Berjuang Dalam Diam

Berjuang Dalam Diam
Eps 18


__ADS_3

"Umur juga bukan penentu tua dan mudanya seseorang. Tapi cara berpikir yang hebat dapat memperlihatkan lebih tua mana antara dia yang ucapannya bijak dan dia yang ucapannya serasa ingin menginjak." Lanjut Asha.


Felis bungkam seribu bahasa. Bibirnya kelu untuk bicara. Perkataan Asha menohok ke ulu hatinya. Satu kata pun tak keluar dari mulutnya. Untuk yang kedua kalinya ia kalah telak oleh seorang gadis berumur 15 tahun.


Merasa dirinya telah kalah, ia pun pergi meninggalkan Asha tanpa melepaskan sikap sombong dan egonya yang tinggi. Asha geram dibuatnya.


"Orang yang cerdas akan merasa bersalah ketika ia memang terbukti salah. Tapi hanya orang bodoh tak beretika yang masih menebar kesombongan walaupun mereka melakukan kesalahan." Tegas Asha sembari menatap punggung Felis. Dan Felis pun merasa terbakar dengan ucapan Asha. Tapi ia tak berani membalasnya. Bagaimanapun juga, ia telah kalah oleh Asha.


Jangan berpikir kejadian ini hanya di saksikan oleh beberapa pegawai saja. Tentu tidak.


Seorang pria tampan bertubuh tegap dan gagah sedang bersandar di ambang pintu, menyaksikan keeksotisan kata-kata mutiara yang keluar dari mulut seorang gadis belia.


Bibirnya tersungging menatap wajah cantik nan lugu milik si gadis. Tak ada niatan dalam hatinya untuk melerai adu mulut Asha dan Felis. Yang padahal jika dilihat-lihat, ia juga bisa memecat mereka yang telah melakukan keributan di kafe ini.


Untung saja kejadian ini terjadi di dapur hingga para pelanggan tak terganggu dengan percekcokan antara Asha dan Felis.


Asha pun memulai pekerjaannya tanpa memperhatikan ada beberapa orang yang sedang melihat dirinya dengan penuh kekaguman.


.


Karena ini hari Senin, adakalanya kafe sepi sebentar. Asha ingin memanfaatkan waktu ini dengan membaca buku. Tapi kini masih ada satu meja yang belum di bersihkan oleh pegawai yang terjadwalkan.


Dengan senang hati Asha membersihkannya untuk membantu meringankan salah satu pegawai kafe yang kini tengah sibuk di gudang.


Setelah beres, tanpa berlama-lama, Asha mulai membuka lokernya. Ia mengambil buku dan selembar kertas. Dan dilanjut dengan dirinya yang duduk di tempat yang telah di sediakan untuk para pegawai yang beristirahat.


.

__ADS_1


Pria itu melihat kearah Asha yang sedang fokus dengan bukunya. Tubuhnya tergerakkan untuk membuat secangkir kopi khusus buatannya sendiri.


"Mas Uzi mau ngapain?" Ucap salah satu karyawan yang tak sengaja melihat pria itu membuat kopi.


"Entahlah." Ucap pegawai lainnya.


Mereka berdua memperhatikan pria itu dengan seksama. Hingga tanpa diduga...


"Kopi untukmu!" Pria itu menyuguhkan secangkir kopi yang dihiasi oleh percikan toping cokelat. Bahkan diatasnya ada cream yang berbentuk seperti seorang wanita. Dan cokelat itu melengkapi sebagai rambut.


Asha menatap cangkir yang berisikan kopi di depannya. Asha merasa dirinya tak memesan kopi sejak duduk untuk membaca buku hampir sepuluh menit yang lalu.


Bibir mungil Asha tersungging. Ia berpikir bahwa Kalila lah yang telah memberikannya secangkir kopi.


"Kopi siapa?" Tanya Asha tanpa menghilangkan senyumnya.


"Ini untukmu." Ujar pria itu.


Suara lembut khas pria menyapu telinganya. Ia tak mengenali suara itu. Tapi sepertinya ini bukan yang pertama kali baginya mendengar suara itu.


Asha mengangkat kepalanya dan melihat sosok pria tampan di depannya dengan tangannya yang masih memegang kopi di depan wajah Asha yang terkejut.


"Siapa anda? Ini adalah area khusus karyawan. Tidak seharusnya anda masuk ke sini." Tegas Asha.


Asha bangkit dari duduknya.


"Apa anda tidak bisa membaca tulisan di depan yang menyatakan bahwa 'tidak di perbolehkan masuk selain karyawan kafe dan orang khusus'? Bagaimana bisa anda menerobos privasi kafe ini? Apa anda tidak memiliki etika?" Asha melemparkan pertanyaan bertubi-tubi pada pria itu tanpa mengetahui siapa dirinya sebenarnya.

__ADS_1


Sedangkan pegawai lainnya melotot mendengar pertanyaan sarkas Asha. Mereka tak habis pikir, bagaimana Asha bisa tak mengetahui siapa pria itu sebenarnya.


"Sebelum saya bertindak lebih lanjut, silahkan keluar."


Pria itu hanya tersenyum seraya memandangi wajah garang Asha.


"Ck ck ck,,, anak kecil itu masih butuh belajar. Belum butuh yang namanya kemarahan. Jadi belajar hal selayaknya saja, jangan belajar untuk marah marah." Kata pria itu.


"Saya memang anak kecil, tuan. Tapi saya memiliki etika yang seharusnya anda sebagai orang dewasa miliki." Ucapan menohok Asha benar-benar membuat pegawai lainnya menganga.


Kalila yang baru saja mendengar ucapan Asha segera menghampirinya.


"Asha! Kamu apa apaan si?" Bisik Kalila.


Asha mengangkat telunjuknya dan berkata, "dia duluan. Dia tak menghargai privasi serta peraturan yang kafe ini buat. Mana bisa orang lain masuk ke area pegawai?" Asha menjawab pertanyaan Kalila dengan suara yang tinggi melebihi bisikan Kalila.


Mati kau Asha!. Batin Kalila.


Kalila memejamkan matanya sejenak, lalu menarik tangan Asha untuk menjauhi pria yang sering dipanggil dengan sebutan 'mas Uzi'.


Tarikan yang Kalila ciptakan membuat marah Asha semakin menjadi.


"Kak! Yang salah harus di beri pelajaran. Agar kelak ia bisa tau mana baik dan buruk!" Tegas Asha.


Kalila tak menghiraukan perkataan Asha. Ia menarik lengan Asha hingga menghilang dari ruangan itu.


Pria tampan itu melirik para karyawan yang melihatnya. Wajahnya kembali datar.

__ADS_1


"Jangan katakan pada gadis itu tentang siapa dan jabatanku di sini. Mengerti?!"


Semua pegawai mengangguki ucapan pria itu.


__ADS_2