Berjuang Dalam Diam

Berjuang Dalam Diam
Eps 15


__ADS_3

Tian berlari cepat dari lantai dua di rumahnya. Ia meninggalkan sesuatu di dalam mobilnya. Benda yang dianggapnya penting itu sempat tertinggal kemarin.


Tia yang sedang menonton televisi, melihat putranya lari dari tangga dengan terburu-buru. Dia pun menatapnya dengan heran. Kemudian dengan penasaran ia bertanya, "ada apa, sayang? Kenapa terburu-buru sekali?"


Tian pun berhenti sejenak seraya menjawab, "Ini loh ma... Kemarin Tian meninggalkan sesuatu di mobil. Jadi Tian hendak mengambilnya."


"Memangnya apa itu? Apa begitu penting? Dan apa tidak bisa santai saja? Kamu keliatannya kaya khawatir gitu. Emang itu apa si?"


"Em,,, ini penting bagi Tian." Kemudian ia pergi dari keluar dengan kembali berlari hingga sampai ke garasi.


Di garasi, dengan cepat pula Tian membuka mobilnya. Ia bernapas lega ketika melihat sebuah kemeja putih yang berlumuran kopi. Tian mengambil itu dan kemudian masuk kembali ke dalam rumah.


Tia kembali di buat heran ketika Tian masuk ke dalam. Pasalnya, Tia hanya melihat Tian memegang seutas kemeja dan juga kunci mobil.


"Apa kemeja itu yang kamu maksud penting, nak?" Tanya Tia.


"Hehe... Iya mah." Jawab Tian sembari cengengesan. Dan ia pun berlalu pergi untuk kembali ke kamarnya di lantai dua. Sedangkan Tia hanya menggelengkan kepalanya tak percaya.


Sesampainya di kamar, ia segera menghempaskan tubuhnya di atas kasur empuk miliknya. Tian juga menatap kemeja yang terkena tumpahan kopi kemarin. Wajahnya berbinar, entah apa yang sedang ia bayangkan.

__ADS_1


Kemarin Tian sengaja mengganti pakaiannya di dalam mobil selepas kejadian itu. Tian tidak mau kalau Tia sampai melihatnya. Karena Tia pasti akan mencuci baju itu. Sedangkan Tian tak mau baju itu di cuci.


Di matanya, kini kemeja itu amat berharga. Kenapa? Karena ketika melihat kemeja tersebut, Tian akan kembali mengingat sosok wanita cantik yang telah memikat hatinya pada pandangan pertama.


Jujur. Setelah sekian banyak purnama terlewati, baru kali ini Tian merasakan hal seperti ini. 18 tahun ia hidup, tapi baru kali ini ia melirik seorang wanita. Padahal di sekolahnya, Tian menjadi idola bagi para siswi.


Sungguh kecelakaan yang amat indah di memori Tian.


Pindah ke lain sisi.


Asha dan Moza sudah pulang dan berpisah dari perpustakaan sekitar pukul tiga sore. Dan sore ini, tepat pukul empat sore, setelah melaksanakan sholat ashar dan juga mandi, Asha memutuskan untuk pergi sejenak ke luar.


Pergi ke tempat yang selalu menjadi favoritnya. Tempat itu berada di kebun belakang rumahnya yang berjarak lebih kurang 7 meter.


Bunga berwarna ungu, kecil dan berpohon pendek. Taiwan beauty.



__ADS_1


Dan sekarang pun Asha tengah menatapnya. Menatapnya dengan kagum. Sungguh, bunga itu memiliki makna tersendiri bagi Asha.


Asha tersenyum menatap bunga Taiwan beauty tersebut. Matanya tak goyah dari bunga cantik itu.


Sebenarnya, kadang kala Asha merasa bahwa tempat ini seperti menyimpan sebuah kenangan dari seseorang untuk dirinya. Ia juga merasa jika dirinya amat bergantung pada tempat ini. Ia nyaman ketika bisa duduk di atas batu besar yang ada di pojok kebun sembari menatap pemandangan indah.


Asha juga kerap kali berbicara sendiri di sini. Ia meluapkan apapun yang ia pikirkan. Dari menangis hingga tertawa, ia lepaskan di sini. Asha tahu, ini tempat yang sepi. Tapi tiap kali ia berbicara, rasanya ada seseorang yang akan mendengarkannya serta menenangkannya.


Dari kecil hingga besar, tak pernah lupa ia untuk kemari. Tempat ini sudah seperti bagian dari hidupnya.


Kembali ke Asha.


Asha turun dari batu besar. Menghampiri bunga ungu itu. Kemudian ia membelainya dengan lembut.


Sesuatu yang mengejutkan pun terjadi. Tiba-tiba air matanya lolos dari pelupuk mata. Asha pun terkejut dengan itu. Setiap kali Asha menyentuh bunga Taiwan beauty ini, hal tersebut selalu terjadi. Tanpa tau alasannya, air mata itu mengalir begitu saja tanpa izin dari pemiliknya.


Asha memejamkan matanya. Apa yang ia rasakan setiap menyentuh bunga ini sembari memejamkan mata juga ikut terjadi. Asha merasakan hangat di tubuhnya. Dan air matanya kembali menetes.


Rasa hangat yang hanya ia bisa dapatkan ketika memegang bunga Taiwan beauty sambil memejamkan matanya. Asha pun tersenyum menikmati kehangatan tersebut.

__ADS_1


Tanpa ia sadari, ada sesosok wanita paruh baya yang menatap dirinya. Menatapnya dengan sendu.


"Dia mirip dengan ibunya." Gumam wanita itu.


__ADS_2