia kan sedang ujian!". Jawab Roy sedikit meledek Hiana.
"Bukannya si tebal jangat?". Asha menaik turunkan kedua alisnya.
"Bukan! Tapi, si auctor intellectualis!". Jawaban Roy yang penuh penekanan itu berhasil membuat tawa Asha pecah seraya berkata," loh, gimana sih. Tadi katanya si obat jerih pelerai demam. Kenapa sekarang jadi auctor intellectualis?".
__ADS_1
"Sebenernya banyak baget kak. Gak cukup sehari aku sebutin". Jawab Roy dan benar benar membuat Asha tertawa.
Tertawalah kak Asha. Tawamu adalah kebahagian dalam hidupku. Bergembiralah kak Asha. Gembiramu adalah senyum dalam hidupku. Dan aku akan berusaha menjadikan seluruh kebahagiaan kakak adalah separuh nyawaku. Jadi aku tak akan membiarkan kakak dilukai. Ada hujan, ada panas. Ada hari, boleh balas!. Seru Roy dalam hati.
________
"Enak saja menertawakan diriku! Lihat saja, aku akan membuatmu menyesal telah menertawakanku". Gumamnya.
"Hia!". Panggilan seseorang mengagetkan Hiana yang sedang menguping serta mengintip Asha di ujung pintu kamar.
"Astaga! Kakak ngagetin aja!". Sahut Hiana.
"Kamu lagi ngapain?".
"Hia gak lagi ngapa ngapain". Jawab Hia.
"Tapi kakak denger gumaman kamu tadi".
"Hemm.... Sebenernya Hia lagi cari cara buat kasih pelajaran ke kak Asha. Dia udah berani ketawain Hia di belakang". Jawab Hiana sembari mengeratkan giginya.
"Mau dibantu?".
"Hah?! Serius?". Hiana tak percaya.
"Iya. Mau gak?". Hiana pun mengangguk sumringah.
"Bantu apa?".
Hia mendekatkan mulutnya di kuping sang kakak. Ia membisikkan, rencana apa yang akan ia lakukan untuk memberi pelajaran pada Asha.
"Bagaimana?". Tanya Hiana setelah membisikkan rencananya. Kakaknya pun mengangguk.
__ADS_1