Berjuang Dalam Diam

Berjuang Dalam Diam
Eps 20


__ADS_3

"Gimana? Berhasil kan?" Dengan bangga Afrian bertanya. Ia merasa menang dengan idenya.


"Aaa... Kakakku ini hebat sekali." Puji Hiana.


Afrian dan Hiana memutuskan masuk ke kamar Hiana setelah menguping pembicaraan Edi, Diah dan Asha. Baru saja masuk, tawa Hiana pun pecah. Hatinya berbunga-bunga melihat Asha yang sedih.


Ini akibatnya jika bermain-main dengan seorang Hiana. Batin Hiana menyeringai.


"Gak sia-sia kita hasut ibu dan bapa. Hahahaa..." Afrian ikut tertawa dengan hasil yang dimatanya memuaskan itu. Yang padahal, bisa jadi itu awal kehancurannya.


Ya. Keputusan Edi dan Diah untuk Asha adalah hasil mereka. Mereka bermuka dua. Berbicara seperti sedang menasihati agar Asha bisa lebih tenang hidupnya, tapi rencananya malah sebaliknya.


Afrian yang dimata bapak dan ibunya adalah orang baik, ternyata sama-sama jahat dengan Hia. Afrian menghasut Edi dan Diah dengan otak piciknya.


Flashback on.


"Enak saja menertawakan diriku! Lihat saja, aku akan membuatmu menyesal telah menertawakanku". Gumamnya.


"Hia!". Panggilan seseorang mengagetkan Hiana yang sedang menguping serta mengintip Asha di ujung pintu kamar.


"Astaga! Kakak ngagetin aja!". Sahut Hiana.


"Kamu lagi ngapain?".


"Hia gak lagi ngapa ngapain". Jawab Hia.


"Tapi kakak denger gumaman kamu tadi".


"Hemm.... Sebenernya Hia lagi cari cara buat kasih pelajaran ke kak Asha. Dia udah berani ketawain Hia di belakang". Jawab Hiana sembari mengeratkan giginya.


"Mau dibantu?".

__ADS_1


"Hah?! Serius?". Hiana tak percaya.


"Iya. Mau gak?". Hiana pun mengangguk sumringah.


Afrian mendekatkan mulutnya di kuping sang adik. Ia membisikkan, rencana apa yang akan ia lakukan untuk memberi pelajaran pada Asha.


"Kemarin-kemarin kakak liat Bapa sama ibu pergi buat ngambil hasil EEG dan psikologi Asha seminggu yang lalu. Kakak yakin, Asha belum sepenuhnya sembuh. Karena menurut artikel yang kakak baca, epilepsi sulit untuk pulih sepenuhnya. Apalagi emosi si Asha masih sering kumat, kan? Nah, pas hasilnya keluar, kakak bakal hasut ibu dan bapa agar Asha berhenti nulis. Kau tau kan bahwa menulis adalah impian Asha?! Maka dari itu, kita akan menghancurkan mimpinya saja. Karena hatinya pun pasti akan hancur.


"Bagaimana?". Tanya Afrian setelah membisikkan rencananya. Hiana pun mengangguk senang.


Dan tibalah saatnya hasil EEG serta psikologi Asha keluar. Dan benar dugaan Afrian bahwa Asha belum sembuh. Dengan lihai ia menghasut ibu bapanya agar menghentikan Asha menulis dengan alasan mengganggu otaknya untuk tenang.


"Bu, pak. Saran Afrian, lebih baik ibu dan bapa nyuruh Asha berenti nulis. Kalian tau kan, kalo nulis juga butuh tenaga otak? Nah itu tidak akan membuat otak Asha istirahat. Otaknya pasti akan kelelahan. Jadi alangkah baiknya jika ibu dan bapa segera menghentikannya sebelum sakitnya semakin menjadi."


Flashback off.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


"Keluar. Di dalam hanya melukis derasnya air. Khawatir banjir!". Jawab Asha tanpa menoleh ke Edi dan Diah yang tengah menatap punggungnya yang hampir menghilang di balik pintu.


________


Seperti biasa, Asha akan datang lebih awal daripada Moza.


"Asha!". Panggil Moza dari belakang Asha membuatnya menoleh sekilas sembari tersenyum paksa.


Moza menghampiri Asha dengan berlari kecil. Kemudian ia mendudukkan tubuhnya di samping Asha.


Moza yang mengerti alasan Asha memanggilnya sebab ada masalah itu pun langsung memeluk Asha dari samping. Karena terlihat jelas dari wajah sendu Asha.


"Sahabatku ini kenapa sih heuh?!". Tanya Moza dan di balas gelengan.

__ADS_1


"Ck. Bohong dosa Asha!". Moza memberikan wajah cemberutnya serta melepas pelukannya.


Asha pun secepat kilat menahan tangan Moza dan melingkarkannya kembali di perutnya seraya berkata, "Jangan lepaskan!".


Tiba tiba Asha menangis dan berhasil membuat Moza terkejut.


Ada apa ini? Tak biasanya Asha menangis!. Batin Moza bertanya tanya.


"Asha,, ceritalah!". Pinta Moza dengan nada yang amat lembut.


"Bapa dan ibuku meminta aku agar berhenti menulis". Lirih Asha tanpa menghilangkan isakannya.


"Loh? Kenapa?". Heran Moza.


"Katanya takut aku nge-drop gara gara nulis. Dokter nyaranin agar aku kurangin mikir, dan itu malah berpengaruh pada separuh hidup aku". Jawab Asha.


"Sabar Asha! Kamu tahu kan, kalau semua masalah memiliki jalan keluar? Apalagi untuk sebuah mimpi?!".


"Tapi yang ku tau kini bahwa, angan angan aku terlalu tinggi untuk aku raih. mimpi aku terlalu jauh untuk aku kejar. Harapan aku terlalu fana untuk aku genggam. Dan aku lupa, bahwa ada dinding antara hal yang menjadi bagian hidupku dan aku"


"Mimpi kita akan teraih saat kita berusaha. Mimpi kita juga tergantung dalam diri kita sendiri. Aku tau, memang sulit memperjuangkan sesuatu yang jauh untuk kita jangkau. Apalagi ketika ada penghalang yang sengaja menjauhkannya. Tapi rasa putus asa, akan semakin menjauhkan kita dari jangkauan itu". Tutur Moza.


"Tapi memang jangkauan itu semakin jauh Oza. Padahal beberapa kali aku raih, dan,,, hasilnya sama". Asha Mengeratkan pelukannya.


Moza melepaskan pelukannya, kemudian meraih dagu Asha seraya berkata, " Tatap aku!". Asha pun menuruti.


"Kamu gak akan pernah bisa melakukan apa yang ingin kamu lakukan, bila kerjaanmu hanya untuk menyerah". Moza menasihati sambil menatap manik Asha dengan lekat.


"Terus apa yang harus aku lakuin selain menyerah? Masalahnya, dunia aja gak ngizinin aku buat ngelakuin apa yang aku ingin lakuin. Dunia seakan meninggalkanku".


"Terkadang, bukan dunia yang meninggalkanmu. Tapi kamu yang memilih untuk menyerahkan seluruh dunia". Jawab Moza.

__ADS_1


__ADS_2