Berjuang Dalam Diam

Berjuang Dalam Diam
Eps 16


__ADS_3

Seminggu telah berlalu. Pagi ini adalah pagi di mana murid kelas 9 akan melaksanakan ujian untuk menentukan kelulusan mereka. Sama seperti di sekolah Asha.


_______


Asha menatap tumpukan buku yang ada di atas meja tempatnya duduk. Ia menelisik setiap buku dari judulnya. Dan semua itu adalah buku-buku yang Asha pinjam dari perpustakaan sekolah untuk ia mempersiapkan belajar.


Dan sebelum bel masuk kelas berbunyi, Asha akan mengembalikan buku-buku itu ke perpustakaan. Dan tentu saja dengan di temani Moza.


"Oza! Bantuin napa, Za." Ucap Asha. Asha mengangkat tumpukan buku itu dengan susah payah. Tapi sepertinya tak ada niat di hati Moza untuk membantunya. Dan sekarang ia malah cengengesan.


"Maaf." Ucap Moza.


Kemudian ia pun membantu Asha mengangkatkan separuh bukunya.


Singkat cerita. Semua murid masuk ke kelas masing-masing ketika mendengar bel berbunyi. Siap tidak siap, semua siswa maupun siswi harus siap dengan ujian ini. Ujian yang akan menentukan masa depan mereka.


Asha duduk di kursinya. Tempat yang ia pilih strategis untuk ujian. Karena posisi tersebut sulit untuk di contek.


Selang beberapa menit kemudian, seorang wanita paruh baya masuk dengan sebuah map cokelat yang berisikan kertas ujian. Seketika dada para murid pun berdegup kencang. Tak terkecuali Asha dan juga Moza.


"Pagi anak-anak?" Sapa bu Rika.


"Pagi juga bu..." Jawab kompak para siswa maupun siswi.


Bu Rika mulai membagikan kertas ujian satu persatu. Hingga tepat ketika bu Rika memberikan kertas itu di meja Moza...


"Bu!" Panggil Moza setengah berbisik.


"Ada apa, Za?" Tanya bu Rika dengan ramah.

__ADS_1


"Em... Anu bu,, Moza mau nyontek aja ya bu!?"


Bu Rika seketika mengerutkan keningnya. Bisa-bisanya muridnya yang satu ini terang-terangan mngatakan dirinya akan menyontek.


"Astaghfirullah... Gak bisa." Jawab bu Rika dengan tegas. Kemudian ia melanjutkan jalannya untuk membagikan kertas soal ujian.


Aduh... Sayang banget mejanya di pisah. Gak bisa nyontek deh ke Asha. Geram Moza dalam hati.


Kenapa Moza bisa geram? Karena ketika ujian, seluruh murid akan duduk sendiri-sendiri. Tidak seperti biasanya yang duduk satu meja dua orang.


Moza melirik ke arah Asha yang sedang fokus mengerjakan soal ujian miliknya. Dapat terlihat dari raut wajahnya bahwa ini adalah soal ujian yang lumayan sulit.


Moza kembali melihat lembar soal ujian yang berada di atas meja. Membacanya satu persatu.


Hih! Ini soal ujian sekolah apa soal ujian hidup?!. Kesal Moza dalam hati.


"Au ah." Gumam Moza. Kemudian ia mulai mengerjakan soal-soal ujian di lembar jawabannya.


Sedangkan Moza kini tengah menatap Asha dengan heran sembari duduk di kursinya. Asha yang memang mengetahui bahwa ia sedang ditatap oleh Moza pun membuka suara.


"Kenapa si Za? Kagum sama wajah cantikku ya?"


"Idih... Jijik." Moza memutar bola matanya.


"Ya udah ayo pulang. Udah beres ni." Kata Asha sembari memakai tasnya di pundak.


Moza pun bangkit dari duduknya. Kemudian tangannya merangkul Asha. Mereka pun berjalan sembari saling rangkul.


Interaksi antar keduanya nampak jelas Dimata Aldi. Senyum manis Asha selalu memikat hatinya. Hatinya selalu berdegup kencang ketika melihat kebahagiaan terbit di wajah wanita dingin itu.

__ADS_1


Dingin, pendiam, serta tertutup. Bahkan Asha tak pernah peduli pada berapa banyak pria yang berhasil terpikat oleh pesonanya. Bukannya tak tau, Asha teramaat tahu malah bahwa dirinya memang dikagumi oleh banyak kaum Adam. Tapi ia tetap memilih untuk diam.


Karena sifat dingin dan cuek Asha, banyak pria yang menyerah untuk mendekatinya. Tapi beda dengan Aldi. Ia masih mengharapkan cinta Asha. Sampai-sampai ia tak tau bahwa sahabatnya Asha lah yang mencintainya.


.


Aldi mengikuti Asha hingga pulang ke rumahnya. Ia ingin memastikan Asha baik-baik saja di jalan. Tapi sampai Asha tiba di rumah, sesuatu pun tak terjadi padanya. Aldi bernapas lega.


Tiba-tiba sekelebat ingatan tentang percakapan Asha dan Moza tadi ketika mereka berpisah menghantui Aldi. Ia mendengar hal yang sulit ia percayai. Ternyata Moza mencintai pria yang mencintai sahabatnya.


Flashback on.


"Dadah Oza cayang..." Ucap manja Asha sembari memeluk hangat tubuh sahabatnya itu.


"Tatah uga Aca kecayangannya oja." Moza juga membalas dengan tak kalah manjanya. Membuat Aldi yang mendengarnya bergidik.


Astaga. Ternyata si Asha sama Moza bisa alay gitu ya?!. Batin Aldi yang sedang mengintip dari balik rumah orang.


"Sha! Aku kesel banget ama cowo itu. Bisa-bisanya dia gak peka ya?! Yang suka sama dia itu aku! Bukan kamu!" Tiba-tiba Moza mengatakan sesuatu hal yang membuat Asha mengurungkan niatnya untuk melepas pelukan mereka.


Asha malah semakin menenggelamkan tubuh Moza pada rengkuhannya.


"Oza,, kalo kalian jodoh, pasti bersatu kok. Aku juga gak akan ngehalangin pendekatan kamu sama dia.


"Oh iya Za, aku mau kasih tau. Jangan terlalu cinta dengan seorang pria. Karena segala yang berlebihan itu tidak baik. Bahkan itu juga bisa merusak diri sendiri. Kita, kaum wanita juga harus menjaga image kita. Buktikanlah bahwa kita bukanlah spesies yang mudah ditindas oleh yang namanya cinta. Jangan terlalu membudak pada mereka yang telah menyia-nyiakan cinta kita. Jangan sampai cinta membuat diri kita bodoh dan buta."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA BAGI KALIAN YANG MERAYAKAN....

__ADS_1


MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN.


{Othor tau, idul Adha kemaren, 10 juli 2022, tapi karena up senin ya sekarang aja. Xixixi...}


__ADS_2