
Sebenarnya, di rumah Tia ada tukang kebun yang pastinya akan merawat tanaman-tanaman yang ada di kebun. Termasuk bunga yang ia sukai. Bunga kecil, tetapi indah.
Datang di kebun, Tia dan Nia di sambut oleh senyuman ramah dari pak Joko, tukang kebun di rumah itu. Tapi sebenarnya, pak Joko bukan hanya menjadi tukang kebun, ia juga bisa menjadi supir untuk mengantar Tia ke pasar dan Nia ke sekolah.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Asha berjalan cepat menuju rumahnya. Ia takut kedua orang tuanya khawatir akan dirinya. Di tangannya masih tergenggam buku. Mau keadaan genting ataupun tidak, jika pergi kemana pun tangan Asha tak pernah kosong. Di tangannya pasti tergenggam buku.
Singkat cerita.
Asha sudah sampai di depan rumahnya. Dengan dada yang berdegup kencang, Asha mulai memasuki rumahnya.
Ceklek.
Asha membuka pintu rumah dengan hati hati. Tapi tanpa dia sadari, ternyata seseorang telah menunggu dirinya sejak pukul setengah enam tadi sore. Dan kini hari telah semakin gelap.
"Kamu liat jam gak? Sekarang jam berapa?"
"J, jam... Jam enam." Asha tergagap dengan pertanyaan Murfazan.
Dengan tegas Murfazan mengatakan, "sebaiknya kamu tidak usah pulang Sha. Kamu kan tidak ada rumah!!" Kemudian Murfazan pergi meninggalkan Asha yang berdiri dengan sesal.
Ini memang salah Asha. Aduh Asha... Seharusnya kamu itu--!! Ah sudahlah. Batin Asha merutuki dirinya sendiri.
Asha pun memutuskan masuk ke kamarnya. Ia menaruh tas dan juga bukunya. Kemudian mengambil handuk yang menggantung di belakang pintu. Asha bergegas mandi.
Selesai mandi, ia mengambil wudhu untuk melaksanakan shalat maghrib.
__ADS_1
Setelah itu ia pun kembali ke kamarnya. Memakai baju dan langsung menyambar mukena yang ada di atas meja untuk sholat.
Selesai sholat, ia berencana untuk menemui murfazan. Tapi entah kenapa, ia amat gugup untuk pergi.
Asha meyakinkan dirinya dan akhirnya pergi ke kamar Murfazan.
Ceklek.
Asha membuka knock pintu kamar Murfazan. Dan Murfazan yang tengah menatap laptopnya pun berhasil teralihkan oleh suara buka pintu yang Asha ciptakan.
Asha pun menutup kembali pintu kamar Murfazan. Kemudian menghampirinya dengan perlahan dan juga wajah sendu. Sedangkan Murfazan? Ia masih menatap heran ke arah Asha.
"Kakak..." Ucap Asha dengan lirih.
Ia pun mendudukkan tubuhnya di ranjang dekat Murfazan yang sedang mengerjakan tugas kantornya.
"Em... Asha... Asha minta maaf kak. Gak seharusnya Asha pulang selarut itu. Itu memang salah Asha. Asha minta maaf." Sesal Asha. Ia masih menundukkan kepalanya. Tak berani menatap wajah Murfazan yang kini malah berubah menjadi hangat.
Sebenarnya Asha sudah menyiapkan diri untuk menerima konsekuensi apa yang akan ia dapatkan. Karena jelas, itu memang salahnya. Bahkan sekarang ia sedang memejamkan matanya. Bersiap takutnya Murfazan melakukan sesuatu padanya.
Tapi di luar dugaan, Murfazan malah mengusap pucuk kepala Asha dengan lembut dan penuh kasih.
Asha pun mengangkat kepalanya dengan berbagai banyak pertanyaan di pikirannya.
"Kakak..." Ucap Asha dengan nada tak percaya.
Tapi Murfazan hanya menatap manik Asha dengan lembut.
__ADS_1
"Maaf ya dek. Tadi kakak udah kasar sama kamu. Kakak minta maaf." Kata murfazan sembari tersenyum lembut.
"Enggak kak! Enggak! Ini salah Asha. Gak seharusnya Asha pulang larut seperti ini."
Murfazan merengkuh sang adik dalam pelukannya. Dan Asha sendiri membalasnya dengan senang hati.
Tiba-tiba saja air mata Murfazan mengalir dengan mulusnya.
"Adik kakak ini sekarang sudah besar ya. Maaf, kakak belum bisa sayang sepenuhnya sama kamu. Kakak juga belum bisa membahagiakanmu seperti kakak kakak lainnya di luar sana." Celetuk Murfazan sembari menitikkan air matanya.
Hatinya benar-benar tidak bisa di bohongi. Ia benar-benar sedih, merasa adiknya itu belum bisa ia bahagiakan. Bahkan Asha malah terlihat semakin tertekan. Walau memang Murfazan tak tau apa yang sedang terjadi, tapi sedikitnya ia bisa merasakan apa yang adiknya sedang rasakan. Ditambah dengan kondisi dimana orang tuanya kurang perhatian pada Asha.
Murfazan memeluk Asha dengan erat yang diiringi oleh tangisnya dalam diam. Menahan dan menahan. Agar sang adik tak turut menangis ketika melihatnya mengeluarkan air mata.
Murfazan berusaha mengusap wajahnya yang terus di cucuri oleh buliran buliran air mata. Tapi sayang, Asha sudah mengetahuinya lebih awal.
Asha mengangkat kepalanya. Menadah dan melihat Murfazan yang tengah membersihkan wajahnya.
"Kakak kenapa?" Tanya Asha dengan lembut.
"Ah tidak. Kakak tidak apa apa. Hanya saja mata kakak sedikit perih. Mungkin gajah masuk ke sana." Kilah Murfazan dengan sedikit candaan.
Asha sedikit menahan kesal. Dan itu terlihat jelas diwajahnya.
"Kakak! Aku tanya sungguh-sungguh. Tapi kau menjawab dengan candaan. Menyebalkan sekali!" Geram Asha.
Bukannya meminta maaf, Murfazan malah mencubit gemas pipi chubby Asha hingga membuat Asha meringis kesakitan.
__ADS_1