Berjuang Dalam Diam

Berjuang Dalam Diam
Eps 2


__ADS_3

Asha memutuskan keluar dari mobil untuk menghirup udara terbuka. Pas sekali. Tempat di mana angkotnya mogok ini berada di persawahan, jadi enak sekali untuk menghirup udara segar di sana.


Asha merentangkan tangannya. Menutup matanya, menikmati hembusan angin yang menyelusup ke tubuhnya. Rambut panjangnya berkibar kibar.


"Ya Allah... Nikmatmu tiada duanya." Gumam Asha.


5 menit kemudian....


"Pak! Lama sekali." Keluh Asha.


"Maaf dek. Bentar lagi nih!" Sopir itu hanya bisa mengucapkan kata maaf dan bentar, dan membuat Asha mendengus kesal.


Pembohong!. Umpat Asha dalam hati.


Asha memang bosan dan kesal, tapi dia tetap bertahan menunggu angkot itu sampai sembuh. Tiba tiba...


Tit! Tit!


Sebuah mobil berhenti tepat di depan angkot yang Asha tumpangi.


"Mogok?" Seorang pria berucap.


"Iya pak." Jawab sopir.


"Mau bareng?" Tanya seorang pria yang ada di mobil pada Asha.


"Saya?" Tanya Asha dan itu pria itupun mengangguk.


"Em... Tidak ah. Terima kasih" Tolak Asha.


"Tidak apa-apa. Om bukan penculik. Om hanya kasihan sama kamu. Kayaknya juga angkotnya masih lama tuh." Ucapan pria itu diangguki oleh sopir angkot.


"Lah tadi katanya bentar lagi pak!" Komplain Asha.


"Hehe... Maaf dek." Asha memutar bola mata malas.


"Emang om mau kemana?" Tanya Asha menatap pria asing itu.


"Ke pasar, nganterin istri om." Pria itu menunjuk isterinya yang duduk disampingnya.


"Hai!" Sapa istri dari pria yang sedang duduk di mobil. Ia melambaikan tangannya sekilas pada Asha sembari tersenyum.


Ke pasar kok sore-sore?. Batin Asha bertanya tanya.


"Hai tante." Balas Asha.


"Ayo bareng. Mau?" Ajak wanita itu.


"Em... Ya udah deh. Tapi Asha mau ke apotik." Asha setuju. Dan pria itu mengangguk.

__ADS_1


"Maaf ya pak! Asha gak jadi nunggu. Asha duluan." Pamit Asha.


"Iya, gak apa-apa dek!" Jawab sang sopir.


Asha menaiki mobil itu. Lalu wanita yang tadi berada di depan, tiba tiba pindah ke belakang.


"Nama kamu Asha?" Tanya isteri sang om.


"Iya." Jawab Asha.


"Kenalin! Nama tante, Tia. Dan ini om Nik." Ucap Tia sembari melirik suaminya, Nik, sekilas.


"Kok jadi berasa kayak sopir angkot tadi ya?!" Gurau Nik mengundang gelak tawa dari Tia. Dan Asha hanya tersenyum kikuk.


"Asha, rambutmu panjang sekali?! Tante punya anak perempuan, tapi dia gak terlalu suka dengan rambut panjang, jadi dia rambutnya cuma melebihi pundak aja." Curhat Tia.


"Curhat buk?" Nik kembali bergurau dan Asha tertawa. Sedangkan Tia menatap horor kepada Nik.


"Asha suka rambut panjang tante. Ustadzah Asha bilang, Rambut adalah mahkota bagi wanita. Jadi bagi Asha, semakin panjang rambut Asha, semakin cinta jodoh Asha ke Asha." Jawab Asha.


"Subhanallah... Pemikiran hebat!" Puji Tia. Dan Asha hanya tersenyum.


"Asha kelas berapa?" Tanya Nik.


"Asha kelas sembilan om." Jawab Asha.


"Asha gak tau om." Jawab Asha tertunduk lesu.


"Mau gak sekolahnya om bayarin?" Nik kembali bertanya.


"Om,, Asha ngerepotin banget kalo gitu. Insya Allah, Asha bisa bayar sekolah SMA kok om." Tolak Asha.


"Gak apa-apa Asha. Kita seneng kok."Tia buka suara.


"Tapi kita juga baru kenal kok om, Tante!" Jawab Asha.


"Loh, tak kenal maka tak sayang. Ini cara kita mengenal kamu Asha. Kamu mau ya?!" Bujuk Tia.


Entah kenapa bawaan ketika bersama Asha memiliki ikatan yang kuat. Nik dan Tia menyukai Asha pada pandangan pertama.


"Tapi ini berlebihan om, tante!" Asha kembali menolak.


"Enggak Asha! Kita pengen kamu juga berteman sama anak perempuan om." Seru Nik.


"Emang anak perempuan om kelas berapa?" Tanya Asha.


"Kelas tiga SMP." Jawab Nik.


"Jadi, mau gak?" Tia memberikan raut wajah memohonnya.

__ADS_1


"Makasih deh. Nanti Asha bilang dulu sama bapak sama ibu." Ucapan Asha diangguki oleh Nik dan Tia.


______


"Kita udah sampe apotik. Kamu mau ditunggu, terus nanti pulang bareng? Atau ditinggal aja?" Tanya Tia.


"Gak apa-apa, ditinggal aja tante. Asha udah banyak ngerepotin. Sekali lagi makasih om, tante." Jawab Asha.


"Gak ngerepotin kok sayang. Ya udah, kita pergi dulu ya." Pamit Tia diangguki Asha.


"Permisi! Mbak. Mau beli obat dong!" Ucap Asha pada seorang apoteker.


"Obat apa?" Tanyanya.


"Nih!" Asha memberikan lima lembar cangkang obat pada sang apoteker. Karena memang Asha tak ingat dengan nama obatnya.


Tak lama kemudian...


"Oh! Nih dek!" Apoteker itu memberikan Asha kantung plastik yang didalamnya berisi obat obatan.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


"Kata dokternya Asha gimana bu?" Tanya Edi, ayah Asha.


"Katanya Asha makin drop. Kita harus EEG ke rumah sakit!" Jawab Diah.


"Hufftt..." Edi menghela napas.


"Kita juga harus ke rumah sakit lagi setelahnya, buat menelusuri penyakit Asha semakin jauh" Lanjut Diah.


"Ibu masih punya uang?" Tanya Edi.


"Entahlah pa. Murfazan katanya belum gajian. Ditambah biaya kuliah Afrian dan sekolah Hiana." Jawab Diah.


"Bu! Ibu sadar gak sih? Perasaan Asha gak pernah minta uang buat bayar sekolah deh!" Ujar Edi.


"Iya. Ibu tahu. Bapa juga ternyata ngerasa."


"Kira-kira Asha ngapain sampe gak pernah minta uang saku segala? Uang sekolah cuma beberapa kali doang." Celetuk Edi.


"Mungkin dia kerja sampingan kali ya pak? Udahlah, husnudzon aja." Balas Diah.


"Masa sih? Bapa gak pernah liat Asha keluar rumah deh bu."


"Entahlah. Tapi setau ibu, Asha bikin novel online deh."


"Ibu serius?".


"Iya. Banyak tingkah kan dia?!" Jawab Diah dengan sedikit kesal

__ADS_1


__ADS_2