Berjuang Dalam Diam

Berjuang Dalam Diam
Eps 14


__ADS_3

Sabtu pun datang. Sesuai janjinya, pagi hari sekitar jam delapan tepat, Moza bergegas untuk ke rumah Asha. Menemaninya ke perpustakaan desa.


Sebelum pergi, Moza menatap dirinya terlebih dahulu di cermin. Menatapnya dengan kagum.


"Wah wah... Ternyata aku cantik banget ye..." Ucap Moza pada dirinya sendiri.


Selepas itu, dia pun mengambil tas selempangnya di belakang pintu. Keluar kamar, dan izin kepada ibunya untuk pergi ke rumah Asha.


"Mama..." Teriak Moza memanggil ibundanya.


"Iya sayang..." Jawab Kinanti. Ibunda dari Moza Meliana.


Moza menghampiri ibunya dengan senyum riang di wajah. Kinanti yang melihat itu juga ikut bahagia. Ia tau, ini pasti ada hubungannya dengan Asha. karena hanya Asha lah orang selain Kinanti dan suaminya yang bisa melukiskan senyum yang amat bahagia di wajah Moza.


Asha juga telah merubah Moza menjadi wanita pemberani dan meninggalkan rasa terpuruknya. Trauma 5 tahun yang lalu.


Kembali ke Moza dan ibunya.


"Ma, aku izin untuk pergi. Asha ngajak Oza buat pergi ke perpustakaan desa. Boleh, kan?"


Kinanti mengusap pucuk kepala Moza sembari tersenyum seraya berkata, "tentu dong. Kamu juga ikut belajar, ya..."


Moza menganggukkan kepalanya, kemudian menyalami tangan Kinanti dan berlalu pergi.


Jarak rumah Asha dan Moza tak terlampau jauh. Kurang lebih 1 km.


Moza menggunakan sepedanya untuk berangkat ke rumah Asha. Berbeda sekali dengan Asha yang berjalan kaki, bukan?


Di tengah nikmatnya mengayuh sepeda, Moza melihat sesosok pria sedang termenung di dekat kebun sisi taman. Taman itu dekat dengan perpustakaan yang akan Moza dan Asha kunjungi. Pria itu duduk di kursi dengan menyamping dari arah Moza berada. Pria yang sepertinya Moza kenali.

__ADS_1


Karena ingin memastikan dan juga menghilangkan rasa penasarannya, Moza pun memilih menepikan sepedanya dan menghampiri pria itu.


Jantungnya sedikit berdegup kencang ketika wajah pria itu semakin jelas terlihat. Dan akhirnya...


"Aldi?" Panggil Moza dengan nada sedikit terkejut.


Merasa namanya dipanggil, Aldi menolehkan kepalanya ke arah suara.


Moza mengerutkan keningnya, merasa heran dengan keberadaan Aldi. Pasalnya, taman ini jauh sekali dari rumah Aldi.


"Kok kamu bisa di sini, Di?" Heran Moza.


"Hehe... Aku lagi nungguin seseorang." Jawab Aldi tanpa ragu. Sedangkan Moza hanya manggut-manggut dengan mulut yang membentuk huruf 'O'.


Aldi menelisik tubuh Moza dari bawah sampai atas. Celana pendek berwarna cream. Blazer hijau muda dan juga tas selempang. Kaos kaki kuning serta kuncir dua di kepalanya menambah keimutan yang ia miliki.



"Em.. aku mau ke rumah Asha. Asha minta aku buat ngenterin dia ke perpustakaan desa." Jawab Moza.


"Eh. Bukanya perpustakaan desa ada di deket taman ya? Di ujung sana?" Aldi menunjuk arah menuju perpustakaan. Dan Moza menganggukinya.


"Aku duluan ya." Pamit Moza.


Moza memutuskan untuk pergi meninggalkan Aldi yang masih berduduk diam. Sampai Akhirnya, suara seseorang memanggil nama Aldi menghentikan langkahnya.


"Aldi!!" Panggil orang itu.


Moza menoleh sebentar. Dilihatnya pria berpakaian kasualnya. Menggunakan kaos lengan pendek berwarna hitam. Tangannya menjinjing Hoodie berwarna hitam pula. Celana pendek ⅓. Aura tampan menyelimuti pria itu.

__ADS_1


Sejenak Moza terpesona oleh sosok itu. Tapi ia langsung mengidahkan pandangannya. Merasa sahabatnya kini tengah menunggu dirinya.


_______


Cukup lama sekali Asha menunggu kedatangan sahabatnya. Dirinya yang sudah berdandan cantik dengan mengenakan baju berwarna merah muda serta celana pendek bunga bunga, harus menunggu dengan lama di depan rumahnya.


Selang beberapa menit kemudian, sosok Moza muncul dengan naik sepeda. Moza melambaikan satu tangannya ke Asha. Asha pun membalas lambaian tersebut.


Moza menghentikan laju sepedanya. Berhenti tepat di depan Asha. Kemudian ia menelisik tubuhnya. Dari atas sampai bawah. Rambutnya yang panjang dan hitam legam Asha gerai hingga mampu menyihir mata siapapun yang melihatnya. Wajah yang bersinar dan cantik dengan sedikit polesan makeup. Baju merah mudanya nampak indah saat tersemat di tubuh tinggi milik Asha. Moza juga melihat sepatu putih yang melengkapi keimutannya sehingga Moza berdecak kagum.


"Ck, ck, ck... Pantes aja banyak pria yang suka sama kamu. Lah orang cantik mempesona gini." Puji Moza tanpa mengalihkan pandangannya dari Asha.



Mendengar ucapan Moza, Asha ikut menelisik dirinya sendiri. Kemudian dengan polos dia berkata, "Oza baru tau ya, kalo aku ini cantik?"


"Hah?!" Jerit Moza setengah tak percaya.


Kenapa bisa seorang Asha memuji dirinya sendiri? Biasanya saja dia selalu merendah. Ada apa dengan hari ini??. Banyak sekali pertanyaan aneh di otak Moza.


"Kenapa?" Tanya Asha yang sama sama terkejut.


"E, enggak papa..." Jawab Moza dengan sedikit melirih dan terbata-bata.


Asha menarik lengan Moza hingga tubuhnya hampir terhuyung ke tanah. Moza pun terkejut bukan main.


"Astaghfirullah! Asha! Aku pengen jatoh ni..!" Ujar Moza sembari menahan emosi. Dan Asha hanya menanggapinya dengan cengengesan.


"Hehe... Ya udah ayo. Dari tadi diem aja. Keburu siang ini."

__ADS_1


Akhirnya Moza dan Asha pun pergi dengan sepeda yang Moza naiki saat pergi ke rumah Asha tadi. Tapi kali ini Asha lah yang mengendarai. Sedangkan Moza diboncengi oleh Asha.


__ADS_2